OLEH AL MAHFUD

Narasi dari Para Pejuang Literasi

14 November 2015 - 22.48 WIB > Dibaca 1961 kali | Komentar
 
Makna pahlawan kini menjadi luas. Sebab bangsa telah merdeka, kepahlawanan tak lagi tentang perjuangan dan pengorbanan melawan penjajahan. Sekarang, tiap Hari Pahlawan diperingati, setiap itu pula makna pahlawan semakin luas kita maknai.

Biasanya, momentum Hari Pahlawan dijadikan ajang mengingat dan menanamkan nilai-nilai perjuangan. Semangat perjuangan para pejuang bangsa ini diresapi dan diteladani. Orang-orang melakukannya dengan berbagai cara. Mulai dengan menonton film-film sejarah atau tokoh-tokoh pahlawan, sampai mencari sosok di lingkungan sekitar yang bisa dianggap sebagai pahlawan; orang tua, guru, pejabat inspiratif, sampai petugas kebersihan dan aktivis lingkungan.

Namun, ada satu ruang yang jarang terjamah dalam semarak Hari Pahlawan. Ruang yang tidak pupuler karena tak banyak diminati masyarakat. Ruang yang tidak banyak disorot mediaterutama televisi, karena memang tidak komersil. Padahal, di sana ada heroisme dan perjuangan penting di tengah masyarakat, yang pada gilirannya berpengaruh besar terhadap generasi muda bangsa. Mereka adalah para pejuang literasi yang tersebar di pelbagai pelosok negeri.

Kita masih ingat kisah tentang Ridwan Sururi. Seorang perawat kuda dari Desa Serang Karangreja Purbalingga Jawa Tengah. Ia menyulap kuda menjadi perpustakaan kelilling bernama Kuda Pustaka. Dua rak kayu yang penuh buku, diletakkan di punggung kuda. Setiap hari, ia bertandang ke sekolah-sekolah untuk menyediakan buku bacaan bagi anak-anak (SM,13/3).

Di Makassar ada Alimudin dan teman-temannya yang membuat Perahu Pustaka. Sebuah perahu yang memuat ribuan buku dan mengarungi pulau-pulau kecil di sekitar teluk Makassar untuk menyediakan akses bacaan bagi masyarakat, terutama anak-anak. Di Jombang, ada pemuda bernama Wahid yang berkeliling membawa buku bacaan dan mendirikan taman baca bagi anak-anak di lingkungan sekitarnya.

Di Sidoarjo, ada Muhammad Fauzi, seorang penjual jamu tradisional yang mengisi bak kayu di sepeda motornya selain dengan botol-botol jamu, juga dengan puluhan buku untuk disewakan gratis pada pelanggan jamunya. Lagi, di Ende, ada Hifni Jafar ketua rumah baca Rumah Kreatif Sahabat Nusantara (RKSN) yang mengkampanyekan literasi kepada anak-anak nelayan di  Dusun Tanjung, Ende, Nusa Tenggara Timur.

Tentu masih banyak deretan sosok inspiratif lainnya di berbagai daerah yang diam-diam bergerak membangun budaya membaca di masyarakat. Mereka melakukan aksi nyata dengan menyediakan akses bacaan lewat beragam bentuk. Kebanyakan, di berbagai wilayah di Tanah Air, muncul perpustakaan mandiri berbasis komunitas. Yayasan 1001 Buku, sebuah jaringan relawan pengelola taman bacaan anak, pada tahun 2015 telah mencatat ada lebih dari 350 rumah baca yang berada di bawah jaringannya (Republika,9/8). Hal ini menunjukkan bahwa ada banyak pejuang-pejuang literasi di berbagai daerah.

Mereka sadar, sulit meningkatkan budaya membaca di masyarakat jika sekadar mengandalkan pemerintah melalui perpustakaan-perpustakaan daerah. Berbagai program pemerintah untuk meningkatkan budaya baca juga tak akan efektif tanpa partisipasi dan peran aktif masyarakat. Dan kondisi masyarakat kita saat ini, kita tahu, memiliki budaya baca yang rendah. Keterbatasan akses terhadap buku menjadi faktor paling berpengaruh. Dari sini, muncul inisiatif dari para pejuang literasi untuk bergerak, tak sekadar mengeluh.

Pengorbanan

Yang harus kita disadari, para pejuang literasi di daerah-daerah kebanyakan bukan orang-orang yang hidup serba kecukupan, sehingga punya banyak waktu luang untuk memikirkan orang lain dengan melakukan aktifitas tersebut. Sebaliknya, mereka orang-orang biasa yang juga harus bekerja dan mengurus kehidupannya sendiri. Bahkan, kehidupan mereka cenderung dalam keterbatasan. Di titik inilah, spirit pengorbanan dan perjuangan itu nampak. Semangat kepahlawanan itu terlihat.

Apa yang dilakukan para pejuang literasi dengan berbagai bentuknya, entah dengan membuka perpustakaan atau rumah baca, atau berkeliling menyediakan akses bacaan pada masyarakat yang sulit menjangkau bacaan, merupakan wujud pengorbanan yang membuat mereka layak disebut pahlawan. Sebab, pada dasarnya pahlawan berarti orang yang rela berkorban tanpa pamrih demi kepentingan banyak orang. Dalam hal ini, para pejuang literasi mengorbankan tenaga, pikiran, dan waktunya untuk menumbuhkan budaya membaca di masyarakat, terutama anak-anak, yang pada gilirannya membawa manfaat secara luas.

Memang, perjuangan literasi bukan upaya yang bisa menampakkan hasil dalam sekejap. Manfaat membaca dan atau menulis baru benar-benar terasa seiring perkembangan seseorang dalam menggelutinya. Dalam arti, dibutuhkan konsistensi dan kesabaran sehingga kesadaran akan kebutuhan membaca itu tumbuh dalam diri seseorang. Jadi, meneguk lautan ilmu dalam lembaran buku-buku merupakan investasi pengetahuan yang sangat bermanfaat dan bukan pekerjaan yang sia-sia.

Kita tahu, tokoh-tokoh besar bangsa ini adalah orang-orang yang gila buku. Sebut saja misalnya Soekarno, Hatta, Syahrir, Mohammad Yamin, Tan Malaka, RA Kartini dll. Mereka adalah tokoh bangsa yang memiliki pemikiran dan gagasan besar karena keintiman mereka pada buku-buku, pada aktivitas literasi. Ini menggambarkan pentingnya budaya membaca bagi masyarakat sebuah bangsa, jika mengharapkan anak-anaknya tumbuh menjadi generasi yang memiliki gagasan-gagasan besar dan berguna bagi bangsanya.

Menyadari hal tersebut, kita semakin sadar bahwa apa yang dilakukan para pejuang literasi itu merupakan hal mulia. Di momen Hari Pahlawan ini, kita patut mengisahkan dan menyuarakan perjuangan mereka. Agar publik tahu dan tergerak mencontohnya. Paling tidak, dengan memulai dari diri kita sendiri.***






KOMENTAR
Esai Lainnya
Terbaru
Selasa, 18 September 2018 - 19:30 wib

Masyarakat Mesti Bijak Gunakan Medsos

Selasa, 18 September 2018 - 19:00 wib

Sosialisasi SPIP Capai Maturitas Level 3

Selasa, 18 September 2018 - 18:41 wib

Lima Keuntungan Menggunakan Aplikasi Kasir Online Kawn

Selasa, 18 September 2018 - 18:30 wib

8 Kecamatan Ikuti Iven Pacu Sampan

Selasa, 18 September 2018 - 18:00 wib

Komunitas Muda Madura Siap Menangkan Jokowi

Selasa, 18 September 2018 - 18:00 wib

Perusahaan Diminta Peduli

Selasa, 18 September 2018 - 17:30 wib

Rider Berbagai Provinsi Bakal Ramaikan Jakjar 5

Selasa, 18 September 2018 - 17:22 wib

AJI Pekanbaru Kirim Delegasi ke Festival Media 2018 di Pontianak

Follow Us