CERPEN SANDZA

Sepasang Ibu

24 Oktober 2015 - 23.21 WIB > Dibaca 1599 kali | Komentar
 
SEBELUM duduk manis di bangku sekolah, melahap ilmu beserta bumbu-bumbu pelengkapnya berupa berbagai macam aroma PR dan tugas, tak pernah telinga ini menyantap satu kosakata ajaib yang begitu merdu menelisik hingga gendang telinga. Saking merdunya, kosakata ini selalu mengetuk pintu rumah mimpiku untuk mengajakku bermain ke dunia baru. Kosakata itu adalah.... ayah.

Benar. Sudah kucari ke setiap penjuru rumah, namun tak ada seraut wajah pun yang sesuai dengan definisi ayah menurut teman-temanku di sekolah. Yang ada hanyalah raut wajah ibu. Bukan hanya seraut, tetapi dua raut wajah ibu. Sepasang ibu. Mereka kupanggil mama dan ibu.

Dulu, tak pernah ada sepenggal aneh pun yang terbit di lubuk hati tentang semua ini. Baru setelah mengenal kosakata rahim, timbullah pendar-pendar tanya di dalam kepalaku tentang rahim siapa yang pernah memukimkan tubuhku, mama atau ibu? Mereka berdua tak jemu meyakinkanku kalau mereka berdua adalah ibuku. Ah, manalah mungkin aku bisa tumbuh di rahim yang berbeda, atau gantian misal seminggu sekali atau sebulan sekali.

Lihat, mata kita sama persis kan? Mama mengajakku sama-sama mengerjapkan mata sambil melihat ke arah cermin ketika ia menyisir rambutku.

Lihat, lesung pipi kita sama kan? Ibu mengajakku sama-sama tersenyum sambil melihat ke arah cermin ketika ia membedaki wajahku.

Tapi, aku merasa kalau aku tak mirip keduanya. Mataku biru. Sedangkan mama biru karena softlens. Dua lesung bermukim di pipiku. Sedangkan ibu hanya satu. Itu pun baru-baru ini, setelah diolah oleh dokter kecantikan.

***

Kadang, aku merasa bangga memiliki sepasang ibu. Tak pernah kuhiraukan lagi cerita teman-temanku tentang sebuah keluarga utuh yang harus ditempati raut wajah ayah di dalamnya. Buktinya, cerita tersebut hanya isapan jempol belaka karena pada hari-hari berikutnya mereka bercerita tentang ayah mereka yang kerap berlaku kasar kepada mereka dan ibu mereka, tentang ayah mereka yang selalu pulang larut malam dan tak sedikit pun memiliki waktu bermain dengan mereka, atau tentang ayah mereka yang kerap membawa perempuan lain kerumah dan membuat ibu mereka memintal tangis di dalam kamar semalam suntuk. Jelas, hal ini membuat banggaku yang memiliki sepasang ibu semakin meninggi. Mama dan ibu tak pernah lupa sepenggal pun keperluan sekolah dan hidupku. Mereka berdua selalu ada menemani hari-hariku. Aku selalu melantunkan bahak ketika bermain dengan mereka.

Bangga pun menjelma menjadi kagum kala para tetangga menceritakan perihal ketangguhan mama dan ibu. Kata mereka, entah dibuat dari apa hati ibu; mungkin tercipta dari sekerat hati malaikat, walau belum tentu malaikat memiliki hati. Mengapa demikian? Karena kata mereka ibu seharusnya mengusir mama dari rumah sepeninggal ayah karena tanpa mengurai izin, ayah meminang Mama. Bukan hanya meminang, tapi membawa mama dan tinggal serumah dengan ibu.

Setidaknya setelah mendengar cerita para tetangga, hatiku merasa tenang karena raut wajah ayah pernah bermukim di rumah. Aku tak lagi merasa gusar tiap kali teman-temanku bertanya tentang ayah. Akan kuceritakan kepada teman-temanku perihal ayahku yang ternyata pernah ada di rumah. Tapi, kemana kini ayah?  Jawaban ini ternyata kudapati dari para tetangga suatu saat kelak.

Namun itu dulu, ya dulu sekali aku merasa bangga kepada ibu dan mama, ketika usiaku masih berjalan di angka satu digit. Masa usia di mana aku belum bisa membedakan potongan-potongan rasa. Seperti apa bentuk rasa kepada teman, saudara, kekasih, suami, istri atau selain dari itu. Seperti apa rasa yang wajar dan yang janggal. Rasa bangga yang menjelma menjadi kagum itu pun musnah seketika kala aku tahu semuanya, kala mereka tak bisa lagi memainkan pertunjukan sandiwara di depanku.

Kala itu senja sudah dilumat malam. Hening sudah menampakkan wajah di tubuh hari. Sepenggal desah lahir di dinding kamar mereka. Malam itu pikiranku menerawang ke segala penjuru masa lalu. Bagaimana aku tak menyadari kalau semenjak usia sekolah pra-SD aku tidak lagi tidur bertiga dengan mereka, sedangkan mama dan ibu masih tidur di kamar yang sama.

Usiaku sedang memanggul gelar remaja. Mereka secara terang-terangan menceritakan tentang perasaan ganjil itu. Perasaan yang tak bisa mereka sembunyikan lagi. Mereka menganggap aku sudah cukup dewasa untuk mengetahui peran mereka di dunia. Agar tak dihantui segala macam rasa curiga yang sudah mulai kucium. Tiba-tiba sepenggal tanya bergelanyut di kepala; apa aku seperti mereka? Pertanyaan ini kerap menggedor rongga dada karena sampai usiaku menginjak angka ranum remaja, 17, sebuah nama bernama pria belum mampir di sanubari.  Apalagi gelar siswaku bermukim di sekolah khusus perempuan.

Harusnya rasa kagumku kepada mama dan ibu berubah menjadi takjub, setelah mendengar kelanjutan cerita para tetangga. Kali ini mereka bilang kalau hati Mama dan Ibu benar-benar tercipta dari sekerat ruh malaikat. Bayangkan saja, mereka bercerita mana mungkin ada istri pertama dan kedua yang mau merawat anak istri ketiga.

Dadaku bergemuruh kala berita tersebut mendarat di telingaku. Mungkin saja ini hanya akal-akalan mama dan ibu saja menyayangiku seperti anak mereka agar peran mereka tak terendus hidung tetangga. Kalau pun benar apa yang diceritakan para tetangga, aku hanyalah dijadikan anak karena mereka tak bisa melahirkan anak. Tentu saja aku berkata seperti ini karena biaya mengadopsi anak itu harus mengeluarkan biaya yang tak sedikit. Lebih dari itu, manalah ada panti asuhan yang membiarkan anak asuhnya diadopsi oleh sepasang perempuan, bukan sepasang suami-istri.

Mama dan ibu akhirnya menganggukkan kepala. Mengakui kalau aku tak pernah bermukim di rahim mereka. Lidah mereka akhirnya mengurai cerita kalau ibu kandungku meninggal dalam perjalanan ke luar kota bersama ayah.

Benarkah cerita mama dan ibu ini? Aku malah mulai menanam keyakinan dalam hati kalau sebenarnya ayah dan ibu kandungku sengaja nyawanya mereka persembahkan kepada Izrail lebih cepat karena ayah sudah mencium kelakuan ganjil mereka. Atau, mungkin memang benar jika ayah menikah untuk ketiga kalinya karena dari mereka berdua ayah tak mendapatkan kebahagiaan karena mereka terlalu dingin kepada lelaki.

Hal ini terus menghantui kepalaku. Walau sebenarnya aku ingin mengetahui yang sebenarnya, tapi ada keingingan yang jauh lebih besar; aku ingin keluar dari rumah ini, aku harus mencari jalan agar tak terpenjara di rumah ini. Tak ingin mata ini terlalu lama menyaksikan kemesraan ganjil yang selalu terekam mata setiap hari. Aku tak ingin seperti mereka; memiliki perasaan dingin kepada lelaki.

Kepalaku berpikir keras untuk membuktikan diri kalau aku perempuan biasa, tak sejiwa dengan mereka. Hingga akhirnya, aku membunuh karakter pemaluku yang telah melekat di tubuh, kuberanikan untuk mendekati makhluk bernama lelaki.

Apa kau rasakan ada getar di sini? kuletakkan telapak tangan Rio di dadaku.

Maksud kamu apa? Rio menatapku bingung.

***

Bukan begini cara membuktikan diri kalau kau tak serupa dengan Mama! telapak tangan mama mendarat di pipi kiriku.

Ibu tidak pernah ada niatan menciptakan kau seperti kami! pipi kananku merah berbekas sehabis ibu mendaratkan telapak tangannya.

Akhirnya aku terusir dari rumah, setelah Rio menitipkan  janin di rahimku. Tapi, aku merasa hambar ketika pelukan Rio menghiasi malam-malam selanjutnya, malam selepas akhirnya aku terpaksa harus bersanding dengan Rio di pelaminan. Ya, dekapan Rio tak sehangat pelukan mama dan ibu.***

Garut, September 2015


Sandza, berprofesi keseharian sebagai pengajar Aritmatika kelahiran Garut 29 Mei. Cerpen-cerpenya pernah dimuat di koran Pikiran Rakyat, Inilah Koran, Radar Surabaya, Merapi, Minggu Pagi, Solo Pos, Metro Riau, Tribun Jabar dan Republika. Pernah juga beberapa kali memenangi lomba menulis puisi dan cerpen.

KOMENTAR
Terbaru
Senin, 19 November 2018 - 15:30 wib

Bupati Buka Kejuaraan Panahan

Senin, 19 November 2018 - 15:28 wib

Imaculata Autism Boarding School Beri Award pada Kompol Netty

Senin, 19 November 2018 - 15:15 wib

Dua Jembatan Timbang Dikelola Pihak Swasta

Senin, 19 November 2018 - 15:15 wib

Industri Kosmetik Bakal Tumbuh Positif

Senin, 19 November 2018 - 14:30 wib

Diferensiasi dan Inovasi Jadi Kunci

Senin, 19 November 2018 - 14:22 wib

Pemkab Siak Terima CSR dari BRK

Senin, 19 November 2018 - 14:00 wib

Kampanye Kurangi Penggunaan Plastik

Senin, 19 November 2018 - 13:50 wib

Bupati Ajak Putra Terbaik Kampar Bersinergi Bangun Negeri

Follow Us