OLEH AGUS SRI DANARDANA

Nama Rupabumi (2)

22 November 2015 - 00.52 WIB > Dibaca 1637 kali | Komentar
 

Pada “Nama Rupabumi (1)”, A­had lalu, telah disampaikan bahwa nama rupabumi yang digunakan sebagai nama spesifik rupabumi lain harus ditulis serangkai dalam satu kata. Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana penulisan nama spesifik rupabumi yang terdiri atas tiga, empat, atau lima kata?

Nama spesifik rupabumi yang terdiri atas dua/tiga kata ditulis serangkai (seperti Airmolek, Li­patkain, Kualakampar, Te­luk­kuan­tan, Kebunpulaupondok, Ku­ala­patahparang, Kua­la­su­ngaibatang, dan Muarabatangangkola), se­dang­kan yang terdiri atas lebih dari tiga kata ditulis dalam dua kelompok kata: dua/tiga kata pertama ditulis serangkai, satu/dua kata berikutnya ditulis terpisah (seperti Bukitsari Intanjaya, Purbasinomba Man­dalasena, Dalihannatolu Hutaraja, Duokalisabaleh Anamlingkung, dan Tigobalehkoto Kampar).

Contoh di atas sekaligus mem­perlihatkan bahwa nama rupabumi juga harus ditulis dengan huruf (tidak dengan angka, kecuali menunjukkan urutan), seperti Duokalisabaleh Anamlingkung (bukan 2x11 VI Ling­kung), Simpangtiga (bukan Simpang 3), Limapuluhkoto (bukan 50 Koto), Tigobalehkoto Kampar (bukan XIII Koto Kampar), dan Ampek­ko­to­setingkai (bukan IV Koto Setingkai).

Penulisan (penyerangkaian) na­ma rupabumi seperti itu tidak hanya bermanfaat untuk mem­bedakan rupabumi alami dan rupabumi bu­atan, tetapi juga untuk me­neguhkan salah satu prinsip pembakuan nama rupabumi yang telah ditetapkan: paling banyak tiga kata. Di Kota Pe­kanbaru, misalnya, terdapat Ke­lurahan Tebingtinggi Okura, Ke­lurahan Labuhbaru Barat, dan Ke­lurahan Labuhbaru Timur. Andai Tebingtinggi dan Labuhbaru tidak diserangkaikan dalam satu kata, nama-nama kelurahan itu pasti akan lebih dari tiga kata. Artinya, penulisan Kelurahan Tebing Tinggi Okura, Kelurahan Labuh Baru Barat, dan Kelurahan Labuh Baru Timur ber­tentangan dengan salah satu prinsip pembakuan nama rupabumi yang telah ditetapkan karena terdiri atas empat kata.

Masalah urgen lainnya adalah penamaan rupabumi yang meng­gunakan unsur serapan, baik yang berasal dari bahasa daerah maupun yang berasal dari bahasa asing. Na­ma-nama seperti Lhokseumawe dan Lhokkrue diserap menjadi Lok­su­mawe dan Lokrue. Sementara itu, nama-nama yang berasal dari ba­hasa asing disesuaikan dengan ejaan bahasa Indonesia, seperti Marocco, China, Columbia, Croatia, Cuba, Mexico, dan Switzerland disesuaikan ejaannya menjadi Maroko, Cina, Kolumbia,  Kroasia, Kuba, Meksiko, dan Swis. Hal itu berarti bahwa penyesuaian ejaan itu perlu di­la­kukan. Meskipun demikian, nama-nama yang yang memperlihatkan keinternasionalannya dapat saja ditulis sesuai dengan ejaan aslinya, seperti New York, Quinsland, New Mexico, dan Manchester.

Cara lain yang dapat dilakukan adalah melalui penerjemahan, baik berupa penerjemahan sebagian maupun penerjemahan se­pe­nuh­nya. Penerjemahan dilakukan apa­bila nama asli rupabumi me­rupakan eksonim dan arah mata angin, se­perti ocean, island, mount(ain), river, north, dan south diterjemahkan menjadi samudra, pulau, gunung, sungai, utara, dan selatan. Nama rupabumi Afrika Selatan, Selandia Baru, Irlandia Utara, dan Tanjung Verde, mialnya, adalah contoh hasil penerjemahan sebagian dari South Africa, New Zeland, Northern Ireland, dan Cape Verde. Sementara itu, Laut Merah, Pantai Gading, Pulau Utara, dan Pulau Selatan merupakan con­toh penerjemahan penuh dari Red Sea, Ivory Coast, North Island, dan South Island. Nama rupabumi yang tidak berbeda dengan sistem fo­nologi bahasa Indonesia dan/atau ka­rena pertimbangan keinter­na­sionalannya, seperti Los Angeles, Johnston, dan Saint George, di­per­tahankan keasliannya. Di samping itu, penerjemahan juga tidak boleh mengabaikan struktur. Karena ke­lompok kata dalam bahasa Indonesia berstruktur DM, jika nama ru­pabumi dalam bahasa tertentu ber­struktur MD (misalnya Kingdom of Saudi Arabia), terjemahannya di­sesuaikan dengan struktur DM (men­jadi Kerajaan Arab Saudi, bukan Kerajaan Saudi Arabia).

Atas dasar itu, penamaan ru­pabumi berstruktur MD dan be­runsur asing, seperti  Perkasa Alam Sport Hall, Panam Square, Pepito Restaurant, Eka Hospital, Ami Raya Residence, Marcopolo Hotel, Prigel Salon, Kartini Mall, Jakarta Convention Centre, Atrium Shopping Centre, dan Wijaya Centre harus diubah, misalnya, menjadi Gelanggang Olahraga Perkasa Alam, Plaza Panam, Restoran Pepito, Rumah Sakit Eka, Permukiman Ami Raya, Hotel Marcopolo, Salon Prigel, Mal Kartini, Balai Pertemuan Jakarta, Pusat Belanja Atrium, dan Pusat (Usaha) Wijaya.

Bagaimana dengan unsur (ba­hasa) daerah? Nama rupabumi ber­bahasa daerah tidak perlu diter­jemahkan. Di samping sering tidak bersesuaian maknanya, pe­ner­je­mahan juga  dapat menghilangkan kekhasan suatu daerah. Kata koto (yang diindonesiakan menjadi kota itu), misalnya, ternyata tidak sama artinya dengan pengertian kota sekarang ini. Oleh karena itu, nama-nama rupabumi khas daerah, seperti Muaro, Biaro, dan Simpangampek (di Sumatra Barat); Anyer, Pa­ku­lonan, dan Kebonpete (di Banten); Mulyoagung dan Balerejo (di Jawa Timur); serta Dusuntua, Kam­pung­baru, dan Empangpandan (di Riau) tidak perlu diindonesikan menjadi Muara, Biara, Simpangempat, A­nyar, Pe(r)kulonan, Kebunpetai, Muliaagung, Balaireja, Desatua, Desabaru, dan Paritpandan.

Begitulah, dalam upaya pe­nye­ragaman nama-nama rupabumi, ada tiga hal yang perlu diper­tim­bangkan: (1) pemanfaatan kata u­mum bahasa Indonesia dan/atau daerah; (2) penerjemahan nama asing; serta (3) penulisannya. Artinya, na­ma-nama rupabumi sedapat mungkin diambil dari bahasa Indonesia dan/atau daerah. Jika tidak memungkinkan, barulah di­ca­rikan dalam bahasa asing me­lalui pemadanan dengan cara pe­nye­rapan, penerjemahan, atau ga­bungan penerjemahan dan pe­nyerapan, seperti supermarket menjadi pasar swalayan, skyscrape menjadi pencakar langit (menara), department store menjadi toko serba ada (toserba, pasaraya), photocopy menjadi fotokopi, villa menjadi vila, dan bungalow men­jadi bungalow.***

AGUS SRI DANARDANA, Kepala Balai Bahasa Provinsi Riau


 

 

 

 

 

KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 13 November 2018 - 18:25 wib

KPK Dalami Motif Pertemuan James Riady dengan Neneng Hassanah

Selasa, 13 November 2018 - 18:23 wib

Polri Teliti Kemungkinan Hoaks by Design

Selasa, 13 November 2018 - 18:00 wib

Dianiaya, Warga Guntung Meregang Nyawa

Selasa, 13 November 2018 - 17:59 wib

PBL Riau Taja Rakor Renovasi Sarana Pendidikan Dasar dan Menengah serta Madrasah

Selasa, 13 November 2018 - 17:15 wib

Empat Desa di Pelalawan Banjir

Selasa, 13 November 2018 - 17:00 wib

Jalan Rusak Koto Gasib Berbahaya

Selasa, 13 November 2018 - 16:56 wib

Terkait Kasus Century, Miranda Diperiksa KPK

Selasa, 13 November 2018 - 16:45 wib

Momen Tingkatkan Pelayanan Kesehatan Masyarakat

Follow Us