PUISI BUDAYA

Sajak-sajak Recky Arfal

20 September 2015 - 13.14 WIB > Dibaca 965 kali | Komentar
 
Gerimis

di antara gigil yang ganjil dan malam yang demam
awan lebam itu melahirkan isak kecil yang meriak
tumpah sebagai ludah yang mengucapkan banyak kecupan

yang rawan, barangkali kecemasan yang tak takluk jua
yang bersua tak berpeluk, meruncingkan jarum-jarum es terkutuk

meski bagimu gerimis adalah air mata yang mengaji ketika
malam-malam yang diam itu merendam dendam langit
yang beringas pada angka duabelas, gerimis adalah bukti
tuhan tak pernah tidur
ia hadir pada tiap helaan yang mengendur

terusik oleh yang tersuruk, kita melompati nasib
seakan paling tahu hal-ihwal gaib
padahal telah lama iman yang membusung di dada limbung dan raib

tapi apakah aku harus menyerah sekiranya takdir menggiring galau
menghentak ke dadaku yang balau
amsal pisau yang mengiris tipis kulit limau?

tentu tidak, aku tak perlu mengambil pusing sememangnya waktu
menjelma angkara—merunggas hajat

hanya sampai pada hatiku, riwayat tubuhmu yang tersirat di ribaanku mulai menyebat
serupa tumpahan gerimis nan melarat di punggungku yang amis,
yang tak kunjung menyurat sebagai ayat-ayat yang mungkin bisa kaubaca ketika menangis

lalu bacalah kembali ketika berbahagia. sebab hanya dengan itu aku bisa
menyentuhmu, pula mencecap perasan perasaan pada bibirmu yang kelu
dan misalkan setelahnya langit tak mewartakan apa-apa, maka biarkan matamu
yang muskil kuselami menakwilkan kematianku

Pekanbaru, 2015



Ziarah
Kepada Nurdiansyah Oemar

di marpoyan, sunyi meruapkan udara
yang muskil dihirup pohon-pohon bedaru
bangkai lokomotif rel-rel berkarat
mengerat masa lampau di ujung igau
dengan pisau asahan yang berkilau
yang kalau diacungkan membikin risau

“aku pernah membaca cerita orang sini,” katanya
“aku tak pernah mendengar angin bernyanyi,” kataku

tanah yang kemerahan pun dicecapnya yang jatuh cinta pada cermin
dalam diam kami menalikan ucapan dari sulur pikiran yang tersulut

tanah yang kemerahan, bekas luka itu seolah membaur
ketika gerimis baru reda, dan dipungut dengan tangannya
yang dingin, yang dipenuhi jejak masa silam
 
“tetapi, hari itu, entah hari apa
september yang lumer, agustus yang hangus
menghadiahkan kado berpita putih
kepada indonesia yang merdeka!
sepuluh ribu atau lebih
sampah itu dikubur dalam semak-semak
yang kerap terkesiap setiap jangkrik berkerik”

lalu kata-kata yang semula merdeka
seperti terkubur di liang bibir

Pekanbaru, 2015



Rabas

setelah hujan reda dan mendung menyingkir
apa yang hendak kau lakukan, jika genangan air
di jalan berliku belum jua mahir
menakwil masa lalu

daun-daun nan basah, berkulumun halimun di tubuhnya
angin berdesir menyejukkan tengkuk kanak-kanak
yang berkecipak di genangan air, mengalir
hingga ke inti benakmu

kanal-kanal membandang. tepat di belakangmu aku
merasa sedang membendung segala yang tak tertampung
gedung-gedung, hutan-hutan terbakar dan yang tak pernah
mampu dikandung rahim matamu

renyai baru usai 7 menit lalu. namun langit tetap sirah
dedaunan yang gugur seolah penanda bahwa, kehilangan
semestinya harus dirayakan

dan aku yang masih belum mahfum, mengapa hingga saat ini
kau masih memalingkan pandang pada dangkal kebimbangan

Pekanbaru, 2015



Ronda
Kepada Patra Hafiz

mari kuantar kau berkeliling, sebelum pulang
dan atau langit menjadi lebih pengap. aku ingin
kau tahu, bahwa dini hari yang asin adalah
cermin bagi kita yang terus dilumat kemunafikan

lalu biarkan dingin itu menggigit, lesap, ke pangkal
terdangkal—hingga ke bagian yang tak tersentuh
agar bisa kau rasakan, nyeri dan ngilu yang ambigu
meliarkan lidahnya kembali

seperti tubuh si jangkung pada tiap-tiap gang dan simpang
terkungkung oleh bunyi sunyi dan goresan parang

lolongan anjing, daun-daun dirontokkan angin
lampu-lampu yang tergantung berkelap-kelip
dengan langkah goyah kau ikuti aku melompati
genangan air, kenangan yang tercermin dari sana
memunggah hasrat yang tercemar dari sukma

“lihatlah, taring malam yang terbenam mulai meriap
    mari tanggalkan jubah kebencian
dan tinggalkan dunia yang telanjang!”

derak kayu menuntut. aku menuntunmu memasuki
gerbang subuh yang menganga, penuh oleh doa

telah kusiapkan peti mati bagi hatimu yang pucat
jauh sebelum aku menangkap garis wajahmu
kesangsian yang menyembul kala gerimis sukar dijinakkan

Pekanbaru, 2015


Bunga

hingga kini, bunga-bunga yang tertata rapi
pada rak itu tak jua mengerti:
masa silam, atau masa depan yang membawanya pergi?

Pekanbaru, 2015



Doa

aku ingin tuli saja, tuhan
mendengar hanya membikin
dadaku giat membatin
bibirku mencibir rutin

tuhan, dengarlah ini doa

atau kita bernasib sama?

Pekanbaru, 2015



Reky Arfal, lahir dan menetap di Pekanbaru. Mahasiswa UIN SUSKA, Jurusan Ilmu Hukum. Bergiat di Komunitas Paragraf, dan baru-baru ini dipilih menjadi ketua Komunitas Malam Puisi Pekanbaru. Beberapa puisinya diterbitkan di Riau Pos, dan termaktub dalam beberapa antologi, di antaranya, Gemuruh Ingatan, Bendera Putih untuk Tuhan, dan lain-lain.

KOMENTAR
Terbaru
Kamis, 20 September 2018 - 10:51 wib

Rehab Command Centre Diselidiki

Kamis, 20 September 2018 - 10:50 wib

Targetkan Seluruh IKM Jalin Kerja Sama

Kamis, 20 September 2018 - 10:38 wib

PDAM Harus Ditata Ulang

Kamis, 20 September 2018 - 10:25 wib

Sambangi Panti Asuhan di Hari Lalu Lintas

Kamis, 20 September 2018 - 10:24 wib

Sepakat Memperbaiki Jalan

Kamis, 20 September 2018 - 10:20 wib

Dihampiri Polisi, Pengedar Buang Narkoba

Kamis, 20 September 2018 - 10:19 wib

Berharap Tahanan Dapat Berubah

Kamis, 20 September 2018 - 10:07 wib

Kepergok Mencuri, Sembunyi di Gudang

Follow Us