Oleh: Sri Yanti

Tarik-Menarik Sastra dan Linguistik

27 September 2015 - 09.21 WIB > Dibaca 2331 kali | Komentar
 
Tarik-Menarik Sastra dan Linguistik
Sri Yanti
Sastra dan linguistik dua hal yang tak dapat dipisahkan. Keduanya memiliki kaitan erat seperti dua sisi mata uang. Bahasa merupakan media yang digunakan sastrawan untuk berekspresi. Untuk menulis dan juga memahami sebuah karya sastra, diperlukan pengetahuan mengenai arti dan makna bahasa yang dipergunakan di dalam karya tersebut.

Di dalam sebuah puisi terkenal karya Chairil Anwar yang berjudul “Aku”, terdapat cuplikan Ku mau tak seorang kan merayu/tidak juga kau. Cuplikan tersebut lebih dikenal masyarakat daripada cuplikan yang muncul sebelumnya, yaitu Ku tahu tak seorang kan merayu/tidak juga kau. Ada perbedaan pemilihan kata mau dan tahu di dalamnya. Ternyata, kedua kata tersebut memunculkan pemaknaan yang berbeda terhadap puisi Chairil. Pemilihan kata mau menunjukkan keinginan dan semangat yang lebih kuat dibandingkan kata tahu. Kata mau tersebut lebih sesuai dengan pemaknaan puisi “Aku” Chairil Anwar ini secara keseluruhan.

Sri Yanti, Guru Bahasa Indonesia SMA Negeri 1 Tebingtinggi, Kab. Kepulauan Meranti


Tidak hanya pada tataran kata, bahkan, di dalam dunia puisi, bunyi bahasa pun dijadikan sarana untuk membangun imaji dan makna yang ingin didapatkan pengarang, seperti penggunaan bunyi kakofoni untuk menggambarkan kesedihan atau kesuraman dan bunyi efoni untuk menggambarkan kegembiraan atau keceriaan.

Berkenaan dengan hubungan linguistik dengan sastra ini, Amminuddin (2001) menyatakan bahwa menghadapi realitas akan kompleksitas makna dalam karya sastra, pembaca yang ingin memahami karya sastra secara sungguh-sungguh dan benar tentunya juga harus memahami ilmu tentang makna (semantik). Peran semantik yang sangat penting dalam kajian sastra terutama pada telaah makna dalam gaya bahasa (style) dan latar proses kehadirannya.

Di dalam tulisan ini didedahkan sebuah karya sastra yang dibalut dengan nuansa linguistik di dalamnya. Sebuah cerpen berjudul “Sebuah Wajah di Roti Panggang” yang berhimpun dalam kumpulan cerpen kedua karya Riki Utomi memiliki karakteristik cerita yang khas. Kekhasan itu bukan hanya tertuang dalam bentuk warna cerita yang sederhana, konflik cerita dengan balutan romantisme, atau segi intrinsiknya lainnya, tetapi juga “pembicaraan” yang berkenaan dengan masalah linguistik, khususnya semantik.

Dalam buku Pengantar Semantik Bahasa Indonesia karya Abdul Chaer dikatakan bahwa semantik digunakan untuk bidang linguistik dengan hal-hal yang ditandainya. Dengan kata lain, semantik merupakan bidang studi dalam linguistik yang mempelajari makna atau arti bahasa.

Di dalam cerpen “Sebuah Wajah di Roti Panggang”, pembicaraan yang berkenaan dengan semantik terlihat pada makna “bakar” dan “panggang”. Cerpen ini mengisahkan  seorang lelaki (tokoh sentral) yang ketika sedang membeli roti favoritnya merasa aneh oleh sikap perempuan yang menertawakannya. Perempuan yang tak dikenalnya itu juga sedang antre. Perempuan itu menertawakannya akibat mendengarkan tokoh sentral marah dengan menyebut kata “roti bakar”. Hal itulah yang membuat tokoh sentral itu menjadi penasaran. Tokoh tersebut merasa heran dan bertanya-tanya, “Apakah ada yang salah dari ucapannya itu?” Rasa heran dan penasaran tersebut membuat tokoh tersebut selalu terbayang wajah perempuan itu tiap kali memandang roti. “Wajahmu seketika berbinar. ‘benar sekali, saya yang marah kemarin sehingga orang ramai memandangi saya. Tetapi anehnya mengapa anda tertawa waktu itu?” (halaman 9).

Pertanyaan dan rasa penasaran tokoh sentral tersebut beralasan karena ia merasa dianggap aneh dan tak tahu diri. Dia juga dicap tidak sabar menanti dan cepat tersulut emosi. Pengarang menyiasati terjadinya konflik antara lelaki dan perempuan di dalam cerpen itu dengan konflik yang berkaitan dengan semantik yaitu melalui diskusi tokoh sentral dengan tokoh perempuan muda yang membicarakan makna kata “bakar” dengan “panggang”. Di sinilah sesungguhnya muncul titik konflik itu. Pengarang memberi pandangan bahwa “hakikat bahasa” umumnya banyak dilanggar oleh pemakai bahasa itu. Hal itu dapat ditelisik dari cuplikan:

“Ada yang salah dari ucapan saya?/ perempuan itu masih tertawa kecil dan kemudian mengangguk/ jelas ada yang salah. Apakah anda tidak menyadari kalau anda telah memakan roti yang hangus?/ ucapnya sambil menoleh meremehkanmu/ saya memakan yang hangus? Saya masih belum paham. Anda aneh sekali/ barangkali saya memang aneh karena akibat bahasa yang anda gunakan waktu itu/ jelas kalau seperti itu anda akan memakan roti yang gosong terbakar/ kalau anda sendiri? Lanjutmu/ saya tidak, karena saya menyebutnya roti panggang karena proses pembuatannya bukan dibakar tapi diolah di atas wadah datar. Jelas-jelas tidak dibakar bukan?” (halaman: 9-10).

Dialog sederhana ini cukup memberi kesan konflik yang apik. Melalui karya sastra, Riki Utomi menyampaikan “pelajaran” semantik yang merupakan bagian dari pembahasan linguistik. Tentang hakikat kedua makna kata itu—secara semantik—berbeda. Benar yang dikatakan tokoh perempuan muda, makna panggang yaitu mengolah suatu makanan di atas wadah datar yang tidak langsung terkena api atau tidak di dalam api, sedangkan makna bakar, langsung terkena api; di dalam api; atau juga (biasa) tanpa wadah dalam prosesnya. Hal itulah yang membuat tokoh perempuan muda tertawa. Dengan demikian, tarik-menarik antara kajian sastra dan linguistik dalam cerpen ini patut diapresiasi dengan baik. Selain itu, cerpen ini dapat memberi “nilai tambah” dalam corak-ragam tema-tema karya sastra kita.

 Di dalam kehidupan nyata, masyarakat kadang juga abai dengan penggunaan/pemilihan kata yang tepat. Sebut saja penggunaan kata nanti dan tunggu yang seolah-olah dianggap memiliki makna yang sama. Apakah hal seperti ini yang hendak dikritisi Riki Utomi dalam cerpennya itu?***
KOMENTAR
Terbaru
Rabu, 14 November 2018 - 20:40 wib

Cuti Bersama Idulfitri Tahun Depan Lebih Pendek

Rabu, 14 November 2018 - 19:30 wib

Reaksi Brexit dan Dampak Ekonomi Cina Picu Pelemahan Rupiah

Rabu, 14 November 2018 - 19:28 wib

Kebut Pertumbuhan, RI Perbaiki SDM

Rabu, 14 November 2018 - 16:15 wib

Bonus Demografi Diharapkan Sampai ke Masyarakat

Rabu, 14 November 2018 - 16:00 wib

APBD Kampar Diperkirakan Rp2,4 T

Rabu, 14 November 2018 - 15:45 wib

Pencakar Langit Riau Pertama di Luar Pekanbaru

Rabu, 14 November 2018 - 15:33 wib

Lelang Sepeda Motor Dinas Pemko 22 November

Rabu, 14 November 2018 - 14:43 wib

Pengungsi Rohingya Hindari Repatriasi

Follow Us