SAJAK

Sajak-sajak Sofyan RH Zaid

1 November 2015 - 15.47 WIB > Dibaca 1793 kali | Komentar
 
Surat Kepada Jibril

jibril bisiki aku takdir # meski lewat angin semilir
ini darah ini dada # itu gelap itu cahaya
aku seperti berada # antara surga dan neraka

o, jiwa yang sedih # melayang melepas pedih
: di mana tubuhku # yang disembunyikan waktu
lorong rahasia membentang # garis nasib memanjang

aku kini terdampar # sendiri dan terkapar
di lembah hampa # diamuk dendam cinta
hitam segala angan # udara harum kerinduan

2015



Surup

di tepian sepi itu # aku lihat diriku
termangu mengigit bibir # takdir alangkah getir
di mataku jam pasir # terus saja bergulir

: engkau di mana, Alfreda # datanglah sebagai cahaya
pada gelap yang bertingkat # di mana aku sekarat
kesunyian ini kian nyeri # berulang kali menjelma belati

sementara aku temukan # pada dirimu kebebasan
: siapa yang memberiku rindu? # tolong kau
jawab aku
atau berikan aku tali # o, berikan aku tali

2015


Suluk Puncak

dari puncak gunung rinduku # aku melihatmu
laut biru
ombak berdebar debur # perahu nelayan hancur
di atasmu langit terhampar # serupa selembar tikar
kelak kita duduk # berbagi bulu kuduk

kau tahu ini jarak # kerap rontak teriak
dan perpisahan kita # pertemuan dalam doa
tabah merawat luka # sampai jadi bunga
setia pada rasa # hingga tersingkap rahasia

dari puncak gunung rinduku # aku melihatmu
laut biru
Khidir dan Musa berjumpa # melarung jubah semesta
aku cipta kapal Nuh # dari cintaku yang utuh
melayarimu menuju matahari # abadi terbakar api

2015



Nyanyian Gunung Apam

di bukit tepian Martapura # sepulang kami
dari Cempaka
menambang intan hidup # menyambung napas degup
kami melepas sesal # yang memaksa kekal
bertukar bekal ingat # sampai kering keringat

lalu Van Der dan Murdani # datang menyanyikan
lirik sunyi
menyulap bukit menjadi kota # tempat tinggal kata-kata
Banjarbaru surga kecil # membentang dalam gigil
kami lahir dan mati # tersenyum penuh arti

kalau pun kami menangis # hanya rintik dari gerimis
mencium aroma tanah # mendengar bisik lembah
menjilati getah batu # mengelus pohon rindu
: o, kota kata-kata # bernyanyilah dalam dada

2015



Kembara

aku bukan Ibrahim # kembara tak sampai musim
tapi di matamu Tuhan # sudah aku temukan
hanya kini aku terlempar # seperti adam terdampar

pada angin bersandar # menunggumu sepenuh kabar
tanggal seluruh pakai # aku cium badai
seketika langit berlubang # sujudku tepi jurang

lalu berlari menyeret sepi # ke arah terbit matahari
menghirup basah udara # gagak berkicau duka
: aku terus mencarimu # kapan kita akan bertemu?

2014



Bukit Cahaya

mendaki bukit cahaya # tiba di puncak rasa
aku semadi sepi # memanggilmu dengan hati
kepak kelelawar mencipta nada # suara pulang
pada gema

aku ziarah dalam rahasia # dari tubuh ke jiwa
kemudian kita berjumpa # bersulang penuh cinta
biarlah abad benda # berlalu di luar dada

mendaki bukit cahaya # tiba di puncak rasa
aku kehilangan kata # diri berubah Musa
bukit dan tubuh hancur # kita satu melebur

2014



Akulah Laut Sepi

akulah laut sepi # tempatmu membuang hati
batu atau rindu # waktu dan cemburu
akan kusampaikan pada ikan # akan kukabarkan
pada sampan

akulah laut sepi # tempatmu melarung puisi
sampah atau limbah # air mata dan amarah
akan kutuliskan pada pasir # akan kubacakan pada alir

akulah laut sepi # tempatmu bunuh diri

2015



Anggur Abadi

tuang dirimu ke gelas # aku teguk hingga tandas
: kau yang memabukkan # aku lupa kematian

2015




Penyatuan

berlarilah sejauh mungkin # aku menjelma angin
kau dan aku # terikat jadi satu
melebur tak berbeda # berhambur pada cahaya

lalu bercinta tanpa tubuh # puncak tertinggi sepasang ruh
berciuman tanpa bibir # tak pernah berakhir
berpelukan tanpa tangan # saling berbagi kepedihan

bukan dari pandang pertama # atau keakraban yang lama
cinta itu kecocokan jiwa # tak terukur oleh masa
saat keduanya berjumpa # musnah segala bahasa

2015


Sofyan RH. Zaid, lahir di Sumenep, 08 Januari 1986. Karyanya terbit di sejumlah media, seperti  Media Indonesia, Bali Post, Indopos, Padang Ekspres, Pikiran Rakyat, Seputar Indonesia, Horison, Annida.. Juga sejumlah buku bersama, semisal Biarkan Aku Meminangmu dengan Puisi (EKBT, 2007), Annuqayah dalam Puisi (BPA, 2007), Empat Amanat Hujan (DKJ, 2010), Suara 5 Negara (Tuas Media, 2012), Tifa Nusantara I & II (TKSN, 2013/2015), Bersepeda ke Bulan (Indopos, 2014), Lentera Sastra II (Antologi Puisi 5 Negara, 2014). Alumni Pondok Pesantren Annuqayah Lubangsa, kini mahasiswa akhir Falsafah Agama Universitas Paramadina Jakarta. Bersastra di Paramadina Poetry Club dan Forum Sastra Bekasi. Selain menjadi kurator di Majelis Sastra Pesantren Indonesia, juga menjadi Editor di Tazkia. Buku puisi tunggal pertamanya Pagar Kenabian (2015) masuk 15 nominasi Anugerah Hari Puisi 2015.

KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 20 November 2018 - 14:00 wib

TP PKK Berikan Penanganan Stunting di 10 Desa

Selasa, 20 November 2018 - 13:30 wib

Bupati Launching Aplikasi Sipedih

Selasa, 20 November 2018 - 13:00 wib

Tunggu Kepastian Pelantikan Plt Gubri

Selasa, 20 November 2018 - 12:30 wib

Rp772,5 Juta Beasiswa Belum Disalurkan

Selasa, 20 November 2018 - 12:00 wib

4 Kabupaten Masih Terendam Banjir

Selasa, 20 November 2018 - 11:48 wib

Pedagang Pasar Rumbai Minta Pembayaran Kios per Hari

Selasa, 20 November 2018 - 11:27 wib

Haul Marhum Pekan Ingatkan Sejarah Pekanbaru

Selasa, 20 November 2018 - 11:26 wib

AirAsia Pindahkan Penerbangan ke Terminal 2

Follow Us