Oleh Afriyanti

Gong

4 Oktober 2015 - 00.58 WIB > Dibaca 1589 kali | Komentar
 
APAKAH kau sudah memukul gong saatmasuk kekampung ini? kata perempuan paruh baya itu, sembari menatap tajam kemataku.

Belum, kenapa?

Sebaiknya kau memukulnya, cukuptiga kali. Ia tersenyum lalu memalingkan mukanya ke arah jendela mobil.

Ini kampung gong, sebuah kampung yang jauh dari sudut kota. Kampung yang terpencil dan tersudutkan dari ibu kota provinsi. Perempuan itu kembali berbicara, Konon katanya, jika pertama kali menjejakkan kaki ke mari, kau musti memukul gong itu tiga kali, dengan nada yang berbeda. Aku semakin binggung, Tak paham.

Apa, ibu juga pendatang di kampong ini? sahutku kemudian. Ia hanya diam, dan tak ada lagi percakapan diantara kami.

Akhirnya aku tiba. Ini bukan pertama kalinya aku terdampar di sudut kampung. Aku bahkan pernah terdampar di beberapa perkampungan seperti tempat tinggalnya Suku Talang Mamak, Suku Akik dan kampung-kampung lainnya. Sudah menjadi makanan harianku tinggal di kampung orang. Berbeda di kampung-kampung lain yang pernah kudatangi, di sini
seakan-akan berada di Thailand atau Cina. Orang kampung menamai kampung yang sekarang aku tapaki dengan sebutan Kampung Cina. Ya, kampung yang di penuhi Suku Tionghua. Di depan rumah, dihiasi dengan tang-lung. Kata tetua di tempatku bermalam, tang-lung dipercayai Suku Tionghua sebagai alat pelindung yang melindungi lilin dari tiupan angin ketika berjalan di malam hari. Ia merupakan salah satu benda penting dalam kebudayaan Cina dan menjadi salah satu unsur kebudayaan masyarakat Cina sejak tahun 250 sebelum masehi. Begitu halnya tang-lung yang ada di kampung Cina ini. Tang-lung menjadi pembeda antara Suku Cina dengan suku-suku lainnya yang ada di belahan dunia. Warna serta tempat di mana tang-lung digantung, memiliki makna tertentu. Biasanya jika berwarna merah di depan pintu, bertanda menyambut kelahiran bayi atau perkawinan. Merah melambangkan tanda kemeriahan dan kegembiraan serta membawa tenaga dan kecerdasan pemilik rumah.

Malam memang indah dihiasi tanglung-tanglung yang berpijar di Kampung Cina. Sesekali, aroma dupa pun tak ketinggalan. Dibawa angin malam, suasana di kampung ini begitu indah, tapi mencekam.

Masuklah, nak. Di luar dingin.

Tiba-tiba aku disentak suara dari depan tangga tempat aku duduk. Aku masuk dan langsung menuju kamar untuk beristrirahat. Sambil tidur-tiduran di ranjang kayu yang berukuran kecil, kuraih buku pemberian Mas Andi, sekedar untuk dibaca-baca sebagai penghantar tidur. Mas Andi adalah saudara kandungku, yang telah meninggal setahun yang lalu setelah mengunjungi kampung ini. Begitu penasarannya, kini aku berada di sini, kampung yang kata Maskucukupindahuntukdihuni.

Aku kembali mengingat kesedihan itu. Namun, seseorang mengetuk pintu kamarku saat itu, dan menemaniku bercerita.

Esoknya, suasana pagi sungguh menawan. Sesekali, dari balik jendela kayu tempatku tinggal, kuintip suasana di luarrumah. Kulihat sosok lelaki mengenakan baju putih mengapak kayu-kayu di halaman samping rumah. Dari wajah hingga ke dagunya, keringat pun berjatuhan. Aku berdecak kagum melihat pesona yang dimiliki wajah tampan pemuda di balik jendela. Sambil menggigit jari telunjuk, tiba-tiba bibirku berkata, Lelaki itu seperti lelaki yang ada di mimpiku tadi malam.

Sudah bangun, nak! sapa lelaki tua yang membuyarkan lamunanku.

Sudah Pak,sebentar lagi saya keluar, sahutku dengan ramah.

Setelah mandi pagi hari itu, aku pergi ke halaman belakang. Di sana para emak-emak berkumpul sambil menggosip cerita kehidupan yang menari-nari di benaknya masing-masing.
Aku hanya tersenyum, saat mereka itu, rupanyamereka juga berceritatentang aku, tentang kenapa aku ada di sini, di rumah lelaki tua yang mengetuk pintu kamarku tadi. Aku hanya menikmati wangi dupa, wangi bunga Cina dan bunga tanjung yang akan digunakan untuk tepuk-tepung tawar nanti malam. Kulihat mereka yang menumbuk inai, katanya biar lebih hitam jika dicampur sedikit arang dan nasi.

Sambil bercerita, mereka, emak-emak yang berkumpul masih bercerita tentang gong. Aku hanya mendengar tanpa mengerti maksudnya.

Sudahka hengkau memukul gong sebelum masuk kampung ini, nak? ucap salah satu emak-emak yang menumbuk inai disampingku.

Aku hanya menggeleng.

Harusnya engkau berhenti dan memukul gong sebelum masuk ke desa ini.

Maksudnya?

Jadi, kau tidak tahu?

Aku kembali menggelengkan kepala tanda tak mengerti. Mereka pun tidak menjelaskannya, dan hanya melanjutkan pekerjaan masing-masing.

***

Sudah tujuh malamaku di sini, dan saat ini bulan menjelma dengan menawan. Tanglung-tanglung berjejer dengan rapi dan indah. Malam ini, kukenakan busana Tionghua dan Melayu yang dipadukan menjadi satu. Kulihat dari cermin, betapa cantiknya aku malam ini.
Nak, sudahkah kau siap? katalelakitua di rumah ini.

Aku hanya mengangguk pelan dan tersenyum. Akupun melangkah keluar dari kamar menuju ruang depan, tempat semua orang-orang di Kampung Gong sedang menungguku.
Sesekali, emak-emak di dapur dan dari halaman belakang menggodaku. Aku hanya tersipu malu.

Dari balik keramaian, kulihat lelaki yang mengapak kayu menjadi bagian kecil. Ia hanya melihatku seakan-akan tak sudi melihat kecantikanku saat ini. Lamat-lamat ia mengatakan sesuatu. Aku hanya tersenyum dan tak mengerti apa yang diucapkan oleh bibirnya itu.
Tidakkah ia nampak, padahal aku sedang sibuk. Takku hiraukan ia yang gelisah di balik sudut sana. Namun, saat kuperhatikan gerak bibirnya mengatakan sesuatu, spontan aku terperanjat, dan hampir tersungkur saat melangkah.

Sebelum duduk di kursi yang serba merah, kucari sosok lelaki itu. Gelisahmelanda, bola mata ini tak kunjung mampu mencarinya. Akupun terperanjat malam itu saat kudengar bunyi gong paling besar.

Masyarakat di desa itu berteriak histeris. Gong.... Gong....

Ada bala apa yang bakal terjadi? bibir mak andam di sebelahku.

Gong... Gong berbunyi dengan keras tanpa tahu siapa yang memukulnya, kata lelaki tua yang kini rumahnya sedang kutempati.

Pastiada yang melanggar adat di kampung ini, Mak Andam semakin mengucai dan bercakap tak tentu arah. Saat mataku dan mata Mak Andam saling beradu, ia menatapku tajam.
Ketika suara gong terakhir selesai, aku pingsan. Dan tak kudengar lagi suara pekik histeris masyarakat sana mengucap kata Gong.

Mak Andam memeriksa denyut nadiku. Dan ia berteriak saat merasakan denyut nadiku yang tidak normal.

Tetua di sana memutuskan, Acara malam ini harus di batalkan. Yang lainnya hanya mengangguk setuju. Begitu sayup kudengar sebelum tak lagi sadarkan diri.

Paginya, kudapati diriku telah berada di depan gong besar dekat gerbang sebelum memasuki Kampung Tanglung atau Kampung Gong. Sambil mengingat apa yang terjadi, air mataku mengalir tanpa disadari.

Sudahkah kau memukul gong? kuingat kembali lelaki itu berucap dan nanar memandangku. Kalimat terakhir yang kuingat, Kau hamil anakku, dan akupun tersentak kaget. Jiwaku gelisah dan ketakutan menghampiriku. Apa karena aku tidak memukul gong sebelum masuk ke mari, ke kampung ini?***


Afriyanti, penikmat sastra, dan beberapa karya pernah dimuat di media massa dan masuk antologi buku. Bergiat di Komunitas Paragraf Pekanbaru dan bekerja di Rtv.
KOMENTAR
Terbaru
Kamis, 20 September 2018 - 19:00 wib

Olahraga Bangun Peradaban Positif

Kamis, 20 September 2018 - 18:43 wib

TGB Blak-blakan Bicara Tudingan Gratifikasi

Kamis, 20 September 2018 - 18:38 wib

AS Potong Bantuan Dana bagi Palestina

Kamis, 20 September 2018 - 18:30 wib

Polres Gelar Apel Pasukan Operasi Mantap Brata

Kamis, 20 September 2018 - 18:24 wib

Ketua Ombudsman RI Gelar Kuliah Umum di Unri

Kamis, 20 September 2018 - 18:00 wib

Sah, BPI Kerjasama dengan Negeri Istana

Kamis, 20 September 2018 - 17:39 wib

Dimsum, Chinese Food Yg Menggugah Selera

Kamis, 20 September 2018 - 17:37 wib

Ancaman Serius Plastik Mikro

Follow Us