OLEH SHOHEBUL UMAM JR

Narasi Islam Postmodernisme

28 November 2015 - 23.24 WIB > Dibaca 1225 kali | Komentar
 
Wacana tentang keislaman dari waktu kewaktu memberikan khazanah baru sebagai upaya untuk mempertahankan nilai historisnya, sekaligus sebagai langkah meremajakan ajaran-ajaran otentik Islam di tengah gempuran budaya digital. Kisah tentang cerita Islam masa dahulu, mulai dari pertama kali Islam hadir di tanah Nusantara, hingga sampai saat ini ketika peradaban demikian berbeda dengan peradaban dimana Islam  pertama kali hadir, upaya untuk mempertahankan keotentikan itu kini telah sampai pada gerbang yang demikian kompleks. Kompleksitas itu tidak lain adalah, pendekatan dan pembacaan terhadap Islam yang demikian heterogen.

Salah satu dari sekian banyak upaya pembacaan terhadap Islam demi menemukan dan mempertahankan otentisitas islam adalah, kajian-kajian Islam Nusantara yang banyak coba digali oleh beberapa oknum. Ketika konsepsi islam nusantara dihadapkan pada kita, pertama kali yang muncul di dalam benak kita adalah diskripsi budaya nusantra, kemudian islam yang hadir sebagai entitas lain yang memiliki dimensi religius dan lekat dengan sifat apokaliptiknya.

Dari dua kata dalam konsep ini “Islam” dan “nusantara”, menggambarkan kegerahan manusia-khususnya bangsa Indonesia-terhadap realitas budaya yang semakin hari didesak oleh budaya baru yang demikian memiliki potensi untuk menghilangkan kearifan lokal dan tradisi-tradisi keagamaan yang demikian kental dengan bangsa Indonesai, khususnya agama Islam. Wajar jika kemudian wacana tentang Islam nusantra sangat bersifat nativistik sama sekali.

Historisitas Islam di tanah nusantara menggambarkan jejak, bagaimana islam hadir pada wilayah tertentu bukan atas dasar ketidaksengajaan. Membaca sejarah tentang hadirnya islam di tanah nusantara tidak semata-mata perkara misi keagamaan, selebihnya orang-orang negeri seberang yang membawa ajara-ajara islam juga mengkaji integritas budaya nusantara pada waktu itu.

Jadi pada dasarnya, ada integrasi antara budaya dan Islam yang demikian intim, sebab tidak mungkin kemudian islam hadir pada satu wilayah tertentu yang tidak mempunyai budaya. Karena Islam tidak akan hadir pada bumi yang tidak mempunyai nilai-nilai budaya, maka dapat dipastikan bahwa islam memiliki integrasi yang demikian penting dengan budaya-budaya lokal, sebagai wahana untuk membiarkan ajara-ajaran Islam  menyatu dengan dimensi kebudayaan dimana Islam hadir.

Dimensi-dimensi kebudayaan yang dahulu mempunyai identitasnya sendiri, yang unik (unique), dan berbeda dari budaya yang lain (distinct), sekarang mulai bersenyawa dengan budaya-budaya global yang termaktub dalam gerakan postmodernisme. Postmodernisme sebagai gerakan budaya, hampir menjadi semacam ideologi yang hampir tidak terkalahkan, setidaknya hingga sampai saat ini. Alih-alih untuk menyentuh realitas prareflektif yang disebut Husserl sebagai lebenswelt (karena realitas manusia sesak dengan realitas yang mengalami abstraksi sedemikian rupa), gerakan postmodernisme tengah membawa manusia pada dimensi ambang-ambang batas kesadaran, yang lebih cenderung pada kehendak-kehendak nafsu.

Pada titik ini kemudian, islam yang tidak terbatas oleh dimensi ruang dan waktu, hadir sebagai cangkang religius yang memiliki sifat autoritatif dan fleksibel untuk menyelamatkan manusia dari budaya ketakterhinggan itu. Penting kemudian dalam ranah ini, bangsa Indonesia sebagai bangsa yang didominasi oleh masyarakat Islam, untuk mendudukkan islam dengan nilai-nilai gerakan budaya postmodernisme. pada titik ini pula, Islam ditantang dan dituntut untuk membuktikan sifatnya yang diyakini oleh umat Islam bahwa, Islam melampaui dimensi ruang dan waktu dan Islam akan selalu kontekstual berdiri di tengah budaya macam apapun.

Di tengah gempuran budaya global ini kemudian, berpikir filosofis dalam karangka membangun peradaban islam, memerlukan pemahaman komprehensif tentang integralisme islam dan budaya lokal. Mengingat pluralisme budaya merupakan kenyataan sosial yang terintegrasi dengan nilai-nilai Islam. Sementara itu, integrasi budaya di dalam kehidupan masyarakat memperlihatkan keadaan yang memperihatinkan, karena pemahaman atas kenyataan kebersentuhan pemikiran barat dan Islam yang terjadi dengan demikian dinamis, tidak mampu dijabarkan dengan baik oleh masyarakat kebanyakan.

Penting kemudian untuk menemukan integrasi antara Islam dengan budaya-budaya yang samasekali penuh dengan nilai-nilai abstraksi ini, dan demikian membuat manusia tercerabut dari akar budayanya sendiri. Krisis diberbagai bidang kehidupan masyarakat merupakan fenomena yang terjadi akibat akumulasi dalam bentuk hedonistik, ketidakperdulian sosial, erosi ikatan kekeluargaan bahkan meluasnya dekadensi moral, merupakan konsekuensi tersendiri yang lahir dari meleburnya budaya lokal dengan budaya-budaya ketidakpastian macam gerakan postmodernisme ini.

Oleh karena gerakan budaya postmodernisme cenderung termanifestasi sebagai gerakan yang memiliki risiko paling jauh-atau apa yang disebut Giddens sebagai high consequence risk di hadapan beberapa kalangan, karena sifatnya yang bertendensi pada nilai-nilai desire. Maka, islam sebagai suatu hal yang subtil hadir untuk mensterilkan postmodernisme sebagai gerakan budaya yang tidak terbantahkan bagi manusia dan peradabannya pada dasawarsa ini.

Oleh karena Islam merupakan agama yang fitrah dan subtil, umat Islam dituntut untuk memahami dinamika pemikiran-pemikiran yang berkembang dengan cepat dan berdampak terhadap budaya lokal. Integralisme dapat menyatukan semua yang psikologis, sosiologis, biologis, kosmologis, dan ontologis. Tetapi sayangnya, integralisme sebagai penghubung antara Islam dan budaya lokal yang dapat menyatukan semua unsur yang dapat membangun budaya peradaban umat Islam semakin hari semakin pudar.

Jika integralisme dikaji dalam wilayah filsafat postmodernisme, jelas integralisme menurut versinya adalah sebuah postmodernisme rekonstruktif, jadi integralisme Islam bisa digunakan untuk melakukan reformasi pemahaman keislaman yang postmodernis. Berangkat dari pemikiran ini kemudian, secara konseptual istegralisme Islam dan budaya lokal dimaksud sebagai akulturasi nilai-nilai Islam yang terkandung di dalam budaya, yang pada hakikatnya merupakan suatu fakta dan hasil karya yang lahir dan tumbuh-berkembang di tengah-tengah masyarakat, sekaligus sebagai bagian integral kebudayaan nasional, sehingga istegralisme Islam dan budaya lokal yang telah banyak bersenyawa dengan gerakan global tadi berwujud sebagai local genius dan sekaligus sebagai local wisdom bangsa yang berperan penting terhadap pembangunan daerah, serta tidak terseret pada ambang-ambang batas kesadaran yang dapat menghilangkan integritas Islam dan budaya lokal. Wallahu a’lam.***

Shohebul Umam JR, penulis, tinggal di Yogyakarta.

KOMENTAR
Esai Lainnya
Terbaru
Selasa, 13 November 2018 - 20:47 wib

Kasus Century, KPK Minta Keterangan Ketua OJK

Selasa, 13 November 2018 - 19:37 wib

Stan Lee Tutup Usia, Para Superhero Berduka

Selasa, 13 November 2018 - 18:25 wib

KPK Dalami Motif Pertemuan James Riady dengan Neneng Hassanah

Selasa, 13 November 2018 - 18:23 wib

Polri Teliti Kemungkinan Hoaks by Design

Selasa, 13 November 2018 - 18:00 wib

Dianiaya, Warga Guntung Meregang Nyawa

Selasa, 13 November 2018 - 17:59 wib

PBL Riau Taja Rakor Renovasi Sarana Pendidikan Dasar dan Menengah serta Madrasah

Selasa, 13 November 2018 - 17:15 wib

Empat Desa di Pelalawan Banjir

Selasa, 13 November 2018 - 17:00 wib

Jalan Rusak Koto Gasib Berbahaya

Follow Us