OLEH ZUARMAN AHMAD

Be(r)lagu

24 Oktober 2015 - 22.57 WIB > Dibaca 893 kali | Komentar
 
Pada lagu musik terikat pada bahasa karena isi dan bentuk dan teristimewa oleh hubungan bunyi dari kata-kata. Apa yang menarik komponis pada sebuah sajak sama dengan apa yang dijumpai seorang penyanyi dan seorang pembaca yang musikal dalam sajak itu: yakni musikalitas dari sajak. (Prof. Hendrik Andriessen)

DALAM Kamus Dewan Edisi baru (1991), lagu berarti: 1. irama suara (dlm bacaan, nyanyian, percakapan dll); 2. gubahan muzik biasanya dengan seni kata, nyanyi, nyanyian; langgam atau corak irama (muzik dll); 3. cara, gaya, macam, kaedah. Karena itu/ini oleh orang Melayu kata belagu termasuk dalam pengertian 3 yakni banyak gaya, atau banyak macam.
Marguerite Duras atau lama lengkapnya Marguerite Donnadieu Duras (perempuan keturunan Perancis yang lahir di Gia-Dinh, Indocina, 1914) mengarang satu novel (nouveau roman) dari beberapa novel-nya yang lain berjudul Moderato Cantabile. Dalam kehidupan musik, moderato berarti musik yang dimainkan atau dinyanyikan dengan tempo sedang lambat, sedangkan kata cantabile bermakna dengan berlagu atau berseru; dalam Oxford Concise Dictionary of Music ditulis: Singble, stingingly, with the melody smoothly perf. and well brought out.

Coba baca yang tertulis di atas partiturmu, perintah perempuan itu.

Moderato cantabile, jawab anak itu. Perempuan itu menandai jawaban itu dengan satu pinsil di atas tuts piano. Si anak tetap tidak bergerak, kepalanya menghadap ke arah partitur.

Apa arti moderato cantabile?

Tidak tahu.

Seorang perempuan lain yang duduk tiga meter dari situ, menarik napas panjang.
Kau yakin, tidak tahu arti moderato cantabile? perempuan pertama bertanya kembali.
Anak itu tidak menjawab. Perempuan itu mendesahkan perasaan yang tertekan tidak berdaya sambil sekali lagi mengetukkan pensil ke atas tuts piano. Anak itu tak bergerak seujung rambut pun. Perempuan itu membalikkan tubuh.

Seperti itu/ini halaman pertama yang ditulis oleh Marguerite Duras dalam Moderato Cantabile satu dari nouveau roman-nya yang terbit 1958, dan terjual sebanyak 500.000 eksemplar. Novel dengan judul istilah musik ini saya ketahui dari alm H. Hasan Junus ketika suatu hari di kantor lama majalah budaya Sagang beliau bertanya kepada saya makna dari moderato cantabile yang menurutnya pastilah saya mengetahuinya karena semenjak kecil dalam tubuh saya musik sudah membalutinya. Hasan juga menulis dalam satu Rampai-nya di Riaupos yang berjudul Moderato Cantabile, sehingga lengkaplah kebahagiaan saya yang juga menyukai sastra, terutama puisi, cerita-pendek, dan novel yang bermutu. Karena ada satu dari banyak kekurangan saya yang buruk, yakni ketika menerima banyak buku gratis cerita-pendek, puisi, dan novel yang kadang-kadang masih dalam bentuk dibungkus dengan plastik, dan mungkin sampai saat tulisan ini ditulis masih belum saya buka plastiknya atau dalam bahasa halus belum sempat dibaca.

Lagu dan berlagu berkait-kelindan dengan sajak, walaupun menurut Andriessen, Terikatnya bahasa adalah soal nisbi, sebab apa yang disebut penyusunan musik mengenai unsur yang paling wujud dari sajak. Dalam hal ini Andriessen hanya menyinggung sajak-sajak yang bermutu, dimana perasaan yang paling asli tetap hidup sampai kepada serabut sekecil-kecilnya kata-kata.

Walaupun banyak susunan kata yang bersajak dan berirama yang baik tapi yang tak mengandung musikalitas menurut Andriessen tidak termasuk apa yang ia maksud. Hal ini sejalan dengan pemikiran Penyair Albert Verwey yang menulis bahwa, Yang kita ucapkan tidak lain daripada irama-irama yang memaksa keluar dari diri kita, tapi kita tahu, bahwa sebelum mereka hadir dalam diri kita, mereka dalam bawah sadar bersatu dengan yang telah mati, yang kita sebut birama-birama. Birama-birama sebetulnya adalah hal-hal mati yang mengerikan. Tidak ada yang melihat mereka, kita hanya melihat semata-mata irama-irama. Karena itu Verwey menyimpulkan bahwa, Baik penyair maupun musikus hanya mengenal irama dan untuk mereka birama tidak ada.

Sajak yang baik menurut Andriessen merupakan nyanyian, karena kata-kata berhubungan dan memberikan bentuk. Kata-kata merupakan dorongan bunyi melodi, sehingga lagu yang baik merupakan suatu kesatuan vocal dan instrumental, yakni sajak meliputi suara nyanyian. Pikiran Andriessen ini sejalan dengan Wilhelm Muller. Seorang penyair lagu-lagu Die Schoe Mullerin (Mulerin yang molek) merasa kekurangan bagi dirinya karena ia tidak mempunyai bakat menciptakan musik, karena itu menurut Muller sajak-sajak akan lebih berbicara jika ia melarutkan melodi pada sajak-sajaknya. Oleh itu/ini, karena merasa belum dapat membubuhkan dan meliputi melodi pada sajak, barangkali hanya satu puisi yang dapat saya tulis ketika peristiwa sunami Aceh, yakni Di Kaki Baiturrahman, atau saya memang hangkong membuat sajak (puisi)?

Supaya tidak salah tafsir, memasukkan (melarutkan) melodi pada sajak atau puisi menurut pendapat Wilhelm Muller itu/ini bukanlah alihmusik sajak atau puisi yang disebut di Indonesia dengan musikalisai puisi atau sebagaimana yang dibahas oleh Hendrik Andriessen di atas. Jika pun peristiwa sajak atau puisi yang dalihmusikkkan sebagaimana yang disebut dengan musikalisasi puisi atau musikalisasi sajak, inilah yang disebut dengan lagu. Pada hal (pasal) ini saya sangat merasa heran juga ada satu dua orang kawan yang berani menjadi juri, misalnya ia yang tidak mengerti musik menjadi juri (sebut saja) lomba bersyair (membaca dengan berlagu syair); apakah ia mengerti irama, musik? Sama hangkong-nya dengan dinas-dinas di Riau ini yang meminta kawan saya itu menjadi juri, karena itu janganlah belagu. Usul saya, penuhi dirimu dulu dengan pernyataan yang ditulis oleh Prof. Hendrik Andriessen: Kalau seseorang dipenuhi oleh musikalitas, maka dalam dirinya hidup intuisi bahwa musik tidak memerlukan puisi, sebab ia sendiri adalah puisi. ***

Zuarman Ahmad, pemusik, composer, arranger, pensyarah/ pengajar musik Akademi Kesenian melayu Riau (AKMR), penikmat sastra, penulis cerita-pendek, Wapimred Majalah Budaya Sagang, penerima Anugerah Seniman Pemangku Tradisi Prestasi Seni/Musik 2005, Penerima Anugerah Sagang 2009, dan penikmat ajaran suluk (sufi).
KOMENTAR
Esai Lainnya
Terbaru
Jumat, 21 September 2018 - 14:00 wib

Lanud Lahirkan Tiga Penerbang Tempur

Jumat, 21 September 2018 - 13:55 wib

Jadi Timses, Ketum Pemuda Muhammadiyah Mundur dari PNS

Jumat, 21 September 2018 - 13:30 wib

Harimau Mangsa Ternak Warga

Jumat, 21 September 2018 - 12:53 wib

Kantor UPTD Dukcapil Mandau Penuh Sesak

Jumat, 21 September 2018 - 12:30 wib

Kesbangpol Gelar Penyuluhan Narkoba di Rupat

Jumat, 21 September 2018 - 12:00 wib

ASN Tersangkut Narkoba Terancam Dipecat

Jumat, 21 September 2018 - 11:40 wib

Bupati Hadiri Rakornas APKP

Jumat, 21 September 2018 - 11:32 wib

Aplikasi BPJSTKU Raih Penghargaan ASSA Recognition Award di Vietnam

Follow Us