Sajak-sajak Mahdi Idris

10 Oktober 2015 - 23.55 WIB > Dibaca 1091 kali | Komentar
 
Dan Tiba-tiba

Dan tiba-tiba hujan melengkung di matamu
saat perayaan malam purnama di sudut kota
di antara duka cita perahu nelayan
mengapa badai tak pernah reda
menjelma api.

Bahkan sungai yang dulu mengalir jernih
lenyap dibawa desir angin,
kau dan aku meronta, ingin
pulang ke tanah ibu.

Dan tiba-tiba, laut, sungai, kau dan aku
tak tahu kemana melabuh diri
menanti akhir pertanggalan.

(Lhoksukon, 29/5/2015)



Tanah Kami

Sepanjang sejarah tanah kami berwarna merah
manusia, pepohonan, gubuk-gubuk
gedung-gedung tinggi, sawah-ladang
sungai, laut, gunung-gunung juga merah;
aroma tubuh kami amis darah.

Di tanah kami, matahari senantiasa kelabu
bulan serupa debu
gemintang arang di langit kelam.

Di lain arah hanya merah
kami meraba merah
tiap celuk kampung
hanyalah merah
meninggalkan luka darah.

(Lhoksukon, 29/5/2015)



Syair Tanah Basah


Kutakuti kemarau membawamu jahanam
menggelepar dalam genang matahari bulan Juni
menjelma bara api.

Ke lereng bukit kukejar beribu timba
tempatku membasuh wajah lusuh
memendam curah hujan sepanjang tahun
biar kelak semua tahu cara mencintai
paling setia.

Bahkan di tanah gurun
kuteriaki langit
agar mencurahkan hujan.

Di tiap persimpangan
aku berdoa khusyuk, merendah
pada ketenangan air.

Di penghujung musim
para lelaki berdatangan
memberiku doa
agar langit menjadi kekasih setia.

(Pondok Kates, 3/6/2015)



Damai

Dalam sukmaku terbentang taman surga. Kumbang-kumbang berlari
burung-burung berkicau, reremputan tak pernah risau dizalimi
embun telah memberinya tetesan damai sepanjang pagi.

Dalam suksamaku, harimau-harimau jinak
mata pisau tumpul, srigala kehilangan gigi taringnya,
segalanya cinta nan sentausa.

Dalam sukmaku, tak ada kehilangan, tak ada sembilu
menyayat luka. Mawar-mawar bermekaran
menebar harum surga.

Dalam sukmaku, cinta tak pernah berpaling
menjadi benci. Hanya kesetiaan yang mengekal
sampai hayat ditemui maut.

(Rayeuk Kuta, 06/03/2014)


Gelora

Mungkin kalian tahu gelora itu
berubah merah, mengubah peradaban
mengoyak tubuh jadi luka
angin menjelma badai
melenyapkan impian dalam kepala.

Anak-anak menjerit sepanjang malam
menangisi kepergian
hilang zikir dan tasbih
airmata tumpah di pekarangan.

Gelora itu, sepucuk surat
yang tersirat dalam kepala asing
meninggalkan beban
memahat prasasti kelam
dalam catatan sejarah.

Makin jauh kita langkah
gelora makin membara
mencoreng wajah-wajah muram
menyayat tubuh-tubuh letih
membakar  rimba anggun,
meninggalkan jejak perih.

(Pondok Kates, 12/09/2015)


Zikir Malam

Kurenungkan, seberapa larut malam beranjak
angin bersiul begitu dingin
menyengat tubuh lusuh dalam perahu malam
namun zikirku belum sempurna,
menanjak pada lezat sukma merasa.

Sukmaku hening ditikam sunyi
diri lebur menghadap wajah-Mu
segala risau dihalau zikir
butir tasbih bergerak kusyuk.

Inna shalati wa nusuki
sukmaku pasrah, hilang gundah
hanya Engkau tujuanku merindu
memeluk malam dengan zikir syahdu.

Aku bermadah memuji Engkau
zat paling haq Tuhan semesta.

(Pondok Kates, 5/9/2015)


Secangkir Anggur

Ada secangkir anggur yang menari
memabukkan selembar panji merah
di tanah basah yang kerap resah,
pada tiang-tiang pembatas
di ujung pulau tandus.
        
Selalu ada secangkir anggur yang menegur
di antara bebukit tanah kerontang
di ujung pulau dungu, dia meninggalkan
secangkir anggur lugu.

Pada hari itu, berpuluh cangkir berisi anggur
menangisi kepergian para lelaki penikmatnya,
mereka lenyap setelah menghirup udara
dalam secangkir anggur.

(Tanah Luas, 12/12/2013)


Mahdi Idris, lahir di Desa Keureutoe, Aceh Utara, 3 Mei 1979. Karyanya berupa puisi, cerpen, dan esai dimuat beberapa media lokal dan nasional, antara lain Serambi Indonesia, Rakyat Aceh, Majalah Potret, Waspada, Medan Bisnis, Suara Pembaruan, Jurnal Nasional, dan Sarbi. Bukunya yang telah terbit Lelaki Bermata Kabut (2011), Sang Pendoa (2013), Lagu di Persimpangan Jalan (2014) dan Jawai (2014). Sekarang bermukim di Tanah Luas, Aceh Utara.
KOMENTAR
Terbaru
Sabtu, 17 November 2018 - 19:06 wib

Pekan Depan, Nasib OSO Diputuskan

Sabtu, 17 November 2018 - 14:10 wib

Tempuh 1.574 Kilometer, Terios Akhiri Ekspedisi di Wonders ke Tujuh

Sabtu, 17 November 2018 - 13:28 wib

BKD Prov Riau Road To Siak 24 November Mendatang

Sabtu, 17 November 2018 - 11:01 wib

Telkomsel Raih Dua Penghargaan Tingkat Asia Pasifik

Sabtu, 17 November 2018 - 10:46 wib

E-Samsat Tahap II Dibuka, BNI Perluas Layanan ke 16 Provinsi

Sabtu, 17 November 2018 - 09:50 wib

Harimau Terjebak di Kolong Ruko, Berhasil Diselamatkan

Sabtu, 17 November 2018 - 09:48 wib

Toyota Posisi Teratas untuk Fitur Keselamatan

Sabtu, 17 November 2018 - 09:41 wib

BPJS Ketenagakerjaan Gandeng Kajati Riau Eksekusi Penunggak Iuran

Follow Us