Oleh Musa Ismail

Dari Cerpen TIJ: Ketika Suara-Suara Menjadi Rupiah

10 Oktober 2015 - 22.46 WIB > Dibaca 820 kali | Komentar
 
Pada dasarnya,  suara merupakan hakikat hidup. Secara umum, makhluk hidup pasti memiliki suara (bersuara). Kepemilikan suara oleh individu merupakan sesuatu yang mutlak. Di sinilah letaknya bahwa suara sangat berharga bagi pribadi,  terutama dalam konteks kemanusiaan. Bukan cuma itu,  dalam hubungan realitas sosial, kehidupan berkelompok atau berorganisasi,  keberadaan suara ibarat makanan pokok. Interaksi sosial akan mengalami kendala jika manusia tidak lagi bersuara atau makanan pokok. Hal ini disebabkan bersuara pada dasarnya berkomunikasi meskipun akhirnya kita bersuara, tetapi  tanpa suara.

Dalam kenyataan politis, keberadaan suara menjadi teramat penting. Para politikus yang bersuara harus menambah suaranya dengan suara-suara rakyat. Tujuannya untuk memperkuat kedudukan mereka. Calon bupati, calon wakil rakyat, dan calon presiden tidak berkemampuan tanpa suara rakyat. Karena itu, abdi kandidat tertentu bisa berbuat serong dalam upaya kepemilikan suara. Tanpa suara,  tidak ada kekuasaan dalam politik. Tanpa suara,  tidak ada ketertarikan dalam berbagai sendi kehidup. Bahkan,  sastra akan mati tanpa diisi dengan suara.

Suara tidak mendekam di ruang hampa. Suara juga tidak terpasung di lorong gelap waktu. Suara tidak bisa dijegal dengan tirani. Namun, celakanya dalam kenyataan sosial-politis,  suara selalu bisa dibeli, bahkan bisa ditukar dengan sebungkus nasi ramas.  Ketika kenyataan ini terjadi,  suara menjadi murah. Tidak ada lagi kedaulatan.  Marwah pun terpelanting hanya karena suara dijual atau ditukar dengan lembaran angka-angka. Terlahirlah suara ketidakadilan,  kecurangan,  pengkhianatan,  atau pemuasan hasrat tertentu. Kenyataan inilah yang tersaji dalam dua cerpen karya sastrawan nasional asal Riau,  Taufik Ikram Jamil (TIJ)  yang bertajuk Suara 4 dan Suara 15.

Simbolisasi suara dalam cerpen Suara 15 (Riau Pos,  Ahad,  18 Januari 2015) disuguhkan TIJ melalui sosok lelak bernama Suara. Secara morfologi,  keberadaan kata suara bukanlah sesuatu yang aneh atau mengherankan. Kita sering menggunakan dan mendengarkan kata ini sehingga sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari.  Kata suara akan menjadi aneh jika yang dirujuk adalah nama seseorang. Keanehan itu juga tertuang dalam dialog cerpen ini: Nama yang ganjil. Suara. Apa betul nama Bapak,  Suara?

Dikisahkan TIJ melalui sudut pandang orang ketiga,  tokoh Suara mengalami kekecewaan berat. Harapan tokoh ini jauh panggang dari api.  Meskipun kita tidak menemukan apa harapan Suara secara teserlah (eksplisit), tetapi harapan itu dapat kita pahami dari deskripsi ironis keberadaan Suara. Suara mengakui bahwa dirinya diperlakukan secara tidak layak, sebagai pemanis bibir,  dan untuk tujuan negatif. Selain itu,  Suara mengakui diperjualbelikan dengan penuh penghinaan seharga limapuluh ribu atau seratus ribu rupiah agar seseorang bisa memperoleh kursi.  Ketika pemilu(kada), hawa dalam cerpen ini begitu kuat. Suara-suara calon pejabat bagai bertanam tebu di pinggir bibir. Semuanya menyemai suara semanis tebu,  bahkan madu. Namun,  dalam cerpen ini,  TIJ mempermainkan plot melalui konflik tokoh Suara dan Kacep. Tokoh Kacep bertindak sebagai penerima kekecewaan tokoh Suara,  tetapi tokoh ini tidak begitu mempedulikan tokoh Suara. Namun,  permainan konfli batin muncul lagi ketika tokoh Suara berdialog,  Sungguh kepada Bapaklah saya berharap lagi.Dialog tersebut diucapkan Suara beberapa kali. Ini membuktikan bahwa Kacep merupakan tokoh bersih yang diciptakan TIJ untuk memurnikan marwah suara yang sudah terkontaminasi oleh demoralisasi akibat tekanan ekonomi sulit. Melalui tokoh Kacep,  TIJ menyisipkan pesan bahwa hanya suara anak-anak yang masih mewujudkan kebahagiaan melalui kejujuran. Suara?  tanya Kacep dalam hati. Diulanginya kata tersebut dengan tambahan sejumlah kata lai,  sehingga menjadi kalmat,  Suara cucu-cucuku? Suara yang jujur,  polos, dan marenanya penuh kegembiraan,  dilumuri kebahagiaan?

Dalam cerpen Suara 4 (Riau Pos,  Ahad,  30 Agustus 2015), melalui sudut pandang campuran,  TIJ berkisah tentang tokoh Saya yang memiliki abdi,  yaitu tokoh Dino dan  Sulis sebagai pelayan pembeli serta Arta sebagai kasir. Pusat konflik cerpen ini terjadi ketika ketiga abdi Saya menyodorkan tiga sales yang menjualkan suara.  Sales tersebut menjual suara dengan kata-kata jitu. Sales bernama Ronald benar-benar perayu ulung,  tetapi tak berkutik di depan tokoh Saya yang senantiasa ingat dengan pesan gurunya bahwa kalau orang memuji lebih dari tiga kali,  setan akan memperoleh ruang untuk bertindak keji. Ini pesan moral dan religius yang hebat. Melalui tokoh Ronald,  TIJ menjelaskan jual beli suara:Suara itu merupakan bagian asli dari manusia tanpa bentuk,  tetapi hanya memerlukan komitmen dan niat dengan sungguh-sungguh melaksanakan melalui suatu kalimat pendek. Jadi,  saya berkomitmen membeli suara padanya untuk saya jual lagi kepada yang memerlukan. Bukankah dengan demikian,  jual-beli suara tidak bisa dilakukan orang sembarangan melainkan orang hebat?

Sikap sales dalam cerpen ini sebagai sikap tokoh yang memperjualbelikan suara. Sikap Ronald ini sangat banyak kita temui dalam kehidupan. Namun, idealisme tokoh Saya tetap berhasil mempertahankan marwah. Dalam dunia Melayu,  menggadaikan marwah itu suatu pekerjaan pantang. Karena itu,  tokoh aku-lirik (Saya)  mengamuk kepada Ronald dan ketiga abdinya. Idealisme Saya ternyata tak mampu mengajak para abdinya.  Tokoh Saya terkejut ketika menerima sms dari Dino,  Kami telah ikut menjual suara yang dijanjikan sales-sales itu yang ternyata membawa keuntungan besar....

Jika dalam cerpen Suara 15 tokoh Kacep sebagai idealis,  dalam cerpen Suara 4 tokoh Saya yang idealis. Melalui kedua tokoh idealis ini,   TIJ ingin menegaskan bahwa masih ada dalam kehidupan nyata yang mempertahankan kejujuran atau suara kebenaran. Harapan tokoh Suara untuk tidak diperjualbelikan masih tetap ada di dalam masyarakat kita yang bermarwah dan bermoral serta mempergunakan suara dengan benar.

Suara kebenaran?  Ya,  suara kebenaran adalah suara dari Allah Taala, Tuhan Semesta Alam.  Menjual suara  (kebenaran) bermakna menjual suara Allah Taala. Begitu naifkah kita memperjualbelikan suara (kebenaran)  hanya demi rupiah atau keuntungan yang besar secara ekonomis?  Sungguh hina sekali jika suara kita jual kepada orang yang benar apalagi kepada orang yang salah. Menjual suara merupakan suatu kesalahan fatal. Begitulah yang ingin disuguhkan TIJ dalam kedua cerpennya tersebut. Namun,  angka 15 dan 4 pada judul cerpen tersebut masih menjadi misteri,  suatu teka-teki yang unik dari TIJ. Pergunakanlah suaramu dengan benar,  bukan menjualnya dalam pemilu(kada). Tapi yang jelas,  cerpen ini berkemungkinan besar muncul dari pengalaman TIJ yang beberapa kali pernah mencalonkan diri sebagai wakil rakyat, yang merekam kecurangan-kecurangan fatal dalam jual-beli suara.***

Musa Ismail adalah guru di SMAN 3 Bengkalis dan pengajar di STAIN Bengkalis. Saat ini,  beliau baru menghasilkan 4 buku kumpulan cerpen,  1 buku kumpulan esai,  dan 2 novel.


KOMENTAR
Esai Lainnya
Terbaru
Senin, 24 September 2018 - 13:30 wib

Jessica Raih Emas Kejurnas Piala Panglima

Senin, 24 September 2018 - 13:23 wib

Nasabah BRI Juanda Dapat Xenia dari Simpedes

Senin, 24 September 2018 - 13:16 wib

Paripurna Molor 6 Jam, 11 Anggota Dewan Bolos

Senin, 24 September 2018 - 13:00 wib

Joshua Penuhi Janji

Senin, 24 September 2018 - 12:55 wib

Setujui Tobasa Jadi Toba

Senin, 24 September 2018 - 12:31 wib

12 Jamaah Haji Nagan Belum Kembali

Senin, 24 September 2018 - 12:30 wib

Marquez Juara di Aragon

Senin, 24 September 2018 - 12:30 wib

Flyover Ditunda

Follow Us