OLEH YULITA FITRIANA

Kabut Asap dan Kreativitas Sastra

7 November 2015 - 23.25 WIB > Dibaca 1579 kali | Komentar
 
Beberapa waktu yang lalu, Provinsi Riau dilanda kabut asap. Papan Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) yang tegak kokoh di beberapa wilayah di Pekanbaru, tidak beranjak dari level “sangat tidak sehat” dan “berbahaya”. Hal ini berarti tingkat kualitas udara dapat merugikan kesehatan (level sangat tidak sehat) dan sangat merugikan kesehatan (level berbahaya) pada populasi. ISPU ini ditetapkan berdasarkan lima pencemar udara, yaitu CO, SO2, NO2, dan Ozon permukaan (03), dan partikel debu (PM10).  

Peristiswa ini bukan untuk yang pertama kalinya terjadi. Ditengarai sudah tujuh belas atau delapan belas tahun kabut asap “rajin” mengunjungi provinsi ini. Tidak hanya Riau, beberapa provinsi lainnya, seperti Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah juga terdampak kabut asap. Bahkan, asap ini telah pula “mengunjungi” negera tetangga, Singapura dan Malaysia, yang mengakibatkan protes masyarakatnya terhadap Indonesia.

Bencana kabut asap ini merupakan imbas kebakaran (pembakaran?) lahan atau hutan. Akibat yang ditimbulkannya tidak main-main. Ribuan lahan/hutan musnah dan tentu saja beserta habitat tumbuhan dan binatang di dalamnya. Tidak itu saja, kabut asap (yang dikenal oleh orang Melayu dengan istilah jerebu) telah mengakibatkan ribuan orang terkena penyakit, mulai dari Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA), penyakit mata, sampai penyakit kulit. Dikhawatirkan pula, dampak jangka panjang dari kabut asap ini bagi kesehatan adalah kanker paru-paru. Dampak lainnya, penerbangan ke dan dari Pekanbaru lumpuh. Bisnis kacau. Anak-anak sekolah diliburkan tanpa tahu kapan dapat kembali ke sekolah secara normal.

Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kabut bermakna ‘kelam; suram; tidak nyata;  awan lembap yang melayang di dekat permukaan tanah; dan uap air sebagai hasil kondensasi yang masih dekat dengan tanah yang terjadi karena peristiwa pemanasan atau pendinginan udara, biasanya menyebabkan jarak pandang di permukaan bumi berkurang.’ Kata asap  didefinisikan sebagai ‘uap yang dapat dilihat sebagai hasil pembakaran’. Adapun kabut asap dijelaskan sebagai ‘campuran antara kabut dan asap.’

Dibandingkan kabut, asap lebih akrab dalam kehidupan masyarakat Riau. Dahulu, untuk mengawetkan ikan, salah satu cara yang mereka lakukan adalah dengan mengasapinya. Masyarakat Riau mengenalnya dengan ikan salai (ada juga yang mengenalnya dengan karasak), yang tugunya diabadikan di depan kantor Walikota Pekanbaru.

Ketidakasingan masyarakat terhadap asap, diabadikan pula dalam peribahasa. Untuk orang yang belum menikah, ada peribahasa belum dipanjat asap kemenyan. Orang yang melakukan perbuatan sia-sia atau berangan-angan hampa belaka, digambarkan dengan peribahasa menggantang asap, mengukir langit. Ada pula pepatah masuk asap keluar angin yang berarti ‘sesuatu yang dikerjakan belum mendapat apa-apa.’

Tidak hanya peribahasa yang memiliki makna negatif seperti yang disebutkan sebelumnya, peribahasa dengan menggunakan kata asap juga memiliki makna yang positif, seperti bagai api dengan asap. Peribahasa ini menggambarkan sebuah persahabatan yang sangat erat. Pepatah telah berasap hidungnya digunakan untuk menggambarkan situasi ‘mendapatkan keuntungan setelah menderita dalam waktu yang cukup lama.’

Jangan sampai kebakaran lahan/hutan mengakibatkan kemiskinan terhadap masyarakat, seperti dalam pepatah tungku tak berasap yang ‘menggambarkan orang yang sangat miskin sehingga tidak bisa makan/tidak ada yang akan dimasak’ terjadi.

Bencana kabut asap ini juga diabadikan dalam karya sastra bergenre puisi dan cerpen. Pada 2014 sebuah cerpen  “Keluh Kesah” karya Novri Kumbara, dalam Negeri Asap: Kumpulan Cerpen Riau Pos 2014. Tercatat juga beberapa cerpen lainnya yang juga berkenaan dengan asap, yaitu “Asap Pak Tua” (Melda Savitri), “Kabut Asap” (Syahda Sylvanto), dan “Kabut Asap” (Abdul Hamid).

Puisi juga menjadi media untuk menyampaikan resah dan juga protes akan kabut asap yang kerap melanda Indonesia. Di dalam blognya, Rakib Jamari menulis sembilan puisi mengenai asap. Entah berapa orang pula yang menjadi penyair dadakan karena menulis puisi asap di media sosial yang mereka punya.

Pada Pekan Sastra Se-Sesumatera yang diselenggarakan Kantor Bahasa Jambi di Jambi, 28 September sampai dengan 3 Oktober 2015, Fakhrunnas MA Jabbar, Aries Abeba, dan Dheni Kurnia membacakan puisi-puisi “asap” mereka di hadapan peserta Pekan Sastra yang diikuti utusan Balai dan Kantor Bahasa se-Sumatera. Pada Sabtu, 3 Oktober 2015 dalam acara pembacaan puisi “Asap dan Azab”,  tiga penyair Riau tersebut kembali mementaskan puisi-puisi karya mereka mengenai asap.

Perhatikan penggalan puisi berjudul ‘’Perjalanan Jerebu’’ yang dibacakan penyair Fakhrunnas MA Jabbar ini. Jerebu menusuk kalbu/meresahkan jiwa/jerebu menyeruduk paru/menyesak dada/Jerebu bertamu di pintu/menumpuk di ruang rumah/Jerebu masuk sekolah/mengamuk pada guru/dan sekolah pun diliburkan suka-suka/. Puisi ini menyampaikan kerisauan Fakhrunnas  akibat kabut asap.

Tidak hanya ketiga penyair tersebut, seniman Suharyoto Suwigno membacakan puisi asapnya dalam aksi demonstrasi yang digelar di gerbang Kantor Gubernur Riau. “Saya sudah tidak bisa membedakan mana kantor Gubernur dan mana kantor Polda/ itu semua karena banyaknya asap yang masuk ke otakku,” kata Aryo, panggilan akrab penyair itu dalam puisinya.

Hampir seminggu ini, kabut asap mulai menghilang, terutama di Riau. Masyarakat kembali dapat menghirup udara bersih. Di papan petunjuk ISPA, tertulis bahwa kondisi udara berada pada level “baik”. Hal ini dianggap luar biasa mengingat selama hampir empat bulan kondisi udara berada pada level “sangat tidak sehat” atau “berbahaya”. Tentu saja, hal ini sangat melegakan. Berbagai aktivitas kembali dapat dilakukan secara normal.

Namun, mengingat bencana kabut asap ini datang setiap tahun, ada baiknya semua pihak waspada akan berulangnya kejadian tersebut. Masyarakat diimbau untuk tidak membakar lahan. Pemerintah diminta untuk membuat aturan yang jelas dan tegas untuk pembukaan lahan. Pihak berwajib pun hendaknya dapat mengusut para pembakar lahan tersebut dan meminta pertanggungjawaban mereka. Seperti kata pepatah, kalau tak ada api, apa mungkin ada asap. Peribahasa ini merupakan penggambaran bahwa jika tidak ada penyebab, tidak mungkin akan terjadi sesuatu; sesuatu ada pemicunya.

Nah! Bagaimana dengan kabut asap yang berlarut-larut ini?***

Yulita Fitriana, peneliti sastra pada Balai Bahasa Provinsi Riau
KOMENTAR
Terbaru
Kamis, 22 November 2018 - 11:15 wib

Plafon Kantor Distankan Inhu Ambruk

Kamis, 22 November 2018 - 11:01 wib

Bupati dan Wakil Bupati Inhil Resmi Dilantik

Kamis, 22 November 2018 - 11:00 wib

Bupati dan Wakil Bupati Inhil Resmi Dilantik

Kamis, 22 November 2018 - 11:00 wib

23 KK Harus Mengungsi

Kamis, 22 November 2018 - 10:45 wib

Pesta Narkoba, Oknum Personel Polres Dumai Terancam Dipecat

Kamis, 22 November 2018 - 10:30 wib

Camat Harus Cepat Kuasai Wilayah

Kamis, 22 November 2018 - 10:15 wib

Kapolsek Bakar PETI di Kebun Pemda

Kamis, 22 November 2018 - 10:00 wib

Seleksi CPNS, Pemko Tunggu Arahan Pusat

Follow Us