PUISI BUDAYA

Sajak-sajak Zulmasri

20 September 2015 - 13.21 WIB > Dibaca 1072 kali | Komentar
 
Avonturir

mengukur-ukur jarak, kemanakah langkah kan berpijak?
ini adalah pengembaraan kesekian kali, nyanyian yang
menyekat kuat. menyusuri lorong asing
suara-suara sederhana dan wajah tanpa dosa
senantiasa meluruhkan gelisah dan penasaran
di kepergian yang tak menyelesaikan

mengukur-ukur jarak, melodi avonturir menyusup di hati
jadi cerita purba. perjalanan melelahkan
selalu saja mengubur masa lalu dituanya usia
“masihkah akan menemukan mawar yang lain
saat aromanya mengigilkan segenap kenangan?”
ujar suara yang mendera

menguku-ukur jarak, menghitung-hitung umur
“masih jauhkah?”
entah tanya siapa. avonturir memanggil, tubuh
menggigil. keberangkatan berperang kesia-siaan
“kita berangkat di kelamnya malam
dan gulitanya perhentian?”


Kemarau Musim Ini
:dh

ada yang berubah saat tatapmu hinggap
di tingkap mata. kenangan masa lalu
mengambang di perjalanan harap
tentang kemarau musim ini. masih mungkinkah
kumiliki sepasang pipit di cerah senyummu ?

kadang kubermimpi persinggahan kota-kota
dalam kelatnya kenyataan. harapan yang
hilang dan cita-cita yang lenyap
berlalu di palutan senja
namun selalu saja wajahmu menyapa
di riuhnya suasana

november yang kering, wajah kota hilang
di antara debu dan asap. teramat panas
bumi yang kujalani di kesendirian harap
meluruhkan daun-daun sepanjang senja
sementara rangkaian peristiwa
telah kehilangan makna aslinya
:adakah mungkin tersisa satu ruang
tuk kuselami di iring langkahmu ?


Dalam Malam Cahaya
Lampu Kota


kaca-kaca buram etalase yang menampar penglihatan
kembali merawankan hati ke ujung mimpi, ika
di swalayan yang kukunjungi
barang-barang tak lebih dari permainan harga-harga
label-label dan merk-merk di atas pajangan
dan pencatatan discount di kassa

kau tahu hidup ini apa, ika
ketika kutahu kemerahan bibirmu
menggumpal dalam sapuan lipstick
mengimpikan setiap lelaki petualang
mengembara dalam cumbuan daun-daun
dan tiupan angina senja di sebuah kota

pada perjumpaan di swalayan tanpa rencana
harga-harga bermain dengan senyum, ika
bibirmu memerahi kerawanan hati
di pajangan barang-barang dan kassa
:masihkah peluk dan ciuman itu berarti
ketika kerinduan mesti berbagi
dengan rutinitas yang membuahkan sepi?
masihkah kita bicara kafe dan plasa
di antara rasa lelah di kepulangan kerja
pada larut yang mengintip segala gelisah?
entahlah, ika. di ketersisaan cahaya lampu kota
selalu kujadi penyair tersia


Gemuruh dari Jauh

suara itu, suara-suara yang kemarin mengiang
di pusat saraf telingamu. mengendap dan berkerak
di simpul batas sadar. adakah makna lain terdekap
saat kuterlontar ke masa lalu?

suaramu, suara pelipur rindu setiap waktu
menggombali alir darah dan napas
melunturkan setiap proto plasma
adakah engkau masa lalu itu?

suara itu, suaramu yang selalu kutunggu
dalam gemuruh renjana masa lalu
adakah mungkin kan sama setiap waktu?
sementar aku tahu, lebar mulutmu tak lagi sama
seperti saat menutup mulutku, dulu
tapi mengapa gemuruh itu selalu kurindu?


Izinkan Kuistirah di Hatimu

izinkan kuistirah di hatimu
ketika lelahku bermain angan
perjalanan semestinya tak lagi impian
kota-kota telah meninggalkan catatan asing
di cuaca yang muram
masa berlalu seiring desau angin yang menderu

izinkan kuistirah di hatimu
dalam relung sunyinya kamar
sebab kebeningan selalu menyertai
setiap denyut nafas yang merindui

izinkan kuistirah di hatimu
mencari damai yang tak bermakna ganda
di guguran daun dan patahan ranting
kucumbui angan yang lama terpisah

izinkan kuistirah di hatimu
merajut merahnya benang hati


Jalan Pulang

jalan pulang yang dulu kita tempuh bersama
masih menyimpan jejak dalam bias
sepanjang pematang dan derai daun padi
kita urai nyanyian pagi sepanjang kenangan
: adakah kau simpan rindu
saat ketuk membangunkanmu di subuh
yang lelah di kepulangan kerja?

di sepanjang jalan pulang itu
telah kucatat kejadian sebagai headline
di halaman-halaman surat kabar
membangunkan impianmu ke kenyataan
yang kita temui di rutinitas hari ini
: tentang pembunuhan, berita kriminal
catatan hari-hari yang lepas
dan kemacetan berbuah depresi

andai kusampai di rumah, masihkah setia
kau dengan apa yang akan kusampaikan?
kekusutan urai rambutmu menumbuhkan rindu
di kepagian. cerita-cerita yang tidak pernah lepas
membinarkan hidup di kesunyian diri
: masihkah detik jam mempertemukan kita
dalam renjana masa lalu?

meski kutahu ada yang telah tiada
saat jalan pulang penuh rerimba


Kepergian

suatu ketika aku akan katakan padamu:
“selamat tinggal….”
walau mungkin tanpa iringmu, tidak ada
lambai itu
tapi kau harus mengerti, itu aku tak butuh
perpisahan yang menakutkan, kadang
adalah keberuntungan; (kau masih percaya bukan?)
pertemuan-pertemuan kita selama ini
telah membawa kita kembali ke persimpangan
tanpa bisa memilih jalan yang mesti dilalui

“selamat tinggal…!” kuteriakkan itu
di kesendirian pada jalan yang memang lengang
masihkah engkau kan tulikan telinga
ketika kau tahu, itu ucapanku yang terakhir?
barangkali ini hanyalah arogansi yang
kau pamerkan. sebab kutahu: matamu masih
menyimpan cahaya rindu
akankah dustamu kembali mewarnai hari-hari
yang tak lagi berlari?


Zulmasri, lahir di Padangpanjang, 11 Januari 1971. Menamatkan S1 Sastra Indonesia di Fakultas Sastra Universitas Andalas, Padang. Saat ini mengajar di SMP 1 Sragi, Pekalongan, Jawa Tengah. Menulis sajak sejak kuliah hingga sekarang. Karya-karyanya pernah dimuat di beberapa media seperti Riau Pos, Singgalang, Haluan, Taruna Baru, dan Suara Merdeka. Dimuat dalam beberapa antologi, seperti Taraju ’93 (1993), Sahayun (1994), Poeitika (1995), Antologi Puisi Indonesia 1997 dan Diverse (Antologi Puisi Dwi-bahasa 120 Penyair Indonesia, dicetak di Indonesia, Amerika Serikat, dan Inggris, 2012).
KOMENTAR
Terbaru
Rabu, 19 September 2018 - 13:00 wib

Dominasi Kandang

Rabu, 19 September 2018 - 12:30 wib

Epson Luncurkan Proyektor EB-L510 U dan EB L-610U

Rabu, 19 September 2018 - 12:22 wib

Aura Kasih, Tak Kuat Jauh dari Pacar

Rabu, 19 September 2018 - 12:19 wib

Bingbing, Tersangkut Kasus Pajak dan Ditinggal Fans

Rabu, 19 September 2018 - 12:00 wib

TP PKK Bengkalis Wakili Riau ke Tingkat Nasional

Rabu, 19 September 2018 - 11:50 wib

Pencairan Tunda Bayar Prioritas

Rabu, 19 September 2018 - 11:25 wib

11 Pejabat Kembali Dilantik

Rabu, 19 September 2018 - 11:00 wib

JPO Makan Korban Jiwa

Follow Us