SAJAK

Sajak-sajak May Moon Nasution

29 November 2015 - 00.08 WIB > Dibaca 1878 kali | Komentar
 
Kami Mata Pedang

risau mengebat dan menjerat tangan kami,
geram-dendam dan gamang meradang dalam diri,
kami padamu datang, dengan bilah-bilah pedang

pedang inilah kami, pedang dari sejarah masa yang pahit,
yang bermuasal dari punggahan para budak moyangmu,
tawanan perang, perang-perang panjang, dari hikayat,
kitab-kitab pengetahuan, tentang sirah pedang pada abad lampau

ketahuilah, amis darah yang simbah,
di tubuh-tubuh kaum penyembah itu,
menyisakan bau di segenap penjuru,
yang kelak dikerumuni anak-anak klerek,
sisa pertempuran moyangmu dahulu

hunderbluss yang kehabisan mesiu,
bambu yang ketumpulan matanya,
pedang kami, menembus jurang dan jorong,
menghunus yang tak termbus pedang,
membelah lembah, menggapai sungai,
memacak di pinggang gunung
    
mata pedang kami mampu mengepung serdadu,
zending-zending eropa yang mengarung pulau-pulau jauh,
membutakan mata para penyeru penyembah

kau dengar, denting pedang kami ialah doa dari surau-surau kampung,
mengelabui tukang tenung di dalam istana yang sibuk bersamadi,
membaca jampi-jampi, menangkal segala ajal yang julur di mata pedang,
menikam-nikam, menyentak-menyentak hingga ke dalam sajak ini.

Pekanbaru, 2015


Dinding Madah Poedjangga
__Rida K Liamsi

dua puluh delapan sajak kaupahatkan di lumbung batu,
sehingga depang dadamu berkilau berkilat di tembok itu,
terlalu rembang memang kau takik inti kata-kata baru,
mengunggah huruf-huruf dari suhuf-suhuf kitab masa lalu,
punggah dan gubahan kata kuderesi dari jangkar jurubatu,
juga silat lidah kapten jung yang pernah menjadi cincu,
menitiskan nyanyian pada kelasi jung tentang laut biru,
kita akan semakin payah tak menenggang lingkaran madah,
Tapi tanah dan air tetap jadi teka-teki kata yang kita pecah,
meski kerap lidah dan mulut kita mengucap segala ungkap patah  
tangan kita serupa tebing dan bambu di gigi sungai yang memiuh,
tak perlu tangas dan belingas panas di depang jantung berdetak riuh,
dalam memilah kata, di bibir dan jari kita yang berpilin dan berpulun,
dalam menjulai segala aksara yang terserak di rimba bahasa yang santun.

Pekanbaru, 2015


Jalan Panjang Petalangan
__Bagi Mak Pilih, seorang pelantun
nyanyi panjang Petalangan


kau akan terberai dari moyangmu kelak,
merenangi sungai, terhempas di beting-beting,
mengarungi segala kuala merompak gecak ombak,
melayarkan diri menyusuri tanjung-tanjung,
terbelah di riak-riak ruas-ruas arus gelombang,
bagai buih-buih yang pecah kembali ke palung,
menyatu di dada laut dan terlarut di denyut laut,
mari terus menyanyi dalam dada yang sunyi,
lawan segala cabaran, padamkan api dendam,
nyanyikan nyanyian panjang, lantunkan nada pantun,
ke dada kami yang dahaga ini, agar pecah kerak cangkang,
biar belah yang patut dibelah, biar longkang itu cangkang.

Pekanbaru, 2015


Menjalar dalam Pikiran Linguis

aku menjalar seperti akar,
mengalir mencari sumber makna,
inti dari kesedihan yang berasal,
dari pedih di jantung batu,
dan tak pernah kuminta lahir sebagai musafir,
tapi luka yang terlanjur,
disayat ideologi, kitab, traktat,
yang membuat aku berjalan dalam diri,
seperti yang tercatat dalam kitab masa lalu,
dan aku akan merenung tanpa tenung,
membaca diri tanpa semadi,
juga tanpa pertapaan yang panjang,
aku akan mengalahkan penujum bermuka masam,
penyair yang nyinyir bersyair tentang kesaktian datu,
moyang kata-kata, leluhur bahasa,
tentang identitas yang ditebas para penetau rimba lingua,
merenjis-renjiskan dialektis yang ngawur, dalam mengigal kata.

Pekanbaru, 2015


Datu, Hatiku Jatuh pada Anak Gadismu

datu, terpikat aku dengan anak gadismu,
malah kau suruh aku mandi tujuh hari-tujuh malam,
di sungai Batanggadis, di kuala muara Singkuang,
agar janggutku manis, bisa meruntuhkan jantung gadis kampung

“jangan kau menampik pintaku,
bisa nanti kau lari tercirit-cirit,
ikatkan saja benang merah hitam putih ini,
tepat di pinggangmu yang kerempeng itu”

sumpah datu pun tumpah bersama air ludahnya

datu, aku ingin minum tuak yang dari kelat kelapa,
aku juga ingin kaurestui aku memikat anak gadismu,
janggutku telah panjang datu, itu pula yang membuatnya tergila-gila,
katanya napasku pahit berbau surga, padahal ia belum pernah menciumnya

“jangan kau pikat anak gadisku,
benarkan dulu resleting celanamu,
dan jembutmu pun baru seminggu ini tumbuh”.

Pekanbaru, 2015


Sepasang Pedang
__Percakapan dengan Anju Mahendra

kita bercerita dalam kata,
aku pedang dan kau sarungnya,
kita jadi sepasang pedang,
kesatria pedang dalam perang,
yang juga dimainkan petarung,
yang dikembang para pengarung,
dalam mengarung gecak gelombang.

Pekanbaru, 2015


Pedang Pertama

sebilah pedang,
datang dari abad pertama,
yang kaukenali sebagai tajam pertama,
mata yang dikerubungi tablis iblis.

Pekanbaru, 2014

May Moon Nasution, lahir di Singkuang, Mandailing Natal, Sumatra Utara, 2 Maret 1988. Alumnus Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Islam Riau, Pekanbaru. Bergiat di Komunitas Paragraf. Puisi-puisinya dimuat di berbagai media seperti Indopos, Riau Pos, Kompas, dan Koran Tempo.

KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 20 November 2018 - 19:30 wib

Orba Jadi Alat untuk Takut-Takuti Rakyat

Selasa, 20 November 2018 - 18:51 wib

Kemenpan RB Tak Akan Turunkan Passing Grade CPNS 2018

Selasa, 20 November 2018 - 18:25 wib

Transaksi Mencurigakan Tokoh Agama

Selasa, 20 November 2018 - 17:54 wib

Surat Suara Lebih Besar dari Koran

Selasa, 20 November 2018 - 17:38 wib

2 Hafiz Rohul Raih Juara di MHQ ASEAN

Selasa, 20 November 2018 - 17:36 wib

Najib Razak Kembali Diperiksa KPK Malaysia

Selasa, 20 November 2018 - 17:32 wib

Granadi Disita, DPP Partai Berkarya Pindah Kantor

Selasa, 20 November 2018 - 17:22 wib

Sabu Rp4 M Disimpan dalam Tas Ransel

Follow Us