Oleh Zuarman Ahmad

Teks dan Seks

4 Oktober 2015 - 00.52 WIB > Dibaca 1324 kali | Komentar
 
HASAN  Junus dalam satu dari banyak Rampai-nya mengatakan, “Barangkali hanya orang tak memerlukan seks sajalah yang tak menghiraukan teks”. Mungkin pernyataan ini ada benarnya. Tetapi kalau pernyataan ini diubah seperti ini: “Barangkali orang yang tak lagi memerlukan seks tak akan dapat membuat teks”, mungkinkah benar? Belum tentu juga. Karena pernyataan seperti yang terakhir ini memerlukan penelitian yang serius, mungkin dengan validitas data penelitian kuantitatif. Namun, kalau rasa-rasanya pernyataan kalimat tanda kutip yang terakhir ini dalam hati terasa benar atau mengarah-arah benar, mungkin benarlah, ha ha ha.

Membaca teks, hendaknya mencapai kesenangan atau kenikmatan puncak yang disebut dengan istilah ‘jouissance’ oleh Roland Barthes. Sebagaimana pernyataannya tentang dua macam kesenangan atau kenikmatan yaitu: kesenangan atau kenikmatan biasa disebut ‘plaisir’ dan yang kesenangan atau kenikmatan puncak yang dinamakan ‘jouissance’.

Karena itu Hasan Junus berpesan bahwa, untuk mencapai jouissance dalam membaca dan mendekati teks dapat dilakukan dari arah mana saja yang disukainya, sesuka hatinya, maupun membaca dari depan atau membaca dari belakang atau membaca dari tengah, sama saja. Karena itu, ada juga pendapat dan pernyataan bahwa teks buku yang bagus mau dibaca dari mana saja tak ada masalah, atau seseorang yang memulai membaca teks buku dari bagian halaman mana saja menandakan teks itu adalah teks yang bagus dan bermutu.

Menurut Jorge Luis Borges, kalau dapat membuat cerita-pendek atau novel yang singkat dengan semua isi teks-nya adalah bermakna kenapa harus menulisnya dengan halaman setebal bantal tetapi banyak kata-kata dan kalimat-kalimat yang terbuang percuma, yang tak mempunyai arti dan makna apapun kecuali sampah. Karena itu buku-buku cerita-pendek dan esei Borges tidak ada yang panjang-panjang, tetapi singkat dan padat. Bacalah buku Borges Sejarah Aib (2006) atau dalam judul asli A Universal History of Infamy (1979), yang oleh Pengantar Redaksi dalam Sejarah Aib mengatakan: “Bermain-main dengan fragmen kehidupan tokoh-tokoh masyhur dalam sejarah yang diriwayatkan penulis lain … pencerita yang menciptakan adonan untuk antara fakta, fiksi, dan sikap (seolah-olah) ilmiah. Suatu gaya yang kelak menemukan puncak ekspresinya dalam cerpen-cerpen Borges yang mendunia.”

Atau dapat dibaca dalam Kata Pengantar Edisi 1954 sebagai: “Gaya yang dengan sengaja menguras (atau berusaha mengurai) seluruh kemungkinannya, dan yang nyaris menjadi parody bagi dirinya sendiri, harus saya definisikan sebagai barok.” Lihat dan baca teks cerita-pendek Mario Vargas Llosa “Ibu Tiri Tercinta” pada halaman pertama: “Saat menyabuni tubuhnya, ia membelai sepasang buah dadanya yang kencang, puting-puting susunya yang tegak dan pinggangnya yang masih langsing, tempat lekuk pinggulnya melebar, bagaikan dua sisi buah apel,lalu ia mengelus kedua pahanya, bokongnya, sepasang ketiaknya yang bulu-bulunya telah dicukur dan leher jenjangnya yang berhiaskan sebiji tailalat. “Andai aku tak pernah menjadi tua,” doanya, seperti yang selalu dilakukannya setiap pagi ketika mandi.”

Dan lihat pula halaman teks terakhir dari cerita-pendek ini: “Ketika pada akhirnya ia berhasil terlelap, ia bermimpi tengah berada dalam salah satu etsa koleksi rahasia Don Rigorberto. Di sana ia dan suaminya itu tengah merenungi malam bersama-sama, mencari ilham bagi cinta mereka.”

Pendapat Borges yang mengusahakan seluruh teks cerita yang ditulis dengan tanpa kata-kata dan kalimat-kalimat yang sia-sia atau menjadi sampah, sebagaimana yang pernah diceritakan oleh Hasan Junus suatu hari di kantor lama Majalah Budaya Sagang, bahwa Borges banyak mendapat pengaruh dari cerita-cerita dalam Al-qur’an, dan cerita-cerita dari dunia Islam.
Perlakuan pada teks ini juga mungkin berlaku pada pendekatan seks bagi penganut yang tak terkungkung atau terbelenggu dengan aturan akhlah. Pendekatan seks (penganut tidak aturan fikih) ini seperti halnya teks buku yang bagus.

Penganut ini dalam melakukan hubungan seks dapat memulai dan melakukannya dari arah mana saja, bebas, mau dari belakang, dari depan, dari atas, dari bawah, dari samping kanan, dari samping kiri, tegak, duduk, atau seperti yang ditulis dalam naskah Arab-Melayu mengenai kamasutra orang Melayu yang satu diantaranya adalah seperti beruk begayut.

Kesenangan seks yang dilakukan oleh penganut tidak aturan fikih ini seperti halnya membaca teks buku yang bagus, akan mencapai kesenangan yang klimaks, seperti halnya kesenangan atau kenikmatan yang disebut oleh Roland Barthes itu dengan pencapaian jouissance atau orgasmus intelektual. Karena itu taklah heran kalau Barthes mengatakan bahwa bahasa itu cabul-lucah, dan karena itulah aku kembali kepadanya (For me, language is obscene, and that is why I continually return to it).

Hal yang sama lagi dalam pendekatan kesenangan atau kenikmatan membaca teks dan seks adalah dilakukan bersunyi-sunyi atau di ruang pribadi, mungkin karena dua pekerjaan ini adalah pekerjaan yang serius yang memerlukan konsentrasi penuh. Membaca teks, sebagaimana yang pernah dinyatakan oleh Al azhar dalam satu esainya adalah “menikmati kesendirian” yang; juga sama halnya dengan seks, menikmati kesendirian juga, walaupun berdua, tetapi masing-masing menikmati kesenangan yang pada galibnya juga bersendirian.
Persamaan yang ketiga antara teks dan seks adalah imajinasi.

Membaca teks menimbulkan imajinasi pembacanya yang liar, sedangkan seks menimbulkan imajinasi yang lebih liar lagi, sehingga ketika kenikmatan seks yang disebut Roland Barthes dengan kesenangan atau kenikmatan puncak (jouissance) akan menimbulkan unsur atau elemen terpenting dalam musik, yakni bunyi atau suara (voice, vocal), yang kalau hal ini dibuat komposisi musik oleh seorang music composer mungkin akan melahirkan karya musik yang luar biasa, mungkin melebihi Mozart, Beethoven, Wagner, Janacek, Rachmaninof, Ravel, Schoenberg, Graswin, dan lain-lain, dan saya akan menyelesaikan karya musik dari eksplorasi bunyi jouissance seks ini ke dalam teks musik. ***


Zuarman Ahmad, mengajar di Akademi Kesenian Melayu Riau (AKMR)), penerima Anugerah Sagang Kategori Budayawan dan Seniman, musisi, arranger, komposer, conductor Bandar Serai Orchestra (BSO), juga menulis esei seni dan penulis cerita pendek.
KOMENTAR
Esai Lainnya
Terbaru
Kamis, 20 September 2018 - 01:22 wib

Prabowo Tunjuk Neno Warisman Jadi Wakil Ketua TKN

Rabu, 19 September 2018 - 20:21 wib

Kata Nadia Mulya Untuk KPK Terkait Kasus Century

Rabu, 19 September 2018 - 20:00 wib

Siak Undang Sineas dan Produser Film

Rabu, 19 September 2018 - 19:30 wib

Luis Milla Kembali Latih Timnas Indonesia

Rabu, 19 September 2018 - 19:00 wib

13 Oknum ASN Terjerat Kasus Tipikor

Rabu, 19 September 2018 - 18:45 wib

Sembunyi di Lumpur, Perampok Berhasil Ditangkap

Rabu, 19 September 2018 - 18:30 wib

Pelabuhan Tikus Jalur Masuk Empuk Narkoba

Rabu, 19 September 2018 - 18:00 wib

TP PKK Ikut LMSI Tingkat Riau

Follow Us