OLEH NAFIAH AL MARAB

Riau Kampanye Sastra Hijau

7 November 2015 - 22.56 WIB > Dibaca 1372 kali | Komentar
 
Sebuah karya sastra idealnya merupakan karya yang mampu membuka panca indera manusia untuk bisa difungsikan lebih maksimal. Karya sastra tak hanya singgah di hati. Kekuatannya mampu menggerakkan tangan yang diam, membuat mulut bungkam menjadi bicara, membuat mata terpejam menjadi beliak. Dalam konteks pemahaman ini, defenisi sastra akan dikaitkan dengan objek yang menjadi lingkungannya. Sebut saja alam, sebagai salah satu objek yang saat ini sedang santer digunakan orang sebagai perbincangan yang bergejolak di dalam karya sastra. Orang dulu menamakannya sastra tema lingkungan, dan saat ini definisi ini akan lebih kita kenal dengan istilah sastra hijau atau green sastra.

Sejak tahun 70-an, di negara-negara yang masyarakatnya peduli lingkungan. Misalnya di Brazil, Australia dan Amerika. Walau sebetulnya, Sastra Hijau telah ditulis sejak puluhan tahun yang lalu di berbagai benua. Sastra hijau disebut sebagai ekokritisisme. Yaitu, konsep kearifan ekologi yang dipadukan dengan karya sastra, demikian pendapat Cheryll Glotfelty dan Harold Fromm. Sastrawan Indonesia, Ahmad Tohari, menyebut Sastra Hijau sebagai Sastra Imani, yaitu sastra yang dapat meningkatkan kesadaran hidup bergantung pada alam (bumi dan seluruh isinya). Kesimpulannya, Genre Sastra Hijau ditulis untuk melestarikan bumi serta isinya dan menyelamatkan bumi dari kehancuran. Khususnya hutan tropis dan lingkungan hidup manusia.

Naning Pranoto dalam tulisannya menyebutkan bahwa sastra Australia, khususnya puisi, telah menyajikan Sastra Hijau sejak awal Abad 19 yang mereka sebut sebagai Era Sastra Kolonial. Puisi mereka dikenal dengan sebutan bush poetry dan penyairnya disebut bush poet. Kata bush jika diterjemahkan secara harafiah adalah "semak-semak". Dalam kenyataannya bush adalah hutan ringan khas Australia yang ditumbuhi aneka cemara, aneka gum, tanaman obat dan bunga serta aneka ilalang dialiri sungai-bunga berair bening. Bush selain dihuni oleh bushman, juga sebagai arena jelajah alam dan berkemah musim panas bagi warga Australia yang umumnya pemuja alam. Bush poetry dipelopori oleh Henry Lawson (1986 1922), Banjo Paterson (1864-1941) dan Dorothea Mackellar (1885-1968).

Puisi-puisi karya ketiga penyair ini dijadikan bacaan wajib bagi pelajar tingkat dasar hingga pendidikan atas di Negeri Kanguru. Juga digubah menjadi lagu. Bahkan puisi karya Banjo Paterson yang berjudul Walzting Matilda menjadi lagu rakyat yang sangat populer. Bahkan dianggap sebagai "lagu kebangsaan tak resmi" dan dijadikan ilustrasi musik beberapa film Australia, hingga membuat lagu ini mendunia.

Kita mungkin masih ingat sosok sastrawan yang begitu gila dengan tema lingkungan, Henry Lawson yang menghabiskan hidupnya tinggal di rumah pohon. Ia mempopulerkan karya-karyanya dengan sebutan sastra balada. Ia bahkan menjauhi kota dengan hiruk pikuknya, karena ia menganggap kota menjadi sumber polusi. Jejak Henry ini juga diikuti oleh para penyair muda yang kemudian menamai diri mereka dengan sebutan "penyair desa".

Memang, menulis sastra hijau di era sekarang memiliki jebakan tersendiri bagi penulis. Pasca revolusi industri, sastra lebih dibawa ke arus yang rasional. Dalam kondisi ini, komunikasi antara manusia dan alam bahkan dikatakan nihil. Agus R. Sarjono (redaktur majalah sastra Horison) mengatakan, saat ini ketika kita ingin menulis sastra hijau, maka ada dua jebakan yang mengancam yakni, Pertama, jika penggiatnya jatuh pada eksotisme yang meneguhkan pandangan Barat atas Timur selama ini. Kedua, jika karya sastra hijau kembali ke nilai-nilai luhur masa lalu, tapi tidak melihat kenyataan sekarang. Namun, jebakan itu bisa diatasi dengan sikap kritis.

Deskripsi berlebihan yang melukiskan keindahan alam di dunia timur dengan kekayaan alam yang berlimpah, hutan yang masih perawan dan sebagainya merupakan jebakan rasional yang harus dihindari. Karena faktanya itu memang tak ada lagi. Dulu alam menjadi sumber kekaguman saat kita menuliskan sebuah karya sastra, namun saat ini kekaguman tersebut telah berubah menjadi sebuah keprihatinan yang mendalam. Dalam kondisi inilah rasionalisme para penulis harus terbuka sehingga sebuah karya yang ia tuliskan tidak lagi menafikan sebuah fakta yang terjadi. Kita tak lagi terbuai dalam keromantisan sebuah kondisi, namun harus membuka indera pada kondisi-kondisi yang menuntut sikap lebih kritis.

Riau dan Sastra Hijau

Kondisi lingkungan yang tidak lagi nyaman dihuni manusia menjadi peyebab paling popular bagi para sastrawan menyuarakan sastra hijau. Kerusakan yang lebih kerap disebabkan tangan manusia maupun bencana alam yang datang secara alami menyisakan suasana empirik perasaan para sastrawan yang menyimpan luka. Ketedesakan suasana hati serta gugatan pada kondisi membuat tema sastra hijau menjadi salah satu temu yang terus diminati para pegiat sastra.

Riau sebagai salah satu kawasan geografis yang sangat rentan mengalami dampak dan masalah lingkungan sebenarnya menjadi kawasan yang paling membutuhkan kampanye sastra hijau dari para pegiat sastra. Bencana lingkungan yang terjadi secara berulang tiap tahunnya menggugah nurani kalangan penyair dan sastrawan untuk sama-sama bangkit menyuarakan pemakmuran terhadap alam semesta. Dalam kapasitas apapun kita di tanah yang kita cintai ini, tentunya sangat ingin memberikan kontribusi terbaik bagi masalah-masalah tempatan.
Oleh karena itulah, tema sastra hijau semestinya menjadi salah satu tema yang mendesak, yang harus disuarakan para sastrawan Riau secara khusus. Tanah kita, kita yang tahu. Masalah kita, kitalah yang tahu.

Di sinilah sebenarnya sastra memiliki peran yang sangat strategis untuk membuka panca indera para penikmatnya. Mata yang selama ini terpejam menyaksikan kekejaman tangan-tangan manusia pada lingkungan akan coba kita buka dengan sajian karya-karya hangat yang penuh dengan nilai edukasi.

Kita perlu berterimakasih kepada sastrawan-sastrawan Riau yang secara konsisten menyuarakan tema-tema lingkungan dalam karya-karyanya. Sebut saja kumpulan Cerpen berjudul Ongkak karya Fakhrunnas MA Jabbar menjadi salah satu kumpulan cerpen tema sastra hijau yang memberikan nilai penting bagi pelestarian hutan di Riau. Kampanye sastra hijau di Riau bukan hanya digaungkan pasca terjadinya musibah alam yang tak kita inginkan. Namun seyogyanya secara berkesinambungan hal ini harus digaungkan, disosialisasikan dan diigat-ingatkan kepada para penulis. Utamanya para penulis muda yang bakal mewarisi dunia literasi sastrawan di Riau.***

Nafiah Al Marab, Ketua Forum Lingkar Pena Riau.

KOMENTAR
Esai Lainnya
Terbaru
Kamis, 15 November 2018 - 10:16 wib

Puluhan Pasangan Terjaring Razia

Kamis, 15 November 2018 - 10:00 wib

Anggaran Makan SMAN Plus Dihentikan

Kamis, 15 November 2018 - 09:55 wib

GTT Digaji Rp1,5 Juta Sebulan

Kamis, 15 November 2018 - 09:38 wib

Kerusakan Jalan Datuk Laksamana Semakin Parah

Kamis, 15 November 2018 - 09:36 wib

Geger, Harimau Terjebak di Antara Ruko

Kamis, 15 November 2018 - 09:00 wib

BPK Temukan Kelebihan Bayar Rp239 Juta

Rabu, 14 November 2018 - 20:40 wib

Cuti Bersama Idulfitri Tahun Depan Lebih Pendek

Rabu, 14 November 2018 - 19:30 wib

Reaksi Brexit dan Dampak Ekonomi Cina Picu Pelemahan Rupiah

Follow Us