Oleh Bambang Karyawan Ys

Manusia Salai

18 Oktober 2015 - 01.30 WIB > Dibaca 1713 kali | Komentar
 
Manusia Salai

Menyusut ... daging yang membalut tubuh ini. Urat-urat mengecil dan menonjol disetiap sisa daging. Menghitam. Aku tak mengerti apakah teori evolusi Darwin memang telah menimpah aku dan orang-orang disekelilingiku. Asap yang selalu pekat menjadi asupan setiap hari dan membuat tubuh ini harus bertahan hidup dengan mengalami adaptasi serta penyesuaian. Tak penting bagiku mengapa ini bisa terjadi, yang terpenting adalah bertahan hidup dengan situasi ini.

Aku tak pernah berpikir kalau aku ternyata beda dengan orang-orang yang berada di luar daerahku. Kupikir ini hanya urusan diferensiasi ras. Semakin terasa beda saat dari berbagai daerah dan negara datang ke daerahku. Entah sekedar kunjungan atau untuk melihat keanehan disekelilingku. Salah satunya yang diperkenalkan kepadaku. Sarah, namanya. Lewat perkenalan dia menyebut sebuah daerah sebagai asalnya. Awalnya aku tak yakin  kalau itu adalah tatapan cinta. Mungkin hanya tatapan kasihan atau malah ngeri melihat keanehan dalam diriku.

Beberapa kali kucoba menghindar darinya. Telpon, sms, dan ragam media sosial lainnya yang kumiliki dihubunginya berkali-kali yang mengatakan ingin bertemu dan berteman denganku. Aku menjadi semakin tersudut dalam ketidakpercayaan diri setelah mengetahui bahwa aku dan masyarakatku dikelompokkan dalam ras unik dalam kelompok manusia. Mereka menyebutnya homo asapiens. Ras manusia yang mengalami degeneratif karena menghirup asap setiap hari.

Asap di daerahku sepertinya telah berubah wujud menjadi temannya awan. Dihilangkan dengan beragam cari tak mampu hilang. Bahkan semakin menggila dan sepertinya memiliki kaki balerina yang dengan riang akan berputar ke sana kemari dengan bahagia. Tanaman yang biasanya berwarna hijau, di daerahku penuh dengan bintik hitam yang disebabkan oleh klorosis dan  nekrosis.

Beragam teknologi manusia, bermacam bangsa, dan cara tradisional sampai tercanggih dilakukan untuk menyedot asap dari ruang udara daerah kami. Namun nampaknya Tuhan belum memberikan tanda setujunya untuk menyingkirkan asap ciptaan-Nya. Sehingga akhirnya semua angkat tangan. Pemerintah yang dulunya berjanji akan menuntaskan masalah asap yang telah terhirup belasan tahun, hengkang dan pura-pura berdalih disebalik nama Tuhan.

Masyarakatku memang sempat dievakuasi besar-besaran ke daerah lain. Ada yang berhasil beradaptasi dengan penduduk setempat, namun tidak juga kalah banyaknya yang kembali mengingat kenangan akan tanah asal tak pernah dilupakan. Termasuk aku, orang tuaku, dan kerabatku. Sangat tak tega meninggalkan kepingan-kepingan kenangan di rumah, di atas tanah, di tepian sungai, dan diketersesakkan udara karena asap.

Kembali ke Sarah. Melihat usaha kerasnya, Jamal, teman karibku, membuka pandanganku untuk menerima persahabatan yang ditawarkannya.

“Terimalah. Orang nak berkawan, kau tolak. Lupakan perbedaan kita dengan mereka.”
Nasihat yang bijak pikirku. Tidak ada salahnya pikirku.

Sejak itu, pertemanan kami berjalan seiring waktu sambil menikmati asap yang tak pernah hilang.

“Pakailah masker tuh, kadar udara di daerah kami selalu di atas 300 psi. Bayangkan, itu kadar bahaya, namun kami hirup setiap hari. Udara bahaya telah ramah kepada kami. Tubuh kami telah beradaptasi dengan baik terhadap bahaya itu. Kota ini akan selalu berasap. Titik apinya telah menghujam ke akar bumi.  Ditambah arah angin dari utara dan selatan akan melambat dan berputar-putar saat melewati kota ini. Wajarlah, kota ini akan menjadi kota dengan wisata barunya, wisata asap he he ... “ candaku.

“Apa tidak pernah hujan di sini? “ tanyamu dengan segumpal heran.

“Hujan bagi kami adalah sesuatu yang menakutkan. Kadar SO2 dan NO2 yang sangat tinggi akibat asap, bila hujan turun akan menjadi hujan asam yang sangat pekat. Kau tahu bila terkena tubuh kami? Kulit ini akan melepuh, Sarah. Bisa kau bayangkan,” kataku sambil menunjukkan tangan ini yang berbekas karena hujan asam pekat itu.

“Mengerikan. Hati-hatilah kawan, aku tidak tega melihat kau seperti itu. Pasti sangat tersiksa.” Simpatimu membuatku melayang.

“Sudahlah, lupakan itu. Aku ingin mengajakmu menikmati kota yang kata para penyair seperti Negeri di Atas Awan.”

Kuajaknya bicara santai sambil menikmati makanan sederhana di kedai ampera di pojok lampu merah.

“Apa yang khas dari kedai nasi di sini?”

“Ikan salai setahuku.”

Kau nikmati sekali makan ikan salai. Kau tersenyum-senyum memandangku.

“Ada apa?” heranku.

“Aku boleh jujur?” tanyanya.

Aku mengangguk tanda tidak keberatan.

“Kamu mirip ikan salai. Kalau boleh kusebut, kamu manusia salai.” Telunjukmu dengan santai menunjuk tepat ke arah hidungku.

Aku diam sambil memaknai secara mendalam maksud gurauannya.

“Kau marah?”

Tidak kujawab. Kualihkan sambil kuajaknya menikmati titik terindah untuk menikmati kabut asap dalam posisi terindahnya.

“Indah bukan? Lihatlah asap-asap itu seperti membentuk tarian bak balerina yang berputar beraturan.” Aku memperagakan seperti penari balet.

“Benar kawan. Seindah dirimu yang telah bermetamorfosa menjadi manusia salai ha ha,” tawamu kembali.

“Lihatlah alat itu, alat pengukur indeks standar pencemar udara selalu bertuliskan “BERBAHAYA”, sehingga penyakit ISPA bagi kami bukan lagi menjadi penyakit, tapi identitas!” kataku dengan tegas.

Melihat tawa lepas dengan pancaran mata indahnya membuatku menari menjalani hari bersama tarian asap yang berkeliling diseputarku.

Di depan cermin kucermati diriku yang menurut Sarah, ada sebuah keindahan dalam diriku.
“Benarkah?” Rasa penasaranku mencoba membandingkan foto diri orang-orang yang biasa tampil di media massa. Kuperhatikan kepalaku memang berukuran lebih kecil dibandingkan orang-orang yang datang ke daerahku. Mata mengecil dengan posisi masuk ke dalam rongga. Bulu mata lebat dan bola mataku berselaput. Alis mata ini tebal dengan rambutku tidak sehitam mereka. Belum lagi beda hidung yang telah mirip dengan masker, bibir kering dan pecah belah, gigi jarang dan kecil, punggungku membungkuk, dan kuku-kuku jemariku mudah lepas.

Hari-hari ke depan adalah hari-hari kebersamaan. Tiada hari tanpa Sarah. Foto bersamanya dengan setting asap, rekaman seluruh aktifitas harianku, dan segala detil tentangku dan teman-temanku didokumentasikannya.

‘Untuk kenangan sepanjang hidupku.” Begitu ucapannya sambil memegang handycam merekam detil tubuhku.

Aku tak peduli dengan foto dan rekaman yang dikerjakannya, bagiku yang terpenting aku ingin selalu bersama Sarah.

“Sarah ... Sarah ... Sarah ...,” igau tidurku pun selalu menyebut namanya. Rindu ini serindu ingin kembali menikmati matahari yang telah hilang bersembunyi disebalik kelabu asap.
Entah asap mana yang membawa Sarah. Sejak hari itu, tak kutemui lagi mata indahnya. Tak kudengar lagi gurauannya yang menyebut-nyebutku sebagai manusia salai. Alat komunikasi dan beragam media sosial yang dimilikinya telah kuhubungi. Nihil tanpa respon.

“Sudahlah, tak penting lagi memikirkannya,” nasihat Jamal, kawanku.

“Tidak mudah kawan.” Lesu kuberjalan menelusuri tepian jembatan yang menari membentuk formasi asap kemuraman.

Aku hanya menjalani hari sambil menelusuri perjalanan singkat yang kuingat bersama Sarah dengan ditemani tarian asap. Waktulah yang membuat kenangan menjadi cair. Malam berganti pagi, pagi menyambut malam telah membuatku perlahan melupakan akan sekeping kenangan. Saat kepingan itu mulai menguap bersama asap yang makin menggumpal, Jamal, kawanku mengagetkan dengan telepon darinya.

“Lihat cepat televisi sekarang! Saluran 9!”

Kuperhatikan siaran televisi itu, sebuah tayangan tentang aku dan daerahku. Apa yang kulihat sama persis yang pernah direkam oleh Sarah. Gagap mengikuti alur skenario yang ada dihadapanku. Kudengar suara yang pernah kukenal.

“Demikian, Sarah, koresponden saluran 9 melaporkan untuk Anda.”

“Jadi ini maksud kau, Sarah! Sial!!!” ***

Bambang Kariyawan Ys, Guru Sosiologi SMA Cendana Pekanbaru. Aktif bergabung di Forum Lingkar Pena Riau. Telah menerbitkan buku kumpulan cerpen “Numbai” dan beberapa buku kumpulan puisi, novel, dan pendidikan. Peserta undangan MMAS (Membaca, Menulis, dan Apresiasi Sastra) Kemdiknas 2010, Penerima Anugerah Sagang 2011, Nominator Anugerah Sagang 2012-2014, Nominator Anugerah Pena 2013, dan Peserta Ubud Writers and Readers Festival 2014.

KOMENTAR
Terbaru
Kamis, 20 September 2018 - 10:51 wib

Rehab Command Centre Diselidiki

Kamis, 20 September 2018 - 10:50 wib

Targetkan Seluruh IKM Jalin Kerja Sama

Kamis, 20 September 2018 - 10:38 wib

PDAM Harus Ditata Ulang

Kamis, 20 September 2018 - 10:25 wib

Sambangi Panti Asuhan di Hari Lalu Lintas

Kamis, 20 September 2018 - 10:24 wib

Sepakat Memperbaiki Jalan

Kamis, 20 September 2018 - 10:20 wib

Dihampiri Polisi, Pengedar Buang Narkoba

Kamis, 20 September 2018 - 10:19 wib

Berharap Tahanan Dapat Berubah

Kamis, 20 September 2018 - 10:07 wib

Kepergok Mencuri, Sembunyi di Gudang

Follow Us