Kita, Lawanlah

25 Oktober 2015 - 11.00 WIB > Dibaca 2460 kali | Komentar
 
Kita, Lawanlah
M Hapiz, Wakil Pemimpin Redaksi
RIAUPOS.CO - AYLAN Kurdi, tiga tahun, ditemukan tak bernyawa di tepi pantai Ali Hoca Point pesisir Semenanjung Bodrun Turki, Rabu (9/9). Memakai kaos merah, celana jeans pendek lengkap dengan sepatu hitamnya, ia seperti nyenyak tidur dengan posisi telungkup. Rambut, telinga, pipinya yang tembam, tubuh dan kaki sedikit meliuk, menyentuh pasir putih pantai, disapu ombak dengan buih-buih putihnya. Fotonya lalu di unggah di media sosial dan seketika menjadi top trending picture, menuai simpati dunia. Tak jauh dari jenazah Aylan, saudara Galip (5) juga ditemukan terdampar tak bernyawa.  

Kisah bocah malang itu menyayat-nyayat hati siapa yang membacanya. Mengarungi lautan bersama kedua orang tua, pengungsi asal Suriah itu hendak menuju Yunani. Kapal kecil yang mereka tumpangi terbalik dihantam gelombang laut. Hilanglah semangat hidup Ayahnya, Abdullah yang beruntung bisa selamat. Begitu juga ibunya. Kekuatan untuk bertahan hidup yang didapat dari kedua anak mereka, hilang seketika. Itulah diantara getir nasib manusia Timur Tengah yang memilih meninggalkan kampung halaman mereka untuk mengungsi. Kecamuk perang di Suriah memaksa sekitar 6,5 juta manusia untuk lebih memilih mengungsi. PBB mencatat, setidaknya 230.000 diantara pengungsi itu mati dalam berbagai kondisi. Terutama, saat nekat mengundi nyawa mengarungi lautan menggunakan kapal tak layak menuju negara Eropa lainnya yang aman dari perang.

Kisah mirip Aylan Kurdi juga ada di dekat kita. Anak kita, anak saudara, anak tetangga, se daerah atau anak sesama bangsa ini. Kemiripannya ada pada derita bayi, anak-anak di negeri-negeri yang tertutupi selimut kabut asap berpenyakit ini. Sudah tiga bulan lamanya dan bermusim selama 18 tahun ini. Ayah Aylan Kurdi lebih memilih mengungsi karena itu pilihan hidup terbaik. Tapi, kita disini, entah kemana mau mengungsi. Entah apa alasan kuat untuk mengungsi. Tidak ada mortir atau ancaman bom atom. Tidak ada desingan peluru. Rumah masih berdiri utuh. Rumahlah benteng terakhir. Di dalam rumah, kita berselimut kabut yang berbahaya itu. Dihirup oleh bayi, Balita, anak-anak dan kita. Di setiap sudut rumah dan tidur bernapaskan udara mengandung karbondioksida.

Bayi, Balita, anak-anak hingga dewasa sudah satu persatu bertumbangan. Sakit sampai meregang nyawa. Dini Aira Safana (3) salah satu Balita yang sakit itu. Seumuran dengan Aylan, tapi belum setragis Aylan sebab masih ditangani medis. Bocah asal Selatpanjang ini matanya lebam dengan bagian putih mata tidak terlihat lagi karena sudah berwana merah dan lingkaran mata menghitam akibat darah yang membeku. Napasnya sesak didera Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Apalagi kalau bukan kabut asap mengandung CO2, Ozon, dan partikel hasil pembakaran lain itu penyebabnya. Rengekan menahan sakit yang selalu terdengar. Tak kalah menyanyat hati. Bocah yang sakit akibat asap bedebah itu mudah dijumpai dimanapun negeri ini. Di rumah ataupun di kamar perawatan. Puluhan ribu sudah.

Tragis dan menyayat hati juga kisah anak negeri ini bernama Ramadhan Luthfie Ariel. Terpaut delapan tahun lebih tua dari Aylan. Ia meregang nyawa dalam waktu 2x24 jam sejak panas tinggi menderanya, sore, empat hari lalu. Paru-parunya dipenuhi awan putih. Awan putih, istilah dokter saat menjelaskan kepada orang tuanya memperlihatkan hasil rotgen paru-paru Luthfie. Sama putihnya dengan selumut kabut asap yang mengambang-ngambang di negeri ini. Bocah berbadan sehat itu, dua hari sebelumnya masih ceria, berlarian di depan pekarangan rumah. Tak menyangka, tiba-tiba ia tumbang dan tak tertolong lagi nyawanya. Luthfi, korban yang meninggal saat kabut asap menggila ini bukan satu-satunya. Masih ada beberapa bocah lagi yang menjadi korban asap tak berkesudahan ini. Sayang amat disayang, bantah-bantahanpun masih diutarakan pemerintah.
 
Bocah-bocah itu katanya bukan meninggal akibat asap. Ya, asap bukan mortir, peluru atau bom. Tidak membunuh seketika sekian banyak orang. Tapi, jujurlah, asap itu adalah sebab musabab Luthfi dan korban lainnya yang berbadan sehat itu tiba-tiba sakit lalu tidak tertolong lagi. Seperti mengutarakan bahaya rokok melalui gambar dan pesan advetorial yang berbiaya mahal itu, ungkapkan juga tentang kabut asap. Umumkan dan beri pemahaman yang luas. Bantah atau benarkan kalau polutan yang terkandung di dalam asap sama halnya menghirup 100 batang rokok. Jangan biarkan masyarakat keluar rumah, beraktivitas tanpa menyaring terlebih dahulu udara yang dihirup. Apalagi bayi, balita, anak-anak. Rentan sekali.

Lalu berpasrahkah kita atau mengungsi meninggalkan rumah menuju negara lain seperti keluarga Aylan? Tentu tidak. Negeri ini belum berperang sebenarnya. Negeri ini masih berperang melawan mafia-mafia lahan. Menangkanlah perang itu. Perang kita tidak sesulit dan serumit di timur tengah. Tidak ada bom atom, mortir, peluru yang beterbangan. Perang kita hanya melawan ketidaktegasan aparat penegak hukum menindak pelaku pembakar lahan. Perang kita bukan sekedar memadamkan api yang sangat sulit menjalar di bawah gambut. Tapi lebih dari itu, perang ini harus tuntas ke akar-akarnya, memenjakaran palakunya sampai ke level atas. Mengungsi hanya untuk negeri yang berperang dengan senjata seperti negeri Aylan. Kita, lawanlah. Kalau negara tak mampu, rakyatlah yang akan memeranginya yang bisa-bisa  mendirikan negara baru menggantikan yang tak mampu itu. Lawanlah, sekarang!***
KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 20 November 2018 - 11:27 wib

Haul Marhum Pekan Ingatkan Sejarah Pekanbaru

Selasa, 20 November 2018 - 11:26 wib

AirAsia Pindahkan Penerbangan ke Terminal 2

Senin, 19 November 2018 - 19:09 wib

Duit Korupsi ’’Amankan” Kasus Istri

Senin, 19 November 2018 - 18:47 wib

Teken Petisi, Selamatkan Nuril

Senin, 19 November 2018 - 17:00 wib

Kejari Kuansing Terima Penghargaan Terbaik Se-Riau

Senin, 19 November 2018 - 16:30 wib

Laga Kambing, Satu Tewas Satu Kritis

Senin, 19 November 2018 - 16:00 wib

Pemkab Ingatkan Perusahaan

Senin, 19 November 2018 - 15:30 wib

Bupati Buka Kejuaraan Panahan

Follow Us