Oleh Riki Utomi

Wacana Profetik dalam Surga yang Terkunci

4 Oktober 2015 - 00.42 WIB > Dibaca 856 kali | Komentar
 
SEORANG pengarang, siapapun dia, akan terus berkembang membawa visi dan misi kepenulisannya sekaligus juga corak warna karangannya yang bisa saja berubah. Dalam hal ini, keyakinan saya ternyata tidak meleset, seorang yang kreatif dalam dirinya ada getar keresahan yang kalau tidak dilaksanakan akan terasa ada yang kurang. Untuk itulah ia akan selalu berkarya.

Maka, sayapun dengan dada debar karena senang menerima kembali kiriman istimewa sebuah buku terbaru dari sastrawan Musa Ismail bertajuk Surga yang Terkunci. Buku dengan tampilan cover hijau cerah bersiluet gambar abstrak itu berisikan delapan belas cerpen dengan tema beragam. Musa memang sosok pengarang yang produktif, seperti yang selalu didengungkannya, “ingin terus menulis sebelum sampai ke batas.”

Setelah melahap cerpen-cerpennya ada gambaran universal yang didedahkan, yang mengalir lancar, berkait-kelindan hingga memberikan tarik-ulur dalam dunia sosial menuju kekuatan profetik; religiusitas. Tak lupa dibalut dengan corak khas Musa yang sangat kental dengan aroma Melayunya semakin membungkus keakuratan cerpen-cerpennya  kepada multi tafsir. Namun dari keberagaman itu, akhir-akhir ini, Musa (dalam hemat saya; juga atas faktor pembacaan saya atas sejumlah karyanya saat ini) lebih cenderung mengarah kepada tema besar religiusitas.

Mengerucut tema-tema yang diusungnya itu tentu membawa nilai positif yang dapat dijadikan pijakan eksisnya Musa dalam mengarang. Maka, tak jarang muncul sentuhan-sentuhan dakwah. Hal itu dapat kita telisik dalam cerpen, di antaranya: "Akhirnya Semestapun Menangis", "Anugerah", "Indap-Indap ke Surga", "Pulang", dan "Surga yang Terkunci".

Menyinggung profetik dalam kumupulan cerpen ini memiliki alasan yaitu secara tema, Musa menghadirkan kesan-kesan kehidupan dengan segala problematikanya yang dibungkus dengan pencerahan hati. Artinya ada “siraman rohani” yang membuat cerpen-cerpennya terang; tentu bukan hanya kekuatan instrinsik-ekstrinsik saja dalam hal ini. Dalam buku Maklumat Sastra Profetik karya Kuntowijoyo, dikatakan “sastra profetik mempunyai kaidah-kaidah yang memberi dasar kegiatannya, sebab ia tidak saja menyerap, mengekspresikan, tapi juga memberi arah realitas. Sastra profetik adalah juga sastra dialektik, artinya sastra yang berhadap-hadapan dengan realitas, melakukan penilaiandan kritik sosial-budaya secara beradab”. (hlm: 1-2).

Musa Ismail bagi saya sosok yang religius. Dalam hal ini juga banyak kita jumpai pengarang kontemporer yang selain fokus pada ranah sosial-budaya juga membungkusnya dalam nuansa religiusitas. Lihatlah Abdul Hadi WM, Emha Ainun Najib, A Mustofa Bisri, Kuntowijoyo, Ahmad Tohari, HAMKA, Habiburrahman el Shirazy, dan lain-lain yang mengusung wacana profetik memiliki tujuan mulia dalam menyelaraskan problem kehidupan kepada solusi-solusi yang sesuai keselarasan hati manusia atas ridho Tuhan. Seperti kembali yang dikatakan Kuntowijoyo dalam bukunya tersebut, “karena etika profetik bersumber kitab suci. Sastra profetik adalah senjata budaya orang beragama untuk melawan musuh-musuhnya, materialisme, dan sekularisme tersembunyi.”

Buku kumpulan cerpen Surga yang Terkunci  ini menyiratkan tema besar atas wacana profetik di atas. Dalam cerpen "Akhirnya Semestapun Menangis", mengisahkan tokoh Aku (Rahim) yang selalu rindu akan datangnya bulan Ramadhan dan berdebar ketika Ramadhan tiba. Debar perasaan tokoh Aku dapat dinilai beralasan karena sebagai bentuk upaya membentengi diri dari pengaruh-pengaruh yang merusak dirinya selama mejalani ibadah di bulan itu. Dalam hal ini Musa memperkuatnya melalui konflik batin tokoh Aku, “tapi bagaimana mungkin aku bisa merdeka dalam belenggu pesta-pora dunia ini? Perjalanan ini sangat melelahkan, kawan.”

Kekhawatiran tokoh Aku juga terlihat pada konflik batin yang lain. “bertahanlah Rahim. Semoga kita termasuk orang-orang yang sedikit disukai Rasulullah… puasa merupakan persoalan iman.” Adanya tarik-ulur bulan Suci Ramadhan dengan budaya konsumtif kita hari ini tak dapat dipungkiri. Banyak manusia tergiur di pertengahan Ramadhan dalam hal konsumtif daripada mempertahankan tarawih di masjid. Kehidupan riil sosial-masyarakat seperti ini dicoba dikritik oleh pengarang.

Berikut dalam cerpen "Anugerah", mengisahkan tokoh Aku yang merasa kehilangan isteri. Sehingga isterinya menganggapnya aneh. Meski itu hanya sebuah mimpi, tetapi ada pesan tersirat yang ditawarkan pengarang akan makna “isteri” dalam mimpi tokoh Aku tersebut. Isteri yang tak lagi hadir dalam mimpi itu telah meninggalkannya sebagai bentuk interpretasi bahwa tokoh Aku telah kehilangan “anugerah” sebab ia tak lagi bangun di sepertiga malam untuk malaksanakan ibadah malam.

Untuk itulah tokoh Aku merasa menyesal. “Bukankah anugerah yang kudapatkan ini bermula dari perjalanan setiap malam? Saban malam, kucoba bergantung di salah satu sayap jibril sambil mengharapkan doa dan senyumannya.” (hlm: 18). Tokoh Aku masih merenung dalam pertengahan cerita. Hatinya menyesal karena lalai telah melewati malam dengan sia-sia. “… malam, kehilangan sepertiga malam itu merupakan kebenaran yang patut menjadi renungan.” (hlm: 19). Dalam hal ini, pengarang mencoba bersikap persuasif untuk menyadarkan kita bahwa kita harus menyikapi malam dengan bijak. Bangun di waktu sepetiganya karena waktu itu sangat khusuk untuk mendekatkan diri pada Sang Khalik.

Kemudian cerpen "Indap-indap ke Surga", bercerita tentang tokoh Aku yang dalam mimpinya menerima telepon dari Abah. Abahnya yang mengaku sedang dalam kesulitan meniti suatu jembatan yang gelap. Bahkan banyak orang-orang lain yang juga sedang meniti dicambuk oleh sosok yang asing dan tak dikenal. Tokoh Aku semakin merinding sekaligus penasaran karena—dalam mimpi itu— ia tidak tahu sang Abah berada di tempat apa.

“Sebenarnya Abah dimana? Kucoba mengirim pesan itu sekali lagi, namun gagal. Keanehan menyelimutiku.” (hlm: 38). Keanehan yang dirasakan tokoh Aku terus berlanjut ketika Abah mengatakan, “sekarang Abah dalam keluarga asing. Hati Abah teriris karena para tetangga yang bernasib malang. Mereka dicambuk-cambuk. Anakku, mereka dibantai oleh seseorang yang tak dapat kita lihat.” (hlm: 30).

Kekhawatiran Abah dan tokoh Aku —meski hanya dalam mimpi— cukup memberi alasan bahwa kita sebagai orang yang beriman kepada Allah swt patut mempertanyakan diri kita sendiri: “sudahkah kita banyak beramal?” Musa secara tak langsung memberi gambaran bahwa tidak mudah untuk dapat masuk ke surga karena terlebih dahulu kita harus melewati shirat, lalu konsekuensi iman yang minim pada manusia menyebabkan ia terhenti melewatinya.

Selanjutnya cerpen "Pulang", mengisahkan tokoh gadis bernama Lilin yang dianggap meninggal dunia karena mengidap radang tenggorokan. Nyawanya tak dapat ditolong sewaktu dirawat di Melaka. Tapi keanehan terjadi ketika keluarganya bertemu seorang pengemis tak dikenal yang mendoakan Lilin agar selamat dari maut, karena Lilin selama ini telah berbaik hati padanya dengan memberinya sedekah—meski terkadang hanya senyuman.

 “Semua warga tercengang… nyawanya kembali lagi.” (hlm: 115). Mukjizat Lilin membuat heboh masyarakat. Sampai akhirnya dia dapat menjadi ustazah yang berceramah di wirid-wirid pengajian sambil menceritakan pengalamannya ketika koma. Hal ini dapat dikatakan “pukulan” bagi pembaca yang harus menyikapi hidup untuk banyak beramal. Musa menggambarkan tokoh Lilin dengan amalan rajin bersedekah kepada fakir-miskin. Tapi menurut saya cukup sayang karena Musa membelokkan plot cerpen ini kepada hilangnya rasa percaya masyarakat akan mukjizat itu, padahal mukjizat itu telah ada pada diri Lilin. Lewat tokoh Pak Lurah, hal itu disebutkan,

“Itu semua adalah rekayasa. Itu hanya rekayasa seperti berita seekor ayam yang melahirkan kucing. Juga ibarat jerebu yang sengaja dibuat untuk menglihkan kebohongan.” (hlm: 118). Seandainya cerpen ini dibiarkan lurus, mungkin akan semakin jelas nilai-nilai hikmah religiusnya. Tapi mungkin pengarang  memiliki alasan lain dengan membelokkan plot tersebut.

Terakhir, cerpen "Surga yang Terkunci", merupakan cerpen yang juga menjadi tajuk besar buku ini. Mengisahkan tokoh Presiden yang bermimpi aneh. Ia berusaha sekuat tenaga ingin meraih pintu yang hampir tertutup. Ia seorang penguasa. Sibuk bekerja namun kurang (atau tidak) perhatian kepada rakyatnya sehingga rakyatnya terus berada dalam kemelaratan. Disini adanya implikasi tarik-ulur antara sikap tokoh Presiden dengan rakyat yang berakibat dia—di dalam mimpinya itu—tak mampu meraih pintu kenikmatan (baca: surga). Cerminan nilai-nilai profetik ini dicoba kembali di dedahkan Musa dengan apik. Ada humor, sindiran, dan ajakan untuk mencermati kehidupan realita sosial kita. “Jangan membuat aku menunggu terlalu lama. Buka! Apa salahku! Ayo katakan, apa salahku? Jika begini hidupku, bagai ranting kering… aku mau masuk…” (hlm: 147).

Hemat saya, Musa saat ini lebih nyaman mengusung tema-tema profetik. Balutan nilai-nilai sosial-budaya yang dibungkus dengan nuansa religiusitas sangat apik menjadikan cerpen-cerpennya sarat hikmah renungan. Secara tak langsung, Musa seperti berdakwah lewat tulisan (fiksi) sekaligus menyentak kesadaran pembaca bahwa “kita jangan lalai dalam beramal” seperti yang dideskripsikan pada tokoh-tokoh rekaannya dalam cerpen-cerpennya tersebut. ***

Riki Utomi, penikmat sastra dan linguistik. Buku fiksinya Mata Empat (2013) dan Sebuah Wajah di Roti Panggang (2015).  Menggerakkan wadah kreatif Cahayapena. Tinggal di Selatpanjang.
KOMENTAR
Esai Lainnya
Terbaru
Kamis, 15 November 2018 - 19:45 wib

Telkomsel Hadirkan Kerja Sama Non-Tunai dengan Adhya Tirta Batam

Kamis, 15 November 2018 - 18:35 wib

Ingin Bahasa Indonesia jadi Bahasa Internasional, APPBIPA Riau Terbentuk

Kamis, 15 November 2018 - 17:59 wib

Lagi Berenang, Bocah Tewas Diterkam Buaya

Kamis, 15 November 2018 - 17:00 wib

3 Pemain Timnas Dapat Tawaran dari Klub Luar Negeri

Kamis, 15 November 2018 - 16:15 wib

BPN Komit Realisasikan Program PTSL 2018

Kamis, 15 November 2018 - 16:00 wib

Sabhara Gagalkan Rencana Tawuran Sekelompok Pemuda

Kamis, 15 November 2018 - 15:45 wib

Pembangunan RSUD Indrasari Terlambat

Kamis, 15 November 2018 - 15:30 wib

BNNK Ringkus Pengedar Antar Provinsi

Follow Us