Oleh Arlen Ara Guci

Tebrau

28 November 2015 - 23.53 WIB > Dibaca 1790 kali | Komentar
 
"Engkau mengigau jika mengira hatiku seluas Tebrau. Mengenangmu kini seperti menggantang asap disengat mentari. Apa lacur. Hatiku beku. Mendengar namamu. Telingaku pekak lebih dulu. Mendengar suaramu. Dadaku berubah batu. Bibir dan hatiku tak lagi bersimpang dua. Takkan pernah ada cerita tentangmu di episode hidupku. Azamku membuku.
 
Tanah asalku bilang, sirih takkan bertemu pinang. Suci kapur kusajikan, getah damar kau hidangkan. Niatku mendulang intan, rupanya terdulang angin. Kusangka kau umpama bulan yang dapat digenggam. Rupanya kau bintang nun jauh di sana. Tak mungkin dapat kusentuh. Sungguh!

***

Kalau semula aku tahu niatmu bermain kayu tiga. Tak payahlah aku seroman membuang garam ke sentra samudera. Engkau pernah berkata sekali (kan ku ingat sampai mati), “kita tak sepadan.”

Jantungku rasa ditusuk sembilu. Dadaku tercabik menerima. Aku kuatkan jua. Meski petuah ayah melarang. Pantang lelaki patah arang. Apatah hati terkerat karena wanita. Aku tetap bersikukuh. Memahat harap. Isi dadamu senada degup nafasku.

Rupanya soal hati bukan Matematika. Satu dicampur satu jadi dua. Ia bisa sebelas. Aku mesti  percaya. Urusan rasa tak bisa dipaksa. Biarkan mengalir. Hingga muara.

Di setiap jumpa. Rasa antara kita tak pernah bisa di sketsa kata. Kau pernah menambah, bila rasa itu ada, cukup di dada saja. Kita pernah mengalami. Saat dawai asmara menari suatu kali. Tapi badai menjungkirbalikkan. Saat kau tahu siapa aku sebenarnya.

Seorang yang kau panggil Mat Jiwang. Menggantungkan hidup dari seni ke seni. Aku sudah cakap, hidup mati tanpa seni. Kau menghujamku. Bisa makan apa dengan seni? Lidah kau cili padi. Padahal, setahuku orang Melayu berbudi dan berbahasa. Adat resam amat dijunjung.

Kenapa tidak dengan kau wahai Putri Semenanjung? Kenapa kau baik angin masa kena sanjung. Lepas itu engkau melantak dan menceracau. Kau cakap, “yang penting puas hati!”
Oh, begitu kesat hati kau Dara Malaya. Tak terbayang. Jika kau jadi pendampingku. Kartu hidupku pasti mati. Untunglah, Tuhan seperti meng-copy isi jiwaku. Kau memang tak boleh diharap—bukan karena apa-apa—hatiku bukan pintu besi.

Risau memagutku di tepi Tebrau. Memandang air. Mengenang diri. Mukaku berseri sedih. Asal kau tahu. Baru ini pertama kali aku merenda hati. Seharusnya aku tak percaya cakap kau, ”Bang, awak tak sendirilah.” Bagiku lebih dari sekadar suntik hidup dokter pada pasien. Kau bintang dipelukan malam. Membawaku terbang menari jauh tinggi.

Lepas itu, rahasia rumah tanggaku kau ungkai dari pucuk sampai akar. Bukan hanya setakad tercerabut lalu pecah. Namun aku dan istri tak mungkin dipersatukan. Kau tahu aku jijik dengan kata cerai. Kau sepakat itu. Saat mataku basah di ujung jalan. Jelang pintu gerbang kampus Skudai, Johor Baru.

“Satu persoalan halal namun Allah benci, yaitunya cerai. Aku berharaplah, awak dan istri janganlah pisah!”

“Kami tak mungkin lagi bersama!”

“Puncanya apa?”

“Duit!”

“Awak tak kerja ke?”

“Jangan tanya pasal kerja. Aku merayu!”

“Kenapa pula?”

Kerongkonganku kerontang kau tanya kerja. Berulang kukatakan. Datang ke Tanah Semenanjung dan bisa meneruskan program masterku, karena modal nekat. Jangan kau samakan dengan rekan-rekan masterku yang lain. Mereka ada sponsor—makanya senyum mereka tak masam—biasanya dari universitas tempat mereka mengajar. Atau perusahaan yang seakan peduli pada anak negeri. Hingga tak ragu membiayai atas nama scholarship. 
Kau tergelak masa aku bagi tahu. Betulkah negeri syarat bilangan penduduk, ditambah banyak rasuah masih ada perusahaan bermurah hati? Asal kau tahu, negeriku memang tak memberangsangkan dalam ekonomi. Tapi, masih ada orang–orang berhati Mikail.

Kau berpikir kecik karena tengok tenaga kerja dari asalku ke sini banyak tak sekolah. Bekerja jadi pembantu dan pencuci tandas. Agak mentereng buruh binaan. Padahal itu tak seberapa. Banyak manusia berbekal pengetahuan dan skill pilih tanding di sana. Malangnya, kau terlalu percaya diri dengan apa berlaku di sini. Kau katak dalam tempurung wahai Putri Semenanjung.

Sejatinya aku ingin disponsori. Beberapa berkas dikirim. Hasilnya hampa. Barulah terakhir aku tahu. Nilai mata kuliah lepas makan. Berbuntut ke IP (Indeks Prestasi) tak seperti diinginkan perusahaan.

Kau pun tahu sifatku. Pantang dicabar begitu. Bermodal isi saku seminggu—janji ada passport, dokumen, visa pelajar—aku berangkat dengan tekad bulat.  Aku percaya, uang bukan segala.

Betul kata penceramah. Orang hijrah niat mencari ilmu, jalannya Tuhan permudah. Urusan beasiswa aku nol. Untuk tercatat sebagai mahasiswa pasca sarjana dikantongi. Bahkan, Tuhan mungkin tersenyum mengirimkan seorang pendamping.

Kau berujar macam tak suka, “Mujurnya awak ni. Sudah kerja tak de. Studi belum selesai. Berani menikah pula.”

Aku sudah tegaskan, menikah tak ada kaitan dengan pekerjaan. Kata ustadz, tawakal dan yakin. Rejeki seratus persen hak veto Tuhan. Aku mulai sanksi. Di mana Tuhan kau letakkan? Aku celik seksama, tudung lebuh kau lebih dari isyarat dekat dengan Tuhan. Di langkah rencana hidup, Tuhan kau letak nomor sekian. Payahlah kau ni!

Saat tak ada kelas, kita habiskan berbual di bawah pokok lapangan kampus Skudai. Aku agak risih, saat teman–teman tahu. Beristri tapi rapat dengan Dara Malaya.

Pada kau seorang aku bisikkan. Istri dan anak berumur setahun, ku pulangkan. Tak sanggup hidup yang tak tanggung di Semenanjung.

Kepulangan istri dan anak kulepas mata berlinang di Sepang. Tanpa peluk sayang. Baliknya mereka ke tanah asal bukan permintaanku. Tapi istriku selalu menyambut pagi yang membuatku tak berguna jadi kepala rumah tangga. “Sampai kapan sih semua serba terbatas begini?” Tak sekali dua kali. Pertahananku rubuh. Aku tak tahan. Akhirnya membiarkan kedua orang tersayang jauh di mata. Harap dekat di hati.

Sejak kepulangan darah daging dan teman tidur, kau makin sering menjumpaiku. Sepi jadi berarti. Getar hati ada melodi. 

Sejak menyandang ‘mendadak bujang’, aku bertaruh untung di tanah Semenanjung. Jadi petugas masjid. Menyapu, mencuci tandas, membentang tikar sembayang, membersihkan kaca. Setiap Jumat tiba. Berat hati kotak infak terpaksa ku pangkas sedikit. Begitu juga gula dan teh. Sedianya  penyiram dahaga imam dan khatib. Kubawa pulang setelah dimasukkan ke plastik bungkus es batu. Pada kau kusandarkan kepercayaan, maka tak segan silu menuturkan.
Kemilau surya menjangkau Tebrau, saat kau remas jemari ini pertama kali. Meleleh peluh dingin. Walau bayangan istri dan anak tak hadir. Kau pesankan, Tuhan tak ijinkan kita berjodoh. Sebab kawin dengan seorang Teruna Melayu. Dalam harap cemas. Aku pasrah.
Sekali lagi kukatakan. Sepotong hati tak  bisa dipaksa oleh sesiapa. Airmata kau suguhkan untuk jawaban. Kau sangat paham. Aku tak suka perempuan menjadikan airmata jadi senjata. Kita sepakat, Maha Suci  Tuhan yang maha membolak balik hati.

Aku bertepuk sebelah tangan. Menyaksikan kuncup bahagia pengantin di pelamin.  Hanya saja, kau mesti jujur pada diri. Aku tak mau, di penghujung hari, kau datang laksana perempuan muda di sinetron. Meratapi kata hati ulah lelaki.

 “Aku terpaksa! Kawin dengan dia orang... please!”

Suara ngilu lari ke dalam. Dari ujung telepon, suara engkau berat parau, begitu aku kembali ke tanah asal. Kepulanganku menunaikan permintaan istri. Dia bertekad bulat mengakhiri bahtera rumah tangga. Pengasuhan anak dan uang familinya yang terpakai biaya masterku, mereka bilang, merelakan walau terpaksa. Engkau bisa pikir, apa jadinya diriku. Aku dibuang dari universitas, dibuang anak istri dan engkau.

***

Malam menjunam kelam. Aku serasa dihantar ke Tebrau. Mengenang janji manismu. Sambil cuci mata nun di seberang, Singapura.

“Rasa kering Tebrau sebab abang selalu merantau.”

“Nak macam mana?”

“Aku tak nak kawin dengan jantan kaki pejalan.”

Bibir dan hati engkau berisa pisau.***


Arlen Ara Guci, lahir di Payakumbuh, Sumatera Barat. Tulisan antara lain di: Republika, Haluan, Singgalang, Padang Ekpress, Batam Pos, Sabili, Ummi, Annida, Muslimah, Alia, Alkisah, MQ Tabloid, Publik, Tasbih, Serambi Minang, Swadaya.. Buku terbit: Surat dari Tepi Barat, Jangan Percaya Airmata Bunda (Kumpulan Cerpen). Tarian Dari Langit, Purnama di atas Lovina, Perjalanan Sunyi, Panggil Aku Ibu, Sembilan Kuntum Edelweis, Mengetuk Cintamu (Antologi Cerpen). Sakti Menulis Fiksi, Mentari Tak Pernah Sendiri (Non Fiksi).

KOMENTAR
Terbaru
Minggu, 23 September 2018 - 17:50 wib

Minta Jembatani GP Ansor-UAS

Minggu, 23 September 2018 - 15:00 wib

2.000 IKM Tak Terdaftar

Minggu, 23 September 2018 - 14:48 wib

Pemotor Kecelakaan Beruntun

Minggu, 23 September 2018 - 14:34 wib

Polisi Gadungan Ditangkap

Sabtu, 22 September 2018 - 15:49 wib

Menteri Keuangan Imbau Perusahaan Gunakan Rupiah

Sabtu, 22 September 2018 - 14:47 wib

Stroberi Berjarum Repotkan Australia

Sabtu, 22 September 2018 - 12:46 wib

Waspadai Akun Robot Jelang Pemilu

Sabtu, 22 September 2018 - 12:43 wib

Riau Pos Terima Dua Penghargaan dari Bawaslu

Follow Us