Oleh : SPN Dantje S Moeis

Aku (Indonesia) yang Malang

6 Desember 2015 - 10.25 WIB > Dibaca 1608 kali | Komentar
 
Aku (Indonesia) yang Malang
Ilustrasi Dantje S Moeis
Kata-kata arif yang selalu diucapkan Tok Osman (almarhum), datokku. Bapak dari Emakku yang kusadari kini, bahwa ia sangat berharap banyak padaku.

“Cucuku, kau harus menjadi cucu yang dapat tok banggakan, jadilah pejuang sejati yang berpegang pada bidal penyemangat, ‘Pegang bara hingga jadi arang, jangan terasa panas dilepaskan’ camkan itu di hatimu. Jadilah budak Melayu sejati yang mampu menepis segala halang rintang dan menjawab segala cabaran yang datang.”

“Aduh..mak..aduh” lirih... semakin lama dan terakhir hanya terdengar erangan... puncak ungkapan rasa sakit. Berkali kali, berulang hari. Karena di sini Kitab Undang-undang hanya sebagai pajangan tak berarti.

Kadang kadang terlintas keinginan untuk cepat mati hingga siksa berkepanjangan seperti ini akan segera berakhir.

Ketika hari bezoek tiba dan para kerabat bertanya mengapa dia semakin kurus, pucat dengan gambaran orang yang mengidap penyakit parah? Jawabannya hanya diam tak berkata sepatahpun.

“ Huh, TBC nya semakin parah, terpaksa dia harus di isolasi agar tidak menularkan penyakitnya”.

Hanya itu jawaban yang didapat dari para petugas penjaga. Dan ada juga yang berbasa basi dengan jawaban, “anda tidak usah khawatir, kami akan memberikan perawatan yang intensif. Mudah mudahan ia segera sehat dan berumur panjang, ehm…ehm.”

Di-isolasi dengan alasan TBC, berarti semakin longgar ruang gerak, semakin leluasa para lelaki berseragam memaksakan sebuah pengakuan dari orang yang sama sekali tidak mengetahui ujung, ataupun pangkal sebuah kejadian yang berakibat petaka seperti ini.

Ngilu tulang rusuk berkepanjangan, bukan lagi sebuah penderitaan. Semburan darah pengiring batuk, berak hitam kencing merah seakan merupakan tahapan antrian dari berbagai bentuk perubahan yang akan tiba, sedangkan seringai galak para pemeriksa bukan lagi sesuatu yang menakutkan.

Segeralah mati, “ ah….. tidak, kalau tidak memberi arti.”

Keinginan untuk lekas mati berangsur menjadi padam seiring tumbuhnya sikap perlawanan dan berubah menjadi reaksi antibodi terhadap rasa sakit dari penyebab yang tidak dimengerti.

Tak dapat dimengerti, karena secara sadar berada dalam kamar para oposan yang menyumbangkan kritik pada penguasa demi perbaikan negeri kami.

Karena sengaja berada ditempat kejadian, meniru modus operandi para pendemo luar negeri. Karena tak tahan melihat kesewenang wenangan penguasa terhadap “Aku (Indonesia) yang Malang”.



Dari atap kabin mobil para demonstran, aku lantang berucap memuntahkan kata-kata.

“Saudara-saudaraku sebangsa se tanah air…Kita wajib bersyukur dengan kekayaan alam indonesia, namun sangat malu dengan ketidak mampuan kita dalam mengelola sumber daya alam ini. Saya akan sangat setuju bila Presiden mendatang adalah orang yang mempunyai visi kuat untuk menasionalisasi perusahaan tambang asing yang ada di negara ini. Setelah itu tinggal memanggil dan memberdayakan intelektual- intelektual indonesia yang bertebaran di luar negeri, meminta mereka membagi ilmu, waktu dan tenaga untuk membangun bangsa ini.”

Tepuk-sorak semakin membahana menyambut kalimat yang meluncur dari mulutku.“

“Perlu kita lihat sejenak kasus penambangan lain di daerah Riau, Aceh dan Sumatera Barat. Penambangan banyak dilakukan oleh rakyat dan sangat tidak ramah lingkungan, akibatnya masyarakat diburu aparat dengan dalih melakukan penambangan ilegal. Seharusnya pemerintah mencarikan solusi pengaturan penambangan ramah lingkungan dengan tetap mempertahankan usaha kerakyatan, bukan malah memburu rakyat, tapi membuka kran investasi untuk investor asing. Kita tentu tidak mau Negeri ini di kuasai asing”.

Menarik nafas sejenak dan melanjutkan, “PT. Freeport di tanah Papua sana.....Pertambangan ini konon telah menghasilkan 7,3 Juta Ton tembaga dan 724,7 Juta Ton emas.  Coba kita uangkan jumlah tersebut dengan harga emas sekarang, anggap saja Rp.300.000,-/Gram. Sehingga 724,7 Juta Ton emas = 724.700.000.000.000 Gram x Rp 300.000. = 217.410.000.000.000.000.000 Rupiah!!!!!  ada yang bisa   baca nilai tersebut?  Harap dicatat saudara-saudaraku, itu hanya untuk emas belum lagi tembaga serta bahan mineral lainnya. Namun alangkah malangnya bukan kita yang mengelola pertambangan ini melainkan mereka para kapitalis asing.  Sebenarnya boleh saja negara lain mengelola kekayaan di negeri ini karena alasan teknologi yang belum dimiliki Indonesia.  Namun jika sistim bagi hasil dengan prosentase yang adil. Bahkan ketika emas dan tembaga disana mulai menipis ternyata dibawah lapisan emas dan tembaga tepatnya di kedalaman400 meter ditemukan kandungan mineral yang harganya 100 kali lebih mahal dari pada emas, yaitu URANIUM.  Bahan baku pembuatan nuklir itu melimpah ditemukan disana.  Belum jelas jumlah kandungan uranium yang ditemukan disana, tapi kabar terakhir yang beredar menurut para ahli, konon kandungan uranium di sana cukup untuk membuat pembangkit listrik tenaga nuklir dengan kapasitas yang dapat menerangi seluruh bumi ini!.

Freeport mulai banyak menarik perhatian masyarakat setelah terungkapnya berbagai permasalahan dan insiden yang terjadi di wilayah konsesi pertambangan perusahaan tersebut. Berbagai pendapat, baik dari media, lembaga swadaya masyarakat, serta akademisi menyoroti masalah yang berkaitan dengan pencemaran lingkungan, adaptasi sosio-kultural, keterlibatan aparat, bahkan hal-hal yang berkaitan dengan politik separatis dari kelompok penduduk asli”.



Terjelepok duduk sendiri, dengan posisi tak biasa di sudut ruang pengap berjeruji besi. Persis seperti konon kata buku sejarah, sosok nenek moyang kita pada masa penjajahan Belanda dan Jepang. Tubuhnya kurus. Tulang iganya seakan berlomba untuk tampil ke depan. Tonjolan tulang rusuk, keriput kulit berisi daging sekedar syarat untuk dapat dikatakan sebagai orang, tampaknya tak menghalangi senyum wibawa dengan gurat gurat wajah keras pertanda tegar, hanyut dalam mimpi atau halusinasi.

Sepertinya akhir-akhir ini Indonesia kekurangan uang sehingga kesulitan untuk memberikan rakyatnya subsidi BBM dan berniat menaikkan harganya.  Alhasil rakyat Indonesia harus kembali mengencangkan ikat pinggang yang sejatinya memang sudah kencang sejak lama.  Miskinkah Indonesia? Tentu saja tidak.  Karena Negara ini ternyata punya pertambangan emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia.  Namanya PT. Freeport.

Kembali ke tanah air, ingin membangun negeri dengan bekal yang kudapat dalam pendidikan di negara asing.

Empat tahun di negeri orang dengan tata cara berbeda, tetapi pasti tujuannya sama.

Empat kali tante Tita binti Osman dan Oom Muhammad Ferdy Rumaropen di negeri bawah air atau negeri kincir angin merayakan  verjaardag aku keponakan mereka dengan tart dan tiupan api lilin. Empat kali pula tante Tita dan Oom Muhammad Ferdy Rumaropen mengucapkan selamat “panjang umur” padaku keponakannya yang dapat menyelesaikan studi di negeri tempat tinggalnya dengan tepat waktu.

Mulai dari jabang bayi sampai ke bujang tanggung di kampung, Abah dan Emak merayakan ulang tahun anaknya dengan kenduri selamat, diiring doa tolak bala dan setiap kali pula ditutup dengan ucapan selamat “panjang umur” disambung dengan, “semoga berarti bagi agama, orang tua dan masyarakat banyak.”

“Apakah ‘verjaardag’ atau doa ‘tolak bala’ tak lagi mempan atau mangkus sebagai upaya menjauhkan sial? Wallahuwalam...”

Kenyataannya, belum selesai orasi yang kusampaikan menjelang petang itu, aku diangkut dengan paksa ke sini, ke tempat yang laknat ini.

Panjang umur dan “berarti” bagi masyarakat banyak, inilah yang disadari menjadi obat pengebal siksa menjadi tahanan beralasan “Tak jelas.”

Untuk itu, “ ya……mati nanti dulu,” karena hidup belum “berarti” bagi masyarakat banyak.

Mimpi atau halusinasi tampaknya jalan terus. Segala yang indah indah tergambar jelas di pelupuk mata rapat terpejam.

Indahnya gambar pemandangan, saat kunjungan pemimpin yang menomor satukan kepentingan rakyat yang sudah tujuhpuluh tahun merdeka ini, disambut jujur oleh rakyat yang berjejal dibibir trotoar, tanpa harus diancam untuk hadir oleh pak RT, pak lurah ataupun pak camat. Tak perlu wajib berseragam hijau hijau, kuning kuning, merah merah ataupun hitam hitam. Karena yang tiba, adalah pemimpin segala warna

“ Aaaaaaaaaah………………”  Erang panjang menggema memecah kesunyian subuh, mengejutkan tetangga di sel sebelah. Mengejutkan terduga kasus korupsi yang sedang menonton “film cabul” dengan petugas di ruang jaga, sedang mimpi dan halusinasi masih berlanjut semakin jauh terbang di awang awang , dihimpit signal berita teve dan radio penguasa. Tersuruk dalam lumpur pijakan sepatu lars ladam berduri.

“Tokku sayang…aku cucumu telah jalankan segala pesan yang Tok sampaikan di masa kecilku dulu, selamat jumpa Tok. Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Dekap aku Tok, aku rindu..” dan Allahu Akbar, Aaaaahhh…..lalu senyap.

Terberitakan…  penghianat bangsa, penghina pemimpin bangsa, ketua kelompok pengacau keamanan, mati dalam perawatan intensif para tim dokter, karena mengidap penyakit TBC kronis dalam usia muda dan…….. tak diberitakan, bahwa doa tante Tita binti Osman, oom Muhammad Ferdy Rumaropen, Emak, Abah dan kerabat di kampung Sekip kota Rengat telah terkabul.

Aku, Anak keponakan dan kawan mereka yang mati fisik di usia Duapuluh Empat tahun, telah dikaruniai umur panjang dalam kenangan, sepanjang alam masih terkembang, dengan prediket “Aku (Indonesia) yang Malang” tertulis di batu nisan yang kekal merebakkan bau wangi.***


SPN Dantje S Moeis, Kelahiran  Rengat-Inhu-Riau adalah:  Penerima beberapa penghargaan seni, Perupa, penulis kreatif, redaktur senior majalah budaya “Sagang”,
 dosen Akademi Kesenian Melayu Riau (AKMR), Sekolah Tinggi Seni Riau (STSR) Pekanbaru.


KOMENTAR
Terbaru
Rabu, 21 November 2018 - 15:54 wib

Prabowo Pasti Tepati Janji Tuntaskan Masalah Honorer K2

Rabu, 21 November 2018 - 15:50 wib

Tim Kampanye Jokowi Manfaatkan Popularitas Djarot

Rabu, 21 November 2018 - 15:45 wib

Dewan Rekomendasikan Cabut Izin PT MAS

Rabu, 21 November 2018 - 15:30 wib

Gunakan Sampan, Kapolres Jangkau Lokasi Banjir Temui Warga

Rabu, 21 November 2018 - 15:00 wib

APBD 2019 Rp1,47 T

Rabu, 21 November 2018 - 14:45 wib

Fokus Siapkan PK, Nuril Minta Perlindungan LPSK

Rabu, 21 November 2018 - 14:42 wib

141 Kades Tersangka Korupsi

Rabu, 21 November 2018 - 14:39 wib

Jadwal Pemeriksaan Kesehatan JCH Sesuai Konfirmasi Diskes

Follow Us