SAJAK

Sajak-sajak Ramoun Apta

14 November 2015 - 23.59 WIB > Dibaca 1509 kali | Komentar
 
Gigi Macan Pengusir Hama

Untuk mengusir tikus-tikus liar
Yang kerap menghabisi batang padi sawah ini
Kau tanam gigi macan
Ke empat arah penjuru mata angin
Dan doa-doa mustajab
Dari pemantra di ujung kampung.

Kau bilang sinar matahari
Bakal membasuh permukaannya
Dengan panas semesta
Dan cahaya yang terpantul kelak
Membakar tubuh tikus-tikus itu.

Tapi tak kau lihat wujudnya
Saat dipetik dari tampuk geraman.

Gigi macan ini
Putihnya susu sapi,
Pangkalnya berpori-pori,
Sedang ujungnya tunggul terbakar
Retak arang dan cangkang umang-umang
Mengurung panas dalam garisnya.

Tak kau lapisi ia
Dengan getah rengas yang diaduk
Dengan remah roti

Sebagai penggertak tulang belakang
Saat bulu hidung mereka turun menghidu.


Gigi Ginsul Itu, Cintaku

Gigi ginsul itu, cintaku
Di antara baris-baris gigi susumu
Seperti anak gardamungu
Menunggu kedatangan pagi

Dan orang-orang yang berkerumun
Menyaksikan embun lepas dari tampuknya.

Padanya dititipkan
Doa-doa si pengunyah sayur
Agar pada suatu musim subur
Setumpuk daging mengurai serat
Tatkala berlalu di matanya
Seperti bilah-bilah rotan yang berurai.

Pun padanya rembulan hitam
Turun dari bibir si buruk rupa
Berharap cahaya.

Ia yang ingin
Agar pada suatu malam gerimis
Ketika mata bintang terkatup disergah petir
Kelak memancarkan warna putih langit
Sebagai ganti gincu pemanis bibir
Sebelum para bujang
Datang bertandang.

Dan padanya ari-ari telur mata sapi
Menumpang darah
Setelah cangkang dipecahkan.
Ia ingin darah yang pernah akrab itu
Kelak mengucur
Dari leher
Tuan si pemenggal.

Tapi ia yang muncul di bibirmu, cintaku,
Tumbuh, juling
Membobol kawat gusi
Bagai tulang sisip yang menyelinap di punggung.

Lepaskan ia, cintaku,
Bawalah ke tukang gigi,

Sebelum serat tebu datang,
Sebelum pucuk ubi bertandang,
Sebelum matanya menjadi tombak.

Di luar, musim dingin singgah di bibirku.


Enau Memanjat Sigai

Akulah enau
Yang memanjat sigai
Sebab daun terlampau turun
Menjujut rengkah urat dan buah busuk.

Dulu kulindungi jenjang
Yang menjalar di batang tubuh
Serupa getah melindungi dahan
Di saat tuan penakik usai menyadap.

Malam hari kupetik embun
Dari kelelawar buta
Yang berkira beluluk di tampuk
Jambu biji setengah jadi.

Sekedar untuk memburaikan ijuk
Di pangkal agar esok sedia dipilih
Dan dipangkas tuan jadi sapu
Dan atap rumah gadang.

Seperti cacing tanah
Yang membantu menutrisi tanah.

Kini akulah enau
Yang memanjat sigai.

Tumbuhku sekedar untuk
Menumbangkan pagar sendiri.
Sebab aku teramat sansai
Menyandang batang tubuh.

Tubuh yang terlampau duri
Bagiku bertumpu.

Setelah kudengar Datuk Penghulu
Menyunting calon biniku.


Mahasiswa Berbulu Domba

Seorang mahasiswa
Menuruni tangga koridor kampus ini

Di ketiaknya Mao, Albert Camus, Marx
Dan Hegel sedikit memudar

Di dadanya
Sekuntum mawar seperti menemu malam hari.

Tak ada yang tahu persis apa yang hendak dilakukan mahasiswa itu.
Tak ada padang rumput, atau bebulu unggas yang bakal mengarahkannya

Ke jurang. Sebab di musim kemarau yang baru
Pohon-pohon tunai ranggas, dahan-dahan mutus cabang

Tinggallah kini ia akar menjuntai
Seperti sejinjit petai di bibir pedagang yang mahir bersilat lidah.

Meski kerap kali ia mengintai di balik batang,
Bayangnya tumbang saat tersapu debu dan tanah.

Sebab dari perut tanah ia bermula
Dan ke sanalah ia kelak kembali.

Dan rumah paling aman bagi setiap serigala di belantara ini
Adalah kampus. Dan di kampus ini,

Sajak yang berisi cuka dan nganga luka
Adalah lagu sehari-hari, seperti soto mie di sudu seorang gipsi.

Sebab segala yang ada di sini sedia malih rupa dari ubi jadi rumpun seledri
Apalagi bila dibisikkan pada mereka sebutir telur setengah matang.

Maka, saat mahasiswa itu berkirab ke balik pagar besi
Jangan heran

Bila harimau-harimau di sini hanya berpikir tentang segelas kopi
Dan skripsi masing-masing.



Ramoun Apta, lahir di Muara Bungo, Jambi, 26 Oktober 1991. Alumni Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas, Padang. Bergiat di LPK (Labor Penulisan Kreatif). Menulis puisi dan cerpen di berbagai media massa, seperti koran Kompas, Koran Tempo, Sinar Harapan, Padang Ekspres, Singgalang, Riau Pos, Haluan, Jambi Independent dan sebagainya. Sejumlah puisi juga tergabung dalam sejumlah antologi bersama. Pernah diundang dalam acara PPN V di Jambi, sebagai pembaca puisi di Padang Literary Biennale 2012 dan 2014, temu sastrawan muda ASAS UPI Bandung, serta meraih anugerah Penyair Nasional dari FIB Unand.
KOMENTAR
Terbaru
Minggu, 23 September 2018 - 19:53 wib

Ratusan Mahasiswa Belajar Persatuan dan Kesatuan di Riau Kompleks

Minggu, 23 September 2018 - 19:52 wib

Pembakar Lahan TNTN Ditangkap

Minggu, 23 September 2018 - 19:48 wib

Kembalinya sang Primadona

Minggu, 23 September 2018 - 19:47 wib

Disdik Tempati Gedung Eks SMK Teknologi

Minggu, 23 September 2018 - 19:46 wib

Ditabrak Emak-Emak

Minggu, 23 September 2018 - 19:44 wib

Refresh di Waduk Hijau

Minggu, 23 September 2018 - 19:40 wib

Anggur Murah Laris Manis Terjual

Minggu, 23 September 2018 - 17:50 wib

Minta Jembatani GP Ansor-UAS

Follow Us