Redaksi

Saatnya Mengendalikan Pertumbuhan Kendaraan Baru

16 Juli 2011 - 05.38 WIB > Dibaca 906 kali | Komentar
 

LAGI-lagi pemerintah ingin mengeluarkan kebijakan tentang pembatasan penggunaan bahan bakar minyak (premium) atau bensin di masyarakat. Beberapa opsi pun diluncurkan seperti menaikkan harga premium dari Rp4.500 per liter menjadi Rp5.000 per liter.

Pemilik mobil pribadi dilarang menggunakan premium serta opsi ketiga berupa pemasangan smart card pada setiap kendaraan. Dari tiga opsi ini pemerintah lebih cendrung membatasi penggunaan premium dengan cara melarang kendaraan pribadi menggunakan premium. Dengan dalih mampir semua pemilik kendaraan ribadi itu mampu membeli BBM non subsidi seperti diungkapkan Dirjen Migas Kementrian ESDM, Evita H legowo yang dilansir media massa kemarin.

Pertanyaannya adalah apakah pernyataan Evita ini sudah benar adanya dan mampu mewakili kondisi ril di masyarakat, terutama pada level rakyat jelata. Atau hanya berpedoman pada sebagian sample dengan perbandingan produksi kendaraan baru serta jumlah kendaraan baru yang terjual di Indonesia.

Jika ini jadi patokan, jelas akan berpengaruh pada regulasi yang akan diluncurkan. Artinya, pemerintah jangan hanya melihat jumlah kendaraan baru yang terjual, tapi juga melihat kondisi riil ekonomi rakyat.

Sebab, untuk mendapatkan sebuah kendaraan baru di Indonesia saat ini tidaklah sesulit yang dibayangkan. Dengan bermodal kecil dan memakai jasa keuangan masyarakat akan mudah mendapatkan kendaraan baru meskipun harus berutang atau mencicil setiap bulannya.

Yang jadi persoalan sekarang adalah, jika pemerintah ingin mengendalikan penggunakaan BBM bersubsidi jangan hanya rakyat yang dipaksa untuk membeli yang mahal dan membatasi untuk mendapatkan barang murah, tapi juga harus mampu mengendalikan pertumbuhan kendaraan di Indonesia. Sebab, pertumbuhan kendaraan baik roda empat maupun sepeda motor lah yang ikut mempengaruhi melonjaknya penggunaan bahan bakar minyak.

Artinya, pemerintah harus mampu mengendalikan jumlah impor kendaraan, jumlah produksi kendaraan, sehingga bisa sebanding dengan tingkat produksi bahan bakar minyak yang ada. Kebijakan semacam ini jelas akan besar manfaatnya tidak hanya terkait penggunaan BBM saja, tapi juga terhadap lingkungan.

Bahkan kalau perlu sudah saatnya pemerintah kembali menggalakkan kendaraan ramah lingkungan seperti lebih banyak memproduksi sepeda ketimbang sepeda motor atau pun mobil yang setiap harinya memiliki andil besar dalam peningkatan pencemaran lingkungan.***
KOMENTAR
Terbaru
Menteri Keuangan Imbau Perusahaan Gunakan Rupiah

Sabtu, 22 September 2018 - 15:49 WIB

Stroberi Berjarum Repotkan Australia

Sabtu, 22 September 2018 - 14:47 WIB

Waspadai Akun Robot Jelang Pemilu

Sabtu, 22 September 2018 - 12:46 WIB

Riau Pos Terima Dua Penghargaan dari Bawaslu

Sabtu, 22 September 2018 - 12:43 WIB

Festival Zhong Qiu Berpusat di Jalan Karet

Sabtu, 22 September 2018 - 09:53 WIB

Follow Us