SAJAK

Sajak-sajak Julisman

22 November 2015 - 01.20 WIB > Dibaca 1569 kali | Komentar
 
Kesunyian Buku

Di sudut ruangan
buku itu masih kau pegang
buku lain tak beraturan
sambil duduk di kursi goyang
lembar demi lembar kau tatap
tak tamat-tamat

Cicak di dinding berkeliaran
mencuri perhatian
buku-buku yang lain
menunggu antrian
untuk sampai ke tangan

Dengan wajah kusam
di bawah cahaya yang hampir padam
kau pandangi buku yang telah buram
terlena dengan sepi malam

Ruangan itu tak begitu besar
buku tersebar di ruangan
sunyi tiada teman

2015



Menyapa Malam

Aku selalu menyapa malam
ketika lampu-lampu di kamarmu telah padam

Kau tak pernah singgah menyapa malamku
walau lampu-lampu kubiarkan  
diiringi sinar bulan
gelap tak ingin pergi sebelum waktu

Ingin rasanya kudatang
membawa sekeping bintang
meletakkannya dalam mimpi
pada awal memulai hari
sebelum kau membuka mata dan hati
saat suara jangrik masih terdengar
saat detak jarum jam masih berputar
saat mimpimu belum pudar

Aku akan selalu menyapa malam
ketika lampu-lampu di kamarmu telah padam

Ditemani angin
dingin
menembus kulit

2015



Kau Tak Pernah Jauh  dari Ruang Sempit


Lihatlah dirimu
pukul dua dini hari
belum juga memejamkan mata

Di antara pagar gigimu
aku melihat
pangkal lidahmu
saat akan mengeluarkan suara
sebelum terdengar
memancar ke luar

Kau tak pernah jauh
dari ruang sempit itu
dalam jarak tiga meter
aku selalu menemukanmu
tanpa kata-kata

Ku tahu
kau hanya menjulurkan lidah
mengeluarkan kata pilu

Kau dekatkan mulutmu ke telingaku
dan berkata, “Aku mencintai kakakmu”.

2015



Aku ingin Bermain Warna

Inikah pelangi
dengan berbagai garis melingkar
terlihat setelah hujan reda
yang sering kau sebut

Berbeda warna terukir
bersaing dengan warna awan pekat

Sementara kau lupakan
warna-warna di sekitarmu
dan ingin menjadi warna sendiri
“Aku ingin bermain warna,” katamu

2015


Tetap Berpura-pura

Berdebar detak jantungku
mengalir sampai ke kepala
saat memandangmu
tak seperti biasa

Lalu menyapamu
kau menyela
menjadi merdu
seperti tak pernah jumpa

Kita sering bertemu
kau amnesia
tetap bertahan
dibalik kepura-puraan

Aku sebut namamu
kau tak mendengar
mencari bayangan
di depan cermin

2015


Julisman, dilahirkan di Pekanbaru, 15 Juli 1985. Alumnus Universitas Islam Riau dan pengelola Tabloid Aklamasi. Menyukai dan membaca buku-buku sastra sejak kuliah, dengan terus belajar menulis puisi, cerpen. Kini bergabung dengan komunitas Rumahkayu Pekanbaru.




KOMENTAR
Terbaru
Kamis, 20 September 2018 - 19:00 wib

Olahraga Bangun Peradaban Positif

Kamis, 20 September 2018 - 18:43 wib

TGB Blak-blakan Bicara Tudingan Gratifikasi

Kamis, 20 September 2018 - 18:38 wib

AS Potong Bantuan Dana bagi Palestina

Kamis, 20 September 2018 - 18:30 wib

Polres Gelar Apel Pasukan Operasi Mantap Brata

Kamis, 20 September 2018 - 18:24 wib

Ketua Ombudsman RI Gelar Kuliah Umum di Unri

Kamis, 20 September 2018 - 18:00 wib

Sah, BPI Kerjasama dengan Negeri Istana

Kamis, 20 September 2018 - 17:39 wib

Dimsum, Chinese Food Yg Menggugah Selera

Kamis, 20 September 2018 - 17:37 wib

Ancaman Serius Plastik Mikro

Follow Us