SAJAK

Sajak-sajak DM Ningsih

25 Oktober 2015 - 00.20 WIB > Dibaca 976 kali | Komentar
 
apa yang bisa diceritakan malam

Apa yang bisa diceritakan malam
Saat bulan enggan datang
Kelam menyergap
Kita tak jua beranjak
Masih tergagap dalam hening

“bukan aku ingin bertahan dalam sunyi hanya saat ini,
keramaian tak ingin kujumpai”

Apa yang bisa diceritakan malam
Jika bulan enggan datang
Dan kita tetap bermain dalam kelam



memburu pada aku

hati patah, hujan mengalir ke awan dan irama jiwa mengering di gelombang waktu. burung-burung mengajak untuk menerjemah nyanyian bunga, namun angin menusuk taman pikirku dengan tarian rumput-rumput yang mengering menadah matahari. aku ingin membakar api dalam rimba ini dan membiarkan tubuhku hangus, karena malam mengajar aku memahami gelap. belum juga penglihatanku sampai pada dinding suara jiwa, padahal roda alam terus berputar mengirim musim. Dan, pun masih tetap lapar berharap langit menyelimuti kubahnya dengan warna biru. kucoba membaca daun-daun, bertunas, memancarkan kehijauan, menari lalu menguning dan mengering jatuh ke bumi. begitulah kehidupan, setelah segalanya menyala, lalu padam seketika.

bagai lilin, aku berharap siang tak menjelma, namun aku tak mampu menahan kepunahan yang memburu pada aku.  


hutan kami

kami pun pandang
ladang yang gersang
orang-orang berdendang
tentang cerita usang
“dulu kami rangkai diri dari kicauan burung
dan pada daun-daun hijau kami tulis ingin,
lalu angin bawa ke awan, awan pinang bulan
dan cahaya bersarang di dada”

kami pun pandang
ladang yang gersang
orang-orang meradang
tak bisa berdendang
“api menyerang, kicauan burung hanya rindu,
daun-daun tumpukan debu, awan kelabu,
cahaya bulan tak tembus jerebu.
kami terpanggang”

memandang ladang
yang gersang
kami jadi garang!



kami kibarkan juga kesabaran  


kemiskinan bukan penghalang untuk kami tetap menerjang keangkuhan zaman. erangan anak-anak kami yang kelaparan adalah rentak musik yang membawa kami bernyanyi di antara badai dan gelombang kehidupan. lewat angin, kami kabarkan genderang jiwa telah ditabuhkan dan serdadu pilu menuju medan kemenangan. atas nama kemelaratan, ini diri tak takut berhadapan dengan kematian.

demi kesabaran, kami telah penjarakan kesejahteraan dalam mimpi yang tak pernah singgah di tidur kami. tapi kalian terbang dengan sayap kami, melayang dan singgah di menara-menara bahagia, lalu menerkam tubuh kami. kelemahan kami menjadi energi membentengi setiap keinginan kalian. kalian menjadi pahlawan dengan menjinjing usus dan kepala kami jadi tawaran.

Kami kibarkan kesabaran demi persatuan namun kalian hujamkan birahi diselangkang diri terluka ditikam belati, kami terbelit pipa-pipa keangkuhan sedang minyak mengalir ke kocek safari, di kursi penonton kami duduk termangu. Atas nama cinta kami kibarkan juga kesabaran itu!!!! Pun  sisa-sisa harapan menjadi benteng kami dari hujan keserakahan.
pilu itu aku

sesenyap malam, kau menusuk resah ke jantungku, padahal di sesejuk embun aku telah memahat namamu dari cahaya purnama. masih terasa derai tawa yang disulam di sudut sunyi. dengan memikul gelap, kita mendaki hari-hari yang terjal sambil membusungkan keinginan. selaut kecut kita alirkan jadi gelombang keberanian karena kita yakin masa datang adalah istana mimpi yang terwujud. kita pun membujuk sisa-sisa subuh untuk menyuluh pembuluh waktu yang kita lewati. kini di tangan kita pelita telah menyala, namun kita tak mampu menjinak api yang membakar tubuh kita.
 
aku memahami pedih ini, seperti aku memahami denyut nadiku sendiri, namun aku tak mampu lagi berdiri untuk menatap matahari yang kau petik dari jiwamu. biarlah aku berumah di dalam gelap dan memainkan nada pilu, asalkan kau dapat menari di taman yang penuh irama dan cahaya. untukmu, seluas laut aku telah menyediakan kebahagiaan. jangan berpaling menatapku ke belakang, karena kuyakin ketakberdayaan adalah jurang yang maha dalam yang menyebabkan kau tak berguna. Ku hanyut dilaut asa dilanda gelombang resah ku terkapar dipantai kehampaan.

dalam pilu yang memburu daku, aku telah melupakanmu karena ku tak mau kau tersedu walaupun dalam rasaku. Biarlah angin terbangkan segala karena ku telah memilih sunyi.                  



memahami diri

di atas meja, kami pertaruhkan jiwa untuk memahami segala duka
gelap merayap menatap ratap yang diucap dari segala kitab
angin berembus bawa kabar berhektar-hektar hati terbakar
sebab darah
sebab marah
telah terkurung dalam serakah

kami memahami takdir seperti mengenal diri. tak ada resah, sebab ketulusan dan keikhlasan adalah perahu yang terus berlayar mengarungi ombak yang beranak pinak hari-hari. dengan tulang lapan kerat, kami merengkuh lautan, mendekap hutan dan mendendangkan keinginan. darah yang mengalir ke lorong-lorong tubuh, mengajak kami terus berlari tanpa henti. segala pilu tak berlaku karena kamilah pilu itu.

pada anak-anak kami yang baru pandai merangkai angin, kami titipkan badai agar mengerti arti kehidupan. Agar mengerti melangkah diantara tikaman waktu. Agar tidak terjebak dalam pusaran kenistaan, agar mampu mengukir embun hingga cahaya itu pun merebak ke setiap jiwa-jiwa yang sunyi.



rumah kertas

di rumah kertas
kita mentertawakan diri sendiri
menangisi kebencian yang terus tumbuh tanpa henti
bersedih untuk luka yang terus sama dari waktu ke waktu
saling tikam menikam
dan  hanyut dalam suara jangkrik malam

di rumah kertas
kita bermain api  terbakar dari hari ke hari
sedang rumah kertas terus menatap matahari
kita?
tersenyum menatap sepi


DM Ningsih, adalah nama pena dari Dewi Mulkhaida Ningsih. Penulis Cerpen, puisi, esai dan novel. Kini bekerja sebagai guru dan Kepala Sekolah SDS Tunas Bangsa. Bermastautin di Pekanbaru.

KOMENTAR
Terbaru
Jumat, 21 September 2018 - 23:41 wib

Event Tour de Siak Tahun 2018 Resmi Ditutup Bupati Siak

Jumat, 21 September 2018 - 19:00 wib

Dua Kali Runner up, SMA Darma Yudha Targetkan Champion

Jumat, 21 September 2018 - 18:30 wib

Tak Mudah Raih Maturitas SPIP

Jumat, 21 September 2018 - 18:00 wib

Pengelola Diminta Optimalkan Aset untuk Kesejahteraan Desa

Jumat, 21 September 2018 - 17:30 wib

Apresiasi Komitmen Partai

Jumat, 21 September 2018 - 17:00 wib

Warga Dambakan Aliran Listrik

Jumat, 21 September 2018 - 16:30 wib

Real Wahid dan UIR Juara Kejurda Futsal 2018

Jumat, 21 September 2018 - 16:14 wib

Etape Terakhir Diraih Tim Sapura Cycling Malaysia

Follow Us