OLEH MARLINA

Negeri Asap

1 November 2015 - 00.27 WIB > Dibaca 1192 kali | Komentar
 
Tubuhku membesar, melar bagai karet. Kalau aku sedang murka, akan lebih ganas dibandingkan dengan bercinta. Bagai ribuan tentakel, api-api mungilku
menggeliat, menjangkau setiap hal yang mampu disentuh. Kubakar habis apapun yang ada di hadapanku: kebun sawit, rumah penduduk. Semuanya kubabat sampai tak tersisa suatu apa pun yang dimiliki oleh makhluk-makhluk tamak tersebut. Dengan tangan jinggaku, menjadi abulah mereka. Panas tubuhku memberotak. Menghajar segalanya
(“Keluh Kesah”, cerpen karya Novri Kumbara, dalam Negeri Asap: Kumpulan Cerpen Riau Pos 2014).

Penggalan cerpen “Keluh Kesah” karya Novri Kumbara tersebut menggambarkan amukan api yang meluluhlantakkan apapun yang berada di dekatnya. Api yang tidak terkendali memang dapat menjadi musuh manusia, termasuk  mengakibatkan kebakaran kebun dan hutan/lahan.

Beberapa bulan terakhir, kebakaran kebun dan hutan/lahan sedang terjadi di wilayah Sumatera, Kalimantan, dan sebagian wilayah timur Indonesia. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika mengungkapkan bahwa ratusan, bahkan kadang ribuan titik api  tersebar di berbagai kabupaten di provinsi-provinsi tersebut. Hal ini menyebabkan lebih tiga bulan wilayah di Pulau Sumatera dan Kalimantan diselimuti asap tebal.

Di Riau, kabut asap telah dirasakan masyarakat sejak tahun 1997. Sejak saat itu, asap telah menjadi bencana tahunan yang melanda Bumi Lancang Kuning ini (www.riauonline.co.id/2015/07/12). Kondisi masyarakat Riau yang memprihatinkan inilah yang diangkat dengan sangat apik oleh Novri Kumbara ke dalam cerpennya. Cara pengungkapannya yang sangat nyastra, membuat cerpen ini menjadi menarik untuk dibaca.
Ketika kabut asap sedang melanda, matahari menjadi hal yang amat dirindukan oleh makhluk yang ada di bumi ini. kepada daun: maafkan aku untuk sebulan terakhir, aku tak bisa menemuimu, mengurungmu dalam jeruji kerinduan, memberimu harapan pada penantian yang tak tahu akan berhenti kapan. –Matahari (hlm. 95). Ungkapan matahari kepada daun mewakili kerinduan masyarakat Riau akan sinar matahari pagi. Berbulan-bulan tidak menyaksikan sinar matahari.

Satu sindiran pengarang yang cukup menarik adalah ungkapan matahari yang mengatakan bahwa ia amat tidak suka dengan Riau. Menurutnya, atmosfer di Riau sangat tipis, terlalu banyak polusi yang merusak lapisan ozon, membuat penghuninya gerah dan hampir mati. Manusia yang ada di Riau selalu mengeluh betapa panasnya tempat tinggal mereka. Akan tetapi, di sisi lain, mereka tidak mau menanggulanginya dengan menanam pohon. Mereka malah mendinginkannya dengan pendingin ruangan yang makin memperparah lapisan ozon.

Kepada kabut: sampaikan salamku untuknya, napasku sesak dan aku sebentar lagi akan mati, ketika keadaan kembali seperti semula, ku tak mau ia linglung saat menyadari aku sudah tak lagi ada –Daun (hlm. 96—97). Lewat daun, Novri mencoba mengungkapkan apa yang sebenarnya yang dialami dan dirasakan oleh masyarakat Riau.  Daun pun mengatakan, “Sebenarnya aku sadar kalau kehadiranmu akan membuat diriku gugur, terjatuh, terhempas hingga menyatu dengan tanah. Dimulai dari keluargaku yang sulit bernapas dan sinar matahari tak bisa lagi untuk menyampaikan kasih sayangnya dengan sempurna. Kau tahu, matahari tak bisa menangis lagi. Itu sebabnya aku menguning dan rapuh.” Ungkapan daun pada kabut begitu  mengiris hati. Seperti itu jugalah yang sedang dirasakan oleh masyarakat Riau.

Beberapa waktu, udara yang dihirup masyarakat Riau sempat dalam kondisi sangat berbahaya. Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) dan asma pun menjadi penyakit terbanyak yang diderita oleh masyarakat Riau. Di Kota Pekanbaru,  mencapai 11.803 kasus (Riau Pos, 23 Oktober 2015). Tepatlah ketika kabut berkata kepada angin: Ibu, kau telah menciptakan monster pembunuh. Ibu, kenapa kau melahirkanku? Ibu, aku tak mau hadir di dunia ini –Kabut (hlm. 98). Asap memang akan membunuh manusia secara perlahan-lahan.

 Angin pun berkata kepada api: berhentilah bercinta! Kau membuat kabut terluka –Angin (hlm. 99). Ternyata kabut pun sedih dengan keberadaannya yang telah menyengsarakan daun dan pohon-pohon. Apilah yang telah membakar dan menghanguskan semuanya. Menghanguskan ribuan hektar hutan, termasuk juga hutan bakau yang akan menjadi penyeimbang ekosistim. Semua musnah, meninggalkan asap pekat yang tak berkesudahan.

Api tentu tak mau dipersalahkan. Kepada ummat manusia: janganlah pernah menjadi serakah, hidupmu di dunia hanya sementara, tak ada gunanya kau menjarah harta, dalam akhirat hanya amal yang akan kau bawa, ibadah yang mampu menyelamatkan nyawa –Api (hlm. 100). Pesan api ini tentu untuk semua manusia yang ada di bumi ini. Betapa manusia telah diciptakan dengan amat sempurna, diutus ke muka bumi untuk menjadi khalifah (pemimpin makhluk). Akan tetapi, kenapa manusia justru merusak bumi dan dengan kesadarannya telah menyakiti makhluk lainnya?

Karya sastra sebagai cerminan (budaya) masyarakat di tempat karya itu muncul, terlihat jelas dalam cerpen “Keluh Kesah” ini. Cerpen ini telah mewakili kondisi masyarakat Riau yang porak poranda karena asap. Asap yang telah berbulan-bulan menetap di Bumi Lancang Kuning ini tidak saja telah menghancurkan kesehatan masyarakatnya, tetapi juga menghancurkan pendidikan dan perekonomian masyarakat Riau.

Rasakan, manusia! Rasakan kerakusanmu, ketamakan, dan kebodohanmu mengejar dunia! Inilah keserakahanmu pada alam! Yang di Atas murka! Aku murka! (hlm. 102). Hanya karena keserakahan segelintir orang, ribuan manusia lainnya harus merasakan dampaknya. Tentu hal tersebut sangat tidak adil. Akan tetapi, masihkah ada keadilan di muka bumi ini selama penguasanya tidak berpihak pada rakyat? Negeri Asap, inilah kisah dan deritamu.***

Marlina,
Pengkaji sastra di Balai Bahasa Provinsi Riau.

KOMENTAR
Terbaru
Sabtu, 22 September 2018 - 15:49 wib

Menteri Keuangan Imbau Perusahaan Gunakan Rupiah

Sabtu, 22 September 2018 - 14:47 wib

Stroberi Berjarum Repotkan Australia

Sabtu, 22 September 2018 - 12:46 wib

Waspadai Akun Robot Jelang Pemilu

Sabtu, 22 September 2018 - 12:43 wib

Riau Pos Terima Dua Penghargaan dari Bawaslu

Sabtu, 22 September 2018 - 09:53 wib

Festival Zhong Qiu Berpusat di Jalan Karet

Jumat, 21 September 2018 - 23:41 wib

Event Tour de Siak Tahun 2018 Resmi Ditutup Bupati Siak

Jumat, 21 September 2018 - 19:00 wib

Dua Kali Runner up, SMA Darma Yudha Targetkan Champion

Jumat, 21 September 2018 - 18:30 wib

Tak Mudah Raih Maturitas SPIP

Follow Us