OLEH SAIFA ABIDILLAH

Sastra dan Gerakan Misi

7 November 2015 - 23.08 WIB > Dibaca 1038 kali | Komentar
 
HIDUP di seminari, sama seperti kita hidup di pesantren, santri yang belajar kitab-kitab klasik, menempa Bahasa Arab-Inggris, sekolah formal dan madrasah, di tengah-tengah kegiatan itu, sebagian santri yang tertarik dengan sastra, ia diam-diam akan menulis puisi, cerpen, dan esai. Di pesantren seperti Annuqayah misalnya, sastra hidup subur, juga bentuk-bentuk kesenian lain, sepert drama, teater, seni kaligrafi dan musik ala santri, mengakar kuat di luar minat santri sebagai penegak agama. Banyak para penulis yang lahir dari pesantren ini, baik para akademisi dan sastrawan. Di publik kita kenal misalnya M Faizi, Sofyan RH Zahid, dan Raedu Basha.

Di seminari, Mario F Lawi ditempa banyak hal, terkait dengan api-iman yang patut dijaga. Jika mengacu pada esai M. Aan Mansur, Mario, ada 5 hal yang diperhatikan dalam pembinaan calon imam; Scientia (ilmu pengetahuan), Sanctitas (kekudusan), Sanitas (kesehatan), Sapientia (kebijaksanaan), dan Solidaritas (persaudaraan).Di pesantren kita juga mendapat suplai pengetahuan yang sama, toh barangkali dengan porsi realisasi yang berbeda-beda. Di pesantren, santri ditempa untuk menempuh pendidikan yang telah disediakan oleh lembaga, dari PAUD sampai Perguruan Tinggi (Scientia), Kitab-kitab Klasik (Sanctitas), Klinik (Sanitas) fungsinya beda dengan di seminari yang dikhususkan untuk calon para imam. Pejalaran Akhlak atau Etika (Sapientia) kepesantrenan, dan (Solidaritas) antar santri sebagai pengganti keluarga.

Meski santri tidak menulis sebagaimana Mario tulis "untuk menghidupi apa yang saya imani kata Mario, santri berperan mengangkat tradisi-tradisi intelektual muslim, dan bertemakan nilai-nilai Quranik ketika telah keluar dari pesantren. Kita tidak menemukan semangat religiusitas atau kesadaran misi kepesantrenan dikalangan santri hadir pada tema-tema puisi mereka, rindu dan cinta menjadi tema paling mudah bagi penulis pemula dikalangan santri. Sedang Mario, Ia menggali tradisi-tradisi lokalitas mistik NTT (Jingitiu), dan pengetahuan Biblis yang dalam.

Mario menjadi pusat perhatian publik karena tema-tema puisinya yang lekat dengan ajaran-ajaranmistik Kristen, menebar pesona iman dan disajikan dengan diksi-diksi yang tidak rumit untuk dicerna.Semisal, kita sentil salahsatu puisinya yang kritis akan persoalan-persoalan ketuhanan; Speculum, Saya telah melawan takdir/ Kini saya nantikan, seberapa/ keras kepalakah Engkau, Tuhan. Tuhan Yesus dalam puisi ini, seolah sama seperti kita (manusia) yang keras kepala, dan itu sangat menjengkelkan.

Di kalangan kristiani, sangat jarang kita temukan puisi-puisi yangberapi-api seperti ini, menyuarakan ajaran-ajaran kekristenan dengan intens, seolah jiwa yang dimiliki kakeknya sebagai ketua Jingitiu (agama mistik lokal) sebagai agama suku, mengalir kuat, sejalan dengan cerita-cerita Biblikal, yang disajikan ayah dan ibunya ketika masih kecil, cukup berpengaruh besar pada perkembangan puisi-puisi mutakhir Mario. Ditambah tempaan dunia seminari selama beberapa tahun di situ. Jadi telah cukup jiwa puitik itu ditempa sedekian rupa, jiwa puitik adalah untuk membangun hubungan yang intim dengan Tuhan, bagaimana kita beragama, menghayati, dan menghidupi iman umat tidak hanya di lingkungan kita, tapi seluruh penjuru negeri.

Gerakan misi semacam ini sama sekali sulit kita temukan, apalagi pemuda potensial seperti Mario, yang tidak tanggung-tanggung berbicara hal yang dekat pada dunia, Bagi orang yang masih belajar menulis puisi seperti saya, jauh lebih penting menggali apa yang saya pahami dan imani secara baik daripada menggantungkan harapan pada spekulasi-spekulasi yang tidak saya kenal. Seolah menyampaikan ajaran lebih penting, daripada sekedar berkelit-kelindan dengan akrobat-bahasa yang njlimet dan aneh-aneh.

Dalam buku Ekaristi, dengan sadar Mario menggali kearifan-kearifan lokal dari kepercayaan kakeknya dan memadukannya dengan khazanah alkitab. Dalam buku Lelaki Bukan Malaikat, Sapardi Djoko Damono menulis, Mario Lawi dengan terampil telah memindahkan inti amanat Kitab Suci ke puisi dan menawarkannya kepada pembaca sebagai penghayatan dan pengalaman baru yang tidak lagi perlu dibatasi oleh keyakinan apa pun.

Sebagainama juga yang disebutkan dalam pengantar buku Ekaristi, Mario mengatakan, Menulis puisi, sebagaimana juga beribadah di Gereja, semoga dapat menjadi bagian dari cara saya untuk menghidupi apa yang saya imani. Sebagaimana kakek saya menghayati Jingitiu yang ia imani. Sebagaimana ibu saya menghayati Katolik yang ia imani.

Semangat inilah yang menjadi berbeda dari penyair muda lainnya, yang bersilat di jalan bahasa, berkelit dengan tema gubismedan nihilisme yang akut. Mario menulis, "Ekaristi;
Pagi yang Cacat":

Mengugurkan anamnesis.

Kami berdiri di jalanan
Menyaksikan diriMu dikorbankan.

Di bawah salib,
TubuhMu yang jasad,

Kami koyak kelak
Dengan rasa lapar paling purba.


Ekaristi dalam tradisi Katolik menjadi penting, karena ritual ini merupakan sakramen utama, dari enam sakramen lain. Wafat dan kebangkitan Kristus, dalam Ekaristi dirayakan dengan meriah. Dalam bahasa Mario, Ekaristi adalah sumber dan puncak seluruh hidup orang Kristen. Sebagai sakramen Ekaristi, adalah tanda dan sarana persatuan dengan Allah dan persatuan antar sesama umat manusia. Ekaristi hendaknya juga menjadi pengantarkan umat Kristen kepada makna keselamatan.

Sebab kontribusi inilah, tradisi dan kekayaan Alkitab, menjadi hidup dan bermakna di mata masyarakat luas, karena ajaran-ajaran itu tidak lagi stagnan di kalangan umat Kristen semata, tetapi menjadi pengetahuan dan kekayaan kita bersama.***

Saifa Abidillah, mahasiswa Perbandingan Agama, Studi Agama dan Pemikiran Islam, UIN Suka, dan aktif di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta (LSKY).

KOMENTAR
Esai Lainnya
Terbaru
Selasa, 18 September 2018 - 19:30 wib

Masyarakat Mesti Bijak Gunakan Medsos

Selasa, 18 September 2018 - 19:00 wib

Sosialisasi SPIP Capai Maturitas Level 3

Selasa, 18 September 2018 - 18:41 wib

Lima Keuntungan Menggunakan Aplikasi Kasir Online Kawn

Selasa, 18 September 2018 - 18:30 wib

8 Kecamatan Ikuti Iven Pacu Sampan

Selasa, 18 September 2018 - 18:00 wib

Komunitas Muda Madura Siap Menangkan Jokowi

Selasa, 18 September 2018 - 18:00 wib

Perusahaan Diminta Peduli

Selasa, 18 September 2018 - 17:30 wib

Rider Berbagai Provinsi Bakal Ramaikan Jakjar 5

Selasa, 18 September 2018 - 17:22 wib

AJI Pekanbaru Kirim Delegasi ke Festival Media 2018 di Pontianak

Follow Us