Sajak-sajak Riki Utomi

10 Oktober 2015 - 23.57 WIB > Dibaca 1035 kali | Komentar
 
Topeng

/satu/
ia menyayat wajah sendiri. di tengah malam buta.
aku tak tahu akan berubah mirip apa. ia lancar saja
sambil menampung darah biru di atas bejana perunggu.
sebab katanya, darah ini juga darah kalian

ini ungkap hati, tuan. ia berkata. tak tahu kemana
wajah itu akan dipakainya. wajah baru tentu memikat
sesiapa yang memandang. begitu lekat gelap ia masih
meraba kontur muka dan lekuk yang berbeda.

/dua/
mata, hidung, dan telinga begitu asing ketika ia
melihat cermin. senyum menyungging. namun tetap
berselera di tengah kecamnya dunia.

ini seni kehidupan, katanya lalu berjalan di kuasa
terang. membaur di ringan petang. kembali ke
himpit malam. hasil tangkapan begitu bertubi:
keringat rakyat, letih pikir rakyat, dijadikan
santapan makan malam yang mengasyikkan.

/tiga/
ia kembali menyayat wajah. akan dibuatnya
topeng baru. yang canggih bentuknya.
ini seni menggasak, tuan. tawanya mengigilkan
burung-burung malam. detik-detik jam terasa rontok.

ia kembali mengitari pagi, siang, petang, dan ke peraduan
sengit malam. hidup adalah seni menciptakan topeng,
umpatnya pada diri sendiri yang terpuruk di dasar hati.

(selatpanjang, 2015)


Marcusuar

diselimuti kabut, marcusuar menggigil. ini pagi masih
ranum. bebayang pohon samar. tajam angin terasa
menusuk. ini musim buruk, bukan?

ia merasa terasing di antara ribuan buih, karang, ikan.
berdiri mematung tanpa jelas menunjuk arah.
kepalanya yang bersinar merah mengucapkan selamat
jalan yang kaku, gagu, pada setiap perahu.
ini ujiankah?

hanya ia sendiri terkurung oleh kawanan kabut
dari segala titik pandang. ia bermimpi dapat melangkah
ke darat menapak dan mencengkeram leher-leher
laknat yang menyuluh api di tubuh-tubuh tak berdosa.

(selatpanjang, 2015)


Dalam Bisikan

senyap merambat ke urat nadi. dialiri arus darah
yang membuncah ke pikir. kadang kita mengelak
atau mendadak pergi. hati tak tegak seumpama
lekang dari pondasi.

lihat, betapa ruas usia itu mengikis. kita selalu
dibisiki racun yang menghabisi diri sendiri.
seulas senyum tak usah dibawa namun harum
doa hidulah keluar dari kelopak bunga.

dalam bisikan, mungkin racun paling abadi.
mungkin gigil perih yang menjadi. lihat, kau
di ujung sana mampu menyobek hatiku.
melumatnya dalam cawan perak raksasa.
menghabisinya dengan segenggam bumbu dusta.

(selatpanjang, 2015)


Sebentar Saja

tunggu aku, tuan. alihkan matamu dari haluan.
arahkan ke timur dimana matahari tak dapat
menerjang sinarnya kepada kami.

rangka pepohonan mirip manusia tak bergizi
rapuh berkecai jadi debu menyatu pada jerebu.
menghisap hati yang tak lagi suci.

sebentar saja, tuan. masuklah dalam mimpi kami.
resamkan hati. gilingkan cemasmu dari titik
yang parah di tubuh ini.

(selatpanjang, 2015)


Pohon Ketapang


rindang, melintang, bagai ibu menaungi anak.
kehampaan meluluh di bawahnya. menyentak
demi sentak untuk dijabarkan menjadi peta.

kita (aku dan juga kau) membias, meneroka
ceguk muka, salah hina, tanggap tangkas
dari cerita-cerita di sana yang berserak.
pohon ketapang, panjang, rindang seperti
rambutmu. alis matamu dan bibirmu yang
merekah. menggoda dari ujung ke pangkal

mengganggu hatiku yang dangkal. menjarah
lamunanku yang lemah. kebuntuan lindap
mengakap, memekik dan menukik membuat
paling serak dan mendatar paling henyak.

(selatpanjang, 2015)



Di Titik Ruas

selatpanjang bagai manusia tua. tertatih oleh
gempur peradaban tak terbendung. menyapa sesiapa
yang datang, menampung sesiapa yang jauh,
memeluk sesiapa yang berharap. ini wadah tuan,
ulur tangan semacam arif yang tak dimainkan, bukan?
tanah jantan inilah dambaan setiap insan.

selatpanjang bagai tanda yang terpancang
di titik ruas. jalan-jalan semakin patah dan remuk.
lampu jalan gigil oleh amuk. pepohonan rindang
gugur luntur oleh kuasa.

selatpanjang menyapa saja pada sesiapa. kepada gambut.
kepada keleluasaan yang masih terpilin. kepada akhir,
kepada sesuatu kesukaran menghinggap di hati kita.
sampai berujung di titik ruas, kembali kita tiada.

(selatpanjang, 2015)



Kehati-hatian Hujan

dengan hati-hati ia turun setelah langit
memberi tangga. tak ada yang menuntun
turun  karena langit telah membiasakannya.
tidak deras ketika ia jatuh karena langit
cerdas tuk merajut asanya.

dan hujan memeluk kita. gigil dan sunyi
yang tak biasa. ketika kau terlampau
jauh oleh semua itu oleh luka dan bisa
yang masih berselimut.

hujan yang datang mempersilahkan
apa saja memeluknya. pohon kayu,
rumah, genting, capung dan kupu-kupu
dalam riang tenang sekaligus gamang.
sesuara guntur gelegar mendebar.
adalah citra lain dari ruang alam itu.

dan hujan memeluk kita. tepat pada
saat kau terlena oleh titik-titik yang
terus mengecap pada daun pintu
dan tubuh jendela, lantai yang basah
oleh sumbang dari ragu yang meredup,
gontai yang berubah dari pikir yang
berbenah mengatup.

(selatpanjang, juli 2015)


Riki Utomi, alumnus Prodi. Pend. Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP UIR. Sejumlah karyanya pernah dimuat dalam media massa Suara Merdeka, Lampung Post, Banjarmasin Post, Serambi Indonesia, Padang Ekspres, Sumut Pos, Babel Pos, Kendari Pos, Inilah Koran, Majalah Sabili, Haluan Kepri, Batam Pos, Haluan Riau, Koran Riau, Metro Riau, Riau Pos dan beberapa bulletin. Bukunya yang telah terbit Mata Empat dan Sebuah Wajah di Roti Panggang. Tinggal di Selatpanjang.

KOMENTAR
Terbaru
Rabu, 14 November 2018 - 19:30 wib

Reaksi Brexit dan Dampak Ekonomi Cina Picu Pelemahan Rupiah

Rabu, 14 November 2018 - 19:28 wib

Kebut Pertumbuhan, RI Perbaiki SDM

Rabu, 14 November 2018 - 16:15 wib

Bonus Demografi Diharapkan Sampai ke Masyarakat

Rabu, 14 November 2018 - 16:00 wib

APBD Kampar Diperkirakan Rp2,4 T

Rabu, 14 November 2018 - 15:45 wib

Pencakar Langit Riau Pertama di Luar Pekanbaru

Rabu, 14 November 2018 - 15:33 wib

Lelang Sepeda Motor Dinas Pemko 22 November

Rabu, 14 November 2018 - 14:43 wib

Pengungsi Rohingya Hindari Repatriasi

Rabu, 14 November 2018 - 14:30 wib

Daud Yordan Mau Istirahat Dulu

Follow Us