SAJAK

Sajak-sajak Reski Kuantan

18 Oktober 2015 - 11.51 WIB > Dibaca 979 kali | Komentar
 
Luka-luka

Oi luka-luka
luka-luka berliku
bersahutan dari tangan ke kaki
dari dada ke kepala
dari mata ke hati
dari hati ke yang tak dapat kusebut
meski se atau kadar

Oi malam memintal
usia menyuruk balik bantal
pintu langit mengetuk
menyahut ke ketiadaan
sampai ke liang-liang
aku terjerembab
dihisap bayanganku sendiri
di dalam sahutanmu itu
aku tak pandai menuli

Oi kabar kabur
padamu hendak kubaur
tubuhku jua luka-luka
yang musim bernanah darah
yang hitam dan bersuara
sampaikan pada
yang tak dapat disampaikan kata-kata

Oi tangan siapa itu
menjalar-jalar
menjulur-julur
mencengkeram-cengkeram
berdenyut-denyut di batang leherku
berdegup-degup menyumbat pembuluh

Oi sedang luka-luka
tak mati-mati

Kuansing; 19/7/2015




Orang dari Barat dan
Anjing dalam Kepalanya


Ia datang dari barat
dengan  anjing dalam kepalanya
di perutnya harapan
selebat kabut ujung malam
yang siap menelan apa saja

Tidurmu yang tangkup
tangkap mimpi ujung dahan
sedang orang barat terus berjaga
mengasah pisau dengan darah
:darah itu darahmu yang dicucutnya

Engkau yang lahir dari laut
engkau yang ibu pada daratan
engkau melayu
yang beringsut ke maut itu
tunduklah padaku

Anjing dalam kepalanya menyalak
minta daging dan tanah
menuntut hak dan darah
yang engkau pun tak tahu milik siapa
serupa engkau tak tahu
keris mencucuk pinggangmu

Maka aku tulis sajak
tentang orang dari barat
tentang anjing yang menyalak
memekakkan pangkal turikmu
hingga kau lupa gerak lidah ibumu
lupa bagaimana kapal mesti belayar dan berlabuh
lupa bagaimana kemudi mesti direngkuh
kau diombang ambing omongkosong
pada gelombang lautmu sendiri
engkau karam

Maka aku tulis sajak
tentang orang dari barat
tentang anjing yang menyalak
hingga kau hilang akal
lupa mula hikayat berakar
bagaimana kapur mesti ditakar
bagaimana pinang harus ditawar
sedang sirih kian ke sepi
terbuang dari ceranamu sendiri

Sebelum sajak kuakhiri
kuperkenalkan engkau pada orang barat
pada anjing yang menyalak
yang masuk ke dalam lambungku
mencakar-cakar
menggigit-gigit
lambungku yang sakit
dirobek-robeknya

Tuan,
tolong hikayat itu kau dendangkan
biar laparku segera hilang

Kuansing; 12/9/2015



Nyanyian

Dikabarkannya kabar paling jauh
dari tanah yang tak sekali-kali kau tempuh
dari rumah yang tak kau kenal
dari suara yang tak dapat kau dengar
dari tubuh yang tak sampai kau peluk
dari pintu yang tak mungkin kau ketuk
di malam paling kutuk sepi memburuk
menciduk segala yang hirup
membikin tunduk segala yang hidup

Ialah nadi-nadi
degup teka-teki
denyut muasal
pangkal paling awal
di relung-relung paling sunyi
tempat kau biasa bersendiri
mengutuk nasib yang tak karib
atau persoalan-persoalan
yang tak pernah berani kau persoalkan
hingga tiap kata
tiap bahasa
tiap gerak
tiap tindak
terkubur menjamur dalam batok ketakutanmu

Oh dengar
kau dengar
nyanyian itu kudengar
samar-samar dari pucuk gunung
samar-samar dari semak belukar
samar-samar dari dalam diri
bergegas gigih
makin ke dekat
makin ke dekap
kian ke pekat
kian ke gelap
laknat!

Jerebu menyambar
disampuknya tiap kabar
dibawanya ke lorong paling tajam
disuruknya dalam lubang paling dalam
nyanyian itu
tenggelam sebelum sempat kau nyanyikan

Kuansing, 20/9/2015


Masih Perlukah Puisi?

Ia masih di tempatnya
dengan pistol di keningku
dua petikan tanpa peluru
degup jantungku
masih perlukah puisi?
Tanyanya berkali-kali

Aku tak pernah tahu
orang-orang terus berlalu
umpama senja sendu
larut ke malam kabut
sedang kata-kata
masih kata-kata
sekadar abjad dan angka

Aku ingin bertanya
bukan lagi pada diriku sendiri
bukan juga terhadap sepi
sebab sepi telah lama pergi
sejak kematian demi kematian
saling timpa saling tindih
berdarah dan merintih
memekakkan telinga dan hati

Pada hujan nan kabut
pada hutan dijemput maut
pada sungai sansai beringsut
pada udara tuba terhirup
pada jiwa letih tunduk
keyakinanku makin gugup
ditekuk rasa takut
di jalan ini
masih perlukah puisi?

Dor,
ruhku seolah pergi
ia tertawa geli
sedang puisi
aku ingin tak peduli

Kuansing 18/8/2015



Reski Kuantan, lahir di Teluk Kuantan, Kuansing, Riau. Menyenangi karya seni dan sastra sejak kecil. Tulisan-tulisannya dipublikasikan di beberapa media cetak dan online. Beberapa puisinya tergabung dalam beberapa antologi puisi, di antaranya Indonesia Berkaca (2011), Sepuluh Kelok di Mouseland (2011), Kondom Bocor Sobek Ujungnya (2011), Epitaf Arau (2012), Bendera Putih untuk Tuhan (2014).

KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 13 November 2018 - 20:47 wib

Kasus Century, KPK Minta Keterangan Ketua OJK

Selasa, 13 November 2018 - 19:37 wib

Stan Lee Tutup Usia, Para Superhero Berduka

Selasa, 13 November 2018 - 18:25 wib

KPK Dalami Motif Pertemuan James Riady dengan Neneng Hassanah

Selasa, 13 November 2018 - 18:23 wib

Polri Teliti Kemungkinan Hoaks by Design

Selasa, 13 November 2018 - 18:00 wib

Dianiaya, Warga Guntung Meregang Nyawa

Selasa, 13 November 2018 - 17:59 wib

PBL Riau Taja Rakor Renovasi Sarana Pendidikan Dasar dan Menengah serta Madrasah

Selasa, 13 November 2018 - 17:15 wib

Empat Desa di Pelalawan Banjir

Selasa, 13 November 2018 - 17:00 wib

Jalan Rusak Koto Gasib Berbahaya

Follow Us