Tanda

22 November 2015 - 10.25 WIB > Dibaca 2850 kali | Komentar
 
Tanda
KUNNI MASROHANTI
TIGA hari lagi, tepatnya Rabu 25 November 2015, Bangsa Indonesia memperingati hari guru ke-70. Usia yang sangat matang. Sudah pasti di usianya itu, kehidupan para guru lebih baik dari awal terbentuknya hari guru, yakni 25 November 1945. Pekik ‘merdeka’ menjadi semangat ketika itu; merdeka dari pendindasan penjajah perang dan merdeka supaya bisa belajar dan mengajar dengan tenang.

Semboyan pahlawan tanpa tanda jasa melaung ketika itu. Sebab, guru yang mengajar bukan hanya orang-orang yang berprofesi guru seperti saat ini, tapi masyarakat, kepala desa, kepala suku, kepala sekolah dan pemilik sekolah. Semuanya menjadi guru. Semuanya mengajar anak-anak agar bisa membaca dan menulis. Merdekalah mereka dengan menjadi pahlawan tanpa tanda jasa.

Tanda itu, terus diperbincangkan. Tanpa tanda jasa. Berjasa tanpa tanda. Kalimat yang selalu melekat di ingatan. Guru tanpa tanda jasa, benar sepanjang masa. Tapi zaman terus berubah. Kian maju dan berbenah. Pekik ‘merdeka’ tetap terdengar, tapi tidaklah sama pekik ‘merdeka’ ketika itu. Sebab tak ada lagi penjajah perang yang mengganggu proses belajar mengajar menjadi tidak tenang.
Pertanyaannya, apakah guru belum merdeka? Jawabnya: bla, bla bla. Sebuah pertanda belum merdeka. Padahal sudah 70 tahun sejak saat itu. Masih adakah anak-anak yang tidak sekolah? Jawabnya: ada. Masih adakah guru yang tidak bergaji? Jwabnya: ada. Masih adakah guru yang tidak menuntut hak-haknya? Jawabnya juga ada.

Sudah 70 tahun sejak saat itu. Tapi, di berbagai daerah masih banyak guru mengajar dengan sukarela. Tanpa gaji, bahkan mengeluarkan uang untuk biaya sendiri agar bisa bertemu dengan anak-anak didiknya. Agar bisa melihat anak-anak di daerah pedalaman juga bisa membaca dan menulis. Bukan hanya bekerja di bangsal arang atau berburu di hutan terlarang.
Tak peduli musim. Panas, keringatlah yang diperas sebelum sampai di kelas atau ketika mengeja huruf dan angka di depan kelas. Hujan, basahlah yang diperas agar baju mengering sebelum naik ke ruang belajar agar badan tak lebih dingin. Tak ada yang diinginkan kecuali dikenang sepanjang zaman dengan jasa tanpa tanda.

Adalah Ani, ibu muda yang sedang hamil tua. Guru honor di SD Negeri 21 Desa Bandar Jaya, Kecamatan Siak Kecil Kabupaten Bengkalis. Sungguh ia menjadi pertanda: gigih, tunak, tak mengenal lelah. Selalu hadir di sekolah. Padahal, ia harus menyeberangi sungai, berjalan kaki 5 kilometer, berdebu saat panas dan berlumpur saat hujan. Pernah juga tidak sampai ke sekolah karena terkurung lumpur.
Beruntung ada teman seprofesinya yang sama-sama mengajar di sana dan memiliki sepedamotor. Kepada temannya itulah ia menumpang. Setiap pagi dan siang. Jalan berbelok dan berlubang, membuat tubuhnya terguncang kencang. Beruntung janin yang dikandungnya kuat. Ia pun selamat dengan segala keadaan hingga melahirkan.

Bertanyalah, berapa gajinya. Rp300 ribu per bulan. Belum biaya makan dan sampan untuk menyeberang sungai. ‘’Tak apa, menjadi guru harus ikhlas. Kan besar pahalanya.’’ Begitu jawabnya setiap kali ditanya tentang perjuangan dan pengorbanannya. Pasti bukan hanya Ani. Banyak guru lain di daerah pedalaman yang bernasib sama. Sunggi hanya mencari jasa. Tanpa tanda.

Tersebab disebut pahlawan, sudah pasti guru membebaskan anak-anak bangsa dari kebodohan. Memerdekakan mereka dari keterasingan zaman. Bebas merdeka dalam berkarya. Guru harus disiplin. Tidak boleh bolos mengajar. Tidak boleh izin berlebihan. Boleh sakit dengan surat sakti sang dokter, Itupun hanya beberapa hari. Jika tidak, dipotonglah tunjangan yang diberi.

Berbenah. Membenahi guru dan dunia pendidikan agar semakin baik. Itu yang dicanangkan pemerintah kita saat ini. Guru-guru dilatih, diuji dan dinilai kinerjanya. Semua. Tidak hanya di kota tapi juga di desa-desa. Tidak hanya SMA, tapi guru di semua jenjang pendidikan. Ya, demi menjari jawab, pantas atau tidak mereka menjadi guru, pantas atau tidak mereka menerima gaji ‘segitu’, pantas atau tidak memegang jabatan ‘itu’ dan sebagainya.

Tersebab menjadi pelita di saat gelap, menjadi penyejuk dalam kehausan -seperti lirik lagu pahlawan tanpa tanda jasa-, guru selalu ikut. Tidak menuntut. ‘’Semua untuk meningkatkan kesejahteraan guru.’’ Begitu alasannya. Maka, ujian katanya, ujianlah ia. Pelatihan katanya, pelatihanlah ia. Meski hasilnya tidak jelas bahkan nihil sama sekali. Uji Kompetensi Guru (UKG) selalu gagal, sertifikasi banyak yang kabur, K2 pun terkubur. Lagi-lagi, jasa tanpa tanda. Merdekakah mereka? Jawabnya bla,bla bla. Selamat hari guru para Cik Gu.***
KOMENTAR
Terbaru
Sabtu, 17 November 2018 - 11:01 wib

Telkomsel Raih Dua Penghargaan Tingkat Asia Pasifik

Sabtu, 17 November 2018 - 10:46 wib

E-Samsat Tahap II Dibuka, BNI Perluas Layanan ke 16 Provinsi

Sabtu, 17 November 2018 - 09:50 wib

Harimau Terjebak di Kolong Ruko, Berhasil Diselamatkan

Sabtu, 17 November 2018 - 09:48 wib

Toyota Posisi Teratas untuk Fitur Keselamatan

Sabtu, 17 November 2018 - 09:41 wib

BPJS Ketenagakerjaan Gandeng Kajati Riau Eksekusi Penunggak Iuran

Sabtu, 17 November 2018 - 08:31 wib

Dari Ambon Daihatsu Jelajahi Pulau Seram

Jumat, 16 November 2018 - 18:00 wib

Menteri Keamanan Siber Jepang Ternyata Tak Mengerti Komputer

Jumat, 16 November 2018 - 17:30 wib

Dua Kecamatan Masih Terendam

Follow Us