Oleh Ramon Damora

Parodi Panam dan Ode Sebuah Olimpiade

18 Oktober 2015 - 01.13 WIB > Dibaca 1170 kali | Komentar
 
Parodi Panam dan Ode Sebuah Olimpiade
(DEFIZAL)
(Catatan setelah Madah Poedjangga)

SEBUAH jalan, kita tahu, tak pernah sama. Meski peluh yang menetes di tubuhnya adalah keringat yang mencuat dari kulit jangat kita dahulu juga. Sebuah jalan mungkin tak mewakili apa-apa lagi. Dengan, atau tanpa, sebarang pun dalih. Sebab sebuah jalan kadang hanya ingin menampung beban deritanya  hari ini. Tak hendak menjenguk kesilaman. Juga hari depan.
Sebuah jalan seakan harus menjawab semuanya sekarang. Detik ini juga! Proyek pengaspalan para petahana yang kejar tayang menjelang Pilkada, deru knalpot di balik rutinitas membosankan, bahkan cabaran el-maut. Jalan menjadi bentangan yang serba  meringkas, sekaligus meringkus, kehidupan. Manusia. Tiada interupsi.

Tak ada tempat singgah untuk, katakanlah, seperti ruang kota yang diangankan penyair tercela Charles Boudilaire: sekadar berimajinasi dan melakukan perkara-perkara yang belum basi. Apa, misalnya, yang bisa menghentikan kita hari ini senyampang berkendara di sepanjang Jalan HR Soebrantas? Kantor, hotel, anjungan kartu tarik tunai, gerai kedai, kampus, pasar, rumah sakit jiwa (bila terpaksa), rumah calon mertua, atau apa?

Jalan Soebrantas hari ini adalah ketergesaan, kecemasan, juga lintasan kematian. Keluar dari rumah, kabut celaka dengan polutan sangat tinggi sudah menanti. Traffic light kerap padam. Truk-truk bertonase tinggi menyalip semau jahanam. Tak ada yang baru di depan Pasar Baru, kecuali riwayat sebongkah kepala yang selalu terdengar dilindas fuso, tornton, yang lalu lalang dengan bebas setelah dikawal polantas.

Simpang Tabek Gadang? Ah, itu kan hanya nama lain dari kolam besar, tempat Izrafil, lagi-lagi, membasuh ajal korban sopir-sopir bengal. Satu-satunya yang menghibur mungkin hanya Pasar Jongkok. Saat kita duduk mencangkung, menawar pakaian murah, berdamai dengan kantong dan bulan tua, saat itu pula (maaf) cuma bokong kita yang menghadap ke jalan, seolah ingin menertawai kemacetan Panam yang entah kapan bisa diredam.
Ya, Jalan Soebrantas hari ini adalah komedi. Tragedi, berbancuh  timing nan pas, diselip pula dengan sedikit bumbu parodi, diyakini sementara filosof sebagai formula komedi yang baik. Ketika mendiang Wan Ghalib merisik asal-usul Panam, nama lain Jalan Soebrantas, dari Pan-Am (Pan America), sebuah perusahaan minyak asal Amerika dengan agenda wilayah eksploitasi 816 juta hektare di Pekanbaru tahun 1960-an, parodi sebuah jalan sebenarnya telah dimulai.

Tahun berlari. Kita tahu Pan-Am akhirnya bubar. Kandungan minyak bumi yang konon tersimpan di zona Jalan Soebrantas hingga kini tak pernah sungguh-sungguh terbukti. Hayalan mati meninggalkan nama, Panam, yang hari ini tersergam dalam rupa-rupa beban. Ke timur, ia meliuk-mendaki-menukik lintas Sumatera, pertemuan pelbagai simpang ambisi yang pongah, muslihat perusahaan gergasi, dusta para pemangku negeri, hamparan sawit-sawit menyembunyikan sekam dan dendam, keriap azab. 

Ke Barat, ia melandai menyusur beban sejarah, jalur sutera rang dagang, hutan-hutan membara, waduk yang membuat Sungai Kampar jadi terkutuk, dan seterusnya. Demi menyempurnakan parodi, mungkin ada di antara kita yang hendak menyelipkan hikayat Pan Amerika yang lain. Versi Americanisme Simon Boliviar, misalnya. Penggagas gerakan Pan Amerika di awal abad 19 itu bercita-cita soal bersatunya duli semua bangsa Benua Amerika. Jalan tol bernama Pan Amerika sepanjang 48 ribu kilometer, menyisir 15 negara, sekarang tegak tercagak. Ingatan sejarah yang benar bagi sebuah kehendak.

Tetapi Panam hanyalah Panam. Semolek apapun kait-kelindan kaidah toponiminya dengan sebuah-dua peristiwa. Itulah parodi. Ia menyingkat narasi besar sependek akronim. Kita tak lantas menjadi zalim-sejarah gara-garanya. Yang patut dicemaskan ialah tatkala bahasa tersesat, buntu, saat itu senjakala akal-budi ditabuh di tengah-tengah kota. Panam, alias Jalan HR Soebrantas, hanya salah satu, atau salah dua, contoh sakratul-maut bahasa kemanusiaan di jalan-jalan raya di negeri ini.

Masih adakah harapan? Pasti. Hadirkan puisi sebagai oase di tengah gurun gerun ruang kota. Nyaringkan suara puisi memanggil kalbu yang selama ini barangkali tertimbun hilir-mudik beku kesibukan, dan debu kendaraan. Gempitakan puisi di tembok-tembok kota, sebagai jeda jelajah dari jalan-jalan yang kian merayakan pembunuhan massal akal dan nalar. Bersorak dengan sajak! 

Di tembok puisi Madah Poedjangga yang resmi diperkenalkan ke khalayak, kemarin malam (17/10), suara-suara jiwa yang nirmala itu, pun terdengar. Terletak di depan Graha Pena Riau, Pekanbaru, Panam, Madah Poedjangga hadir di tengah keriuhan sebuah jalan. Tak besar, panjang 30 meter, tinggi 10 meter saja. Namun gemuruh sajak para penyair, semalam, tak hanya menggenapkan 28 puisi milik 28 penyair yang terukir di tembok Madah, namun serasa menuntun telinga hati berpaling meneroka bahasa sukma.

Madah Poedjangga memanggil kita mereguk bahasa dengan segala pesonanya. Tempat istirah bagi pembuluh nadi, agar darah lancar mengalir ke jantung. Sudah lama arteri kita tersumbat di jalan-jalan sebab di sana orang makin mudah mengumpat memaki. Bukankah di lebuh raya juga terdapat istilah jalan arteri, jalan yang melayani perjalanan jarak jauh, menghubungkan kota-kota, dilalui kendaraan bervolume besar, dengan kecepatan rata-rata tinggi?

Benar. Tapi jalanan mengasuh kita menjadi bangsa yang sulit memuji. Sukar bermadah. Padahal madah sama dengan ode, oda: puji, puja. Tuhan takkan pernah bisa dipuja bila suatu kaum sulit memuji sesamanya. Demikian nasihat agama. Maka pada Madah Poedjangga, yang kebetulan beralamat di Jalan Soebrantas, salah satu jalan arteri di kota ini, manusia dimuliakan, pujangga dihormati, lewat puisi. Puisi tak datang dari nyalak sehayun palu hukum. Puisi bukan dakwaan. Ne jugez pas, kata Andre Gide, pujangga dari Perancis. Puisi bukan vonis.

Terpujilah puisi, terpujilah para pujangga.  Kita tak pernah tahu benang merah antara puisi dan prestasi. Olimpiade London 2012 mencobanya, dengan apa yang disebut penyair Britania, Daljit Nagra, sebagai clarion call; raung sebuah gaung, seru yang bertalu-talu. Berasal dari bunyi macam apa pekik-mencabik heavy-metal ala clarion call itu? Bunyi puisi. Di mana sang bunyi mesti menyosok? Pada sebidang tembok, yang diukir permanen di tengah-tengah arena olimpiade. 

Bersama penulis Inggris lainnya, Daljit Nagra dipercaya untuk hanya memilih sebait puisi saja dari ratusan mahakarya puisi yang pernah ditulis pujangga-pujangga terkemuka negeri mereka. Sebait sahaja. Sebait yang bisa menghentak, menggugah, kesadaran-menuju-paripurna. Lantas terpilihlah puisi bertajuk Ulysses, karya penyair legendaries Inggris, Alfres Tennyson (1809-1892): moved earth and heaven, that which we are, we are / one equal temper of heroic hearts / made weak by time and fate but strong in will / to strive, to seek, to find, and not to yield //

Puisi yang pantas, tentu saja. Sebab hidup bukan sekadar perkara mengitari jagat, atau usaha merengkuh nirwana. Bukan pula setakat menyemburkan gelegak dada, dari jiwa paling kesatria sekalipun. Tidak juga harus berakhir pada suratan nasib dan getir takdir. Hidup, urai puisi ini, justru pencaharian tiada henti. Bukan soal hasil.

Entah karena pengaruh tembok puisi Ulysses itu atau tidak, baru pada olimpiade inilah Inggris meraih lebih dari 20 medali emas sejak keikutsertaannya tahun 1908 silam. Dan keluar sebagai tiga besar peraih medali terbanyak, di belakang Amerika dan Cina.

Madah Poedjangga hanya tembok kecil dari menara-menara besar kebudayaan yang kelak berdiri. Ia telah memulai meningkah nada, dengan clarion call, hentakan kerasnya sendiri. Boleh jadi bagi sebagian orang ia baru tersimak sebagai gumam, denting sekeping tala, belum sampai gema. Tapi di dinding-dinding Kota Leiden, muurgedichten (tembok puisi) itu baru memahat 107 sajak, semenjak dimulai tahun 1992 silam dengan mengukir syair William Shakespeare.  Di sebuah gedung di kawasan Papengracht, April lalu, saya melihat puisi ke-107 itu. Pahatan sebuah puisi karya pujangga Syria, Adonis.

Tembok puisi di Leiden, sebagaimana halnya mural sajak-sajak underground di lorong-lorong busway Kota Paris, atau tempat-tempat lain di sejumlah negara, sesungguhnya hendak mengungkai warkah sederhana. Menghadirkan puisi dalam laku sehari-sehari. Puisi tak boleh hilang dari dimensi keseharian. Sedikit saja puisi lengah, ia langsung tergerus oleh kota yang serba bergegas. Kota yang kelak hanya akan menciptakan manusia-manusia Kafka, menihilkan segala.

Nihilisme dari kota yang tergesa-gesa, pada titik tertentu bukan lagi semata pengabaian, atau peniadaan, pelbagai konsekuensi pahit-getir hidup. Namun lebih nahas: pemasrahan. Ratap putus asa yang dijalani dengan sikap tertib seorang ratib. Sebab itu, Madah Poedjangga boleh juga ditafsirkan sebagai tembok optimisme. Pilar ikhtiar. Mengapa? Karena opsi kebudayaan di tanah Melayu hanya satu: menolak bergeming pada satu dinding. Bila roboh Kota Melaka, papan di Jawa kami tegakkan! Demikian. ***

Ramon Damora adalah sastrawan yang rajin menulis dan karya-karyanya dimuat diberbagai media. Saat ini berdomisili di Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau.

KOMENTAR
Esai Lainnya
Terbaru
Kamis, 20 September 2018 - 20:34 wib

BPJS TK Beri Penghargaan pada Tiga Perusahaan Terbaik

Kamis, 20 September 2018 - 19:00 wib

Olahraga Bangun Peradaban Positif

Kamis, 20 September 2018 - 18:43 wib

TGB Blak-blakan Bicara Tudingan Gratifikasi

Kamis, 20 September 2018 - 18:38 wib

AS Potong Bantuan Dana bagi Palestina

Kamis, 20 September 2018 - 18:30 wib

Polres Gelar Apel Pasukan Operasi Mantap Brata

Kamis, 20 September 2018 - 18:24 wib

Ketua Ombudsman RI Gelar Kuliah Umum di Unri

Kamis, 20 September 2018 - 18:00 wib

Sah, BPI Kerjasama dengan Negeri Istana

Kamis, 20 September 2018 - 17:39 wib

Dimsum, Chinese Food Yg Menggugah Selera

Follow Us