Oleh May Moon Nasution

Lawan Korupsi Sejak Dini

18 Oktober 2015 - 01.00 WIB > Dibaca 2717 kali | Komentar
 
Lawan Korupsi Sejak Dini
BEBERAPA  tahun belakangan, lembaga independen negara atau biasa kita kenal dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kerap menjaring pejabat negara, politisi, dan polisi. Tak terkecuali dengan guru, bahkan tenaga-tenaga profesional lainnya yang tersangkut kasus korupsi. Ini terlihat ketika Transparansi Internasional mengeluarkan Indeks Prestasi Korupsi di 183 negara tahun 2011. Hasilnya sangat mengejutkan, Indonesia berada pada peringkat 100. Sementara pelaku bisnis, yaitu perusahaan Political and Economic Risk Consultansy (PERC) yang bermarkas di Hongkong, merilis pada Senin, 8 Maret 2010 lalu, dari 16 negara se-Asia Pasifik, Indonesia berada di bawah sebagai negara paling korup.

Kasus korupsi dalam buku ini, disuguhkan dengan bentuk-bentuk opini yang memikat, dengan data-data yang cukup akurat dan progresif. Kasus korupsi dipandang sebagai problematika bangsa Indonesia, yang direpresentasikan dalam bentuk opini. Kasus ini dianalogikan sebagai penyakit yang sudah merusak sistem kehidupan dan melilit bangsa. Bahkan telah mencapai tahap mengkhawatirkan, sebab ia (baca: korupsi) telah menggerogoti sendi-sendi kehidupan. Tetapi tampaknya, pelaku-pelaku korupsi masih saja berkeliaran, meskipun peraturan penguasa, undang-undang, peraturan pemerintah, dan intruksi presiden serta sejumlah undang-undang disahkan (hal. 3).

Hal yang mendasar dan menjadi inti dari beberapa pandangan kritis dalam buku ini yaitu, persinggungan pendidikan dan korupsi, serta solusi yang ditawarkan. Korupsi dianggap sebagai musuh berbahaya dalam proses pembangunan bangsa. Korupsi telah merusak seluruh sistem kehidupan dan mengubur nilai-nilai agama, serta warisan leluhur para pendiri bangsa, sehingga mengakibatkan rapuhnya pembangunan, lumpuhnya ekonomi, lemahnya penegakan hukum, tersumbatnya pendidikan, meningkatnya angka kemiskinan, dan akhirnya berpotensi menghancurkan bangsa (hal. 4-5).

Sementara solusi yang ditawarkan yaitu bagaimana Islam memandang perilaku korupsi sekaligus dengan dalil-dalil otentik. Sebab jika kita baca dari beberapa sumber dalam buku ini akan terlihat dominan literatur yang pakai yaitu Alquran dan Hadits. Sumber tersebut terlihat pada paragraf-paragraf yang disajikan dan dikategorikan penulis, seperti dalam surat Ali-Imran tentang tindakan ghulul/penggelapan, (Q.S. Ali-Imran/3: 161), mengambil harta dengan cara yang batil, (Q.S. Al-Baqarah/2:188), suap (risywah), mengambil harta orang lain dengan cara yang diharamkan (aklu al-suht), (Q.S. Al-Maidah/5:62), (Hal. 5). Bila kita telusuri lebih jauh, penulis juga berpijak pada sejumlah Hadits (H.R. At-Tirmidzi No. 1336) dan buku, serta beberapa perkataan masyur para ulama.

Saya berasumsi bahwa inilah yang menjadi cikal bakal sub-sub tajuk pembahasan dalam buku ini. Pengalaman saya dari beberapa percakapan-percakapan ringan dengan Susanto, di tengah profesi kami sebagai guru di sebuah lembaga pesantren di Siakhulu, Kampar, saya menangkap gagasannya dalam beberapa forum. Kemudian terjalin dengan  perspektif Islam yang kritis. Sebab hampir di sejumlah sub-sub tulisan dalam buku ini berpijak dengan dasar Al-Quran dan Hadits. Dapat ditengarai bahwa landasan ini disajikan penulis buku ini sebagai solusi dari berbagai kasus yang dikemukakannya melalui teks-teks, bukan berusaha menghakimi para pelaku korupsi.

Sebagai warga negara, sekaligus pendidik, Susanto, saya pikir menangkap fakta kasus korupsi di atas, kemudian menuangkannya secara faktual dengan pandangan Islam, juga dari pengalaman beliau sebagai seorang guru Pendidikan Agama Islam, serta mengumpulkannya sebagai tulisan yang kerap dikirimkannya ke beberapa media di Indonesia. Saya berasumsi bahwa penulis buku ini merasa gelisah dan lasak atas beberapa kasus yang menimpa bangsa kita dalam sebuah buku sederhana. Barangkali inilah yang menggelisahkannya dan menerbitkannya jadi buku, atau barangkali pengalamannya sebagai anak muda yang pernah menyabet Juara II Pemuda Pelopor bidang Pendidikan 2014 yang diseleksi khusus dan ketat oleh Kemenpora RI tahun 2014.

Pengalaman sebagai guru dan mubalig muda Riau

Subtansi pendidikan melawan korupsi yang ditawarkan buku ini cukup menarik perhatian kita, apalagi sebagai guru atau tenaga kependidikan di Riau. Guru sebagai ujung tombak pendidikan dalam pelaksanaan proses kegiatan pembelajaran di sekolah, sudah seharusnya punya pandangan terhadap perkembangan siswa sebagai penyampung estafet bangsa, yang akan mencetak generasi dengan nilai-nilai dan karakter siswa Indonesia. Solusi yang ditawarkan buku ini, dalam mencetak generasi antikorupsi, dengan pendekatan mata pelajaran Agama Islam, dengan tidak menafikan pelajaran-pelajaran lainnya di sekolah, khususnya kepada pembaca disusun secara sistematis. Pertama, melalui materi tentang keimanan. Kedua, materi tentang ibadah dalam penanaman nilai-nilai antikorupsi. Ketiga, materi halal dan haram sebagai semangat yang efektif dalam penanggulangan korupsi. Keempat, penanaman nilai akhlak khususnya kejujuran (hal. 9-12).

Nilai-nilai yang ditawarkan juga sejalan dengan cita-cita pendidikan nasional yang pada hakikatnya untuk membina akhlak dan jiwa peserta didik, sekarang lebih populer dengan kata karakter. Sebagai guru dan selaku orang tua di rumah, sebagai lembaga terkecil, bolehlah kita bersepakat dengan tawaran dalam buku ini. Tetapi bisa saja tak sepakat, atau mungkin ada tambahan pandangan, silakan saja menambahnya nanti. Dan perlu dilihat juga, dari pengalaman penulis buku ini sebagai guru, dai, qari, dan aktivis dakwah di lembaga dan sekolah, menjadi nilai tambah dalam buku ini.

Jika kita telusuri bari beberapa sub-sub judul, sebagai tambahan dari tajuk-tajuk yang ditawarkan, tetapi masih berkaitan erat dengan tema besar yang diangkat, yaitu pahlawan anti korupsi, yang mengetengahkan masalah persinggungan koruptor penjajah masa kini dan pahlawan masa kini sebagai anti korupsi (hal. 20), hukuman bagi koruptor (hal. 24), UN, ujian kejujuran (hal. 28), kejujuran, mutiara yang hilang (jika kita lihat lembarannya dua, barangkali ada kesalahan cetak), (hal. 33), pendidikan anti kekerasan (hal. 37), diskriminasi pendidikan (hal. 42). Selain itu, ada sejumlah tajuk yang dikombinasikan dalam buku ini yang berhubungan erat dengan pendidikan anti korupsi secara aktual.

Setiap sub-sub judul yang ditawarkan selalu ditandai dengan sumber tulisan dan titimangsa penerbitan. Pembaca akan secara langsung mengetahui bahwa sub-sub judul sudah pernah dimuat di sejumlah media, terutama di beberapa media yang terpercaya, seperti halaman rubrik opini, seperti Riau Pos (15 judul), Majalah Dinamis (2 judul), dan Koran Riau (2 judul). Ini membuktikan bahwa tulisan dalam buku ini telah dibidani para redaktur koran, dan kemudian lolos ke meja redaksi.

Bagi para pembaca yang pernah membaca beberapa rubrik yang kebetulan memuat opini Susanto Al-Yamin, penulis buku ini,  bahasa-bahasa yang dipakai penulis dalam buku ini tentu tak asing lagi, terlepas dari semua itu, buku ini layak dan pantas kita apresiasi sebagai karya pemuda Riau, yang juga pernah mengharumkan nama Riau sebagai peringkat 2 MTQ tingkat nasional di Ambon, bidang Menulis Makalah Ilmiah Al-Quran  beberapa tahun yang lalu. Selamat membaca!***


Pendidikan Melawan Korupsi
Penulis    : Susanto Al-Yamin
Penerbit    : Writing Revolution, Yogyakarta
Cetakan    : Pertama, April 2015
Tebal        : xiv + 116 halaman

May Moon Nasution, alumnus Bahasa Indonesia FKIP UIR dan bergiat di Komunitas Paragraf
KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 18 September 2018 - 19:30 wib

Masyarakat Mesti Bijak Gunakan Medsos

Selasa, 18 September 2018 - 19:00 wib

Sosialisasi SPIP Capai Maturitas Level 3

Selasa, 18 September 2018 - 18:41 wib

Lima Keuntungan Menggunakan Aplikasi Kasir Online Kawn

Selasa, 18 September 2018 - 18:30 wib

8 Kecamatan Ikuti Iven Pacu Sampan

Selasa, 18 September 2018 - 18:00 wib

Komunitas Muda Madura Siap Menangkan Jokowi

Selasa, 18 September 2018 - 18:00 wib

Perusahaan Diminta Peduli

Selasa, 18 September 2018 - 17:30 wib

Rider Berbagai Provinsi Bakal Ramaikan Jakjar 5

Selasa, 18 September 2018 - 17:22 wib

AJI Pekanbaru Kirim Delegasi ke Festival Media 2018 di Pontianak

Follow Us