OLEH AGUS SRI DANARDANA

Nama Rupabumi

14 November 2015 - 23.27 WIB > Dibaca 2406 kali | Komentar
 
Sejak diundangkannya Peraturan Presiden Nomor 112 Tahun 2006 tentang Tim Nasional Pembakuan Nama Rupabumi, Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (bersama Departemen Dalam Negeri, Departemen Kelautan dan Perikanan, serta Jawatan Hidro Oseanografi TNI-AL), terus melakukan inventarisasi dan validasi nama-nama rupabumi. Inventarisasi dan validasi nama-nama rupabumi itu mencakupi bidang fonologi, etimologi, dan genealogi. Hasil inventarisasi dan validasi itu kemudian dibakukan dan terbitkan dalam bentuk buku yang disebut Gasetir Nasional.

Pembakuan nama rupabumi bertujuan untuk (1) mewujudkan tertib administrasi di bidang pembakuan nama rupabumi di Indonesia; (2) menjamin tertib administrasi wilayah dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI); (3) mewujudkan adanya gasetir nasional sehingga ada kesamaan mengenai nama rupabumi di Indonesia; dan (4) mewujudkan data dan informasi akurat mengenai nama rupabumi di seluruh wilayah NKRI, baik untuk kepentingan pembangunan nasional maupun internasional. Dengan demikian, pembakuan nama rupabumi perlu segera dilakukan karena banyak nama rupabumi yang ditulis secara berbeda-beda dan tidak mengikuti aturan. Di samping itu, belakangan ini marak bermunculan penamaan rupabumi yang menggunakan bahasa asing. Kenyataan itu, jika tidak segera ditangani, tentu akan dapat mengancam keberadaan bahasa Indonesia dan sekaligus dapat mereduksi budaya daerah (setempat).

Rupabumi dapat dibedakan dalam dua jenis: rupabumi alami dan rupabumi buatan (manusia). Dengan demikian, nama rupabumi alami diberikan pada unsur-unsur rupabumi seperti gunung, bukit, sungai, teluk, selat, pulau, laut, dan danau. Sementara itu, nama rupabumi buatan manusia diberikan pada unsur-unsur rupabumi seperti bandara, pelabuhan, bendungan, jalan raya, jalan tol, kawasan pemukiman, serta kawasan administrasi (provinsi, kabupaten, kecamatan, kota, desa), kawasan cagar alam, kawasan konservasi, dan taman nasional. Keduanya (baik nama rupabumi alami maupun nama rupabumi buatan manusia) terdiri atas dua bagian: nama generik dan nama spesifik.

Dalam Permendagri Nomor 39 Tahun 2008 tentang Pedoman Umum Pembakuan Nama Rupabumi, antara lain, disebutkan bahwa pembakuan nama rupabumi meliputi proses penetapan dan pengesahan nama, pengejaan, penulisan, dan pengucapan. Proses tersebut harus berdasarkan prinsip-prinsip (1) menggunakan abjad romawi; (2) satu unsur rupabumi satu nama; (3) menggunakan nama lokal; (4) berdasarkan peraturan perundang-undangan; (5) menghormati keberadaan suku, agama, ras dan golongan; (6) menghindari penggunaan nama diri atau nama orang yang masih hidup; (7) menggunakan bahasa lndonesia dan/atau bahasa daerah; dan (8) paling banyak tiga kata.

Atas dasar Permendagri itu, dapat diketahui bahwa pembakuan nama rupabumi ternyata bukan sekadar menetapkan dan mengesahkan nama, melainkan juga menetapkan dan mengesahkan (peng)ejaan, (pen)tulisan, dan (peng)ucapannya. Bahkan, nama pun ternyata tidak dapat diambil dari bahasa asing, tetapi harus dari bahasa Indonesia dan/atau daerah. Di samping itu, nama juga tidak boleh menyinggung SARA dan lebih dari tiga kata. Dengan demikian, pembakuan nama rupabumi tidak dapat dilakukan secara sembarangan.

Setidaknya ada dua kaidah bahasa yang dapat dijadikan pedoman pembakuan nama rupabumi, yakni kaidah tata tulis (ejaan) dan kaidah tata kata. Dalam bahasa Indonesia, kaidah tata tulis dapat mengacu pada Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD), sedangkan kaidah tata kata dapat mengacu pada Pedoman Pembentukan Istilah, Pedoman Pengindonesiaan Nama dan Kata Asing, dan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Keempat buku acuan, yang disusun oleh Badan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan itu, sudah diterbitkan dan dapat ditemukan dengan mudah di perpustakaan-perpustakaan atau di toko-toko buku.

Bagaimana cara menuliskan nama rupabumi? Hal itu telah diatur dalam EYD, Bagian II butir (A): Pemakaian Huruf Kapital atau Huruf Besar. Pada bagian itu, secara jelas, disebutkan bahwa huruf kapital (besar) dipakai sebagai huruf pertama nama geografi (rupabumi). Atas dasar itu, nama rupabumi alami (seperti nama-nama gunung, tanjung,  dan sungai) misalnya, harus ditulis dalam dua kata terpisah, masing-masing berawal dengan huruf kapital (besar). Contoh: Gunung Sitoli, Gunung Kerinci, dan Gunung Merapi; Tanjung Priok, Tanjung Perak, dan Tanjung Emas; serta Sungai Siak, Batang Cenaku, dan Sei Gergaji. Gunung, tanjung, dan sungai (batang, sei) merupakan nama generik rupabumi, sedangkan Sitoli, Kerinci, Merapi, Priok, Perak, Emas, Siak, Cenaku, dan Gergaji adalah nama spesifiknya.

Nama rupabumi alami, dalam kenyataannya, sering digunakan juga sebagai (bagian) nama rupabumi buatan. Dalam kasus ini, karena sudah menjadi (bagian) nama rupabumi buatan, nama rupabumi alami itu harus ditulis serangkai dalam satu kata. Contoh: Kota Gunungsitoli, Kota Tanjungpinang, Kota Bukittinggi, dan Kota Muarojambi; Pelabuhan Tanjungpriok, Pelabuhan Tanjungperak, dan Pelabuhan Tanjungemas; serta Kabupaten Kepulauan meranti dan Kecamatan Sungaiapit. Kota, pelabuhan, kabupaten, dan kecamatan adalah nama generik rupabumi (buatan), sedangkan Gunungsitoli, Tanjungpinang, Bukittinggi, Muarojambi, Tanjungpriok, Tanjungperak, Tanjungemas, Kepulauanmeranti, dan Sungaiapit adalah nama spesifiknya. Dengan kata lain, nama rupabumi yang digunakan sebagai nama spesifik oleh nama generik rupabumi lain harus ditulis serangkai dalam satu kata.***

Agus Sri Danardana, Kepala Balai Bahasa Provinsi Riau
KOMENTAR
Terbaru
Senin, 24 September 2018 - 17:04 wib

Komitmen Kampanye Damai

Senin, 24 September 2018 - 17:00 wib

Sungai Salak Juara MTQ Kecamatan Tempuling

Senin, 24 September 2018 - 16:43 wib

1 Dekade Eka Hospital Melayani Sepenuh Hati

Senin, 24 September 2018 - 16:30 wib

Warga Sungai Apit Pelatihan Olahan Nanas

Senin, 24 September 2018 - 16:08 wib

Cegah Kanker Rahim, Ketahui Resikonya

Senin, 24 September 2018 - 16:00 wib

Habib Salim Segaf Beri Tausiah di Masjid Islamic Center

Senin, 24 September 2018 - 15:37 wib

Prudential Bayar Klaim Rp98 Juta

Senin, 24 September 2018 - 15:30 wib

MTQ XLIII Bengkalis Resmi Dibuka

Follow Us