SAJAK

Sajak-sajak Esha Tegar Putra

22 November 2015 - 01.13 WIB > Dibaca 1479 kali | Komentar
 
Surat untuk Rusli

Telah aku tabur garam ke dalam telaga itu, Rusli
sebab dengan itu aku tahu laut tidak akan menjadi
angin membikin riak bukanlah gelombang susut
kesia-siaan tidak akan menjadi pintu bagi maut.

Maka pada rumah-rumah dengan tiang tembaga
aku sangkutkan potret tentang ngarai dan lembah
kutulis sajak tentang dusun jauh dari kata curiga
aku baca terus sebelum tidur buat pengusir tulah.

Aku cintai gerak ombak itu
suara parkit pada pagi
gemerincing genta kuda adalah sihir penahan pergi.

Di udara laut itu pula dulu aku pernah merasa hilang
dalam lagu-lagu haru dan dalam sajak tiada terbilang
pada peningkahan lagu rantau akhirnya aku berpaling
kubiarkan kota seasam limau ini bikin tubuhku asing.

Tapi tidak dengan sajakku tidak dengan isi dadaku
tidak kuserah pada jalan nasib serupa benang kusut
bahasa yang sekian lama tumbuh daripeluh kudukku
telah kuhisap dan terperam dalam di pangkal perut.

Aku cintai gerak ombak itu
suara parkit pada pagi
gemerincing genta kuda adalah sihir penahan pergi.

Jakarta, 2015



Seperti Kancing Kemeja Putus

Seperti kancing kemeja putus
di Ciumbuleuit
angin dari gunung menembus pusarku
semalaman bersembunyi
dalam lambungku.

Pagar batu tinggi berjaga
kerakap menjalar
kerakap berjuntai
rumah-rumah kosong menghadap lembah
kesepian itu memang tipis dan dingin
sedingin ingatanmu akan lompatan pada trampolin
pada mainan kayu, kaleng roti dipukul batu, buku
gambar yang terus kau sobek sebelum dicoret.

Seperti kancing kemeja putus
di Ciumbuleuit
jarum jamberputar serasa memukul-mukul kepala
lantas kukatakan padamu:
“Pandanglah lampu merendah itu, anakku
dalam kabut. Jangkaulah
seperti kau jangkau puting susu bundamu
ketika kantuk berat melanda”

Kota ini seperti gadis usia belasan
tidur mendengkur
esok akan terbangun dengan muka sirah
lalu merasa ada sepiamerundungtiada tara.
Begitulah, berulang setiap hari
kota ini akan tidur mendengkur
dan bangun dalam suasana sama.

Kau terjaga, aku menjaga
terus kita pandangi lampu merendah
kabut serta udara tipis
seperti selimut malam terjuntai dari tempat tidur.

Dan angin dari gunung
terus menembus pusarku
dan masa lalu akan terus dikunyah pangkal gerahamku.

Jakarta, 2015



Teratak
untuk Riki Dhamparan Putra


Teratak lapang itu terus membentang
dalam tidur
dalam jagaku
dan aku akan pulang ke hadapan ibu
bersangai dekat tungku kayu
membakar jerami terungguk
dengan kaleng susu isi kerikil mengusir burung-burung
menapak humus dari jatuhan daun kopi
dan menghirup sejadi-jadinya bau tanah ladang.

Aku akan pulang,
sebab pulang adalah ujung jalan para tualang.

Tapi mereka bilang, aku orang usiran
dengan rabu dipenuhi lubang jarumdari angin laut
murtad pada teratak
mencari pandir dalam sebaris sajak
ke pulau-pulau jauh, ke pulau-pulau tidak tersentuh.

Daratan telah melepas
pesisir telah membuang
pada apa lagi musti berpegang?

Teratak lapang itu terus membentang
dalam tidur
dalam jagaku
dan aku akan pulang seperti para tualang pulang
ke hadapan ibu berdada lapang
di mana dendang haru-biru sendiri ia pendam
sendiri ia redam, ia beri garam, ia beri asam.

Meski dengan sajak sebaris
akan kutunggangi gerak gelombang
menghadapi selat menghadapi teluk
menghadapi muara menghadapi samudera
menghadapi segala makhluk tidak berbentuk.

Jakarta, 2015


Hutan Depok


Pada senja aku pulang seorang
sederet pohon-pohon gadang
tempua menggantungkan sarang.

Dan orang terus lewat, dan orang menahan syahwat
aku lihat kereta itu berhenti lantas lewat
di dalamnya nasib dianyam serupa pandan kering
nasib bermigrasi dari satu stasiun ke stasiun lain
dan orang lewat, dan orang syahwat
ini penghujung bulan
dimana hujan akan curah dan kota tertebas dari gerah
jalan-jalan akan tergenang
kau akan kukenang

Serupa dulu
masih serupa itu
ketika anyelir kembang serupa tunik
dan kerakap belum ingin menjalar
rumah dengan pagar kosong
udara lewat begitu saja tak tersangkut pada apa-apa
sementara lagu itu berseru dari ruang tamu.

Jan ditabang batang baringin
baringin banyak nan sati, sayang
karano pitih kami tak ingin
budi nan baiak mamikek hati*

“Gumarang, Orkes Gumarang...” kuulang gairahmu.

Dan pada senja aku pulang seorang
sederet pohon-pohon gadang
kapas berhamburan sebab retak pada cangkang.

Dan orang terus lewat, dan orang  menahan syahwat
kumasuki pintu kereta yang membuka
seperti dulu kumasuki tubuhmu
sebelum jauh ke hutan ini aku menuju.

Jakarta, 2015

*) Petikan lagu “Pamenan Hati”, Orkes Gumarang (1971).


Patung Itu Rebah Kuda

Patung itu rebah kuda
ketika malam hanya remang
tak bertabur bintang
dari rumah kaca dari tiang penjaga
udara dengan mantel sulfur
dibebaskan angin November
sebuah stadion, kukira telah ditinggalkan
tapi terompet bersahutan
dipertautkan aku pada liang keriangan.

Aku lihat patung itu rebah kuda
sebuah malam menyelamatkan diri dari
tembakan laser
membiarkan harum getah kina membebaskan malaria
dengan lembut mempersilahkan agar parit-parit digali
sebab November mengerti ada gambut memendam api
ada kangen tak terperi
dan yang rebah akan rebah
yang tegak akan belajar bergerak
menghadapi pertikaian semalam suntuk.

Telah diasah paruh-paruh burung
musim mengekalkan rumah dari rumput basah
dikeraskan cangkang siput dan dilicinkan tempat meluncur
tapi pada liang keriangan mana kini aku berada?

Kutanggalkan baju longgar
Kubebaskan tumit dari kasut sobek
dengan mata sirah dan radang hidung kuhadapi gerak udara
tapi liang keriangan ini serasa sisa sebuah mala.

Jakarta, 2015


Esha Tegar Putra, kelahiran Solok, Sumatera Barat, 29 April 1985. Buku puisi terbarunya Dalam Lipatan Kain (2015). Kini kuliah pascasarjana di Departemen Susastra Universitas Indonesia.


KOMENTAR
Terbaru
Minggu, 18 November 2018 - 06:45 wib

Bela SBY, Ruhut Sebut Prabowo Seperti Beruang Madu

Minggu, 18 November 2018 - 06:03 wib

PBNU Tak Sependapat dengan PSI Soal Perda Syariah dan Injil

Minggu, 18 November 2018 - 05:34 wib

Ketua PGI Tanggapi Positif Kritik Grace

Minggu, 18 November 2018 - 05:11 wib

Grace Harus Uraikan Maksud Perda Syariah

Minggu, 18 November 2018 - 04:36 wib

Kata Jokowi Monumen Kapsul Menyimpan Idealisme Seperti Avengers

Minggu, 18 November 2018 - 03:59 wib

Alasan Jerinx SID Tak Mau Temui Via Vallen

Minggu, 18 November 2018 - 02:50 wib

Wow, A Man Called Ahok Tembus 1 Juta Penonton

Minggu, 18 November 2018 - 02:15 wib

Pembagian Sertifikat Tanah Harus Ada Tindak Lanjut Pemerintah

Follow Us