SAJAK

Sajak-sajak Taufik Effendi Aria

4 Oktober 2015 - 01.34 WIB > Dibaca 940 kali | Komentar
 
Di Ujung Usia

Daun-daun berguguran
Menghitung hari

Seorang lelaki renta
Di punggung kuda
Menyebut-nyebut nama-Mu
Melesat ke puncak langit

Debu-debu berterbangan
Dari tubuhnya yang dekil

Bersujud di kaki-Mu
Menunggu lembar terakhir

(2008)



Sajak Selamat Jalan
Untuk Saudaraku Hasan Junus

Pelaut perkasa
Mengembang layar
menunggu angin
di pelabuhan kecil

Tiba-tiba air beku
tak mengalir
angin tak berhembus
ayam tak berkokok
burung-burung tak berkicau
semua diam dan terpukau

Saat itulah perahu meluncur
jauh ke samudera lain
menuju dermaga tempat suka dan duka
dipertanggung jawabkan

Selamat jalan
saudaraku

Pekanbaru, 30 Maret 2012


Mencari Sampai Jauh

Sungguh Engkau Maha Besar
Maha Mulia MahaPerkasa

Walau aku tak menjamah-Mu
Kau penggerak jiwa rinduku

Kau anggur pelepas dahaga
Pohon rindang di padang terik
Api digelap malam

Rindu terus mengalir
seperti angin
berburu
ke ruang kosong

(2011)



Cermin

Kita cermin dalam pigura

Yang berdiri di hadapan kita
Kekasih Mulia

Kemanapun pergi
Dia selalu di sana

Memandang cermin
dalam pigura

2011/2012



Tragedi Luka

Luka yang pedih
Menikam luka yang dalam

Tak ada rintih
dan tangis

Semua terkubur
Di liang luka

Pekanbaru, 2010


Kalau

Kalaulah Khalik menulis kitab
Tentulah hamba jadi pembacanya

Kalaulah Khalik membentang samudera
Tentulah hamba mengukir perahunya

Kalaulah khalik menyebar penyakit
Tentulah hamba peramu obatnya

Kalaulah galau semua kalau
Tentulah pada-Mu hamba kembalikan
Tempat asal muasal semula jadi

2012



Nun

Nun,
Nun itu jauh
Jauh sekali
tak terukur oleh jarak
tak teraba oleh jari
tak terdengar oleh telinga
tak terlihat oleh mata

Nun itu jauh
Jauh sekali
dia turun dari langit ke tujuh
membasahi daundaunan
di lerenglereng perbukitan
di lembah perkebunan dan persawahan
mengalir pada sungai
dan sungaisungai
bergulunggulung di lautan
mencuci jiwa membasuh raga

Nun,
Nun itu jauh
Jauh sekali
siasia mengukur jarak dia tak bertempat
siasia menyentuhnya dia raib dan ghaib
siasia mengejarnya dia lebih cepat dari kilat
dan jangan jangan menghimbaunya
sesungguhnya dia menunggu
menunggu lebih dekat

Nun
Nun itu jauh
Jauh sekali

Pekanbaru, 2015

 
Taufik Effendi Aria, lahir di Rengat, 2 Juni 1942. Selain menulis puisi, ia juga menulis cerpen, drama, dan menyutradarai berbagai pementasan drama,  main senetron, juri teater, dan baca puisi. Puisi-puisinya pernah dimuat di berbagai harian maupun majalah, baik terbitan padang, Pekanbaru, Jakarta, Yogyakarta, dan lainnya. Arus, adalah buku kumpulan puisinya bersama Wunuldhe Syafinal, dan buku puisi tunggalnya adalah Menuju Ruang Kosong Menjemput Firman. Pada HUT Emas Provinsi Riau tahun 2007, ia menerima Piagam Penghargaan sebagai Tokoh Pelestarian Nilai-nilai Resam Melayu dari Gubernur Riau.
KOMENTAR
Terbaru
Minggu, 23 September 2018 - 19:53 wib

Ratusan Mahasiswa Belajar Persatuan dan Kesatuan di Riau Kompleks

Minggu, 23 September 2018 - 19:52 wib

Pembakar Lahan TNTN Ditangkap

Minggu, 23 September 2018 - 19:48 wib

Kembalinya sang Primadona

Minggu, 23 September 2018 - 19:47 wib

Disdik Tempati Gedung Eks SMK Teknologi

Minggu, 23 September 2018 - 19:46 wib

Ditabrak Emak-Emak

Minggu, 23 September 2018 - 19:44 wib

Refresh di Waduk Hijau

Minggu, 23 September 2018 - 19:40 wib

Anggur Murah Laris Manis Terjual

Minggu, 23 September 2018 - 17:50 wib

Minta Jembatani GP Ansor-UAS

Follow Us