Oleh: Eka Kurniawan

Setelah 13 Tahun, Karyanya Diterbitkan dalam Tujuh Bahasa

27 September 2015 - 09.06 WIB > Dibaca 1012 kali | Komentar
 
Setelah 13 Tahun, Karyanya  Diterbitkan dalam Tujuh Bahasa
Eka Kurniawan
RIAUPOS.CO - EKA Kurniawan menjawab wawancara ini lewat email dari Seattle, Amerika Serikat, Rabu (16/9). Di sana ia mewakili penulis Asia menjadi pembicara di sebuah perhelatan Asia Talk di Seattle Asian Art. Di sana ia bertemu pengarang juga idolanya: Salman Rushdie. Belum berselang lama, ia menghadiri Brisbane Writers Festivaldi Australia. Pengarang kelahiran Tasikmalaya, 28 November 1975 ini, kini benar-benar tak terhentikan untuk memasuki pergaulan sastra dunia. Tiga belas tahun setelah terbit novel pertamanya Cantik Itu Luka, tahun ini buku itu sudah diterjemahkan dan diterbitkan tujuh bahasa, terakhir ke dalam Bahasa Swedia, dan disambut dengan hujan pujian dari jurnal sastra dan reviewer ternama. Terjemahan novelnya yang lain Lelaki Harimau, juga telah terpajang di toko-toko buku luar negeri. Buku-buku itulah yang kini membawa ayah satu anak ini mengglobal. Pemikiran-pemikirannya bisa diikuti di blog-nya Eka Kurniawan Journal (ekakurniawan.com). Hasan Aspahani memawancarainya untuk Riau Pos (Jawa Pos Grup). Berikut petikannya:

Saya kutip Sapardi: kita bicara karena mendengar dan kita menulis karena membaca. Pilihan atau riwayat membaca Anda unik. Anda membaca Abdullah Harahap. Dan tentu Pramoedya. Kombinasi yang “ganjil”. Anda membaca karya-karya sastra klasik dunia dan novel-novel mutakhir yang belum ada terjemahannya dalam bahasa Indonesia. Anda ingin membesarkan diri sebagai pembaca, kata Anda dalam wawancara dengan M Aan Mansur. Tapi itu juga untuk membesarkan Anda sebagai pengarang akhirnya, bukan?

Sejujurnya, waktu kecil dan remaja saya tak punya impian menjadi penulis. Seperti kebanyakan anak muda masa itu, saya lebih tertarik menjadi anak band (saya mendengarkan Nirvana, Pearl Jam, Guns N’ Roses, bahkan band-band tua macam The Rolling Stones, Rush, Led Zeppelin). Saya pergi ke Yogya, awalnya karena ikut teman dan berpikir ingin main musik di sana (tentu tidak saya lanjutkan setelah sadar bakat musik saya payah). Tapi di sisi lain, saya senang membaca. Sejak kecil saya membaca apa saja, dan tak punya gambaran bahwa buku ini dan buku itu berbeda (sekolah tak mengajari saya itu). Jadi ketika saya membaca Abdullah Harahap, saya hanya berpikir ceritanya seru dan saya menikmatinya. Ketika kuliah dan menghabiskan banyak waktu di perpustakaan, karena kebetulan bisa bahasa Inggris, saya baca Gogol, Melville, Hamsun, Marquez, Dostoyevsky, sesederhana karena mereka menulis novel dan ceritanya seru. Bayangan tentang sastra “serius” dan barangkali “tidak serius” baru muncul setelah setengah jalan kuliah. Saya mulai bergaul dengan anak-anak sastra, mulai membaca koran di hari Minggu di mana ada cerpen. Ketika saya mulai berpikir ingin menjadi penulis, baik Abdullah Harahap, Kho Ping Hoo, Pramoedya, bahkan Gogol, Cervantes, juga Barbara Cartland, komik Jepang, sudah terlalu tertanam di kepala saya. Itu sesuatu yang tak terduga, tapi pada akhirnya saya ambil sebagai bagian dari hidup dan kesusastraan saya. Membaca tak pernah gagal membuat saya terhibur, dalam kategori hedonistik maupun intelektual. Dan saya pikir, salah satu cara agar saya tetap membaca adalah dengan menjadi penulis.



Tentang The Guest Cat, Anda menulis: Takashi Hiraide aslinya seorang penyair. Saya belum membaca puisinya, tapi yakin ia penyair yang hebat, sebab hanya penyair yang bagus bisa menulis novel seperti ini. Adalah Goenawan Mohammad yang bilang, “penyair yang baik adalah penulis esai yang baik”.  Bagaimana Anda melihat saling mengait antara posisi-posisi itu: penulis prosa, penyair, esais, dalam kontek menghasilkan karya sastra yang bagus.

Saya selalu kagum kepada para penyair. Sebelum menulis cerpen dan novel, saya ingin menjadi penyair. Saya mengubur impian itu karena dua hal. Pertama, dulu saya berpikir menjadi penyair berarti harus siap membacakan puisi di depan orang. Saya tak sanggup memikirkan itu. Saya tak terlalu suka berada di depan umum. Kedua, ini alasan yang lebih serius. Saya membaca puisi-puisi Chairil Anwar, dan saya tak percaya saya bisa menulis puisi sebagus dia. Tak ada harapan, lebih baik saya tak menulis puisi. Tapi kecintaan saya kepada puisi tak pernah padam, dan pada akhirnya saya sering membayangkan bahwa prosa yang baik, novel terutama, haruslah sejenis puisi. Bayangkan peristiwa-peristiwa di dalam novel, disusun sedemikian rupa, seperti kata-kata disusun dalam baris-baris puisi. Saya sering melihat novel dengan cara seperti itu. Sejenis permainan yang serius (seperti umumnya puisi). Setiap peristiwa memiliki makna, susunannya memiliki arti, bahkan panjang-pendeknya dihitung secara cermat. (Kundera membayangkan novel seperti komposisi musik, yang saya rasa maksudnya tak jauh dengan bayangan saya tentang puisi.) Seorang penyair pasti punya kepekaan itu. Tantangannya hanya pada bentuk. Orang sering berpikir menulis prosa berarti berpanjang-panjang. Tidak. Menulis prosa seperti menulis puisi, dengan peristiwa-peristiwa sebagai kata-kata. Plot sebagai komposisi. Tapi tentu saja itu prosa ideal dalam benak saya, prosa yang dibangun dengan pikiran seorang penyair, yang diam-diam saya selalu berharap merupakan salah satunya.

Saya melihat ada peran agen naskah dalam “industri” sastra dunia. Bagaimana Anda bisa menemukan pintu masuk ke sana? Apa rasanya setelah berada di sana? Bagaimana Anda sekarang dari “sana” melihat dunia kepenulisan di tanah air kita?

Sebenarnya saya memiliki “agen naskah” belakangan saja, setelah kedua novel awal saya terjual kurang-lebih ke tujuh bahasa. Sebagian besar bisa dibilang kebetulan: ada penerjemah yang tertarik, versi terjemahannya memperoleh sejenis beasiswa atau penghargaan, lalu penerbit tertarik. Setelah satu penerbit tertarik, penerbit di bahasa lain penasaran dan mencoba membaca draft-nya (para penerbit ini biasanya saling memperlihatkan naskah yang mereka punya, karena mereka yakin, semakin penulisnya dikenal di mana-mana, semakin baik untuk mereka). Beberapa penerbit suka dan membeli hak terjemahannya. Awalnya sangat merepotkan berhubungan dengan mereka satu per satu, bernegosiasi, dan lain sebagainya. Ketika saya punya “agen naskah” (saya ditangani Pontas Agency, yang berkantor di Barcelona), segalanya menjadi lebih mudah. Mereka memiliki banyak hubungan dengan penerbit di banyak negara. Mereka bahkan bisa berhubungan dengan beberapa penerbit sekaligus di satu negara, membujuk mereka, bernegosiasi, dan menemukan yang paling cocok. Melihat kembali kesusastraan kita, saya rasa apa yang terjadi pada saya hampir sama terjadi pada banyak penulis yang karyanya diterjemahkan ke bahasa lain: kebetulan. Seandainya kita punya sistem yang lebih baik, barangkali saya tak perlu menunggu 13 tahun. Penulis-penulis seumuran saya di negara lain (tengok Andres Neuman dari Argentina, Juan Gabriel Vasquez dari Kolombia, atau Alejandro Zabra dari Chile, mereka hanya butuh 3-4 tahun untuk diterbitkan dalam bahasa Inggris, karena bahasa Spanyol mereka relatif seperti pintu terbuka untuk industri buku Amerika/Inggris). Kita harus mengganti faktor kebetulan ini dengan sistem yang baik. Misalnya membuat akses yang mudah untuk para penerjemah membaca keragaman karya sastra kita (saya perlu 10 tahun sebelum Annie Tucker membaca Cantik Itu Luka; entah apa yang terjadi jika ia tak ke Indonesia dan tak ke toko buku lalu membeli novel itu), membuat mudah ketika mereka tertarik menerjemahkannya, dan selebihnya karya itu akan bicara kepada agensi naskah atau bahkan para editor di penerbit-penerbit luar. Kita tak mungkin menembus mereka tanpa penerjemah (yang baik).

Bagaimana Anda berkomunikasi dengan penerjemah-penerjamah buku Anda?  Anda terlibatkah dalam proses penerjemahan itu? Secara pribadi Anda diperkenalkankah dengan penerjemah-penerjemah Anda?

Tentu saja saya terus berkomunikasi dengan penerjemah saya. Khusus untuk terjemahan bahasa Inggris, saya bahkan memilih sendiri (atau kenal lebih dulu) dengan penerjemahnya sebelum mereka berhubungan dengan penerbit. Saya rasa sangat penting untuk berkomunikasi dengan penerjemah. Seorang teman mengingatkan saya untuk menjaga baik-baik kualitas terjemahan. Sejujurnya saya hanya bisa mengiringi proses penerjemahan dalam bahasa Inggris, itu pun dengan kemampuan bahasa Inggris saya yang biasa-biasa saja. Meskipun begitu, di kasus terjemahan ke bahasa lain, saya selalu meminta ke penerbit untuk memperkenalkan penerjemah yang mereka pilih kepada saya. Saya secara khusus bicara dengan para penerjemah ini, meyakinkan mereka, jika ada sesuatu yang mereka ragu, mereka bisa menghubungi saya kapan saja. Itu membantu mereka, dan membantu saya setidaknya untuk mengetahui di mana problem-problem mereka.

Melihat wilayah keluyuran Anda yang makin liar, Anda saya yakin tak lagi ada masalah dengan bahasa. Apakah Anda menyiapkan diri untuk itu? Bahasa asing apa saja yang Anda kuasai? Anda akan tetap menulis dalam bahasa Indonesia?

Sejujurnya saya tak menyiapkan diri untuk seperti ini. Tentu saja ketika pertama kali memutuskan untuk menjadi penulis, untuk menulis novel, saya ingin menulis novel yang bagus. Itu terjadi di akhir 90an, tak lama setelah Soeharto jatuh. Kami bisa kembali kuliah, kelas dibuka lagi, dan saya kembali menghabiskan waktu di perpustakaan kampus. Saya baru saja memutuskan untuk menjadi penulis, tapi belum tahu bagaimana memulainya. Saya duduk di ruang baca (ada bagian di perpustakaan UGM yang disebut “American Studies”), memandangi satu rak yang penuh dengan buku-buku klasik karya Gogol, Melvile, Dostoyevsky, Cervantes, Flaubert. Mungkin saya naif, tapi saya bilang pada diri sendiri, “Ingin menulis novel seperti mereka.” (Sampai sekarang saya selalu senang kembali ke karya-karya klasik). Tapi saya tak pernah membayangkan ketika menjadi penulis, apalagi setelah diterjemahkan, saya akan diundang ke beberapa negara, bicara di depan pembaca asing, diwawancarai media asing. Itu tak terjadi di Indonesia, setidaknya dalam kasus saya, sehingga saya tak memikirkan itu. Boro-boro ada persiapan. Saya mahir membaca dalam bahasa Inggris, karena saya terbiasa membaca buku dalam bahasa itu sejak lama, tapi tak terlalu biasa bicara. Sekarang saya terpaksa melakukannya. Dan itu satu-satunya bahasa asing yang saya bisa pergunakan. Dan ya, tentu saja saya akan tetap menulis dalam bahasa Indonesia. Saya hanya menulis dalam bahasa Inggris untuk surel dan sedikit wawancara. Untuk menulis cerpen, novel, saya akan tetap menulis dalam bahasa Indonesia. Pertama karena saya menyukainya, kedua karena hanya bahasa itu yang saya percaya untuk menerjemahkan gagasan saya, ketiga, setelah bertemu beberapa penulis asing, sangat membanggakan bahwa kita memiliki bahasa nasional sendiri.

Apa kabar teman-teman seperguruan Anda? Mereka merasa Anda tinggalkan?  Menulis adalah pekerjaan soliter, tapi seperti Anda tulis di Journal Anda, penting juga peran komunitas seperti itu untuk mendukung perkembangan seorang penulis.

Saya tak tahu apa perasaan teman-teman saya. Saya tak mungkin datang ke mereka dan bertanya, “Bagaimana perasaanmu?” Saya masih berhubungan dengan mereka, meskipun akhir-akhir ini saya lebih banyak di rumah dan mengasuh anak (saya rasa itu juga terjadi pada teman-teman saya). Bagaimanapun saya selalu bersyukur bagian dari pertemanan ini. Menulis pekerjaan soliter, tapi kesendirian itu jadi tertanggungkan ketika menyadari ada orang-orang yang kita suka, kita percaya, bahkan kita sayangi, di sekitar kita. Sekali lagi, apa yang terjadi pada saya banyak kebetulannya. Saya selalu berpikir teman-teman saya jauh lebih berbakat. Dalam beberapa kesempatan, di Australia maupun Amerika, saya selalu menyebut beberapa nama. Saya selalu bilang, ini hanya masalah waktu kalian mengenal kesusastraan Indonesia lebih baik. Generasi penulis kami yang lebih muda akan datang. Penulis seperti Ugoran Prasad, Intan Paramaditha, Gunawan Maryanto atau Puthut EA lebih muda dari saya. Gabriel Garcia Marquez menerbitkan “Cien Anos de Soledad” pada umur 40, dan baru terbit dalam bahasa asing tiga tahun kemudian. Generasi saya masih punya beberapa tahun sebelum 40, dan saya yakin mereka mampu menulis sebagus itu. Saya yakin dunia harus menemukan mereka. Jika saya bisa membuka pintu untuk mereka, saya ingin melakukannya. Beberapa waktu lalu saya membujuk Janet, pemilik Ubud Writers and Readers Festival agar mendatangkan Barbara Epler (presiden dan editor New Directions, penerbit saya di Amerika) ke Ubud, saya juga membujuk Barbara agar bisa datang. Jika tak ada halangan, ia akan datang ke Ubud bulan Oktober ini. Saya tak bisa menjanjikan apa-apa, tapi itu bisa menjadi kesempatan bagi para penulis kita untuk mendengar suara atau sudut pandang dari penerbit asing, dan Barbara barangkali bisa melihat karya-karya dan para penulis kita di sini. Siapa tahu? Saya memperoleh banyak kesempatan karena orang lain (Benedict Anderson dan Tariq Ali banyak membantu saya), dan saya akan senang jika bisa memberi kesempatan yang sama kepada orang lain.

Iseng nih, saya lihat di Journalmu, semua postingan sepanjang apapun isinya, selalu ditampilkan satu paragraf saja. Kenapa?

Pertama, awalnya jurnal-jurnal itu ditulis dalam sekali duduk, di program “TextEdit” (saya mempergunakan MacBook. Di komputer berbasis Windows, jika saya tak salah ingat, sejenis program “Notepad”). Program itu nyaris tak mengenal format, saya mempergunakannya karena ringan dan mudah dibuka. Jadi saya menulis saja mengalir, tak terlalu menghiraukan pemenggalan paragraf. Meskipun tidak selalu, saya masih sering menulis di program itu sampai sekarang, sebelum memindahkannya ke situs web. Kedua, sebagaimana kita tahu kita membangun satu paragraf dengan asumsi ada satu pokok pikiran tertentu di sana, saya membayangkan jurnal saya memang sebagai satu pokok pikiran ringkas. Tentu kadang-kadang berbelok ke sana-kemari, sedikit menyimpang, tapi umumnya hanya satu pokok pikiran ringkas. Saya pikir menampilkannya dalam satu badan paragraf membuat saya melatih diri dengan pokok pikiran tunggal ini agar tidak melenceng ke mana-mana. Ketiga, lagipula siapa yang mengharuskan menulis berparagraf-paragraf? Ada masa ketika manusia menulis tanpa paragraf, tanpa tanda baca, bahkan tanpa spasi! Pembaca toh bisa membangun paragraf-paragraf imajiner mereka sendiri.***

 Eka Kurniawan, Pengarang Indonesia Kini yang Mendunia


KOMENTAR
Esai Lainnya
Terbaru
Minggu, 18 November 2018 - 06:45 wib

Bela SBY, Ruhut Sebut Prabowo Seperti Beruang Madu

Minggu, 18 November 2018 - 06:03 wib

PBNU Tak Sependapat dengan PSI Soal Perda Syariah dan Injil

Minggu, 18 November 2018 - 05:34 wib

Ketua PGI Tanggapi Positif Kritik Grace

Minggu, 18 November 2018 - 05:11 wib

Grace Harus Uraikan Maksud Perda Syariah

Minggu, 18 November 2018 - 04:36 wib

Kata Jokowi Monumen Kapsul Menyimpan Idealisme Seperti Avengers

Minggu, 18 November 2018 - 03:59 wib

Alasan Jerinx SID Tak Mau Temui Via Vallen

Minggu, 18 November 2018 - 02:50 wib

Wow, A Man Called Ahok Tembus 1 Juta Penonton

Minggu, 18 November 2018 - 02:15 wib

Pembagian Sertifikat Tanah Harus Ada Tindak Lanjut Pemerintah

Follow Us