Oleh Griven H Putra

Pisau Mawar

10 Oktober 2015 - 23.13 WIB > Dibaca 1883 kali | Komentar
 
Malam itu walau di luar bunyi-bunyian sudah senyap, Mawar belum tidur. Matanya tak berkedip memandang foto mendiang ayahnya yang masih tergayut di dinding. Sesekali mata Mawar beralih ke sebelah foto hitam putih itu, ke sebilah pisau yang sengaja ia gantung selama dua bulan terakhir.

Bila tak mau tidur seperti ini, dengan bertanggakan kursi ia raih pisau di sebelah foto itu. Tak lama kemudian, pisau penyembelih hewan korban milik mendiang ayahnya tersebut ia gesekkan ke batu asah yang terletak di samping tempat tidur. Semakin lama gesekannya, semakin kuat desaunya mengiringi sesak dadanya menunggu bunyi derit pintu kamar ibunya di sebelah. Ketika bunyi derit pintu kamar ibunya terkuak, bunyi pisau yang melesak di atas batu asah semakin bersiut-siut, berlari maju-mundur di atas batu, gesekannya pun seperti akan memunculkan api. Hati perempuan ranum yang hampir masak itu semakin membara, tangannya pun menggigil.

Setelah di kamar sebelah terdengar derit bunyi ranjang semakin tak beraturan, dengan mata menyala, Mawar menghambur ke luar rumah melalui jendela, membawa pisau ayahnya dan mengacung-acungkannya ke langit.

Dalam kilau mata pisau itu ia melihat wajah ayahnya murung seperti ingin menangis, seperti saat-saat menjelang sakaratul maut.

Ketika Mawar membalik mata pisau itu, wajah ibunya dan lelaki asing yang datang dua bulan terakhir ke kamar ibunya tampak pula sedang telentang, bermandi keringat. Menjijikkan. Mawar menelan ludah. Hatinya semakin muak. Ia ingin segera melesakkan benda tajam itu di ulu hati mereka. Tangan perempuan berdada ranum itu semakin bergetar, menggigil. Lalu seperti orang kesurupan ia berlari ke belakang, ke arah pokok pisang yang tumbuh di sempadan tanah mereka dengan rumah tetangga. Dengan kesal, marah, benci dan geram, bertubi-tubi pisau berkilat tersebut ia tancapkan ke batang pisang. Tak puas ditusuk, pisau yang diasah saban malam itu ia cencang-cencangkan ke batang pisang. Entah sudah berapa batang pohon pisang bertumbangan dalam dua bulan terakhir akibat ulah Mawar tersebut.

Ketika malam sudah amat sunyi, ketika amarah dalam dadanya tidak lagi bergolak, pelan-pelan ia kembali ke kamarnya. Sejenak ia lekapkan telinga ke dinding, di kamar sebelah, tak terdengar lagi derit ranjang tak beraturan. Tapi dengkuran yang amat menjijikkan hati Mawar terdengar nyaring membuat hatinya belum juga tenang.

Pelan-pelan Mawar gantung kembali pisau di sebelah foto ayahnya. Ia tatap ayahnya dengan lembut. Jika terlihat ayahnya seperti tersenyum barulah ia baringkan tubuh ringkihnya di samping Dara Kemboja, adik bungsunya yang tidur gelisah.

Mawar menatap wajah kumal adiknya. Perempuan yang baru menyelesaikan SLTA itu teringat kata-kata adiknya sekitar sebulan yang lalu. Kak, Dara ingin ke rumah nenek saja. Dara tak mau lagi sekolah di sini. Dara tak mau tinggal lagi di rumah ini.

Mawar mengerti maksud dan kenapa adik bungsunya itu berkata demikian.

Tapi Kak War harus ikut. Dara tak mau tinggal di kampung bersama nenek tanpa Kak War, kata Dara melanjutkan.

Mawar masih diam. Ia merasakan betapa pahit dan ngilunya perasaan adiknya akhir-akhir ini. Perasaan yang hampir sama ia pendam semenjak ibunya menjalin hubungan gelap dengan seorang lelaki paruh baya yang tinggal tak jauh dari rumah mereka.

Kalau Kak War tak mau, esok Dara akan ke kuburan ayah. Mengadu pada ayah.
Mawar memeluk Dara, menutup mulut adiknya rapat-rapat. Mereka pun mandi air mata.
Setelah Dara tidur, dengan mata yang masih basah, Mawar pun membuka lemari ayahnya, mencari di mana pisau penyembelih hewan korban ayahnya disimpan. Setelah pisau ditemukan, perempuan itu pun mulai mengasah pisau.

Sejak saat itu, bila matanya tak mau tidur, Mawar mulai mengasah pisau. Jika hatinya semakin berdarah, ia pun menghambur ke luar, dan akhirnya menikam dan menebaskan pisau tersebut ke pohon pisang.

Jika malam telah jauh larut dan melihat foto ayahnya seperti tersenyum barulah ia coba baringkan tubuh di samping adiknya.  

***

Hujan lebat mengguyur kampung Mawar sejak petang tadi. Mawar tak keluar dari kamarnya. Ia terus saja mengasah pisau. Wajahnya semakin lama semakin keruh. Semakin lama tangannya semakin kencang melayangkan mata pisau ke batu asah. Ia tak peduli pada kilat, petir dan hujan lebat yang bergejolak di luar rumah. Padahal dulu, ia sangat takut main pisau atau memegang besi saat hujan dan petir begini, karena kata ayahnya, petir sangat suka pada pisau. Untuk itu hindari pisau ketika hujan berpetir. Kalau tak dihindari, bisa saja tubuh akan terpanggang disambar petir. Tapi malam ini Mawar berkeras melupakan petuah ayahnya itu. Ia pegang ulu pisau erat-erat, ia asahkan matanya kuat-kuat di atas batu. Keringat Mawar meleleh hebat di tengah hujan. 

Ia tatap mata ayahnya dalam foto yang tergantung di dinding. Semakin muram wajah ayahnya, semakin kencang pula pisau itu digesekkannya di atas batu.

Ayah...

Tak adakah perempuan setia di dunia ini? Apakah kesetiaan seorang perempuan hanya ada dalam puisi para pujangga, dongeng para pengarang, dan kata-kata bijak para filosof? Kalau memang kesetiaan itu hanya kata-kata bijak yang tak bijak, izinkan aku malam ini mempersembahkan pisau ini buat ibu dan lelaki keparat itu. Kalau ibu tak bisa setia kepada Ayah, biarlah ia setia dengan lelaki itu bersama pisau ini.

Usai mengucapkan kata-kata itu, ia ambil foto ayahnya, diciumnya foto berbingkai kayu yang sudah lapuk itu dengan lembut.

Mawar keluar dari kamarnya. Dengan langkah pelan dan rambut lepas tergerai, perempuan seperti sudah sasau alias hampir gila itu berjalan bagai di awang-awang menuju kamar ibunya. Matanya merah. Di tangannya pisau penyembelih hewan korban milik ayahnya berkilau-kilau disambar lampu neon. Hati Mawar berdebar-debar. Badannya meriang. 

Di luar, hujan lebat menggila, kilat dan petir pun kian menjadi-jadi seperti tak akan pernah berakhir.

Mawar tertegun di depan pintu kamar ibunya.

Casss. Tar!!!

Mata pisau menyala sempena petir membahana. Mawar terpelanting ke dinding. Kulitnya menghitam. Badannya lembut, layu bagai batang keladi terpanggang. ***

 Pekanbaru, 2015

Griven H Putra
adalah sastrawan Riau. Cerpennya tersiar di media lokal dan nasional. Salah satu novelnya, Malin Bonsu, pernah dimuat secara bersambung di Riau Pos.

KOMENTAR
Terbaru
Senin, 19 November 2018 - 19:09 wib

Duit Korupsi Amankan Kasus Istri

Senin, 19 November 2018 - 18:47 wib

Teken Petisi, Selamatkan Nuril

Senin, 19 November 2018 - 17:00 wib

Kejari Kuansing Terima Penghargaan Terbaik Se-Riau

Senin, 19 November 2018 - 16:30 wib

Laga Kambing, Satu Tewas Satu Kritis

Senin, 19 November 2018 - 16:00 wib

Pemkab Ingatkan Perusahaan

Senin, 19 November 2018 - 15:30 wib

Bupati Buka Kejuaraan Panahan

Senin, 19 November 2018 - 15:28 wib

Imaculata Autism Boarding School Beri Award pada Kompol Netty

Senin, 19 November 2018 - 15:15 wib

Dua Jembatan Timbang Dikelola Pihak Swasta

Follow Us