SAJAK

Sajak-sajak Anwar Noeris

4 Oktober 2015 - 01.39 WIB > Dibaca 1252 kali | Komentar
 
Riwayat Tembakau dan
Orang-Orang Tanah Garam


Sudah kemarau, angin timur berhembus tenang
Mengirim sinar matahari ke tanah yang lapang
Sawah-sawah mulai membentuk gundukan kecil
Berbaris rapi, seperti sebuah medan untuk sebuah kelahiran

Ohoy, kami yang hijau dibawa kemarau
Orang-orang tanah garam menyebut kami masadepan
Sedangkan bagi kami adalah kebanggaan
Tumbuh dan saling dekap di tanah ini
Walau tanahnya keras dan panas mataharinya ganas
Tapi kami merasa ada yang memiliki.

Kami diperhatikan siang malam
Dirawat dengan cinta dan rayu sumber mata air
Yang ngalir dari pegunungan,
Dilindungi dari resah musim, dari ulat-ulat nakal yang kurang kerjaan
Kami merasa satu nafas, satu takdir dalam menyeimbangi perputaran kehidupan

Di sini kami melihat semesta
Menyaksikan peluh menetes dari wajah ketabahan
Memeluk mimpi-mimpi orang tanah garam
Bersua di tengah angin yang panjang
Betapa kami telah dewasa membaca aliflamim kerinduan
Atas pucuk daun yang mulai kekuningan
Pohon kami yang tak begitu kekar
Beserta akar-akar kami yang menjalar
Mencecap panas dingin tanah garam
Telah membuka sebagian pasti kemujuran

Angin kemarau, angina timur yang parau
Pada desirnya telah kami rontokkan bunga-bunga
Yang menandai masa tua kami,
Cinta dan doa kami rawat
Supaya kami dengan orang-orang tanah garam
Tetap erat sebagai riwayat.  

Kutub, 2015


Dayangsumbi


Dayangsumbi,
Padahal ini belum pagi dan kokok ayam masih tertahan dingin
Di jarum jam yang menunjukkan dinihari
Cahaya di timur itu, hanya unggun api yang disulut orang-orang desa.
Apakah kau tak pernah memahami perputaran waktu?
Asal kau tau, waktu telah aku lipat dalam diriku
Siang ke malam dan seterusnya, menghabiskan beberapa keringat
Dan khikayat orang-orang laknat adalah kisah masalalu
Yang tak perlu ada di zaman kita ini.

Oh, dayangsumbi..
Sebodoh itukah kau menolak cintaku
Kita terlahir dari kesengsaraan yang sama, dan semestinya kita berangkat
Di jalan yang sama—merayakan kabut dunia yang samakin tebal di atas perahu kita ini,
Matamu itu, kedip yang tentram membuat jalan sesimpang
Ke puncak gunung yang santun menerima segala, di mana pohon-pohon berdiri angkuh menjatuhkan kesunyian ke mataku
Dan di sini aku lebih tenang merasakan cintamu,
lebih tenang dari danau yang kau minta itu
Sebab cinta adalah susunan batu-batu yang tabah membendung dukalara

Dayangsumbi..
Di atas gunung ini, seperti tak ada peristiwa tipudaya
Angin yang segar, daun-daun yang segar
Maka kutunggu cintamu yang putih jatuh dari bibirmu tepat ke dadaku
Dan mahar perahu ini, adalah bukti bahwa kita pernah bersepakat
Melahirkan generasi yang lebih jujur dari kita untuk mencecap sakit hati.

2015



3 Rubayat Kelahiran

Jalan kelahiran: dunia terbentuk di kepalaku
Menyusun kenyataan langit dan bumi
Ruang dan waktu,
Matahari yang berputar atau pelanet-pelanet yang berputar
Melebur dalam diriku jadi takdir
Jadi anwar

Jalan ketabahan: menikung dan terbelah
Kubaca peta yang basah, mata pedih disambar miliyaran cahaya
Aku pun terjatuh ke jurang kelam
Berkumpul dengan orang-orang berwajah bimbang
Kehidupan telah menjelma anjing-anjing yang melolong nyaring
Mengusik kesunyian, merontokkan isi kepala.
Tapi kugenggam mimpi dan ingatan
Kusirami hati dengan air suci
Menata jalan untuk sampai ke puncak diri—kembali

Jalan ketuhanan: sepikah? Tuhankah itu?
Aku bertanya. Aku ditanya.
 
Kutub, 2015



Meditasi 00:00 Wib

Apa yang akan lahir setelah kematian?
Desa yang tua, dedaun gugur
Dan matahari yang berputar memperpanjang usia waktu
Hanya pengulangan dari keresahan musim
Panas yang sama, alir sungai yang sama;
Tak ada yang baru dari kebangkitan setelah kematian
Dan tak ada yang benar-benar tiada
Satu-satunya harapan adalah kematian ilusi
Barangkali setelah itu—kita, waktu, dan dunia
Akan kekal sebagai ketiadaan.

Kutub, 2015



Seperti Waktu
—hayati

Seperti waktu kita hanya tahu masalalu
Orang-orang pergi. Mata terbuka. Perbincangan tentang kapal-kapal kandas
Dan lagu-lagu melankolis terus didendangkan mengenang kepiluan.
Di atas gelombang
Nasib telah robek menjadi atom-atom yang membuat gumpalan kabut di langit kelam,

Oh yang fana. Sebuah pagi yang menitip sejuk embun di semenanjung padang panjang
Di kelopak mata gadis desa, telah manjadikan aku seekor anjing jantan yamng melolong
Sepanjang malam. Tak henti. Berkisah janji cinta yang putih.
Hari yang gila. Kota-kota di bangun dengan maut, dengan getir rindu
Menampung kereta-kereta yang berjalan mundur. Ke jantungku. Menabrak pilu.
Telah membuat aku lupa pada arah angin.
Pada jarum jam yang memilih aku untuk terus menulis kisah cinta.
Entah sudah lembar yang ke berapa?
Aku duduk di bangku yang sama, merasakan panasnya udara. Cinta yang bara
Menyimak lagu-lagu kenangan yang disenandungkan burung-burung
Yang gagal menanggalkan bulu-bulunya di musim pancaroba.
Dan menyaksikan kemelut beliung di tengah-tengah kepalaku yang demam

Aku terus bertanya. Apakah kebahagiaan terbuat dari hukum persamaan?
Kota ini telah mengutukku menjadi tua dengan segala pertanyaan.
Sampai cinta benar-benar gugur. Sampai orang-orang berkata jujur.
Sampai tak ada lagi kisah yang sentimentil.

2015
 

Pada Sebuah Gelombang

Kemudian kita memilih untuk saling menenggelamkan
Melepas geladak kapal hancur bertabrakan
Dan kita selesai jadi bayang-bayang
Pada sebuah gelombnag

Oh, alangkah tololnya waktu
Masih mengikuti jejek kita
Ia hendak mengumpulkan kenangan dari puing-puing letusan
Membuka lebar wajah langit, mempersilahkan cahaya menerangi perpisahan

Kemudian kita memilih saling melupakan
Tak peduli kenangan, apalagi warna cinta yang bertebaran
Sebab tak ada yang benar-benar memastikan  
Kita abadi yang fana adalah waktu

;Neraka dan surga sama saja

2015


Anwar Noeris, lahir di Sumenep, Madura. Bergiat di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta (LSKY). Menulis Puisi, Cerpen, dan Esai Budaya. Beberapa tulisannya telah terbit di berbagai media lokal dan nasional. Kini tercatat sebagai mahasiswa Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

KOMENTAR
Terbaru
Rabu, 21 November 2018 - 10:15 wib

Sekda Tinjau Kerusakan Jalan Rokan-Kampung Tinggi

Rabu, 21 November 2018 - 10:00 wib

Pekanbaru Yakin Jadi Tuan Rumah Porprov 2021

Rabu, 21 November 2018 - 10:00 wib

Polisi Telusuri Jaringan Pengedar Empat Kilogram Sabu-Sabu

Rabu, 21 November 2018 - 09:53 wib

Solar Langka di Batam

Rabu, 21 November 2018 - 09:50 wib

dembele kecanduan game

Rabu, 21 November 2018 - 09:46 wib

Beban Belanja Pegawai Makin Berat

Rabu, 21 November 2018 - 09:45 wib

Jembatan Kayu Sei Mondiang Kota Lama Butuh Perhatian

Rabu, 21 November 2018 - 09:41 wib

MoU APBD Terkendala Utang

Follow Us