SAJAK

Sajak-sajak Hang Kafrawi

14 November 2015 - 23.55 WIB > Dibaca 1893 kali | Komentar
 
Puisi Atah Roy kepada
Leman Lengkung

Man, jangan pernah kau panjat pokok hari!
Jangan, aku tak ingin petir pecah ke telingamu
Siapa yang akan mendengar sumpah serapahku?
Kau pelita dalam gelap yang mengelayut di pundakku
 
Man, perahu yang kau tambat di pelabuhan itu, kini hampir tembuk dimakan gelombang
Cepat berlayar, jangan kau tunggu aku melempar sauh marahku
Tinggalkanlah segala dendammu di tebing yang semakin meranggas
Lawan itu arus, kau harus jadi lanun di hatimu sendiri
Punggah segala cahaya sebelum meredup
 
Man, jangan kau tatap mataku dengan air mata
Terbanglah dengan sayap api yang baru aku beli
Mahal harganya, tapi kerelaan adalah busur cinta
Aku tak akan pernah menyesal demi pengorbanan
 
Man, sungai tempat kau menyemai mimpi
Telah menyempit tersebab kita terlena
Musim bermusim seperti pisau mengiris pelipis
Kebutaan juga menutup mata kita
 
Man, kemarau ini tidak akan pernah berhenti
Tanah kita merekah
Aku ingin kau jadi hujan sekaligus badai
Agar mereka tahu, kau anak melayu




Puisi Leman Lengkung
Kepada Atah Roy


Tah, bulan yang atah rangkai di kening malam itu, kini cahayanya menipis
Awan tak bersahabat lagi, mereka terlalu liar menafsirkan kesetiaan
Aku terkenang Hang Tuah dipijak rayu, sehingga tak kuasa membentang bela
Darah melayu terlalu murah tertumpah pada tanah tak bermarwah

Tah, aku bimbang memeluk sejarah, tersebab hari ini orang-orang engan berkisah
Kita hanya menghidang kepasrahan dan ketakutan
Sementara setiap jengkal tubuh kita luka semakin menanah
Tak sempat nak berdiri di depan cermin durhaka

Tah, aku merindui Megat Srirama yang muntah darah melawan serakah
Aku juga terkenang Raja Haji yang mengokah keangkuhan dengan keberanian
Biarlah Patih Karmawijaya memainkan seruling bencinya
Dan kita menari sambil menggenggam kasih yang tak terlerai

Tah, adakah kesetiaan harus berkorban?
Sepeti Sultan Syarif Kasim menyerahkan tahtah?
Atau seperti Hang Tuah menghujamkan Tamingsari ke perut Hang Jebat?

Tah, aku tak ingin terkapar di bilik pasrah!


di negeri pasrah

rahim-rahim terbakar
berjuta nyawa dilepaskan
terbang ke udara
terbunuh keserakahan
angin tak bawa iba
pada diri terbalut sunyi

matahari tak menembus hati
terlalu panjang nafas disumbat
partikel-partikel tamak menghenyak
dilantak sesak
tak jua tersentak

berhektar-hektar pandang
dihalang kematian membentang
genderang perang berbunyi sumbang
tubuh-tubuh terlentang
tiada yang meradang

ini tanah tak mungkin disia-siakan
telah banyak kisah berdarah
tumpah mengalir dari ceruk angan
untuk berdiri dengan dada tak menyerah

denyut nadi api kini
menjadi malapetaka hari-hari sepi
tanpa mimpi tanpa jadi
hanya kematian yang menari

heeee... tubuh kita terkoyak
diam yang berserak
dipantak gertak
tak bergerak

menjulang marwah
gelembung pecah
sejarah bernanah
di negeri pasrah


celana di pintu wc

Jangan bertanya tentang negeri ini kepadaku
Sebab celana di pintu wc itu, telah lama tergantung tak bertuan
Setahun yang lalu, sang pemilik celana menghayal membangun istana
Memimpikan anak-anak memetik kedamaian di taman kasih sayang
Terbang dengan sayap senyum dan menyemai mimpi
Tapi badai menyapanya “kau terlalu ikhlas untuk berkhayal”
 
Celana di wc itu, telah lama kehilangan tuannya
Mengembara di bilik pembuangan ini, menyesatkannya tentang negeri
Satu per satu kepercayaan berjatuhan bersamaan kotorannya
Tiada yang tersisa, kecuali bau yang semakin menyengat penciuman
“Kau makan segala kotoran, kan menjadi kotoran juga”
 
Celana di pintu wc itu adalah bukti, kau kehilangan negeri
Kau juga kehilangan keberanian menatap kepura-puraan
Semua peristiwa menjadi pisau, menusuk naluri
Membenam hati ke ceruk sunyi


diam II

Tak ada yang terlewatkan
Segalanya tersapu gelisah
Hutan tak menadah rindu
Laut tak melayarkan kasih
Semuanya terasing dan menikam
 
Sendiri juga dia mengurai hati
Semakin dalam liang sunyi
Mengajaknya untuk sembunyi
Dia tak mau diselubung mimpi
Karena diam kekalahan yang paling mencekam
 
Pada lantangnya ombak
Dia layarkan mata
“Negeri ini terlalu suram untuk dicintai.”


Hang Kafrawi, lahir di Telukbelitung, 22 Maret 1974. Adalah ketua Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Lancang Kuning. Selain berpuisi, ia aktif berteater bersama kelompok Teater MATAN. Sejumlah buku sastra telah terbit. Bukunya yang baru terbit Ekonomi Kreatif Ala Atah Roy (2014). Penerima Anugerah Sagang 2014, sebagai seniman pilihan.


KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 13 November 2018 - 20:47 wib

Kasus Century, KPK Minta Keterangan Ketua OJK

Selasa, 13 November 2018 - 19:37 wib

Stan Lee Wafat, Para Superhero Berduka

Selasa, 13 November 2018 - 18:25 wib

KPK Dalami Motif Pertemuan James Riady dengan Neneng Hassanah

Selasa, 13 November 2018 - 18:23 wib

Polri Teliti Kemungkinan Hoaks by Design

Selasa, 13 November 2018 - 18:00 wib

Dianiaya, Warga Guntung Meregang Nyawa

Selasa, 13 November 2018 - 17:59 wib

PBL Riau Taja Rakor Renovasi Sarana Pendidikan Dasar dan Menengah serta Madrasah

Selasa, 13 November 2018 - 17:15 wib

Empat Desa di Pelalawan Banjir

Selasa, 13 November 2018 - 17:00 wib

Jalan Rusak Koto Gasib Berbahaya

Follow Us