OLEH ILHAM FAUZI

Tarian Malam

14 November 2015 - 23.44 WIB > Dibaca 1771 kali | Komentar
 
Senja menyerah. Malam merekah. Orang-orang asing melepas lelah. Ulah dibuat terserah. Abai akan tingkah di rimba bertuah. Pohon dibabat sudah. Terpasang senyum culas di balik lidah. Sebuah seringaian menyembul liar. Api menyebar. Rimba terbakar. Asap menguar.

***

Aku tidak suka menari. Bagiku mengiringi bapak menari dengan menabuh bebano1 sudah cukup. Tapi bapak tidak ingin kemampuanku hanya sebatas menabuh bebano. Bapak menginginkan lebih. Ia ingin aku seperti dirinya kelak. Menjadi bomo2, menarikan tarian malam, lalu mulut melafazkan syair kuno yang tak kumengerti artinya.

Bapakku seorang bomo. Bapak yang menyembuhkan anggota suku yang terserang penyakit berat atau mencari jalan keluar dari bala yang datang tak diduga di suku kami, suku Sakai3. Penyembuhan tersebut dilakoni bapak melalui ritual tari olang-olang4. Bapak akan menari diiringi bunyi bebano yang tidak boleh berhenti sembari mulut bapak merapal syair-syair kuno. Setelah ritual pembukaan dianggap afdol, maka diri bapak akan kerasukan ruh soli5 dan dari ruh soli itu bapak mendapat petunjuk atas penyakit atau bala yang tengah dihadapi suku.

Ritual itu selalu dilakukan bapak di malam hari. Beberapa tahun belakangan ini akulah yang menemani bapak dalam proses pengobatan itu. Aku bertanggung jawab membunyikan bebano selama bapak menari olang-olang. Selama bapak melakukan tarian, aku tidak boleh sedikitpun menghentikan tabuhanku pada bebano. Dan bagiku, cukup peranku menabuh bebano saja. Tidak menari, tidak merapal mantra-mantra aneh yang tak kutahu dari mana bapak dapatkan itu. Karena kekerasan hati itu pulalah hingga sampai sekarang aku tetap tidak bisa menjiwai gerakan-gerakan tari olang-olang.

Dikau anak keturunan bomo. Tak boleh tidak untuk menolak. Tak boleh untuk tidak bisa. Sampai itu terjadi, tak akan selamat anak cucu kau sampai ke bawah.

Entahlah, aku berharap nanti pada suatu saat, malam memberiku keajaiban hingga dapat memenuhi apa yang bapak ingini. Menarikan tarian olang-olang, tarian malam.

***

Malam adalah penghidupan bagi bapak. Malam memberikan secercah harapan bahwa kami masih dapat terus hidup melalui nafkah yang diperoleh bapak sebagai seorang bomo. Di malam ketika bapak mendapat tugas untuk melakukan ritual, tiap itu pula tanganku semakin terlatih menabuh bebano. Mengiringi tarian olang-olang yang dibawakan bapak. Aku paham bahwa seorang penabuh bebano harus menanamkan beberapa hal di dalam hatinya. Dia harus menyatukan perasaannya dengan malam, menabuh bebano dengan segenap jiwa, dan yang terpenting harus kuat menahan godaan apapun agar tabuhan bebano tidak pernah berhenti sedikitpun. Namun untuk menari, sampai saat ini hatiku belum terbuka. Sehingga setiap aku lakukan, menari tidak menyatu bersama jiwaku.

Bapak akan memaksaku mengikuti latihan di malam hari ketika bapak luang dari pekerjaannya menari olang-olang. Aku kini tengah menginjak usia menjadi anak lelaki dewasa, anak kebanggaan bapak. Maka oleh sebab itu pula bapak merasa aku sudah saatnya mendalami ilmunya menjadi bomo. Tapi entahlah, bila tubuhku mengikuti gerakan yang dilakukan bapak, anggota tubuhku menolak. Dan malam ini, entah sudah malam keberapa aku mengikuti latihan bersama bapak. Tidak ada kemajuan yang terlihat pada diriku, dan aku yakin bapak pasti menyimpan kekecewaan. Aku mengikuti gerakan bapak yang bergerak perlahan-lahan, berjongkok, lalu berputar tanpa rasa, tanpa irama.

Bapak menatapku sesaat. Guratan yang sama ditunjukkannya ketika tidak puas melihat kemajuanku dalam menari. Mata bapak sesaat menengadah menatap langit. Aku memperhatikan apa yang tengah dilakukan bapak. Bapak kemudian berkeliling ke segala penjuru sambil memperhatikan alam. Aku merasakan desir angin yang bertiup agak kencang dan bau yang masih samar. Ikut kutengadahkan muka menghadap langit malam. Bintang-bintang tampak bertaburan. Diselingi purnama yang tengah bertamu. Langit malam sangat indah, begitu memukau. Aku yakin sekali bapak tengah membaca pesan alam dengan amat jelas. Sedangkan yang dapat aku lakukan hanya diam membisu sembari menenangkan pikiranku yang memberontak untuk tidak menari. Bapak mungkin sedang mencium sesuatu yang tidak baik. Tapi aku merasa lega saat ini. Lega karena pikiran bapak sedang terpecah sehingga tidak begitu memusatkan perhatiannya pada perkembangan tarianku yang tiada hasil.

Ada apa, Pak? tanyaku akhirnya tak bisa menahan kata. Bapak masih berdiri terpaku. Tidak menyahuti ucapanku.

Pak? ulangku lagi.

Ada tamu jauh pembawa bencana yang datang, ujar bapak lirih.

Aku tidak heran dengan kemampuan bapak membaca hal-hal yang tidak bisa terbaca dengan kasat mata. Namun kali ini tamu jauh pembawa bencana yang dikatakan bapak benar-benar membuatku heran. Selama ini kami Suku Sakai yang tinggal di pedalaman tidak pernah terusik bencana. Lalu bencana apa yang tengah dimaksud bapak.

Jika kita tidak hati-hati, kita akan kehilangan malam-malam yang indah seperti ini, ujar bapak seperti menahan sebuah kegetiran. Pandangan bapak terarah ke langit malam yang cerah.

Lekas lanjutkan latihan. Kau harus bisa sebelum segalanya terlambat! lanjut bapak yang membuat kelegaanku menghambur seketika. Ucapan bapak membuat darahku berdesir. Keherananku tidak terjawab, kekhawatiran mengelindap. Lalu tarian itu... entah kapan.

***

Aku tahu jawaban dari perkataan bapak di malam esoknya. Malam ini begitu aku selesai mengiringi bapak dengan tetabuhan bebano, aku membaui sesuatu yang sangit. Ia perlahan-lahan memasuki kampung kami, dan meninggalkan sebuah prahara. Kampung kami mulai diselimuti asap yang belum diketahui dari mana asalnya. Sambil mengemasi peralatanku, kulihat bapak sedang berbicara serius dengan datuk kepala suku dan lelaki seumuran bapak.

Kami sudah larut malam tiba di rumah. Mak menyambut kepulanganku dan bapak dengan rona muka yang murung. Meski begitu, di tangan mak telah sedia sebuah cangkir berisi air jahe hangat untuk disuguhkan kepada bapak.

Apa benar asap itu berasal dari rimba sebelah utara, Pak? tanya mak di sela-sela bapak menikmati minumannya.

Sepertinya begitu. Datuk kepala suku mendapat kabar bahwa ada orang-orang asing datang membawa alat-alat menebang pohon di hutan sebelah utara. Mereka membakar hutan setelah pohon-pohon itu mereka tebang. Bapak berbicara dengan suara lesu.

Apa orang-orang suku tidak ada yang ke sana dan memberi peringatan? tanya mak.

Sudah. Tapi begitu ke sana, mereka tidak ada lagi. Orang-orang suku hanya menemui lahan yang telah dimakan api. Bapak menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.

Kenapa orang itu melakukannya, Pak? tanyaku.

Bapak tidak menjawab. Matanya terpejam dan kepalanya terarah ke langit-langit rumah. Mak menyela.

Mereka hendak memberi bencana kepada kita. Mengambil alam yang telah kita pelihara untuk apa yang mereka ingini. Mak menahan emosi.

Jika tidak berhati-hati, asap ini akan segera menebar bencana, ujar bapak yang membuat tubuhku bergetar.

***

Perkataan bapak benar. Beberapa malam selanjutnya asap mengungkung langit. Makin hari makin tebal, makin pekat. Mataku sudah tak mampu lagi melihat langit malam. Pandangan telah tertutup kabut asap yang menutupi cakrawala. Aku mulai merasai kehilangan malam. Bintang-gemintang yang biasanya bertebaran menghiasi malam, kini enyah seperti ada yang menggusur. Siuran angin malam yang memberi kesejukan berubah menjadi tiupan pendatang malapetaka.

Kekhawatiran bapak terjadi. Orang-orang suku meminta bapak untuk menemukan penangkal bala yang menyelimuti kampung kami. Mau tidak mau, bisa tidak bisa, bapak menyanggupi. Seperti biasa aku bertugas mengiringi tarian bapak dengan tabuhan bebano. Aku menduga malam ini kabut asap telah berada di puncaknya. Bapak tampaknya juga menyadari hal itu. Beliau sebentar mendekatiku dan berbisik di telinga. Tanpa mempedulikan aku yang mengerti dengan maksud ucapan bapak, bapak segera memerintahkan untuk menabuh bebano. Bapak sudah bersiap dengan gerakan tarian olang-olang.

Maka asap semakin tuntas menyampaikan kesumatnya. Mataku mulai terganggu dengan sekawanan asap yang memasuki mata. Kerongkonganku terusik hingga membuatku terbatuk terus-menerus. Gerombolan asap itu seperti tengah berupaya bagaimana agar tabuhanku terhenti dan bapak gagal dengan ritual pengobatannya malam ini. Mereka menyerbuku semakin kuat, semakin garang. Sementara itu bapak telah hanyut dalam tarian olang-olang yang mulai membawa bapak ke alam petunjuk, alam roh soli.

Pikiranku benar-benar terpecah. Dalam pandanganku, yang terlihat bukan lagi bapak yang sedang menari olang-olang. Aku sedang melihat kobaran api yang membesar dan kini hendak memakan kampung kami. Aku melolong berupaya menghilangkan bayangan-bayangan aneh yang mengganggu. Akan tetapi tak jua kunjung sirna. Semua semakin dilengkapi dengan gumpalan asap yang semakin tebal, semakin pekat. Aku terperangkap, terjerat. Jari-jemariku masih mencoba terus bertahan memukuli bebano meski kekuatannya tak kuat seperti semula. Di tengah keadaan yang sekarat itu, aku teringat sesuatu yang dibisikkan bapak sebelum tadi bapak memulai ritual tari olang-olangnya.

Barangkali malam ini adalah tugas yang paling berat bagimu. Asap semakin tidak bisa dikendalikan dan bertambah ganas. Orang-orang suku kita bisa binasa jika ini tidak menemukan akhir. Kau harus tetap menabuh bebano walau apapun yang terjadi. Jika tabuhan kau terhenti, maka bapak selamanya akan berada di alam roh soli dan tak bisa lagi kembali. Bila itu memang benar-benar terjadi, kaulah yang selanjutnya harus menari. Menarilah, menarilah dengan hati, menarilah bersama malam, ucap bapak tegas dan memaksaku untuk memahami kata-katanya yang panjang.

Aku merasakan tubuhku semakin rebah dalam pangkuan malam. Samar-samar terlihat bulan yang semakin suram dan cahaya bintang yang memudar. Kabut datang laksana maut, badai tak kunjung surut.

Menarilah, menarilah dengan hati, menarilah bersama malam.

Bapak... Bapak...***

Asap, 2015

    Keterangan
1.    Bebano: Gendang yang digunakan untuk mengiringi ritual lisan seperti dalam ritual tari olang-olang di Suku Sakai.
2.    Bomo: Dukun, orang yang dipercaya memiliki kekuatan gaib dalam di Suku Sakai.
3.    Suku Sakai: Suku yang mendiami pedalaman daerah Siak dan Bengkalis Provinsi Riau. Suku Sakai meyakini bahwa orang yang dipercaya sebagai bomo mampu menemukan obat dari penyakit yang tidak biasa atau menemukan jalan keluar dari bala yang datang melalui ritual tarian olang-olang.
4.    Tari Olang-olang: Tarian magis yang dipercaya Suku Sakai untuk mengobati penyakit yang diderita anggota suku atau bala yang menimpa. Melalui tarian ini, bomo sebagai orang yang menari, akan dapat terhubung dengan roh leluhur untuk mendapatkan petunjuk mengenai petunjuk penyembuhan penyakit atau bala.

5.    Ruh Soli: Ruh orang mati yang memberi petunjuk pada bomo ketika melakukan ritual tari olang-olang.

Sumber literatur: "Tarian Pengobatan Orang Sakai" (Laporan Fedli Azis, Riau Pos 17 Juni 2012).

Ilham Fauzi, lahir pada 28 Desember 1992. Mahasiswa Pascasarjana FISIP Universitas Andalas. Menyelesaikan pendidikan sarjana di UIN SUSKA Riau. Pernah bergiat di FLP cabang Pekanbaru. Cerpen-cerpennya dimuat di Riau Pos dan masuk dalam 100 Tahun Cerpen Riau terbitas Dinas Budaya dan Pariwisata Provinsi Riau, 2014, dan termaktub juga dalam Hikayat Bunian (Kumpulan Cerpen Pilihan Riau Pos 2015). Saat ini sebagai Grand Finalis Unsa Ambassador 2016.

KOMENTAR
Terbaru
Rabu, 19 September 2018 - 16:45 wib

Bupati Buka MTQ Kecamatan Tempuling

Rabu, 19 September 2018 - 16:30 wib

Bupati: Kembalikan Kejayaan Pramuka Kampar

Rabu, 19 September 2018 - 16:00 wib

Riau Raih 3 Emas di Kejurnas Hapkido

Rabu, 19 September 2018 - 15:48 wib

BPJS Kesehatan Laporkan Pengkritik

Rabu, 19 September 2018 - 15:46 wib

Fahri: Jubir Jokowi Belum Ada yang Berkelas

Rabu, 19 September 2018 - 15:30 wib

Ginting Permalukan Lin Dan

Rabu, 19 September 2018 - 15:19 wib

Caleg Eks Napi Korupsi Tak Otomatis Lolos

Rabu, 19 September 2018 - 15:00 wib

SMA Cendana Pekanbaru Ingin Kembalikan Kejayaan

Follow Us