OLEH BONI CHANDRA

Pabaruak

7 November 2015 - 23.36 WIB > Dibaca 2072 kali | Komentar
 
Tinggi sudah mata memandang. Telah  tampak;  sekumpul bulatan berpeluk pelepah, mumbang [1], tupai menggirik dan lain pelepah di kejauhan. Namun, tak ada temali dan baruak[2] utusan. Atau teriakan pabaruak[3]kala memerintah peliharaannya memetik buah.

Ini minggu kedua, Uda. Bagaimana mungkin Mak Awu belum jua tiba. Juita, mulai meremas baju kurung seraya menggigit bibirnya.

Juita memang semakin kurus ketika sedang gusar. Tiga hari sudah, dia tak memasak rendang maupun gulai ikan. Tapi bukan sekedar kekhawatiran akan seleraku, lakinya. Perempuan berbaju kurung ini, lebih mencemaskan Mak Awu, pabaruak kondang yang tak kunjung tampak kumis tipisnya.

Mak Awu, memang selalu datang ke rumah kami saban pagi. Biasanya, beliau singgah sebentar menyeduh kopi. Sesekali, Juita juga menghidangkan goreng pisang sekedar tangka jomalang[4]. Lalu pergi. Mendorong gerobakyang di atasnya tengah bersimpuh seekor baruak bertemali, kapak, dan taji besi.

Barangkali, Mak Awu sedang melatih baruak di kampung sebelah. Belakangan, semakin banyak saja orang yang ingin bekerja sebagai pabaruak.

Tidak biasanya Mak Awu tak tepat janji, Uda. Beliau akan tetap datang memetik kelapa. Walau untuk dua atau tiga hari memasak.

Biasanya; bila sedang tak ada pekerjaan, aku akan menurut Mak Awu yang sedang memetik kelapa kami. Semula, aku memang sedikit risih, saat baruak-nya hendak memelintir buah. Cemas, bila kelapa itu, jatuh menimpa kepala. Tapi baruak itu memang terlatih. Dia selalu menjatuhkan buah tak jauh dari tunggulnya.

Dari pada merenung, alangkah baik, bila Uda, menurut Mak Awu ke rumahnya.

Artinya, aku harus mengunjungi setiap batang kelapa bila ia tidak di rumah. Dan tak tahukah kau, begitu banyaknya pohon kelapa di kampung kita.

Juita mematut masam. Tentu, bukan jawaban yang seperti itu yang hendak ia harapkan.

Bila sebentar lagi Mak Awu tak jua tiba, biar kuantarkan kau ke Pasar Padang Panjang. Kau bisa membeli kelapa untuk seminggu memasak. Atau, akan kucarikan pabaruak ke kampung sebelah. Bila tidak, biar aku saja yang menggantikannya. Toh, memanjat kelapa bukan perkara susah.

Pertama, Juita mengutarakan rasa malu dan punya pertimbangan tinggi saat membeli. Kami memiliki pohon kelapa dan kenapa pula membelinya. Kedua, Juita sangat menghagai jasa orang walaupun kecil. Selama ini, Mak Awu banyak membantu. Artinya, biniku ini, alangkah enggan mengupah jasa lain yang seharusnya dijatahkan untuk Mak Awu.

Terlebih bila Uda yang memanjat! Aku tak mau menjadi buah bibir, Da. Sebab hanya pekerjaan baruak yang demikian. Dan aku, tak sudi disebut balakibaruak[5]!

***

Siang kembali timbul dan tenggelam. Seperti ini pagi, yang balik menjelang secepat senja melumat petang. Persis Mak Awu, yang tersiar hilang dan lagi datang. Lelaki pendek berkumis tipis, telah berkisah perihal untung nan malang. Baruak kesayangannya; telah hilang. Dijemput malam dari kandang.

Baruak itu sabanasantiang [6]. Dia mampu memetik kelapa ber-karanggo[7] dan kataburan[8]. Tapi, apa dikata bila untung malang.

Kabar Mak Awu yang kehilangan baruak-nya; cepat tersiar ke lepau-lepau, ke kampung sebelah, bahkan ke Pasar Padang Panjang. Pedagang kelapa mengisah iba. Sebab bersama baruak-nya, Mak Awu, tidak hanya memakan upah dari hasil memetik kelapa. Tapi juga mengajari sekumpulan baruak, yang tuannya, ingin bekerja pula sebagai pabaruak.

Pun bagiku dan Juita. Tentu saja, kami turut prihatin atas kehilangan yang menimpa Mak Awu. Tapi, bagaimana mungkin kami bisa bertahan tanpa kelapa. Artinya, bila ingin kembali mengenyam rendang dan gulai ikan, kami harus mengupah pabaruak kampung sebelahuntuk memetik kelapa.

***

Cerita tentang Mak Awu dan baruak-nya yang hilang, perlahan terlupa di keseharian. Barangkali karena banyak hal yang harus kita ingat. Sehingga kita, memang terbiasa melupakan lebih cepat. Usai Mak Awu berkeluh kesah perihal baruak-nya yang dijemput malam, kami, maupun orang kampung, sudah tak pernah lagi melihat kehadirannya. Mak Awu; turut tertelan kehilangan.

Semula, kehilangan Mak Awu dan baruak-nya, mulai digantikan oleh beberapa pabaruak yang datang dari kampung sebelah. Siapa pun telah dibebaskan mengeksekusi pohon kelapa di kampung kami. Tapi belakangan, para pemilik pohon kelapa di kampung kami, lebih suka mengupah Datuk Lembai, pendatang baru, yang punya peliharaan sama mahirnya dengan baruak yang pernah dimiliki Mak Awu.

Ah, Datuk Lembai. Sebutan pabaruak, seketika melekat pada dirinya. Bersama baruak-nya, Datuk Lembai mulai menjelma legenda baru. Disamping bisa menjatuhkan kelapa lebih cepat, peliharaannyatak pernah takut pada kataburan yang beranak pinak, maupun karanggo yang beristana di pelepah. Baruak itu senantiasa patuh pada tuannya. Memetik kelapa merah, bila Datuk Lembai menarik tali. Dan menjatuhkan kelapa muda, bila tuannya itu menggoyang temali.

Kabar baiknya, kami bisa lagi menikmati rendang dan gulai ikan. Kami juga bisa meminta kelapa muda bila hendak meminum airnya. Tapi kabar lainnya, sebagian orang mulai menaruh pikiran lain. Ada yang berbisik menebar curiga. Ada yang mulai berkoar di lepau-lepau. Ada pula yang terang-terangan menghadap Datuk Lembai. Mereka menyatakan, bahwa lelaki paruh baya itulah yang telah mencurimenjemput malam baruak milik Mak Awu!

Aku dan Juita, sebetulnya termasuk orang-orang yang berburuk sangka. Kami merasa kenal betul perihal baruak kepunyaan Mak Awu. Seperti yang kuceritakan sebelumnya, Mak Awu sering datang ke rumah kami sebelum berangkat kerja. Aku sendiri sering mengamati. Seingatku, baruak itu bertelinga sumbing. Barangkali bawaan lahirnya atau sengatan kataburan yang membekas.

Menurut desas-sesus, Datuk Lembai turut menampung para pabaruak yang ingin melatih peliharaan. Tampaknya, semakin banyak saja orang-orang yang ingin beralih pekerjaan menjadi pemetik kelapa. Barangkali, karena kian banyaknya pohon kelapa yang tumbuh dan upah pabaruak yang kian menjanjikan. Ah, kejengkelanku makin bersemi!

Tapi, aku sedikit beruntung dalam kemalangan lain di kampung kami. Setidaknya, kejengkelanku sedikit tertawar, karena beberapa hari ini, orang di kampung kami sudah tak banyak bergantung pada pabaruak. Bukan karena jasa lain yang berdatangan dari luar. Bukan pula karena kejenuhan pada rendang dan gulai ikan. Tapi disebabkan bau menyengat, yang seperti sedang mengepung kampung.

Ah! Kami tak lagi memiliki selera untuk makan. Bau itu menggerogoti rendang, gulai ikan, bahkan pisang apik yang Juita beli di Pasar Padang Panjang. Kau tentu percaya, bahwa aku tak sedang berlebihan. Aroma itu alangkah busuk! Menyusup udara setiap kali menghirup. Tapi, kebusukan itu bagai bangkai iblis, yang entahlah di mana.

Aduh. Aku hampir saja lupa. Tapi baiklah. Biar kuceritakan pula padamu. Karena kami tak sedang berselera makan, semalam, Juita telah membuat satu gagasan. Bahwa, alangkah baik bila kelapa tetap dipetik, lalu dijual ke Pasar Padang Panjang. "Petik saja kelapa yang sudah tua. Dari pada habis digirik tupai." Demikian dia berkata.

***

Aku menemani Datuk Lembai. Disamping memberi tahu tanaman kelapa yang kami punya, tentu saja, ada keinginan untuk mencari tahu perihal baruak-nya. Tentang asal-usul misalnya, kupingnya yang sumbing dan...

Bagaimana mungkin orang-orang di sini masih berpikiran buruk terhadapku! Aku telah bersedia mengambilkan kelapa, sekalipun di sana dipenuhi karanggo dan kataburan. Bukankah orang-orang di sini, sudah lama tak memasak rendang dan gulai ikan? Seharusnya kalian berterima kasih. Bukan menuduhku!

Ah, bagaimana mungkin Datuk Lembai dapat membaca pikiranku. Dia sungguh tersinggung. Tapi, tetap ada keganjilan yang menampak. Bahwa; Datuk Lembai dan baruak-nya itu, tidak seperti tuan dan peliharaannya!

Di bawah pohon kelapa, Datuk Lembai terus mengulur tali-temali.

Panjek! Capek!

Nun di atas, di antara pelepah, baruak-nya hanya termenung. Tampak tak mengerti perintah tuannya.

Puta! Putalah! Putalah ka suok saroto kida! Tapi, tak ada kelapa yang jatuh berdentum. Tidak pula mumbang. Sementara angin terus berhembus, membawa aroma yang terasa mencekik di tenggorakan. Bau itu. Bau itu! Huek!

Datuk Lembai mulai memaki. Hilang sudah kesabarannya. Dia mengikatkan temali ke pohon kelapa, lalu ikut memanjat bak beruk. Tapi belum sampai di separuh batang, Datuk Lembai menatap atas. Baruak menarik temali, lalu menggigit dengan bengisnya. Datuk Lembai balik memaki, saat peliharaannya berhasil memutus tali.

Baruak telah lepas dari ikatan. Semula hanya bergayut di pelapah. Tapi melompat kemudian dan melekat di lain batang. Lompatannya berlanjut. Dari nangka ke pohon manggis. Turun ke tanah, lalu berlari menuju lain pohon. Datuk Lembai mulai berteriak memanggilku, meminta pertolongan karena tak bisa turun dari batang. Aku sedang tak peduli, kecuali memandangi baruak-nya yang berlari. Di tunggul akasia, tampak baruak memandang atas, memeluk batang, lalu bergayut pada dahan...

Juita; tiba-tiba memekik di belakangku. Aku menoleh cepat, dan menangkap wajahnya yang tampak pias. Matanya memandang atas seraya menyebut nama. Aku mengikut pandangan. Baruak menggelayuti dahan demi dahan. Meraih lalu menggigit temali, yang pada ujungnya tergantung tubuh kaku. Mak Awu! Mak Awu! Mak Awu: membusuk menggayut diri.***

Padang Panjang-Payakumbuh, 2015

Catatan:
[1] putik kelapa
[2] beruk/monyet yang digunakan untuk memetik kelapa (bagian kebudayaan di Minangkabau yang masih digunakan sampai sekarang)
[3] panggilan untuk tuan beruk/orang yang bekerja sebagai pemetik kelapa dengan menggunakan jasa monyet
[4] penangkal penyakit
[5] bersuami monyet
[6] sangat mahir
[7] semut rangrang
[8] tawon


Boni Chandra, lahir di Payakumbuh, 25 Juli 1989. Bergiat di Komunitas Seni Kuflet Padang Panjang. Pernah menjadi pemenang 1 lomba cerpen Hutanta, pemenang 2 lomba cerpen Etnika Fest FIB UGM 2015, pemenang 3 lomba cerpen Forum Sastra Bumi Pertiwi 2015, dll. Saat ini menetap di Padang.

KOMENTAR
Terbaru
Senin, 24 September 2018 - 13:30 wib

Jessica Raih Emas Kejurnas Piala Panglima

Senin, 24 September 2018 - 13:23 wib

Nasabah BRI Juanda Dapat Xenia dari Simpedes

Senin, 24 September 2018 - 13:16 wib

Paripurna Molor 6 Jam, 11 Anggota Dewan Bolos

Senin, 24 September 2018 - 13:00 wib

Joshua Penuhi Janji

Senin, 24 September 2018 - 12:55 wib

Setujui Tobasa Jadi Toba

Senin, 24 September 2018 - 12:31 wib

12 Jamaah Haji Nagan Belum Kembali

Senin, 24 September 2018 - 12:30 wib

Marquez Juara di Aragon

Senin, 24 September 2018 - 12:30 wib

Flyover Ditunda

Follow Us