OLEH RIKI UTOMI

Membangun Iklim Kreatif (Sastra) di Meranti

28 November 2015 - 23.36 WIB > Dibaca 1530 kali | Komentar
 
Oleh: Riki Utomi


Ada yang patut diberi tanggapan positif mengenai geliat aktivitas seni, khususnya sastra di Kabupaten Kepulauan Meranti. Geliat itu lambat-laun mulai tumbuh berkembang—meski tidak laju, namun tidak juga stagnan—cukup memberikan kontribusi yang memadai, minimal mengajak agar generasi muda (remaja dan para pemuda) mau “mencicipi” karya sastra.
“Mencicipi” inilah yang harus ada dalam diri generasi muda saat ini sebelum terjun ke dalam “menggauli” (meminjam istilah alm. Hassan Junus) sastra itu. Mengapa? Karena, sastra memiliki nilai humanisme dalam membentuk jiwa/karakter manusia. Dalam hal itulah, saya pribadi—meski secara tak langsung—turut larut dalam kancah ini di Selatpanjang, tempat di mana saya betugas. Sebab terlebih karena saya senang empat orang siswa saya mewakili sekolah untuk membacakan puisi dalam acara yang bertajuk “Meraja Kata, Kobarkan Semangat Juang Pahlawan” yang ditaja oleh Sanggar KEMAS (Komunitas Seni Muda Bernas) sempena memperingati hari pahlawan.

Acara yang berlangsung petang sabtu cerah 14 november di halaman rumah adat LAM (Lembaga Adat Melayu Riau) itu memberikan aura tersendiri, sehingga mampu menarik simpati para remaja dan pemuda Meranti yang terdiri atas para siswa SMP, SMA se-derajat dan beberapa perguruan tinggi di Meranti. Rasa antusias itu terpancar dari wajah mereka, baik yang tampil sebagai peserta maupun penonton. Satu-persatu maju dengan rasa percaya diri hingga sebuah puisi tuntas dibacakan. Selain itu, tampil pula para pegiat sastra lain sekaligus tamu seperti Abdullah dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Atan Lasak perwakilan PWI turut menghipnotis kaula muda petang itu, serta Berty Asmara sebagai motor penggerak acara sekaligus sanggar turut menunjukkan kebolehannya. Pembacaan mereka patut menjadi motivasi bagi generasi muda Meranti. Hal semacam ini tentu akan mengundang hasrat, minat, dan wawasan untuk mau berkarya sastra, minimal berhasrat untuk membacanya.

Dalam helat tersebut, saya sepakat atas kata sambutan dari perwakilan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Meranti yang mengatakan, “wadah seperti ini mengandung nilai positif. Bahwa remaja maupun pemuda harus mencintai seni sastra. Sekarang ini kita berkumpul tanpa bunyi-bunyian yang hiruk-pikuk, tetapi semarak lewat kata-kata.” Maka, kata-kata membuktikan mampu memiliki daya magis (baca: daya tarik; gugah) dalam menyuguhkan kreativitas. Dimana remaja kita pada dasarnya mudah tersuntik oleh bunyi-bunyian seperti musik, seperti halnya konser musik (apakah konser band atau festival dangdut) sekadar menyebutkan permisalan, begitu ambisius datang walaupun tanpa diundang. Mata mereka akan melotot sekaligus tahan berjam-jam menatap, hati mereka berdebar dengan degup yang kencang, lalu mengalirkan energi untuk berjingkrak-jingkrak (melompat-lompat) tak karuan dengan tangan keduanya diangkat ke atas atau juga yang agak norak menggoyangkan pinggul dan kepala seperti ular kobra menari dari tiupan seruling orang India.

Maka, apakah itu salah? Tidak. Namun bagaimanapun perlu ada penyekatan (baca: bukan pemaksaan) karena hal di atas (band dan festival dangdut) juga seni. Tapi dalam tulisan kecil ini, saya hanya ingin menyuguhkan setidaknya “angin segar” yang perlu kita kipaskan kepada generasi muda kita agar ada “pembaruan”. Sebab, kita pasti tahu bahwa tradisi literatur kita sampai hari ini masih sangat memprihatinkan dan sudah menjadi rahasia umum di negeri ini. Maka sastra bagaimanapun juga seni yang harus memiliki tempat spesial di mata generasi muda yang tengah ingin “mencicipi” itu. Tinggal bagaimana kita mengemasnya dengan sangat memikat, lalu menghadirkan ke tengah-tengah kancah geliat remaja dan pemuda kita dengan cara bersahabat, kemudian merangkul mereka dengan sikap bijak agar jinak mencintainya, karena kita perlu mengetahui seni sastra bukan seni yang instan (asal jadi), tetapi membutuhkan proses panjang dalam pergumulannya. Pengemasan itulah yang perlu jauh dipikirkan oleh para pelaku dan pegiatnya. Selain itu, menurut hemat saya, perlu adanya campur tangan pemerintah daerah melewati instansi terkait untuk memfasilitasi kreativitas ini. Adanya kerja sama yang positif seperti itu akan membangun iklim hangat bagi perkembangan sastra di Meranti, umumnya di Riau.

Sebagai guru pengampu mata pelajaran bahasa Indonesia, saya cukup senang akan helat positif yang diadakan Sanggar KEMAS, tetapi sekaligus juga risau. Senang, tentu berpunca pada nilai positif yang berujung kepada daya gugah siswa untuk menaruh senang pada sastra. Sedangkan risau, dapat mengarah kepada hakikat pelajaran itu sendiri. Kita tahu bahwa sekolah dengan pelajaran bahasa Indonesia-nya tidaklah mampu seratus persen menyuguhkan sastra ke tengah siswa. Dengan alokasi waktu yang singkat yang lebih bermuara pada kajian teoritis untuk mengejar target kelulusan ujian, siswa belum cukup memiliki “gizi” akan hal sastra. Pelajaran bahasa Indonesia belum (atau tidak?) sepenuhnya menjamin siswa kita—khususnya di tempat saya Meranti—mampu berkarya sastra, kecuali memang segelintir dari mereka yang benar-benar suka dan menaruh minat besar. Maka disinilah setidaknya peran penting para pemerhati dan pegiat seni, khususnya guru bahasa Indonesia memiliki kreativitas untuk membangun iklim itu.

Tetapi saya tidaklah terlalu pesimis, sebab segelintir guru di Meranti ini telah bergerak, juga sadar untuk menciptakan kreativitas itu ke tengah-tengah generasi muda. Lihatlah Jasman Bandul dengan Komunitas Gemar Menulis-nya (KGM) yang didirikannya di pelosok desa, di Kecamatan Tasik Putri Puyu, Merbau. Komunitas ini (sesuai dengan pengamatan yang saya telisik) sedikit-banyak memberikan kontribusi kepada generasi muda setempat untuk mencintai sastra. Dengan rutinitas program yang mereka lakukan seperti membaca, menganalisis, menulis, mengapresiasi karya sastra apakah puisi, cerpen, novel, atau drama, bahkan sampai melatih para remaja membaca puisi menunjukkan optimism positif, dan yang cukup menarik, mereka selalu mendiskusikan karya-karya pengarang Riau. Komunitas ini juga telah merayakan Hari Puisi, dimana gema Hari Puisi itu selalu bergemuruh di kota-kota besar pada umumnya, tapi Jasman Bandul yang juga cikgu bahasa Indonesia itu menggemakannya di pelosok ceruk kampung bersama para siswanya. Keterbatasan tak membuat mereka rapuh dengan keadaan, tapi sebaliknya kegembiraan merayakan sastra membuncah bersama-sama.

Lalu di Selatpanjang, dengan Sanggar KEMAS-nya yang cukup memberi andil dalam memayungi generasi muda Meranti dalam kancah geliat seni, apakah musik, tari, drama, dan sastra. Sanggar yang dikomandoi Berty Asmara yang juga mantan cikgu bahasa Indonesia ini mampu menggerakkan minat anak-anak muda di Selatpanjang. Menurut hemat saya, tidak sedikit helat-helat atau aktivitas yang mereka gaungkan baik di lingkungan lokal maupun luar daerah. Mereka juga memiliki rutinitas dalam latihan-latihan yang memacu daya kreativitas sastra.

Di samping itu, di sebuah perguruan tinggi Akademi Managemen Informatika dan Komputer (AMIK) Selatpanjang juga membuncah sebuah sanggar bernama Tabir. Wadah kreatif yang memiliki haluan sastra ini cukup memberi pengaruh pada geliat kreativitas sastra di Selatpanjang. Dengan sang motor penggerak Afrizal Cik yang juga dikenal sebagai penulis cerita rakyat malayu Riau, mampu menyugesti kaum intelektual muda di kampus tersebut yang notabene teknik informatika untuk berkarya sastra. Afrizal Cik yang juga dosen serta anggota dewan di Meranti ini sejak muda tunak dalam menulis cerita rakyat (khususnya mengangkat khasanah cerita rakyat Meranti) dalam hemat saya juga menjadi kontribusi besar bagi geliat sastra di Meranti.

Dan saya sendiri (sekadar menambahkan; juga tidak bermaksud berlebihan) juga masih aktif—meski agak tersendat oleh faktor tempat tugas—dalam menggerakkan sebuah wadah menulis bernama Cahayapena yang bermarkas di MAN Selatpanjang. Para siswa yang memiliki basic agama yang kental itu cukup antusias dalam menyenangi sastra. Mereka juga mempunyai hasrat yang kuat untuk menghasilkan karya sastra, meski tidaklah sehebat para siswa yang ada di kota-kota seperti Pekanbaru yang memang para siswanya telah tertanam kreativitas itu. Namun jauhnya fasilitas buku-buku sastra yang menunjang sebagai sumber bacaan tidak menyurut semangat mereka dalam menikmati karya sastra, meski mulai bertolak dari bacaan sejenis teenlit (tentu yang sangat akrab dengan dunia mereka; remaja). Dalam hemat saya hal itu bukanlah sebuah pembacaan yang stagnan, sebab perlu ada penggugahan (menurut istilah saya sendiri) perlahan-lahan dari soal  bahan bacaan.

Dari uraian singkat di atas, hanya sekadar mencoba menyebutkan aktivitas-aktivitas sastra yang ada di kabupaten termuda di Riau ini sesuai dengan pengamatan saya. Mungkin masih ada yang tercecer dari pengamatan terbatas itu, dan saya hanya memposisikan dari geliat aktivitas sastra. Aktivitas ini (baca: sastra) bagaimanapun perlu menjadi perhatian kita bersama dan menjadi penting apabila kita turut ikut memberi dorongan kepada generasi muda kita di Riau, khususnya Meranti di tempat saya beranaung. Terakhir, kita setidaknya pernah mendengar bahwa Seno Gumira Ajidarma sang prosais itu berujar, “kita menulis dalam masyarakat yang tidak membaca.” Untuk itulah mari kita berbuat, menciptakan, membangun kreativitas kepada remaja dan pemuda kita agar bergelora dalam hal sastra. Semoga tulisan kecil dan sederhana ini dibaca oleh kita semua meski kita berada dalam kenyataan riil masyarakat yang tidak membaca. ***

Riki Utomi pegiat sastra dan peminat linguistik. Buku fiksinya Mata Empat dan Sebuah Wajah di Roti Panggang. Pernah aktif di FLP Riau. Mendapatkan penghargaan Acarya Sastra 2015 dari Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa DKI Jakarta. Kini tengah menyiapkan kumpulan esai Menuju ke Arus. Tinggal di Selatpanjang.

KOMENTAR
Esai Lainnya
Terbaru
Minggu, 23 September 2018 - 15:00 wib

2.000 IKM Tak Terdaftar

Minggu, 23 September 2018 - 14:48 wib

Pemotor Kecelakaan Beruntun

Minggu, 23 September 2018 - 14:34 wib

Polisi Gadungan Ditangkap

Sabtu, 22 September 2018 - 15:49 wib

Menteri Keuangan Imbau Perusahaan Gunakan Rupiah

Sabtu, 22 September 2018 - 14:47 wib

Stroberi Berjarum Repotkan Australia

Sabtu, 22 September 2018 - 12:46 wib

Waspadai Akun Robot Jelang Pemilu

Sabtu, 22 September 2018 - 12:43 wib

Riau Pos Terima Dua Penghargaan dari Bawaslu

Sabtu, 22 September 2018 - 09:53 wib

Festival Zhong Qiu Berpusat di Jalan Karet

Follow Us