SAJAK

Sajak-sajak M Anton Sulistyo

18 Oktober 2015 - 12.22 WIB > Dibaca 3182 kali | Komentar
 
Surat Malam

Dalam tidur kuterima sepucuk surat dari ibu
Berisi airmata dibungkus amplop warna ungu
Kubaca pelan-pelan bagaikan mengeja
Kalimat gaib pada mantra

Tertulis kabar
Hutan tropis yang habis terbakar
Langit riuh oleh kicauan bernada keluh

Burung-burung terbang limbung
Putus asa mencari tempat bernaung
                                    
Pohon-pohon melamun kehilangan daun-daun
Seperti rambut putih ibu yang makin menipis
Digerus arus waktu, dibelai rinai gerimis

Diterpa angin bergaram dari laut masa silam
Guratan di wajah ibu menuliskan kesepian
Kubaca pelan-pelan bagaikan mengeja
Kalimat gaib pada mantra

Bintaro, 2014.


Memberi Nama Segelas Air

: Abdul Hadi WM

Apalagi yang diburu sesudah sunyi dan gelap
Kabut dan asap selesai kita dedah. Di dinding
Masih tersisa coretan pudar hari-hari luka
                       tak terbaca

Di puncak senyap kita pun bertemu, sejenak
Lalu  berpisah lagi sebelum tertidur nyenyak

Namun di sebuah kota yang sangat asing
Kita merasa pulang ke rumah masa depan

Di mana kita bebas memberi nama
             pada segelas air

Saat bangun tidur, sebut saja itu airmata
Yang semalam runtuh di dalam mimpi

Saat dijamah hening di hutan samadi
Sebut saja itu sesuatu yang kita sembah
Dan kini mengejawantah
      pada segelas air

Apalagi yang diburu sesudah hujan
Menghapus seluruh jejak kita di pasir

Pamulang, 2014.


Episode Waktu

Di pedestrian bersama orang-orang tergesa
Namamu kupanggil tapi kau tak menoleh

Langit mendung. Hati murung
Jam meleleh di pergelangan tangan
Kesepian mulai lagi bersenandung

Jemari waktu terasa membelai
Di dahi membekas guratan luka
Garis-garis kenangan memanjang

Dari tiada menjelma  ada
Apakah akan kembali lagi ke tiada?

Terowongan nasib begitu panjang
Membuat batin terpelanting
Ke tempat yang asing

Di pedestrian bersama orang-orang tergesa
Jalan menuju pulang terasa jauh dan lama

Jkt-NY, 2015.


Sonet Taman Pembuka Jiwa
                                       
Di tengah sawah, ada taman dikelilingi oleh sepi                                      
Wangi surga kadang dapat tercium dari sini
Saat jarum jam menunjuk ke bulan purnama
Hening menciptakan kabut di pejam mata  
    
Orang-orang berkelana untuk menemui
Atau ditemui kelebat cahaya
Aku lelap di antara hawa dingin
Dan rasa tak yakin. Di dalam batin

Angin mengibarkan bendera kerisauan
Apakah ada banyak ruang untuk iman
Tapi sedetikpun tak boleh ada keraguan?

Di tengah sawah, aku sepakat dengan kunang-kunang
Mengagumi malam, selalu rindu merayakan terang
Bersama pemilik kerdip bintang di kejauhan

Yk, 2015.


Kota Lama

Membaca kerisauan di tiap lekuk tubuhmu
Aku seperti mengunjungi sebuah kota lama
Yang tiba-tiba mati ditelantarkan sunyi

Di dalam hati. Terbentang hutan para gergasi
Langit tanpa tepi dan burung-burung membisu
Seperti dalam kitab wahyu

Gelas gaib waktu
Meneteskan airmata sedingin salju

Cinta terasing
Dalam endapan rindu
Nafsu menjadi hening

Abu kenangan dihamburkan angin
Di atap-atap gedung. Di wajah-wajah murung
Bendera putih berkibar mengumumkan kekalahan

Pengkotbah amatir menuliskan nubuat di atas pasir
Lambang-lambang kiamat bergelantungan di dahan
Jam 00.00 bulan sabit habis ditelan langit kelam

Aku seperti mengunjungi sebuah kota lama
Membaca kerisauan di tiap lekuk tubuhmu

Jkt, 2015.



M Anton Sulistyo, lahir  di Jember, Jawa Timur. Menulis puisi sejak tahun 1976 di beberapa majalah dan koran di Jakarta, Bandung dan Yogyakarta. Beberapa puisinya masuk dalam beberapa antologi puisi bersama, selain dalam beberapa situs sastra on-line. Belum Dalam Lukamu!  (2013) adalah kumpulan puisi pertama dan memperoleh Anugerah Buku Puisi Terbaik Festival Hari Puisi 2014 yang diselenggarakan oleh Yayasan Panggung Melayu bekerja sama dengan Harian Indopos dan Yayasan Sagang, di TIM Jakarta.


KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 20 November 2018 - 12:30 wib

Rp772,5 Juta Beasiswa Belum Disalurkan

Selasa, 20 November 2018 - 12:00 wib

4 Kabupaten Masih Terendam Banjir

Selasa, 20 November 2018 - 11:48 wib

Pedagang Pasar Rumbai Minta Pembayaran Kios per Hari

Selasa, 20 November 2018 - 11:27 wib

Haul Marhum Pekan Ingatkan Sejarah Pekanbaru

Selasa, 20 November 2018 - 11:26 wib

AirAsia Pindahkan Penerbangan ke Terminal 2

Senin, 19 November 2018 - 19:09 wib

Duit Korupsi ’’Amankan” Kasus Istri

Senin, 19 November 2018 - 18:47 wib

Teken Petisi, Selamatkan Nuril

Senin, 19 November 2018 - 17:00 wib

Kejari Kuansing Terima Penghargaan Terbaik Se-Riau

Follow Us