OLEH MUSA ISMAIL

Memperingati Bulan Bahasa Marwah Melayu pada Bahasa dan Sastra

24 Oktober 2015 - 22.47 WIB > Dibaca 1497 kali | Komentar
 
Melayu merupakan suatu bangsa, bukan etnis tertentu. Sebagai suatu bangsa, Melayu punya kekuatan, kebesaran, dan kedaulatan tersendiri sejak abad ke-7. Karena itu, jika memperbincangkan Melayu berarti kita sedang memperbincangkan  sebagian besar kawasan Asia Tenggara. Secara geografis, kawasan ini meliputi negara Indonesia, Thailand Selatan (Provinsi Pattani, Songkla, Naratiwat, Chulalangkorn, dan Nakhon Sithammarat/Ligor), Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Filipina Selatan, Champa (sekarang terletak di Vietnam Tengah). Kawasan-kawasan ini memiliki persamaan sejarah, agama, bahasa, sosial, budaya, dan adat-istiadat (Ismail Hussein, dkk. dalam Shomary, Tamadun, Edisi April 2011:10). Adanya anggapan bahwa Melayu merupakan etnis tertentu merupakan upaya pengerdilan sejarah bangsa melayu. Anggapan ini tentu saja tidak berterima di mata pakar sejarah Melayu atau nusantara.

Perjalanan tamadun Melayu telah mengukir sejarah monumental. Telah banyak kajian bahwa keagungan Melayu yang berkaitan dengan kerajaan sudah dimulai sekitar 1.600 tahun, yaitu berdirinya Kerajaan Kutai pada 380 M, dilanjutkan Kerajaan Melayu (Suwarnabhumi) dan Kerajaan Sriwijaya pada abad ke-7 yang berasaskan ekonomi perdagangan. Kerajaan inilah yang menguasai Selat Malaka sebagai jalur perdagangan antarbangsa. Dari sinilah mulai berkembang aspek bahasa dan sastra. Bahasa Melayu semakin dikenal dalam bahasa perdagangan (lingua frqnca).  Dalam perkembangan selanjutnya, sastra Melayu pun tumbuh menjadi sastra yang mendunia. Asas tamadun bangsa Melayu ialah bahasa dan sastra, kata Braginsky. Puncak kejayaan marwah Melayu ketika agama Islam menyebar dan menyatu dengan kehidupannya pada abad ke-13.

Marwah Bahasa Melayu = Bahasa Indonesia

Bangsa Indonesia tidak akan melupakan peristiwa Sumpah Pemuda,  28 Oktober 1928. Inilah peristiwa historis monumental yang tak patut alfa dari hati dan otak bangsa ini. Pergerakan pemuda1928 telah menancapkan tonggak nasionalisme yang agung bagi semangat persatuan di tanah air: satu tanah air,  satu bangsa,  dan satu bahasa, yaitu Indonesia. Inti falsafah ikrar ini menjadi tiang seri bagi kekuatan Indonesia di mata dunia.  Jika tiang seri ini keboi,  tunggulah kehancurannya. Karena itu, nilai-nilai kandungan falsafah ini selayaknya terus hidup dan dihidupkan di setiap nadi generasi muda melalui berbagai aktivitas yang mendorong ke arah tersebut.

Pada mulanya, butir ketiga dalam Sumpah Pemuda bukan mengakui bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Dalam Kongres Pemuda Pertama yang berlangsung 30 April2 Mei 1926, Muhammad Yamin, yang nantinya menjadi Sekretaris Panitia Kongres Pemuda Kedua pada 28 Oktober 1928, membahas tentang masa depan bahasa-bahasa Indonesia dan kesusastraannya. Muhammad Yamin menyatakan hanya ada dua bahasa, yakni bahasa Jawa dan bahasa Melayu, yang berpeluang menjadi bahasa persatuan.

Namun, Yamin yakin bahasa Melayu akan lebih berkembang sebagai bahasa persatuan. Pernyataan Yamin ini diamini Djamaludin, Sekretaris Panitia Kongres Pemuda Pertama. Walhasil, peserta kongres saat itu sepakat menetapkan bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan. Namun, Mohammad Tabrani Soerjowitjitro menentang. Bukan saya tidak menyetujui pidato Yamin. Jalan pikiran saya ialah tujuan bersama, yaitu satu nusa, satu bangsa, satu bahasa, ujar Tabrani, seperti yang ia tulis dalam buku 45 Tahun Sumpah Pemuda seperti dilansir Laporan Khusus Majalah Tempo edisi 2 November 2008.

Bahasa Indonesia adalah dialek baku dari bahasa melayu yang pokoknya dari bahasa Melayu Riau sebagaimana diungkapkan Ki Hajar Dewantara dalam Kongres Bahasa Indonesia I tahun 1939 di Solo, Jawa Tengah. Seperti diungkapkan juga pada Kongres Bahasa Indonesia II tahun 1954 di Medan, Sumatra Utara, bahwa Bahasa Indonesia ialah bahasa Melayu yang disesuaikan dengan pertumbuhannya dalam masyarakat Indonesia. Dalam beberapa sumber, terdapat beberapa alasan mengapa bahasa Melayu diangkat menjadi bahasa Indonesia.

Pertama,  bahasa Melayu merupakan lingua franca di Asia Tenggara sejak abad ke-7, bahasa perhubungan, dan bahasa perdagangan. Kedua, sistem bahasa Melayu sangat sederhana, mudah di pelajari karena dalam bahasa ini tidak di kenal tingkatan bahasa, seperti dalam bahasa Jawa (ngoko, kromo) atau perbedaan bahasa kasar dan halus, seperti dalam bahasa Sunda (kasar, lemes). Ketiga, suku-suku yang lain dengan sukarela menerima bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. Keempat, bahasa Melayu mempunyai kesanggupan untuk dipakai sebagai bahasa kebudayaan dalam arti yang luas.

Secara historis, perkembangan dan pertumbuhan bahasa Melayu tampak makin jelas dari peninggalan-peninggalan kerajaan Islam, baik yang berupa batu bertulis, seperti tulisan pada batu nisan di Minye Tujoh, Aceh, berangka 1380 M, maupun hasil-hasil susastra (abad ke-16 dan ke-17), seperti Syair Hamzah Fansuri, Hikayat Raja-Raja Pasai, Sejarah Melayu, Tajussalatin, dan Bustanussalatin. Bahasa Melayu yang dipakai di daerah-daerah di wilayah nusantara dalam pertumbuhannya dipengaruhi oleh corak budaya daerah. Bahasa Melayu menyerap kosakata dari berbagai bahasa, terutama dari bahasa Sanskerta, bahasa Persia, bahasa Arab, dan bahasa-bahasa Eropa. Ini sebagai bukti bahwa bahasa ini sangat adaptif. Bahasa melayu sebenarnya berakar dari bahasa Austronesia yang mulai muncul sekitar 6.000-10.000 tahun lalu, dan digunakan sebagai lingua franca (bahasa perhubungan) di Nusantara. Bahasa Melayu pun dalam perkembangannya muncul dalam berbagai variasi dan dialek.

Bangsa dan pemerintah Indonesia harus menyadari bahwa bahasa Melayu merupakan sagang yang menumbuhkan rasa persaudaraan dan persatuan bangsa Indonesia. Sistem komunikasi dan interaksi sosial antarperkumpulan yang bangkit pada masa itu menggunakan bahasa Melayu. Para pemuda Indonesia yang tergabung dalam perkumpulan pergerakan secara sadar mengangkat bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia, yang menjadi bahasa persatuan untuk seluruh bangsa Indonesia dalam peristiwa terpenting Sumpah Pemuda.

Bangsa Indonesia tentu masih banyak yang belum mengetahui peranan bahasa Melayu. Bahkan, negara yang besar ini masih saja memandang Melayu sebagai etnik kecil. Dengan demikian, bahasa Melayu selalu dipandang oleh pemerintah pusat sebagai bahasa etnik tertentu. Padahal, secara empiris dan historis, Melayu merupakan suatu bangsa, bukan etnik. Hal ini berarti bahwa bahasa Melayu bukanlah bahasa etnik tertentu. Anggapan bahwa bahasa (Melayu) adalah etnik tertentu merupakan upaya pengerdilan dan pengelabuan sejarah peradaban nusantara. Memang bangsa Melayu  (Riau) memerlukan upaya gigih untuk mendudukkan kembali bahasanya di singgasana Asia Tenggara sebagai usaha untuk menangkis pengerdilan dari berbagai pihak.

Bangsa dan pemerintah Indonesia seharusnya menyadari bahwa bahasa Melayu adalah bahasa Indonesia. Karena itu, kosa kata bahasa Melayu secara spontan harus dijadikan kosa kata bahasa Indonesia. Dalam ini, perlu adanya upaya pembaharuan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) secara komprehensif dengan memasukkan kosa kata Melayu, terutama kosa kata yang kadar penggunaannya makin sedikit (hilang). Selain itu, bangsa Melayu (Riau) sendiri pun seharusnya membentuk lembaga tersendiri seperti Balai Bahasa Melayu untuk menggali kosa kata bahasa ini agar lebih eksis di masa mendatang.

Marwah Sastra Melayu

Selain aspek bahasa, marwah Melayu juga terletak pada sastra. Pada masa kejayaan Kerajaan Aceh Darussalam, beberapa penulis muncul dengan berbagai karyanya.  Beberapa nama yang tersohor adalah Hamzah Fansuri, Nuruddin ar-Raniri, Bukhari al-Jauhari, Syamsuddin al-Sumaterani, Abdul Rauf Singkel, Tengku Syiah Kuala. Merekalah yang menghasilkan kitab agama, sejarah, undang-undang, dan karya sastra berbahasa Melayu. Lahirlah Syair Melayu, Syair Dagang, Syair Burung Pingai, Bustanus Salatin, Taj al-Salatin, Hikayat Aceh (Abdullah, 2000: 254). Lain pula halnya dengan Kerajaan Johor-Riau-Lingga. Dari sini, lahir Tun Sri Lanang yang terkenal dengan karyanya Sulalatus Salatin (Sejarah Melayu), Raja Ali haji dengan Gurindam Dua Belas,  Tuhfat al-Nafis, Bustan al-Katibin, dan Tsamarat al-Muhimmah.

Tradisi berkarya (sastra) dalam tamadun Melayu terus berkembang hingga abad ke-21. Khususnya Riau, pancang-pancang sastra itu terus menggeliat dengan sastrawan seperti Soeman Hs, Sutardi Calzoum Bachri, Ibrahim Sattah,  Sudarno Mahyudin, Tennas Effendi, Taufik Effendi Aria, Ediruslan Pe Amanriza, Taufik Ikram Jamil,  Rida K. Liamsi, dan sederet nama sastrawan muda yang terus menggeliat berkarya. Puncak tamadun Melayu terletak pada sastra, baik lisan maupun tulisan, tegas Braginsky, sarjana sastra Melayu asal Rusia.

Tentang sastra Melayu yang tertuang dalam berbagai bentuk manuskrip, Ding Co Ming menjelaskan bahwa manuskrip Melayu merupakan sumber maklumat pribumi Melayu, terutama tentang kerajaan Melayu, pendidikan, ilmu pengetahuan, surat-menyurat, dan undang-undang. Karya Melayu tradisional berjumlah 10.000 manuskrip yang tersimpan di 151 perpustakaan dan 57 negara, baik di Asia, Afrika, Eropa, Amerika, dan Australia.

Karya-karya tersebut bergenre puisi, prosa fiksi, dan drama. Kenyataan ini membuktikan bahwa karya sastra Melayu memang telah mengangkat marwah bangsa ini ke jenjang dunia universal. Selanjutnya, Saleh dan Ming menjelaskan, setelah kejatuhan kerajaan Malaka pada 1511, kekuasaan politik Melayu agak goyah. Namun, bangsa Melayu tidak kehilangan kekuatan di bidang kebudayaan dan kesastraan hingga akhir abad ke-19. Pengarang Melayu menjadi saksi sejarah pelbagai konflik, interaksi dan pergolakan sosial, politik, agama, dan ekonomi. Oleh karena itu, manuskrip Melayu, baik bersifat sastra maupun sejarah menjadi mata air yang terbaik, banyak, dan sahih maklumatnya. Inilah pengakuan bahwa marwah Melayu ada pada bahasa dan sastranya.***

Musa Ismail lahir di Karimun, 14 Maret 1971, guru mata pelajaran Bahasa Indonesia di SMAN 3 Bengkalis, pengajar di STAIN Bengkalis. Saat ini, baru menghasilkan  4 buku cerpen, 2 novel, dan 1 buku esai  sastra-budaya.
KOMENTAR
Esai Lainnya
Terbaru
Minggu, 18 November 2018 - 02:50 wib

Wow, A Man Called Ahok Tembus 1 Juta Penonton

Minggu, 18 November 2018 - 02:15 wib

Pembagian Sertifikat Tanah Harus Ada Tindak Lanjut Pemerintah

Sabtu, 17 November 2018 - 19:06 wib

Pekan Depan, Nasib OSO Diputuskan

Sabtu, 17 November 2018 - 14:10 wib

Tempuh 1.574 Kilometer, Terios Akhiri Ekspedisi di Wonders ke Tujuh

Sabtu, 17 November 2018 - 13:28 wib

BKD Prov Riau Road To Siak 24 November Mendatang

Sabtu, 17 November 2018 - 11:01 wib

Telkomsel Raih Dua Penghargaan Tingkat Asia Pasifik

Sabtu, 17 November 2018 - 10:46 wib

E-Samsat Tahap II Dibuka, BNI Perluas Layanan ke 16 Provinsi

Sabtu, 17 November 2018 - 09:50 wib

Harimau Terjebak di Kolong Ruko, Berhasil Diselamatkan

Follow Us