Oleh: Jarir Amru

Indah dan Cantik Jangan Simpulkan Baik

29 November 2015 - 13.20 WIB > Dibaca 1760 kali | Komentar
 
Indah dan Cantik Jangan Simpulkan Baik
Jarir Amru
Kadang kala kita bingung  membedakan antara indah dan baik. Padahal dua kata itu berbeda kontras. Indah belum tentu baik. Sebab indah bagian dari estetika, sementara baik adalah bagian dari etika. Yang enak dipandang mata belum tentu baik.

Kalau etika ukurannya baik buruk, benar salah. Sementara estetika ukurannya indah buruk, cantik jelek dan lainnya. Namun di tengah masyarakat, kadang keduanya disamakan. Melihat sesuatu yang enak dipandang mata, dianggapnya itu baik. Seharusnya sesuatu yang indah dipandang mata, maka kesimpulannya sesuatu itu indah.

Jangan heran kalau tontonan sekarang menjadi tuntunan. Padahal tidak semua tontonan itu bisa dijadikan tontonan. Publik atau masyarakat melihat bahwa tontonan yang menarik sering kali dijadikan tuntunan bagi diri dan keluarganya. Misalnya gaya hidup masyarakat Eropa seperti transgender, pernikahan lelaki dengan lelaki, atau sesama perempuan, atau pernikahan manusia dengan hewan, karena itu bagian pilihan hidup di belahan bumi lain, lalu ditonton, selanjutnya menjadi pilihan gaya hidup di negeri kita. Maka di Bali pun ada pernikahan sesama lelaki.

Saat ini masyarakat kehilangan orientasi, disebabkan nilai-nilai etika disamakan dengan estetika. Padahal dua hal itu yang berbeda. Etika standar rujukannya jelas yakni agama, ada dasarnya (objektif). Sementara estetika, sangat subjektif. Kita saksikan sendiri bagaimana lukisan Pablo Picasso yang dinilai indah, tentu hanya orang tertentu yang paham keindahan lukisan itu (subjektif).

Nah pemahamanan ini sangat penting, agar kita tidak kehilangan orientasi. Saat ini perilaku permisif (bebas atau boleh melakukan apa saja) sudah menjadi tontonan. Dampaknya perbuatan itu menjadi dianggap benar, dan dijadikan tuntunan.

Kita sering mengabaikan etika, karena dianggap etika mengekang kebebasan hidup. Padahal etika itu sendiri di atas daripada hukum. Contonya orang yang kentut di suatu majelis pertemuan, maka orang itu tidak melanggar hukum, tetapi dari sisi etika, dia berakhlak buruk, dia melanggar etika. Nah, nampak jelas bahwa etika itu di atas hukum. Makanya jarang heran banyak orang yang mengakal-akali hukum.

Pendidikan kita juga memberi porsi yang sedikit pada etika, lebih mengedepankan ilmu pengetahuan (knowlegde). Maka jangan geran jika saat ini banyak orang pintar tetapi perilakuknya kurang ajar, tebal muka dan lainnya. Lihat pejabat tinggi, profesor, jenderal yang sudah mengenyam pendidikan terbaik, tapi di ujung jabatannya masuk ke penjara. Profesor minyak tersandung kasus minyak (Prof Dr-Ing Rudi Rubiandini, ahli minyak), jenderal alumni Akpol pun masuk penjara (Irjen Pol Djoko susilo kasus simulator), pejabat tinggi jumlahnya tidak sedikit tidak bisa disebutkan satu per satu, demikian juga politisi. Artinya apa? Kurikulum kita mengalami ketimpangan, lebih banyak muatan pengetahuannya daripada etika. Mungkin karena negara tertinggal dalam bidang ilmu pengetahuan dibandingkan negara maju, sehingga muatan ilmu pengetahuan lebih besar daripada etika.

Makanya saat ini dimunculkan pendidikan karakter —karena dianggap bangsa yang santun ini kehilangan kesantunan—, yakni bagaimana membentuk karakter anak didik yang kuat, seperti perilaku santun kepada orang tua, suka menolong teman dan karakter baik lainnya. Demikian juga guru, selama ini kebanyakan mereka hanya melakukan transper ilmu pengetahuan, tetapi tidak membentuk karakter anak didiknya. Di sini tentunya sang guru memiliki karakter yang baik, dan menularkan karakter itu kepada anak didiknya.

Agaknya sudah lama kita mengambaikan etika dalam segala hal kehidupan berbangsa. Makanya perilaku permisif (segala boleh) sudah merasuki anak negeri ini. Jika dulu anak gadis pulang malam, orang tua langsung mencari dan ketika ketemu anak gadisnya dimarahi, sekarang tidak lagi, anak pulang sampai larut malam sudah biasa, alasannya ini ciri zaman modern, mobilitas manusia siang malam dan itu lumrah. Begitu juga fenomena artis yang berprofesi ganda, selain bernyanyi dia juga 'bisa dipesan', dianggap itu sudah rahasia umum. Bahkan baru-baru ini polisi berhasil membongkar jaringan penjaja wanita di tingkat atas yang dilakukan orang-orang akrab dengan publik.

Memang perilaku permisif belum tentu berkaitan dengan semakin tingginya angka HIV/AIDS, tapi yang jelas di negeri ini angka HIV/AIDS terus meningkat seiring meluasnya perilaku permisif itu sendiri.

Kembali ke etika dan estetika, kedua diperlukan dalam hidup ini, cuma jangan salah mengambil kesimpulan, estetika simpulkan cara pandang estetika, etika dengan etika, jangan campur-adukkan, sehingga kesimpulannya salah.***

KOMENTAR
Terbaru
Kamis, 15 November 2018 - 18:35 wib

Ingin Bahasa Indonesia jadi Bahasa Internasional, APPBIPA Riau Terbentuk

Kamis, 15 November 2018 - 17:59 wib

Lagi Berenang, Bocah Tewas Diterkam Buaya

Kamis, 15 November 2018 - 17:00 wib

3 Pemain Timnas Dapat Tawaran dari Klub Luar Negeri

Kamis, 15 November 2018 - 16:15 wib

BPN Komit Realisasikan Program PTSL 2018

Kamis, 15 November 2018 - 16:00 wib

Sabhara Gagalkan Rencana Tawuran Sekelompok Pemuda

Kamis, 15 November 2018 - 15:45 wib

Pembangunan RSUD Indrasari Terlambat

Kamis, 15 November 2018 - 15:30 wib

BNNK Ringkus Pengedar Antar Provinsi

Kamis, 15 November 2018 - 15:15 wib

Pertamina Jamin Pasokan BBM di Riau Cukup

Follow Us