SAJAK

Sajak-sajak Putu Gede Pradipta

8 November 2015 - 00.05 WIB > Dibaca 1140 kali | Komentar
 
Aforime

Tuhan menjatuhkan
aku dari atap bahasa.

Mimpi-mimpi yang
dibangun ayahku
mencair jadi hujan.
 
Aku kini kolam.
Ikan beragam warna
meriak di dalam.

(2015)



Melankolia Sepi

Biar ini sepi
jadi taring
Mencabik
ini badan dan
nyeri tiba
Ke tepi
nyawa dibawa

(2015)



Burung Abu

Langit bersih terang itu
dilewati seekor burung abu.
Burung itu adalah keinginanku.
Yang berkelebat mengincar
sesuatu yang tak pernah
kurelakan di masa lalu.

(2015)



Di Broadway


Kenapa hanya di Broadway
puisi benar berlaga dan
sepi tumpat demikian pedat.

Dan kenapa hanya di Broadway
gairah selengkung bimasakti
hampa senikmat kopi Guatemala.

(2015)



Hidup Seribu Tahun Lagi

Dan kulihat perputaran bumi. Dan kuamati
tubuhmu yang dicintai sebuah pagi. Pun hujan
yang bersalin rupa berkali-kali. Sebelum
sepenuhnya menjelma penguasa yang sama
kita benci sejak mulai tualang ini, kekasih.

(2015)



Libido Pemuisi


Dan ia tak terpuaskan
Birahinya meninggi

Kata-kata berlalu
Makna tak bertamu

Diterkanya kembali
Muasal diri

Yang jejaknya sepi
Di bentang bumi

Sebuah hulu pun hadir
Utopia yang getir

Masihkah ia bertahan
Dan terus melawan

Hidup dalam penat
Bukanlah yang diinginkan

Puisi yang dipilihnya
Tak bertahan selamanya

Ia putuskan berjalan
Melewati bising keinginan

Hendak menepi ke nurani
Berharap jumpa inti

Yang selama ini
Didamba dan dicari

(2015)



Bagaimana Aku Melihat Diriku
di Mata Orang-orang


Ia akan dikenang dalam satu detik yang mencemaskan
saat seluruh jam di sebuah kota pecah. Tanggal berubah

disertai hari-hari yang tak lagi cerah. Dan sembilan
ular sewarna kesedihan berkelebat dari segenap penjuru
semesta. Berdesis memasuki bibirnya yang membiru

demi menyaksi kematian waktu. Mencatat yang pilu.
Sebelum senyap datang menyergap. Lebih dulu ia lenyap.

(2014)



Semadi Lelaki Sejati

Seorang lelaki sejati sedang semadi dalam raga
sendiri. Ia bayangkan bulan jatuh, menghampiri
sebelum penuh menyentuh

saat malam menyatukan angkasa dengan wangi
segala bunga. Maka gugur semua yang melayang
maka luntur segala yang menembang.

(2015)



Gula Kapas Merah Muda

Merah muda seperti pipimu
Manis seperti senyumanmu

Namun aku tak pernah bisa
Menepati janjiku kepadamu

Tak ada lagi kesempatanku
Kandas sudah gula kapas itu

(2015)



Pemuja Api

kami pemuja api
sembah runduk kami
kepada hyang abadi

di tepi telaga ini
kami duduk bersuluh
memantapkan niat

berkenan kiranya
doa tumpul kami
ditajamkan malam ini

(2015)



Putu Gede Pradipta, lahir dan berkediaman di Denpasar, Bali. Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Dwijendra Denpasar. Sehimpun puisinya baru saja terbit, bersama penyair Asqalani bertajuk Yang Terbakar Yang Tercinta (Garudhawaca, 2015).

KOMENTAR
Terbaru
Minggu, 23 September 2018 - 19:53 wib

Ratusan Mahasiswa Belajar Persatuan dan Kesatuan di Riau Kompleks

Minggu, 23 September 2018 - 19:52 wib

Pembakar Lahan TNTN Ditangkap

Minggu, 23 September 2018 - 19:48 wib

Kembalinya sang Primadona

Minggu, 23 September 2018 - 19:47 wib

Disdik Tempati Gedung Eks SMK Teknologi

Minggu, 23 September 2018 - 19:46 wib

Ditabrak Emak-Emak

Minggu, 23 September 2018 - 19:44 wib

Refresh di Waduk Hijau

Minggu, 23 September 2018 - 19:40 wib

Anggur Murah Laris Manis Terjual

Minggu, 23 September 2018 - 17:50 wib

Minta Jembatani GP Ansor-UAS

Follow Us