Oleh Dantje S Moeis

10 Tahun Hidup di Pengasingan

10 Oktober 2015 - 22.39 WIB > Dibaca 926 kali | Komentar
 
Cukup banyak hal yang luput dan menjadi terabaikan selama beberapa bulan ini, bahkan menjadi seakan tidak penting. Padahal mebincangkan dan menebak-nebak siapa peraih Nobel sastra dari tahun ke tahun, merupakan peristiwa besar yang tak pernah lepas dari pembicaraan kami para penggiat sastra yang mangkal di kantin Teselit belakang kantor Dewan Kesenian Riau /Akademi Kesenian Melayu Riau. Perbincangan yang menghadirkan para Seniman, Sastrawan,  para Budayawan dan tentu saja kami yang sehari-hari bergelut di dunia keredaksian dari sebuah majalah budaya (Sagang) yang alhamdulilah masih terbit secara intens, walau cukup banyak majalah seperti yang kami kelola seakan bermotto Sekali berarti setelah itu mati, di Sumatera ini dan di belahan lain pulau di luar Jawa.

Luput dari perhatian yang bukan tak bersebab. Kegelisahan yang mendera akibat bencana asap rutin tahunan yang kali ini lebih dahsyat dalam rentang waktu panjang. Bahkan hingga detik saya membuat tulisan ini, asap masih mendera dan menyesak dada. Namun untunglah kelumpuhan ingatan walau bersifat sementara ini disadarkan oleh dering buzzer telepon sahabat saya Fedli Azis (desk budaya  Riau Pos) yang mengatakan, Bang.. buat tulisan tentang peraih Nobel Sastra tahun ini!.

Jurnalis Asal Belarusia Svetlana Alexievich Raih Nobel Sastra 2015

Svetlana Alexievich tak hanya dikenal sebagai jurnalis surat kabar lokal maupun aktivis kemanusiaan. Kerap mengkritik pemerintah, ia pernah menghabiskan hidupnya tinggal di pengasingan selama sepuluh tahun.

Sepuluh tahun ia berpindah-pindah tempat  tinggal. Mulai dari di Italia, Prancis, Jerman, Swedia, dan negara-negara lainnya sebelum akhirnya kembali lagi ke kota Minsk. Saya suka dunia Rusia tapi hanya sebatas persoalan kemanusiaan, ujarnya,

Pengumuman Nobel Sastra 2015 diumumkan pada Kamis lalu waktu Stockholm. Akibat penghargaan bertaraf internasional itu Alexievich juga mendapatkan kritikan dari sesama penulis lainnya.

Ia mewakili Rusia tanpa Putin, tanpa bahasa Rusia dan sastranya. Ia penentang pemerintah Rusia dan justru diberikan Nobel, ucap Oleg Kashin yang berbicara di radio Ekho Moskvy.
Sebelumnya, Alexievich pernah memenangkan peghargaan Swedia PEN atas keberaniannya sebagai penulis. Ia telah mengumpulkan wawancara dengan narasumber dari Uni Soviet selama 40 tahun. Tak hanya soal sejarah tapi keberaniannya mengabadikan cerita dalam novelnya.

Penulis kelahiran 1948 silam menggunakan metode yang luar biasa dan menulis dengan hati-hati. Kini, ia mendapatkan predikat wanita ke-14 yang meraih Nobel Sastra sekaligus mengalahkan penulis favorit lainnya, Haruki Murakami dari Jepang dan novelis Kenya, Ngugi Wa Thiongo.

Svetlana Alexievich, menuduh Rusia telah melakukan invasi atas Ukraina dengan mendukung kelompok separatis di wilayah timur negara.

Penulis, yang dianugerahi Nobel untuk ilustrasi kehidupan Uni Soviet, mengatakan dia menangis saat melihat foto-foto mereka yang ditembak mati selama protes jalanan di Kiev pada Februari 2014 terhadap presiden berhaluan Moskow.

Pemberontakan separatis pro-Rusia berikutnya di wilayah timur, telah menewaskan lebih dari 8.000 orang, dipercayanya sebagai hasil dari campur tangan asing (Rusia).

Itu adalah pendudukan, invasi asing, katanya pada konferensi pers setelah pengumuman kemenangannya, sebagaumana dilansir dari laman Trust.Org, 8 Oktober, 2015.

Saya cinta dunia Rusia yang baik, dunia Rusia yang berorientasi pada kepentingan kemanusiaan, tapi saya tidak mencintai dunia Rusia Beria, Stalin dan Shoigu, katanya, merujuk pada pemimpin Soviet, Josef Stalin, kepala keamanan yang bertanggung jawab untuk pembantaian massal di era Stalin, Lavrenty Beria, dan menteri pertahanan Rusia saat ini, Sergei Shoigu.

Betapa rendahnya mereka membiarkan Rusia tenggelam, tegasnya.

Ukraina dan NATO diketahui telah menuduh Rusia mengirim pasukan dan senjata untuk pemberontak separatis di wilayah timur, sesuatu yang disangkal Rusia.

Banyak karya Alexievich yang mengisahkan dampak konflik, termasuk narasi tentang perempuan selama Perang Dunia Kedua dan gambaran perang Uni Soviet di Afghanistan yang digambarkan dari perspektif warga biasa.

Alexievich lahir pada 1948 di Ivano-Frankivsk, Ukraina. Ayah dan ibunya berasal dari Belarus dan Ukraina. Keluarganya pindah ke Belarus setelah ayahnya menyelesaikan dinas militer. Alexievich belajar jurnalisme di University of Minsk pada 1967 hingga 1972.

Setelah lulus, dia bekerja sebagai wartawan selama beberapa tahun sebelum buku pertamanya, Wars Unwomanly Face, pada 1985 terbit.

Dalam wawancaranya yang dikutip laman Guardian, peraih Nobel sastra 2015 Svetlana Aleksijevitj (67) mengaku bahwa dia sangat suka mengamati kehidupan nyata.

Kehidupan nyata itu seperti magnet buat saya, menghipnotis sekaligus menyiksa saya. Saya ingin menangkap semua esensi kehidupan nyata tersebut ke dalam tulisan-tulisan saya, ujarnya seraya menambahkan bahwa dia menggunakan mata dan telinganya untuk mendengar dunia.

Dengan begini saya pun bisa merealisasikan semua potensi jiwa dan emosi secara penuh. Dengan cara ini pula, saya pun akhirnya bisa melakukan berbagai pekerjaan dalam waktu bersamaan, baik itu sebagai penulis, wartawan, ahli ilmu sosial, pakar kejiwaan dan juga penceramah, ujarnya lagi.

Svetlana Alexievich, Jurnalis Belarusia yang didaulat sebagai peraih Nobel Sastra 2015. Sara Danius, ketua Swedish Academy, menyebut bahwa karya-karya Alexievich sebagai monument to suffering and courage in our time.  Sara Danius menganggap Svetlana Alexievich adalah monumen yang mengabadikan penderitaan berbancuh keberanian pada masa kini.

Alexievich menjadi perempuan ke-14 yang memenangkan hadiah Nobel sejak pertama kali penghargaan ini diberikan pada 1901. Perempuan terakhir yang menerima hadiah serupa adalah Alice Munro dari Kanada pada 2013.

Karyanya Alexievich berada di antara dokumenter dan novel, sebuah genre yang belum mendapat penghargaan, ujar Bjorn Wiman, editor budaya di sebuah harian Swedia, Dagens Nyheter, sebelum penghargaan itu diumumkan.

Nama-nama calon peraih hadiah ini dijaga sangat ketat dan, tidak seperti penghargaan sastra pada umumnya, tidak ada longlist atau shortlist. Pada Februari, akademi menyusun daftar rahasia semua nominasi yang diajukan oleh kelompok eksklusif  qualified people meliputi beberapa profesor dan mantan pemenang. Tahun ini ada sekitar 220 nama.

Kemudian pada Mei, daftar tersebut dipangkas menjadi lima nama, yang karya-karyanya dipelajari dengan teliti selama musim panas. Dan kita tahu, pemenangnya kemudian diumumkan pada pertengahan Oktober.

Sederet nama seperti, Haruki Murakami dari Jepang, Ngugi  wa Thiongo dari Kenya, Jon Fosse dari Norwegia, John Banville dari Irlandia, dan dua calon dari Amerika Serikat, Joyce Carol Oates dan Philip Roth yang selalu kami bincang dan unggulkan sebagai pemenang Nobel sastra tahun ini, begitu juga nama lain yang digadang-gadang para pemerhati sastera di dunia seperti penyair Rumania Mircea Crtrescu, penyair Suriah, Adonis (Ali Ahmad Said Esber), novelis Italia Umberto Eco, novelis Somalia Nuruddin Farah, dan penyair Nigeria Ben Okri. (The Guardian), sontak menjadi tenggelam setelah kemunculan nama yang legitimate menjadi peraih Nobel sastra tahun ini, dialah Svetlana Alexievich, sang Jurnalis dari Belarusia. (Dari berbagai sumber)


SPN Dantje S Moeis, kelahiran Rengat-Inhu-Riau adalah: Perupa, penulis kreatif, redaktur senior majalah budaya Sagang,  dosen Akademi Kesenian Melayu Riau (AKMR), Sekolah Tinggi Seni Riau (STSR) Pekanbabaru
KOMENTAR
Esai Lainnya
Terbaru
Kamis, 15 November 2018 - 16:15 wib

BPN Komit Realisasikan Program PTSL 2018

Kamis, 15 November 2018 - 16:00 wib

Sabhara Gagalkan Rencana Tawuran Sekelompok Pemuda

Kamis, 15 November 2018 - 15:45 wib

Pembangunan RSUD Indrasari Terlambat

Kamis, 15 November 2018 - 15:30 wib

BNNK Ringkus Pengedar Antar Provinsi

Kamis, 15 November 2018 - 15:15 wib

Pertamina Jamin Pasokan BBM di Riau Cukup

Kamis, 15 November 2018 - 15:15 wib

Sinergi Pemerintah-Swasta Tingkatkan Pendidikan Karakter Guru

Kamis, 15 November 2018 - 15:01 wib

Bulog Tawarkan Beras Berkualitas dan Murah

Kamis, 15 November 2018 - 15:00 wib

Banjir di Inhu Kembali Makan Korban

Follow Us