OLEH GDE AGUNG LONTAR

Muslihat

24 Oktober 2015 - 23.52 WIB > Dibaca 1183 kali | Komentar
 
Di salah satu stasiun televisi, Ramadan yang lalu, sinetron Preman Pensiun 2 ditayangkan setiap harinya. Bahkan sinetron ini tetap tayang sesudah Ramadan berlalu karena masyarakat menyukainya. Di dalam sinetron ini, para preman digambarkan secara berbeda dari preman pada umumnya.

Ada hal yang menarik berkenaan dengan nama tokoh Muslihat, salah seorang bos preman di dalam sinetron tersebut. Bukankah nama seperti itu tergolong janggal untuk digunakan? Hal ini agaknya salah satu gimmick pihak penyelenggara sinetron (yang bahkan mungkin tanpa mereka sadari).

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) (2002) menjelaskan lema muslihat dalam dua makna: 1) daya upaya; 2) siasat atau taktik (untuk menjebak dsb.). Masalahnya, di tengah-tengah masyarakat, pengertian kata muslihat yang paling terkenal adalah serupa dengan ‘tipu daya’. Dengan demikian, terlihat bahwa makna kata muslihat berubah dari berkonotasi positif, “netral”, dan kemudian negatif. Perubahan demikian dalam semantik disebut sebagai pergeseran makna.

Perubahan makna sebuah kata dalam suatu bahasa adalah hal yang lumrah terjadi, terutama bila bahasa itu hidup dan berkembang di dalam masyarakatnya. Bahkan barangkali hampir setiap kata yang kita kenal sekarang ini sebenarnya sudah mengalami perubahan dari makna asalinya, terutama kata-kata yang berasal dari unsur serapan. Sebagai sebuah bahasa yang hidup dan berkembang, hal demikian nyaris merupakan keniscayaan; sebagaimana benda hidup lainnya. Bila tidak demikian, maka ada kemungkinan bahasa itu sedang menuju kepunahan.

Pada awalnya, kata pena bermakna ‘selembar bulu angsa’, tetapi sekarang menjadi ‘alat tulis bertinta’. Sekarang ketika orang menceritakan seseorang yang sedang menulis dengan pena dalam pengertian awalnya, lucunya mereka justru menulisnya dengan istilah ‘pena bulu’ atau ‘bulu angsa’ saja. Demikian pula dengan kata sarjana yang pada awalnya bermakna orang cerdik-pandai atau cendekiawan, tetapi sekarang sekadar ‘seseorang yang sudah berhasil mendapatkan ijazah dari lembaga perguruan tinggi’, tak peduli lagi dia berwatak cendekiawan atau tidak. Bahkan kata “kata” sendiri menurut Alif Danya Munsyi (1996) juga sudah mengalami perubahan, dari yang sekadar nomina, juga menjadi verba.

Berkaitan dengan kata muslihat, kata tersebut sudah mengalami perluasan makna. Menurut Abdul Chaer (2002), perubahan (rasa bahasa) yang terjadi dari bernilai positif/tinggi menjadi negatif/rendah seperti ini digolongkan bersifat peyoratif (sebaliknya: amelioratif). Dalam berbahasa, perubahan demikian diperbolehkan.

Di tengah-tengah masyarakat ada juga kata-kata yang mengalami perubahan/pembalikan makna 180 derajat, meskipun perilaku itu umumnya baru sebatas ragam lisan (KBBI masih mempertahankan makna asalinya). Kata-kata itu juga banyak berkaitan dengan kata tak untuk menyatakan oposisinya, dan umumnya kita mengenalnya sebagai peristiwa salah kaprah (anehnya frasa salah kaprah ini tak ada di KBBI 2002, tapi sudah ada di KBBI daring). Sebagai contoh, masyarakat juga kerap keliru dengan kata usah yang bermakna ‘tak perlu’, dan tak bergeming yang bermakna ‘tak bergerak’. Kekeliruan seperti ini juga ditemukan pada banyak lirik lagu, bahkan yang dikarang musisi berpendidikan sekalipun. Sayangnya, Abdul Chaer tidak mengulas fenomena unik ini. Kalau dalam ilmu logika, persoalan ini mungkin dapat digolongkan sebagai permasalahan inversi –walaupun mungkin terlalu keren– karena mungkin saja hal ini hanya sekadar kecenderungan untuk efisiensi (malas?) dalam berbahasa (dengan mengabaikan tak), nyatanya tak bergeming juga muncul.

Persoalan dengan kata muslihat sendiri barangkali sejajar dengan kata-kata laki, bini, jamban, catut, makelar, songkok, salam, kafir, lonte, dll.; dengan berbagai nuansanya (kata nuansa sendiri sebenarnya mengalami perubahan makna yang unik). Kata-kata tersebut mengalami perubahan yang bersifat peyoratif. Agaknya, stasiun televisi itu dengan penuh muslihat berhasil memanfaatkan suasana bulan Ramadan, cengengesan Kang Komar, dan wafatnya sang maestro Didi Petet untuk membuat sinetron itu kian digandrungi. Syukurlah di dalam sinetron itu semua preman ingin insaf.

Namun, perbuatan penuh muslihat itu sendiri seperti sudah menjadi hal yang lumrah di negeri ini dan bukan hanya dilakukan oleh kalangan preman saja (ingat, kata preman pun sebenarnya sudah mengalami banyak perubahan). Di mana-mana kita dapat menemukan perilaku penuh tipu-daya itu, mulai dari yang muncul dengan teknik yang sangat halus, sampai yang kasar penuh jumawa. Mulai dari polisi yang “bersembunyi” di balik rambu jalan yang tertutup dedaunan kayu, senyum para tersangka/terdakwa korupsi, silat-lidah para politikus, sale up to 70% + 20%, sampai ke “menggoreng” bursa saham. Orang-orang yang pesimis mungkin akan menganggap kita semua sudah tenggelam dalam banjir tipu muslihat.

Menjelang reformasi dulu, ketika istilah KKN (Korupsi, Kolusi, Nepotisme) naik daun, penulis selalu merasakan istilah itu sebenarnya kurang menggambarkan persoalan bangsa kita yang sebenarnya. Penulis selalu merasa ada satu istilah yang cukup untuk menggambarkan semua itu, yaitu manipulasi dalam pengertian yang negatif. Sayangnya, pengertian ini kurang tertampung di dalam KBBI. Dalam Kamus Inggris–Indonesia (1988) manipulation jelas-jelas bermakna negatif; dan to manipulate biasanya bermakna melakukan tipu-daya. Dengan perkembangan kata muslihat ini agaknya lebih tepat dan lebih asali untuk menyandang makna manipulation dalam kehidupan kebangsaan kita.

Dengan segala uraian di atas, tokoh Muslihat di dalam sinetron itu nampaknya tidak merasa risih sedikit pun dengan nama yang disandangnya. Anehnya, dengan penuh muslihat pula, ia selalu enggan untuk menyebutkan nama Pipit yang merupakan nama panggilan Firman Safitra (di Sunda, f menjadi p), salah seorang anggotanya. Agaknya karena kata “pipit” di tengah masyarakat secara konotatif juga bermakna.***

Gde Agung Lontar, sastrawan.

KOMENTAR
Terbaru
Minggu, 23 September 2018 - 19:53 wib

Ratusan Mahasiswa Belajar Persatuan dan Kesatuan di Riau Kompleks

Minggu, 23 September 2018 - 19:52 wib

Pembakar Lahan TNTN Ditangkap

Minggu, 23 September 2018 - 19:48 wib

Kembalinya sang Primadona

Minggu, 23 September 2018 - 19:47 wib

Disdik Tempati Gedung Eks SMK Teknologi

Minggu, 23 September 2018 - 19:46 wib

Ditabrak Emak-Emak

Minggu, 23 September 2018 - 19:44 wib

Refresh di Waduk Hijau

Minggu, 23 September 2018 - 19:40 wib

Anggur Murah Laris Manis Terjual

Minggu, 23 September 2018 - 17:50 wib

Minta Jembatani GP Ansor-UAS

Follow Us