SAJAK

Sajak-sajak Isbedy Stiawan ZS

25 Oktober 2015 - 00.12 WIB > Dibaca 852 kali | Komentar
 
Menunggu Panggilan

catatlah sebagai jemputan
karena pertemuan ditunda
jalanjalan serupa wajahmu:
bening disambit riuhgaduh

di arlojiku waktu pun patah
tak ada matahari singgah
namun debu musim kering
bagaikan kabut, seperti asap

aku hilang pandang
tatap yang sepat

hanya menunggu panggilan lagi
aku pun akan menembus debu,
kabut, dan asap. di bumi ini
hanya aku sunyi?

di tubuh arloji yang selalu geliat
aku catat galau. biarlah patahan
angka itu menyusun kembali

betapa pun sendiri

meski sangat berat
menggotong setiap jemputan
dan menjaga perjumpaan
supaya tak koyak

cuaca saat ini
benarbenar duri!

2 Oktober 2015



Uang Tahun
 : Jauhari Zailani

ini hari, kalender mengingatkanmu
tentang tangis pertama
mula menatap dunia

juga di ini hari bermil-mil lalu
pertama kau basahi kasur,
popok, selimut

matamu ke langit-langit
sebuah tulisan panjang
tentang rahasia mendatang
awal langkahku untuk bermil-mil lagi.

kini, di ini hari
kau tengok ke belakang
misteri di depan:
kau bergegas
tapi jangan dulu sudahi...

5 Oktober 2015



Dua Jam Menuju Halte

seperti kunjungan sebelum ini
engkau akan mematut waktu
yang gelak sebab tarian
yang bergerak pada lingkaran

dua jam lagi menuju halte,
tubuhmu makin terbakar
setiap menunggu,
seakan waktu jadi batu, gumammu

gunaguna dari sesaji
disebar di setiap sudut

engkau menjelma patung

2015



Kota Beraroma Kopi 1

(1)

jalan ini
yang kucatat
dari kota
beraroma kopi

baleho dan iklan
wajahwajah melas
menadah suara

ini kota berlomba
menuju lebur
dan subur

aku berjalan
di kota ini
menghirup kopi
yang kau seduh

/teluk, 2015



Kota Beraroma Kopi 2
: Heri Mulyadi

setelah jauh melangkah
kita rindu singgah
sekadar berbasuh
dan melepas temali waktu

kau akan duduk
di depanku. Sebuah meja
riuh gelas, gelak jamuan
dan sejumlah nama
di lempar bagai dadu

karena jauh melangkah
maka kau ingin singgah
hanya sekejap
menikmati aroma kopi

di kafe ini
tak ada percakapan
ihwal politik; juga kota
yang akan jadi tua
dipenuhi slogan
hilangkan taman

3 Oktober 2015



Persis Epitaph

di bawah matahari
di tepi laut: sepasang
burung menyusun
rencana dan petaka
yang engkau tak tahu

bagai rahasia badai
di tangan pelaut
engkau tak akan abai
kapan datang maut

di tepi pantai
saat matahari landai
wajah kita pasi
mengingat pelayar
menanti maut
di laut lepas
atau di taman pasir

nama kita
ditulis di dinding
ah, persis epitaph

melarungkan ruh
dalam perahu
sampai juga
di dermaga

3-4 Oktober 2015


Isbedy Stiawan ZS, lahir dan besar di Tanjungkarang, Lampung. Karya-karya sastranya terhimpun dalam sejumlah buku tunggal dan bersama. Buku terbaru kumpulan cerpen Perempuan di Rumah Panggung, dan buku puisi Menuju Kota Lama yang memenangkan sayembara buku puisi Hari Puisi Indonesia 2014.

KOMENTAR
Terbaru
Senin, 24 September 2018 - 18:52 wib

Belum Mau Nikah

Senin, 24 September 2018 - 18:40 wib

Telur Jadi Tidak Sehat Bila Dikonsumsi Bersamaan dengan Lemak Jenuh

Senin, 24 September 2018 - 17:48 wib

Ika Surtika Senam Bugar di UIR

Senin, 24 September 2018 - 17:43 wib

Calon Anggota DPRD Inhu Bertambah Jadi 531 orang

Senin, 24 September 2018 - 17:41 wib

Komunitas BIJAK Dilatih Tim Desa Binaan LPPM Unri

Senin, 24 September 2018 - 17:04 wib

Komitmen Kampanye Damai

Senin, 24 September 2018 - 17:00 wib

Sungai Salak Juara MTQ Kecamatan Tempuling

Senin, 24 September 2018 - 16:43 wib

1 Dekade Eka Hospital Melayani Sepenuh Hati

Follow Us