SAJAK

Sajak-sajak Muhammad Asqalani

1 November 2015 - 16.10 WIB > Dibaca 1101 kali | Komentar
 
Parningotan
: Melulu Afrida

Kala sendu sendirian, kuseduh masalalu nan hangat di ingatan.
Kala masa kecil adalah masa yang musykil kita panggil kecuali
kebahagiaan yang akil dan gigil yang dekil

Daganaki,
muda hari Salasa, mulak maridi Sosa,
Dohot mata rara harani merengge,
Gutgut ni ina do natarbege.
Soadong gogomu pasonang rohania.

Maka,
Ke hutan-hutan para langkah kami gesa,
berburu dengan siasat senja yang kian tiba.

Di hutan itu, bersama nyamuk sebesar begu,
kami kutip juga Siminyak, sayur yang demikan rancak
ditimpa kemarau.

Ini akan membuat mata ibu hijau. Atau robung,
yang tidak melulu untuk bedil dan meriam,
ini akan membuat lubang pipi ibu bersemayam.

Atau nasi-nasi yang kadang menjulur daunnya sesempit nasib kami,
yang membuat hati ibu tak jadi lesi.

Demikianlah, kami pungut sesuatu untuk menjemput Rabu,
dimana ibu jadi Inang Parengge-rengge, berebut pembeli
dengan diam dan sungut.

Suatu ketika, kami ke sungai Garingging menangguk ikan
sebesar kelingking, mengkahap ikan Rappang-rappang
atau apa pun yang menyukai lindungan kayu terbenam
atau berendam.

Jika tak awas, Inggit-inggit akan menanding tangan atau lengan kami.
Kadang kami menangis, sembari buru-buru membuka celana
dan mengencingi luka.

Di lain waktu kami ke Sungai Tarikan, mencari lakkitang
yang menyesap ke tubuh kayu, atau telungkup di napal-napal.
Dari dalam air tangan kami melulu terkepal, bersama batu
kami pilih berbagai lakkitang.

Atau ke Batang Sosa, mengoban indahan dengan lauk mie Sakura.
Selepas makan ala kekanak kami sibuk mengepung ikan Juara.
Kain di bentang, di lempung takkuju sungai. Dua orang memegang
empat ujung kain, yang lain berlari menghalau anak-anak ikan
ke jebakan.

Jika beruntung ikan itu kami boyom jika sedikit,
omelan ibu hanya membikin hati sakit.

Songonima caritona Akkang,
Ni rohakku mittop ma palito.
Demikian terang masalalu itu,

Antara gersang dan sungsang nasibku di Pekanbaru.
Kadang masih kusempatkan medongak ke belakang,
sembari membenarkan ketakutan dan harapku tak lupa
pada daratan. Muasal dan akar-akar margaku.

Miraj Sangga 2015



...dari Mimpi

aku tak pernah memiliki rasa yang lebih baik
dari mimpi, gunung di pundak yang pecah jadi nyali,
menyala sepanjang tali nyawa ini.
hidup memang menumpang pada bintang,
pada cahaya yang mengambang
di malam badan, sampan-sampan angan memusar tampan,
kedalaman doa yang semakin sakal. ibu memeluk batu
sekeras tunggu, aku pemancing lumut yang kawatir
pada hijau yang selalu, menandaskan usia yang terus
menjamur sia-sia. kupetik lima ribu putik airmata,
dari kristal jiwa paling depan, sembari menyemarakkan
kesedihan dengan dekorasi simpan plan.
kebahagiaan kutangguhkan, keteguhan kuteguk satu-satu,
kehausanku pada tuhan perlahan lurus, seluruh jalan di akalku
menjadi umbi besar.
dimana kokoh peluk ayah, mengugurkan pelupukku satu-satu,
sebelum terbang dan terbakar matahari, abunya menggemburkan
mata hati.biji-biji masa depan sudah akan bersemi, sari-sarinya
milik wangi selangit

2015



Ke Dalam Linang Bayangan
: Muhammad Yusuf Abdillah
 
aku memuja rahim ibu
dengan sembilan perih batu
airmata hitam menghimpitku
//
kutarah sejarah sayang
kubiarkan sedu linang
sembahyang genangan
//
kuputar doa angkasa,
seperti roda dada
dari sukma paling Hawa
//
cahaya dari makam ayah dan ibu
renaka kekunang di malam kalbu
aminku berakhir dalam kelambu
 
Villa Taman Mulia Indah, 2013



Sengga

Sengga, disporia mengejarku, kakinya lucu,
menggebu dan penuh haru. Aku tak menyukainya,
tapi membengkalaikannya berarti membengkalaikan
diriku. Bukankan kemanusian tak dibenarkan menjamur?

Tolong aku Sengga, biarkan aku berlindung dalam pelukmu
yang terkutuk. Rayulah disporia kembali ke liang wanita,
bagaimana seluruh angan lelaki bermula. Berikan ia sedikit doa
atau dosa; tak ada beda.

Dalam pelukmu, biarkan pelupukku jatuh ke ketinggian mimpi
yang menggulma, mungkin sejenis kupu, sejenis kunang,
mengajarkanku cara bercinta tanpa menangis dan tegang.

Mungkinkan kenikmatan berasal dari hamburan cahaya putih,
yang kaukentalkan Sengga? Aku curiga.

Najm NN, 2015



Kazena K

Kulihat kulit kata berserak, daging buah tak ada.
Hening membusuk, di semerata kening yang bungkuk.

Ada semesta dalam perangai rahasia, melicik bagai ricik
yang tak dinyana, tangan penyihir menghunjam bola,
kristal tercacak di langit mulut siapa?

Selalu, ia tikung selubung bahasa, tubuh yang menantinya papa,
purus tanya tak putus, bagai arus di kota Gladinus.

Sepertinya tangan ini akan pecah, darah simbah ke wajah teroka,
bila kautayeskan juga, kata yang memungguni kepala.

2015

Muhammad Asqalani, kelahiran Paringgonan, 25 Mei 1988. Alumnus Pend. Bahasa Inggris, Universitas Islam Riau (UIR). Puisi-puisinya dimuat di Pikiran Rakyat, Suara Merdeka, Suara NTB, Minggu Pagi, Fajar Makassar, Riau Pos, Batam Pos, Pos Bali, Sastra Sumbar, Padang Ekspres, Medan Bisnis, Waspada, Majalah Noormuslima (Hongkong), Majalah Sagang. Terangkum dalam puluhan buku antologi bersama. Buku puisi tunggalnya Tangisan Kanal Anak Anak Nakal (2012), Sajak Sembilu tentang Teh Ribuan Gelas (2012), ABUSIA (2013), Doksologi (2014) dan Anak Luka Susu (2015). Belajar dan mengajar di Community Pena Terbang (COMPETER).

KOMENTAR
Terbaru
Minggu, 18 November 2018 - 06:45 wib

Bela SBY, Ruhut Sebut Prabowo Seperti Beruang Madu

Minggu, 18 November 2018 - 06:03 wib

PBNU Tak Sependapat dengan PSI Soal Perda Syariah dan Injil

Minggu, 18 November 2018 - 05:34 wib

Ketua PGI Tanggapi Positif Kritik Grace

Minggu, 18 November 2018 - 05:11 wib

Grace Harus Uraikan Maksud Perda Syariah

Minggu, 18 November 2018 - 04:36 wib

Kata Jokowi Monumen Kapsul Menyimpan Idealisme Seperti Avengers

Minggu, 18 November 2018 - 03:59 wib

Alasan Jerinx SID Tak Mau Temui Via Vallen

Minggu, 18 November 2018 - 02:50 wib

Wow, A Man Called Ahok Tembus 1 Juta Penonton

Minggu, 18 November 2018 - 02:15 wib

Pembagian Sertifikat Tanah Harus Ada Tindak Lanjut Pemerintah

Follow Us